
Minggu siang Ashilla baru saja keluar dari mall usai membeli keperluan Asa. Tiba-tiba dia mendapat telepon dari Iyash. Jantungnya mencelus karena baru ingat kalau kemarin seharusnya dia datang ke ke rumah sakit, Iyash pasti marah karena dirinya ingkar janji.
“Halo,” sapanya di telepon sembari mengemudi sementara Asa duduk anteng di sebelahnya.
“Kenapa tidak datang?”
Ashilla menghela napas. Sudah dia duga kalau Iyash akan menanyakan hal itu. “Kemarin aku nggak bisa.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku–” Ashilla menoleh pada Asa.
“Aku tunggu kamu di depan rumah sakit.”
Ashilla kembali menghela napas. “Oke.” Dia lalu menutup panggilan dan lekas melesat menuju rumah sakit. Entah apa yang paling berpengaruh dari Iyash, kenapa dia tidak berkutik sama sekali.
“Sayang, kita nggak jadi pulang sekarang,” kata Ashilla sembari memutar arah.
“Why?”
“Mama ada perlu.”
Asa mengedikkan bahu. “Oke.”
Dalam perjalanan Asa tak hentinya bercerita tentang apa yang dialaminya hari ini, dia mengatakan kalau dia sangat bahagia karena bisa berjalan-jalan dengan ibunya. Ashilla hanya menanggapinya dengan senyum.
“Jadi, Mam, Asa besok daftar sekolah?” tanya bocah itu.
“Ya, tapi karena Mama harus kerja, jadi kamu daftar sekolahnya sama Bunda.”
“It doesn't matter, I trust Bunda.”
“Good.”
Perjalanan hari ini mungkin membuat Asa merasa lelah, sehingga anak itu tertidur di dalam mobil. Perlahan mobil memasuki kawasan rumah sakit, sebelum turun Ashilla menatap Asa yang begitu nyenyak dan tak mungkin membangunkannya karena Asa suka merengek jika dipaksa untuk bangun dari tidurnya.
Ashilla keluar dari mobil dan benar saja Iyash sudah menunggunya. “Kenapa tidak datang?” tanya Iyash tanpa basa-basi.
“Kemarin aku nggak enak badan, pulang dari jalan-jalan aku langsung tidur.”
“Jalan-jalan sempat, tapi ke sini nggak,” cibir Iyash.
Ashilla menghela napas. “Aku nggak minta kamu buat mengerti dengan apa yang terjadi sama aku. Aku nggak peduli kamu mau marah dan mencoret nama aku dari daftar ibu angkat Lily. Itu terserah kamu. Kalau kesalahan aku tidak dapat ditolerir, aku nggak akan maksa kamu untuk menerima itu.”
“Bukan begitu mak–”
“Mama!” teriak Asa sembari menggedor-gedor kaca mobil. “Mama!”
“Asa?” Kedua mata Ashilla membola melihat anaknya terkunci di dalam. Dia lekas berlari diikuti Iyash dari belakang.
“Mama-Mama,” panggil Asa panik karena tak bisa membuka pintu.
“Asa, please unlock it,” kata Ashilla tenang. Dia menoleh menatap Iyash.
“Kuncinya mana?” tanya Iyash.
“Di dalam.”
“Kenapa nggak dibawa. Kalau kamu meninggalkan kuncinya di dalam mobil jadi terkunci otomatis. Kalau mau begitu seharusnya kamu buka sedikit jendelanya,” omel Iyash.
Ashilla menarik napas dan tak terbawa emosi ketika Iyash memarahinya, toh dia juga salah.
“Honey.” Ashilla mengetuk dan mencoba menenangkan Asa yang terus menangis. “Calm down.” Dia memberi jeda. “Inhale,” pintanya lembut dan Asa mengikutinya. “Exhale. Good. Now, Asa pull the key there.” Ashilla menunjuk ke bawah jendela.
Asa menggerakan telunjuk. “Here?”
“Yes.” Ashilla mengangguk dan akhirnya pintu terbuka. Dia langsung memeluk Asa. “I am Sorry, sorry, Honey.”
Iyash mematung di belakangnya.
“Mama lupa,” kata Ashilla sembari menggenggam kedua pipi kecil Asa yang merah.
“Asa takut.”
“Iya-iya, maaf ya. Sebenarnya Asa nggak perlu panik, karena Asa sudah bisa melakukannya. Kalau ada apa-apa hadapi dengan tenang karena kalau panik, masalah sekecil apapun akan terasa menjadi berat.”
Asa mengangguk dan mengurai pelukannya, dia lalu tengadah menatap pria yang berdiri di sebelah ibunya.
Satu lagi yang membuat Iyash kagum pada Ashilla adalah kelembutan dan kebijaksanaannya terhadap anak-anak.
Ashilla lekas bangkit. “Ini Om Iyash, teman Mama.”
Asa mengangguk.
Asa menatap sang ibu yang mengangguk padanya. Bocah itu lalu meraih tangan Iyash. “Fabian Abhyasa Wijaya.”
Ashilla tersenyum lega. Ini kali pertama Asa memperkenalkan diri dengan nama lengkapnya.
“Just call me Asa,” sambung bocah itu.
Bibir Ashilla terus tersungging. Baginya ini adalah sebuah kemajuan, sebelumnya sangat sulit memperkenalkan Asa pada orang yang baru ditemuinya.
“Oke.” Iyash menggaruk tengkuk lehernya sembari tengadah menatap Ashilla.
“Asa ini anakku.”
Iyash segera berdiri. “Anak angkat?” gumamnya.
Ashilla tersenyum seraya menatap Asa. “Anak kandung.”
Jantung Iyash mencelus dan dia tak hentinya menatap Ashilla.
Ashilla paham jika Iyash terkejut karena tahu kalau dirinya memiliki anak yang sudah cukup besar. Dari dulu Ashilla tak malu menunjukkan siapa Asa, bayi itu tak pernah minta untuk dilahirkan, meski dari perempuan seperti dirinya.
“Aku nengok Lily dulu, dan aku titip Asa sama kamu.”
“Dibawa aja.”
“Usianya baru sembilan tahun, memang boleh bawa anak ke dalam?”
Iyash mengedikkan bahu. Tentu saja dia tidak tahu, dia hanya ingin melihat bagaimana Ashilla memperlakukan bayi kecil itu lagi.
“Asa, Mama titip Asa di sini sama Om Iyash nggak apa-apa ya?” tanya Ashilla. Dia kemudian menatap Iyash. “Om Iyash baik kok, kalau jahatin Asa, nanti Asa bilang sama Mama.”
Asa tak langsung menjawab dan malah menatap Iyash lama sekali. “Mom, I'm scared, what if I get kidnapped?”
Seketika Iyash tertawa dan menoleh pada Ashilla. “Shil, memang tampangku ada tampang penculik?” tanyanya sembari menunjuk wajah sendiri.
Tak ayal Ashilla pun ikut tertawa. Selain karena Iyash yang kembali menyebut namanya, dia juga merasa kalau Iyash tak seperti yang dia lihat pada awalnya.
“Sekarang kamu jelaskan, kenapa anak kamu bilang begitu?” kata Iyash.
“Mungkin wajah kamu kurang ramah, Yash.”
Iyash menghela napas. “Do you want ice cream?”
“No,” jawab Asa cepat.
Perlahan Ashilla berjongkok dan menggenggam pipi Asa. Terkadang memang Asa membutuhkan penjelasan lebih detail untuk merasa aman. “Om Iyash ini cucu temannya Opa. Dia pernah nolong Mama waktu tenggelam di kolam, dia juga pernah nolong Mama waktu ada masalah dan dia pernah berputar-putar mencari alamat rumah Opa untuk mengembalikan KTP Mama.” Ashilla memberi jeda. “Dia orang baik,” tambahnya.
Seketika Iyash tersenyum mendengar Ashilla menyebutkan semua kebaikannya bak pahlawan, apalagi wanita itu menutup penjelasannya dengan kalimat yang begitu membanggakan dirinya.
“Are you sure?” tanya Asa.
“Ya, I am sure.”
“Okay.”
Wajah kalem Asa membuat Iyash penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang anak itu. Pria seperti apa yang dulu menjadi ayahnya. Setidaknya itu yang ada di benak Iyash.
“Ya sudah, Mama masuk ya?” tanya Ashilla.
“Wait.” Asa menahan tangan ibunya. “Is Mama sick so she has to go to the hospital?” Dia membuka kedua tangannya.
“Nggak, Mama sehat. Mama kesini mau jenguk dede bayi.”
“Baby?” Kening Asa mengernyit.
“Ya, nanti Mama jelasin sama Asa. Sebentar saja, please.”
Asa mengangguk. “Just one minute.” Dia mengacungkan telunjuknya.
“Astaga.” Ashilla mengacak puncak kepala anaknya dan seketika itu juga Asa tertawa geli. “Semenit mana cukup, Sweety.”
Iyash pun ikut tertawa kecil.
“Tolong jaga dia, Yash.”
“Okay, Mom.” Iyash menyatukan telunjuk dan ibu jarinya sementara tiga jari yang lain teracung.
Asa mendelik saat mendengar pria itu menyebut ibunya dengan sebutan Mom. Beberapa detik mereka terdiam. Iyash tak memiliki bahan pembicaraan dan Asa pun tak tertarik berbicara dengan orang dewasa.