Behind The Lies

Behind The Lies
Ucapan Selamat



Ashilla dan Angkasa belum diizinkan bertemu, bahkan setelah mereka sampai di hotel. Miranti sengaja melakukannya hanya ingin nantinya mereka mendapat kejutan masing-masing.


Angkasa sudah tak sabar ingin bertemu dan memeluk Ashilla, sayangnya dia memang tidak diizinkan, meski bersikukuh.


“Sejam aja, Bund,” bujuk Angkasa pada Miranti.


Miranti mencebik seraya menahan pintu kamar hotel.


“Ya udah deh, lima menit,” ucap Angkasa malas.


Miranti menggeleng.


“Aaahhh, Bunda ….”


“Lima detik mau? Tapi cuma say hai.”


“Yah.” Kedua bahu Angkasa turun. “Ya udah deh nggak apa-apa.”


Miranti lekas bergeser, sehingga tampaklah senyum manis Ashilla. Jantung Angkasa berdegup, dia kemudian melambaikan tangan dan Ashilla segera membalasnya, namun Miranti langsung menghalangi mereka kembali. “Udah ah.”


“Yah … Shill,” panggil Angkasa seraya terus menengok ke belakang.


Kedua pipi Ashilla memerah. Gejolak di dadanya seperti baru pertama kali jatuh cinta.


“Ashilla mau siap-siap. Sampai ketemu nanti sore,” kata Miranti seraya menutup pintu.


“Bunda.” Angkasa menahan tangannya di depan pintu dengan bibir tersenyum lebar dan hati yang bersorak riang. Wajah dan senyum manis Ashilla meredakan lelahnya selama seminggu terakhir ini.


***


Sementara itu, siang hari di rumah sakit, Aruna bersiap pulang lantaran kondisinya yang sudah lebih baik, sekarang beban pikirannya pun tak seberat semalam. Namun, Faran menjadi semakin protektif terhadapnya.


“Hati-hati,” kata pria itu saat membantu sang istri turun dari ranjang. “Pelan-pelan.”


Ibu mertuanya mendekatkan kursi roda.


“Runa bisa jalan kok, Bu.”


“Faran yang minta,” jawab Ayu.


Aruna menghela napas seraya menatap sang suami. “Aku nggak apa-apa, Mas.”


“Udah pokoknya kamu duduk aja, atau mau Mas gendong?”


Aruna mendelik. “Dari pada digendong,” dengkusnya pelan seraya duduk di kursi roda.


Faran tersenyum.


Ayu dan Kamal berjalan di samping anaknya. Hari itu mereka bersiap menyusul yang lain ke hotel. Kembali Kamal yang mengemudikan mobil, Ayu duduk di sebelahnya sementara Aruna dan Faran ada di belakang mereka.


“Mau muntah?” tanya Faran.


Aruna menggeleng.


“Jangan ditanya, nanti malah pengen,” timpal Ayu. “Semua berawal dari sugesti.”


Aruna termenung. Dia teringat waktu pertama kali membohongi Faran, kala itu dia pikir telah berhasil mensugesti dirinya sendiri dengan kata tak enak badan dan sejak saat itu dia menjadi sering sakit-sakitan. Aruna pikir itu akibat dari kebohongannya, ternyata itu adalah efek dari kehamilannya.


“Sudah enam minggu, ya? Kok bisa nggak tahu?” tanya Ayu.


“Kayaknya karena Runa sibuk kerja, jadi nggak sadar udah telat haid sampai satu bulan lebih.”


Faran menoleh dan menatap istrinya. Dia ingin tahu soal keguguran itu, kapan pernah terjadi? Kenapa Aruna harus merahasiakan semua darinya? Namun, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu, apalagi di depan kedua orang tuanya.


“Ibu nggak sabar pengen gendong cucu.”


Kamal tersenyum seraya mengangguk.


Aruna dan Faran juga ikut tersenyum. Aruna kemudian menyandarkan kepala di bahu sang suami, lalu terpejam.


Ayu menoleh dan seketika mengurungkan niatnya untuk kembali berisik. Sungguh, dia ingin membagi kebahagiaannya dengan semua orang, dia rasa Faran pun begitu, apalagi anak semata wayangnya itu selalu bercerita tentang keinginannya memiliki momongan.


Faran tersenyum saat sang ibu menatapnya penuh suka cita.


Sesampainya di hotel, mereka langsung ke aula, tempat yang akan diadakannya pesta pernikahan nanti malam.


Ayu benar-benar tak sabar untuk membagi kebahagiaannya dengan Miranti. Rasanya di telepon saja tidak cukup.


Aruna mendapat ucapan selamat dari semua orang, apalagi hampir semua keluarga Ganjar sudah datang, sedangkan meski keluarga Angkasa sudah hadir di sana, nyatanya tak banyak yang tahu tentang Aruna. Hanya Angkasa yang mengucapkan selamat, meski dia baru saja mendengar kabar tersebut.


“Jadi, kamu hamil? Selamat ya, Run.”


“Makasih,” kata Aruna.


Sejujurnya Angkasa masih belum percaya akan hal ini. Tak pernah dia berpikir sedikit pun kalau Ashilla adalah kembaran Aruna karena dia sangat mempercayai kabar kematian Aruna waktu itu.


Faran menepuk bahu Angkasa ketika melihat pria itu tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Aruna.


“Kami permisi dulu.” Faran merangkul pinggul sang istri. “Aruna harus istirahat.”


Angkasa tersenyum dan mengangguk.


“Ngapain? Kamu harus istirahat,” ucap Faran setengah memaksa. Dia tidak suka saat Aruna melirik pria lain di depannya, meski beberapa jam lagi Angkasa akan menjadi saudaranya.


Aruna menghela napas dan membiarkan Faran menarik tangannya.


Sesampainya di kamar hotel. Aruna langsung duduk, sedangkan Faran hendak menyiapkan pakaian untuk dipakai bada Ashar nanti di acara akad nikah Ashilla dan Angkasa.


“Dokter bilang kamu pernah keguguran, kok Mas nggak tahu?” tanya Faran sembari membuka koper.


“Iya,” jawab Aruna pelan.


Seketika Faran berhenti bergerak dan perlahan menoleh pada sang istri. “Kapan?”


Aruna terdiam sejenak.


Faran bangkit dan mendekat. “Kapan? Kenapa Mas bisa nggak tahu?”


“Lima tahun yang lalu, pas pertama tinggal di Jerman.”


“Hah? Kenapa nggak bilang?” Faran kemudian duduk di sebelah istrinya.


“Aku takut bikin kalian khawatir.”


“Tapi, nggak gitu juga caranya,” kata Faran kesal.


Aruna tertunduk. “Waktu itu aku belum siap, Mas.”


“Kamu gugurkan?” tebak Faran.


Aruna mengangkat wajahnya dan menatap Faran. “Aku belum siap jadi ibu, aku juga belum siap punya anak.”


“Jadi, kamu gugurkan?” desak pria itu.


Aruna mengangguk.


“Astaghfirullahaladzim … itu dosa besar, Sayang.” Faran menggenggam kedua pipi Aruna. Sumpah dia kesal dengan tindakan bodoh Aruna.


Aruna tertunduk penuh rasa bersalah.


“Untung sekarang kamu terlambat tahu, kalau tahu lebih awal mungkin kamu juga akan menggugurkannya dan Mas nggak akan pernah tahu kamu hamil?”


“Nggak, Mas,” tolak Aruna cepat.


“Apa cuma Mas yang terlambat tahu?” tebak Faran.


Aruna terdiam.


“Jawab, siapa orang yang pertama tahu kamu hamil?”


“Kamu.” Aruna memberi jeda, berharap Faran percaya dengan jawabannya. Namun, Faran tak lantas percaya begitu saja, karena kalau dia adalah orang yang pertama tahu, Aruna akan memberitahunya setelah tes pertama.


“Aku maunya kamu jadi orang pertama yang tahu kalau aku hamil, Mas.”


“Terus tes pertama, kenapa kamu nggak ngasih tahu Mas?”


“Saat kamu bilang kalau aku akan haid, sementara Bunda bilang kalau aku hamil, aku ingat waktu itu kalau aku belum datang bulan.”


“Kenapa nggak bilang? Terus kapan kamu tes?”


“Setelah aku dari rumah sakit dan melakukan tes darah, besoknya aku cek dan–”


“Kamu nggak ngasih tahu,” sela Faran.


Aruna menghela napas. Kedua bahunya seketika turun. “Kenapa kamu jadi kayak gini, Mas?”


“Harusnya Mas yang nanya, kenapa kamu jadi kayak gini? Kamu nggak menghargai Mas sebagai suami.”


“Mas, aku–”


Ketukan di daun pintu seketika membuat mereka terdiam. Faran berdecak, sementara Aruna bangkit dengan perlahan.


“Biar Mas yang buka,” kata Faran segera. Pria itu kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya. “Shill?”


Ashilla tersenyum lebar. “Selamat ya ….”


 Faran menoleh pada istrinya.


“Aruna.” Ashilla masuk dan langsung memeluk Aruna. “Selamat ya … akhirnya kamu hamil juga.”


Aruna tersenyum seraya mengangguk. “Makasih.”


“Aku minta maaf, aku nggak tahu kalau semalam sebenarnya kamu ingin memberitahu kami.”


“Nggak apa-apa.”


Ashilla duduk di ranjang. “Gimana rasanya?”


Aruna lekas menatap sang suami yang terlihat masih kesal lantaran obrolannya siang itu belum selesai. “Aku ….” Dia kemudian menatap Ashilla. “Aku bingung kalau ditanya kayak gitu, tapi rasanya memang agak aneh aja sih.”


Faran tiba-tiba pergi keluar membuat Aruna merasa bersalah.