Behind The Lies

Behind The Lies
Rencana ke Jakarta



Aruna tidak tuli, dia mendengar apa yang dikatakan semua teman-temannya. Bukan cuma Iyash, dia juga sebenarnya tidak suka dengan dirinya yang sekarang. Dia benci dan menyesali kelahirannya sendiri. Aruna lekas bangkit dan pergi meninggalkan kursi. Seketika teman-temannya terkejut dan perdebatan mereka pun terhenti. 


“Aruna,” panggil Dennis. Pemuda keturunan Tionghoa itu bangkit dan mengambil buku Aruna yang tertinggal di meja. “Ketinggalan,” katanya sembari mendekat dan memberikan buku tersebut pada Aruna. 


“Aruna pergi pasti gara-gara mendengar omongan kamu,” tuduh Bagas lagi. 


“Bacot!”  Iyash meninju Bagas yang sedari tadi banyak menuduh padahal jelas yang memulai pertengkaran itu adalah dirinya sendiri. Bagas terpelanting dan seisi kantin menjerit. 


Setelah menghantamkan tinju ke rahang Bagas, Iyash pergi meninggalkan kantin, dia kemudian mencari keberadaan Aruna. Dia pergi ke halaman sekolah karena biasa memang Aruna ada di sana terduduk dekat pohon flamboyan. Perlahan Iyash mendekat dan berdiri di depannya. “Kamu sama Mas Iqbal pacaran?” tanyanya langsung. 


Itulah yang membuat Iyash penasaran selama ini. Pernah bertanya pada Iqbal, namun kakak sepupunya itu tak menjawab dan sekarang Aruna juga tak menjawab pertanyaannya, Aruna malah terus menatap Iyash cukup lama. 


“Mas Iqbal pergi belajar, kamu nggak perlu sesedih ini, lagian aku dengar katanya dia akan sering kirim surat buat kamu.” Iyash lekas merogoh ponsel dari saku celana. “Kalau kamu kangen banget sama dia, kamu bisa pakai HP ku, telepon dia sekarang.” Iyash menganjurkan ponsel ke depan wajah Aruna. “Nih, cepat telepon.”


Aruna malah tercenung menatap ponsel di tangan Iyash. Dia kemudian tengadah menatap wajah pria yang pernah menciumnya itu. 


Mendapat tatapan misterius jantung Iyash berdegup kencang. “Kalau begitu biar aku yang telepon dia buat kamu,” kata Iyash gugup. Namun, tiba-tiba Aruna menahan tangannya. 


“Yash.” 


Seketika Iyash tercenung menatap wajah sendu itu.


“RSCM itu di mana?” tanya Aruna pelan. 


Seketika kening Iyash mengernyit heran, bukan menanyakan Iqbal, Aruna malah bertanya letak rumah sakit. Iyash membasahi tenggorokan. Perlahan kemudian dia duduk di sebelah gadis itu. “Buat apa kamu nanyain itu?”


“Jakarta, ‘kan?” selidik Aruna sembari memiringkan wajahnya dan terus menatap Iyash. Jantung Iyash semakin bertabuh dibuatnya.  


Iyash menarik napas sembari membalas tatapannya dengan menatap dalam-dalam kedua bola mata itu, meski dingin dan terkesan beku, setidaknya masih ada kedamaian di sana. 


“Jawab, Yash,” pinta Aruna. 


Iyash kembali menarik napas, kemudian mengangguk. “Jakarta Pusat.”


“Antar aku ke sana,” kata Aruna cepat. 


Seketika Iyash terperangah. “Mau apa?” 


“Antar aku ke sana.” Aruna mengulangi permintaannya. 


“Jauh, Run.” Kedua bahu Iyash turun. Dia kemudian berdecak seraya menatap ke ujung langit.  


“Ini penting, Yash. Kamu harus mengantarku karena mungkin hanya kamu yang bisa melakukannya.” 


Seketika Iyash mengalihkan pandangannya dari langit dan langsung menatap Aruna yang ternyata masih menatapnya. Dia tercenung hingga beberapa detik. Entah kenapa dalam masalah ini dia merasa benar-benar dibutuhkan. 


“Antar aku ke sana besok.”


Iyash menenggak liur. 


“Please.” Aruna menggenggam erat tangan Iyash. “Aku mohon. Aku nggak tahu harus minta tolong sama siapa.” 


Kalimat itulah yang akhirnya membuat Iyash luluh. Aruna mempercayakan keinginannya pada Iyash. Kenapa Iyash justru tidak percaya diri, sementara Aruna sendiri begitu percaya padanya. 


Tiba-tiba Aruna menjauhkan pandangannya, kemudian tertunduk dan menangis. Jantung Iyash sakit sekali melihatnya begini. “Iya, oke-oke. Aku antar kamu besok,” kata pemuda itu sambil menepuk punggungnya. Meski sebenarnya Iyash sendiri bingung apa yang harus dia katakan pada Pak Ridwan. 


“ Terima kasih.” Seketika hati Iyash menghangat saat melihat senyum tipis di wajah. 


Iyash membasahi tenggorokan. “Apa yang harus aku bilang sama ayah kamu?” 


“Study tour.” 


“Tapi nggak ada study tour.” Iyash menghela napas. “Bude pasti tahu dan kita akan ketahuan berbohong.” Iyash semakin bingung melihat wajah sedihnya. 


“Kudengar dari Pak Harlan kalau besok Bu kepala sekolah akan pergi ke Bandung untuk menghadiri seminar.” 


Iyash termangu. Dia tidak menyangka kalau Aruna menjadikannya kesempatan, tapi mungkin ini juga menjadi kesempatan untuk Iyash membantunya. “Jam berapa kita berangkat?” 


    Aruna kembali tersenyum. Iyash kira senyumnya hanya akan kembali karena Iqbal, ternyata Iyash juga bisa mengembalikannya. 


“Sehabis subuh.” 


    Iyash kembali menghela napas. 


“Sekarang kamu bantu aku membuat surat izin orang tua untuk mengikuti Study tour.” 


Iyash benar-benar tidak menyangka Aruna bisa melakukannya, dia pikir gadis itu  benar-benar lugu dan polos.


***


Sepulang sekolah Aruna memaksa Iyash ke warnet untuk membuat surat study tour yang harus disetujui orang tua. Mereka tidak menggunakan komputer sekolah karena takut pihak sekolah tahu. 


“Apa kita nggak perlu stempel sekolah?” tanya Iyash. 


Aruna kemudian bangkit dan pergi ke depan menemui penjaga warnet dan memintanya untuk mengeprintkan dua lembar surat yang dia buat.


“Untuk apa, Dek?” 


“Tugas sekolah. Membuat contoh surat izin study tour,” bohong Aruna dengan lancar. Iyash sampai tertunduk malu karena takut ketahuan. 


“Bukan untuk meminta izin pacaran, ‘kan?” goda si penjaga warnet.


Aruna berdecak. Dia kemudian menoleh pada Iyash. “Masa pacaran sama Kakak sendiri, nggak boleh, Mas.” 


“Oh, Kakak. Kakak ketemu gede, iya?” cibir pria itu lagi di depan komputer. 


“Cepat ya, Mas, kubikel nomor empat,” kata Aruna kesal.


“Iya.” 


Beberapa detik Aruna menunggu dan kembali dengan dua lembar kertas yang sudah di print. Dia kemudian menunjukkannya pada Iyash. “Gimana?” Dia mengangkat satu alisnya. 


Iyash harus jawab apa? Semua Aruna yang mengatur, dia hanya berusaha untuk tidak membuatnya sedih lagi. “Udah bagus,” kata Iyash. 


 


“Ya udah ayo kita pulang.” Aruna berjalan lebih dulu. Setelah membayar warnet, mereka pulang sembari menuntun sepeda. “Yash, aku nggak bisa bayarin ongkos kamu. Maaf ya, tabunganku pas-pasan.” 


“Nggak apa-apa,” kata Iyash sembari terus melangkah mengiringi gerak kaki Aruna.  


“Aku kira ongkos ke Jakarta murah.” 


Iyash tersenyum. “Kalau uang kamu nggak cukup, kamu bisa pakai uangku dulu.”


“Iya?” Aruna menoleh dan menatap pemuda itu. 


Iyash mengangguk. Apapun asal Aruna senang dan tak murung lagi. 


“Semoga cukup. Aku nggak sabar nunggu besok.” 


“Gimana kalau ayah kamu nggak mengizinkan?”


 


Aruna terdiam menatap Iyash sampai beberapa detik. “Kamu bantu aku bicara sama ayah.” 


“Nggak ah. Aku juga bingung harus bicara apa sama Nenek.” 


“Nenek Alma orang baik.” 


“Aku tahu, tapi kalau ketahuan bohong tetap aja Nenek akan marah. Apalagi kalau Kakek tahu, habis aku.” 


“Beliau pasti mengizinkan, kamu tenang aja.” 


Iyash tahu kalau sebenarnya Aruna tak bisa menjamin apa-apa. Aruna sendiri pasti memikirkan ketakutannya. 


 


“Kamu tuh kalau ada maunya jadi baik ya.” 


“Lah, aku memang baik, Yash, kemana aja kamu selama ini?” 


Seketika Iyash menoleh dan tercenung menatap Aruna. 


“Iya, ‘kan, baik, ‘kan?” Aruna mengedikkan dagu. “Cuma kamu satu-satunya yang bilang kalau aku judeslah, anehlah, atau apapun yang buruk-buruk.” 


“Jadi kamu marah?” 


“Nggaklah. Kalau aku marah, kamu nggak akan mengantar aku ke Jakarta.” 


“Iya. Aku biarin aja kamu berangkat sendiri.” 


“Kamu kok tega sih.” 


“Aku antar kamu, tapi habis ini kamu jangan sedih lagi, jangan nangis lagi.” 


“Kamu beneran mikir kalau aku sedih karena Kak Iqbal pergi?”


“Iya, memang apalagi? Sikapmu jadi semakin aneh setelah Masku pergi.”


“Besok kamu akan tahu,” kata Aruna sembari berjalan lebih cepat.    


Iyash lekas berlari mengejarnya. 


***