
Tahun ketiga pendidikan terasa begitu cepat berlalu. Semua berjalan baik, Aruna juga sudah berdamai dengan masalahnya. Selama ada Iyash, dia merasa kalau semua akan baik-baik saja. Di acara kelulusan Aruna memberi kejutan pada Iyash. Minggu lalu, dia mengikuti program beasiswa dan dia berhasil lolos. Orang pertama yang Aruna beri tahu adalah Iyash, karena Iyash sendiri yang mendaftarkannya.
“Aku lolos,” teriak Aruna kegiarangan.
Iyash tersenyum bangga, ternyata kejutan yang ingin Aruna berikan adalah ini. “Aku yakin kamu memang pasti lolos, Run.”
“Makasih, Iyash, karena kamu aku berhasil dapat beasiswa di Jakarta.”
Cukup mudah bagi Iyash mengajukan Aruna, karena program beasiswa itu sendiri diadakan oleh kampus milik ayahnya Adisty.
Iyash mengabadikan kebahagiaan Aruna dengan kameranya.
“Yash, fotoin aku sama Aruna dong.” Tiba-tiba suara Naya menyambar.
Iyash mengangguk dan langsung mendekatkan lensa kamera ke matanya. Seketika Naya bergaya sembari merangkul Aruna. Senyum Aruna tampak berbeda di depan kamera Iyash, ada rasa lega yang terpancar dari wajahnya.
Tak berapa lama Pak Harlan datang menawarkan diri untuk memotret mereka. “Mau bapak fotoin?”
“Boleh, Pak.” Iyash segera memberikan kameranya pada Pak Harlan. Dia kemudian berdiri di sebelah Aruna, lalu mengajak semuanya untuk berfoto. “Hei foto dulu yuk, mumpung Pak Harlan mau fotoin kita.”
Semua siswa sekelas Iyash kemudian mendekat dan berfoto, setelah itu teman-teman terdekat seperti Dennis, Umam, Bagas, Naya dan Aruna yang kini mengambil beberapa gaya sebagai kenang-kenangan.
“Semangat ya, meski kalian terpecah, tapi persahabatan kalian harus tetap utuh,” pesan Pak Harlan.
Kompak mereka mengangguk. Sesaat Aruna terpegun tatkala kedua matanya bersirobok dengan Iyash, kemudian bibir keduanya tersungging. Diam-diam Pak Harlan membidikkan kamera ke arah mereka.
Aruna segera tersadar dan dia lekas mengalihkan pandangannya, sementara Iyash tetap tersenyum dan terus menatap Aruna.
“Yash,” panggil Pak Harlan.
Iyash mengerjap dan menoleh. Pak Harlan kemudian mengembalikan kameranya.
“Makasih, Pak.”
“Sama-sama.” Pak Harlan kemudian berpamitan dengan semuanya.
Iyash sendiri kembali menatap Aruna. “Kita harus merayakan kemenangan kamu, Run.”
“Kemenangan kita. Semua juga berkat kamu, Yash. Aku banyak berutang budi sama kamu.”
“Kenapa harus dianggap utang?”
“Ya karena–”
“Sssttt … aku nggak minjemin apa-apa, jadi nggak usah dibalikin, apalagi sampai kamu bilang ini sebagai utang.”
Aruna tersenyum kikuk. Sebelumnya memang dia tidak pernah bersikap seperti ini, lalu kenapa sekarang di harus berkata seolah ini utang dan dia harus membayar semuanya? “Aku cuma ngerasa, apa yang aku dapatin semua ini karena kamu.”
“Bukan, tapi kerja keras kamu.”
“Teman-teman, untuk merayakan kelulusan, gimana kalau kita ke sungai,” usul Naya.
“Sungai?” Kening Aruna mengernyit. “Ngapain? Kamu tahu, ‘kan aku nggak bisa berenang.”
“Kita memang nggak berenang, Run, kita main air aja.”
Aruna malah menatap Iyash. Namun, pemuda itu menggeleng. Nampaknya Iyash tak setuju karena dia pernah mendengar dari Gusman kalau Aruna memiliki trauma.
“Nggak deh, kalau kalian mau ke sungai, ke sungai aja, aku sama Iyash ada acara lain.”
“Iyash lagi,” gumam Naya. “Kalian udah sering berduaan, masa di hari kelulusan gini kalian juga mau berduaan, nanti yang ketiganya setan.” Kali ini Naya menggerutu.
“Gimana kalau kita kemping,” ajak Bagas. “Kebetulan Kakakku suka menyewakan peralatan kemping.”
“Ide bagus.” Iyash langsung setuju bahkan dia tak meminta pendapat Aruna terlebih dahulu.
“Aku takut ayah nggak ngizinin,” kata Aruna.
“Nanti aku bantu bicara sama Pak Ridwan,” ucap Naya.
Nampaknya semua setuju dengan ide Bagas. Sehingga siang itu mereka habiskan untuk menyusun acara dan membagi peralatan apa saja yang harus dibawa.
Malam hari, Aruna duduk di depan sang ayah. Selama dua tahun terakhir ini, hubungan mereka memang kurang membaik. Aruna terlalu sibuk dengan dunianya, sehingga lupa memperbaiki hubungannya dengan satu-satunya orang tua yang dia miliki.
Semenjak pacaran dengan Iyash, Aruna lebih sering menceritakan apapun pada pemuda itu ketimbang ayahnya sendiri. Namun, malam itu dia mencoba untuk memulainya kembali.
“Waktu Aruna ke Jakarta, Aruna tahu sebuah rahasia,” kata Aruna usai menikmati makan malam bersama sang ayah.
Seketika pria berkepala empat itu menoleh padanya. Sebenarnya Gusman memang sudah merasa begitu sejak Aruna kembali dari Jakarta bersama Iyash.
“Kenapa Ayah harus mengubah identitas ayah menjadi Ridwan?”
Gusman terperangah.
“Kenapa, Yah?”
“Gusman tidak pernah memetik teh, Nak. Gusman adalah pria manja yang patah hati, sedangkan Ridwan adalah pria kuat yang mampu membesarkan anak gadisnya seorang diri.”
“Berarti semua yang Aruna dengar itu benar?”
“Apa yang kamu dengar?”
“Ibu pergi meninggalkan ayah karena ayah miskin?”
Jantung Gusman mencelus.
“Aruna sudah cukup dewasa untuk tahu, Yah.”
Gusman mengangguk. Kemudian bangkit dan berdiri menghadap jendela seraya membelakangi Aruna.
“Ayah menikahi Ibu ketika usia ayah masih terlalu muda. Kakekmu tidak pernah merestui kami. Seharusnya Ayah pergi ke New York untuk sekolah di sana, tapi Ayah bersikukuh karena Ayah tidak ingin kehilangan ibu kamu,” kata Gusman seraya menatap langit gelap di depan jendela rumahnya.
“Berarti Aruna masih punya Kakek sama Nenek?”
Gusman mengangguk.
“Ayah minta maaf.”
Aruna hanya bisa menghela napas.
“Setelah perpisahan Ayah dengan Ibu, di sini Ayah menemukan kedamaian, meski ayah harus hidup karena belas kasihan Juragan dan istrinya.” Gusman pun menoleh. “Di jakarta Ayah tak memiliki kehidupan, Nak.”
Jantung Aruna mencelus. Dia kemudian tertunduk. “Minggu lalu Iyash membantu Aruna untuk mendapatkan beasiswa di Jakarta dan Aruna mengikuti tesnya secara online.”
“Kamu lolos?”
Aruna mengangguk.
“Selamat, Ayah bangga sama kamu. Iyash ternyata memberi pengaruh positif.”
Aruna mengangguk. Memang selama ini Iyash banyak membantu semua kesulitan dalam hidupnya. Dia semakin kagum pada pria itu karena berkat Iyashlah semangat belajarnya meningkat.
Di depan jendela yang terbuka, Gusman menangis sembari kembali menatap langit gelap. “Semakin kamu dewasa, kamu semakin mirip dengan ibu kamu dan itu terus mengingatkan ayah padanya.”
“Ayah benci sama Aruna?”
Gusman menggeleng. “Mana ada Ayah benci sama anaknya.”
Aruna menghela napas. “Bisakah nanti Aruna bertemu ibu?”
“Jangan berharap lebih. Ayah takut kamu kecewa.” Gusman menyeka kedua sudut matanya. Luka yang dia rasakan masih terlalu perih, meski sudah berlalu hingga belasan tahun lamanya. Setiap dia mengingat hal itu rasa sesak masih selalu terasa, hujan lebat dan langit gelap yang menelan harapannya masih terbayang, kepergian Dewi malam itu adalah luka terberat. Bayi merah yang menangis di atas tempat tidur adalah beban terbesar sekaligus kekuatan untuknya. Namun, luka telah mengurungnya di masa lalu.
“Ayah minta maaf, Run.” Gusman menarik napas. “Ayah takut. Takut kalau suatu saat kamu membenci Ayah, Ibu dan diri kamu sendiri,” gumam pria berkumis tipis tersebut.
Tak ada yang dapat dipastikan termasuk satu jam ke depan. Namun, ketakutan Gusman membuatnya dapat memastikan kalau Aruna akan kecewa pada dunia dengan apa yang terjadi di masa lalu. Entah itu kecewa pada dirinya sendiri, pada ibunya dan bukan tidak mungkin jika Aruna juga akan kecewa terhadapnya.
“Aruna mengerti. Bukan salah ayah jika Ibu tidak mau bertemu Aruna.” Perlahan Aruna bangkit, kemudian pergi ke kamarnya.
Gusman tercenung. Dia mengerti jika Aruna kecewa lantaran dirinya terlalu lama menyimpan rahasia itu.