Behind The Lies

Behind The Lies
Pulang ke Rumah



Tepat pukul sembilan malam, Aruna baru sampai ke rumah dalam keadaan menggigil, wajahnya pucat pasi dan kepala kliyengan.


“Kamu dari mana? Pergi dari ashar dan baru pulang jam sembilan kamu ngapain aja?” omel Miranti seraya membantu Aruna yang berjalan sempoyongan.


“Kamu kenapa ninggalin rumah tanpa izin?” tanya Ganjar kesal.


“Aku cuma pengen jalan-jalan.”


“Kenapa nggak bilang? Ini seisi rumah nggak ada yang tahu kamu kemana, baju basah kayak gini, kamu ujan-ujanan?”


Tak hentinya Miranti mengomel. Membuat kepala Aruna semakin berdenyut nyeri.


“Bund, kepalaku sakit.”


“Ya udah ayo-ayo Bunda bantu ke kamar.”


Aruna menyeret kakinya yang semakin lemas sampai kehilangan keseimbangan terhadap tubuhnya sendiri. Pandangan matanya kabur, kepalanya pusing dan dia merasa sangat mual.


“Hati-hati,” kata Ashilla saat tubuh Aruna ambruk.


“Edgar,” panggil Miranti. “Tolong angkat adik kamu, pindahkan ke sofa.”


Edgar segera mengangkat tubuh Aruna sesuai perintah ibunya.


“Run,” panggil Ashilla pelan.


Ashilla dan Miranti mencoba menyadarkan Aruna. Ashilla menopang kaki Aruna dengan bantal dan mencoba menghangatkannya dengan minyak angin. Sementara Miranti mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Aruna.


Tak berapa lama Aruna membuka mata.


“Alhamdulillah,” seru Miranti dan Ashilla bersamaan. “Minum dulu.” Miranti mengambil gelas dari tangan Edgar.


“Edgar, siapkan mobil, kita harus bawa Aruna ke rumah sakit,” kata Miranti khawatir.


“Bund, kita baru pulang loh tadi, masa masuk rumah sakit lagi,” kata Edgar malas.


“Beda pasien, Edgar.”


“Tapi, orangnya tetap sama.”


“Ya, tapi gimana, memangnya kita bisa urus Aruna di rumah? Udah cepat siapkan mobil.”


“Telepon ambulan aja,” usul Edgar.


“Lama.”


“Apa gunanya ambulan dong kalau kayak gitu.” Edgar masih berusaha mencari alasan untuk tidak kembali ke rumah sakit.


“Ini darurat, kalau bisa sendiri kenapa harus nunggu?” balas Miranti sengit.


“Justru kalau kita bawa Aruna sendiri, di jalan kena macet, apalagi ini hujan besar. Suara sirine pada ambulan itu bisa membuat jalan sedikit lenggang,” jawab Edgar tak mau kalah.


Ganjar geleng-geleng kepala. “Sudah-sudah, bawa Aruna ke kamar, kita panggil Dokter Mirza saja.”


“Aku nggak apa-apa cuma sakit kepala aja,” kata Aruna pelan.


“Shill, kamu telepon Dokter Mirza,” kata Ganjar.


“Nomornya mana?”


“Di laci.”


Ashilla berjalan ke dekat bufet dan membuka laci. Di sana terdapat kartu nama Dokter Mirza. Dia langsung menghubungi kontak itu dan panggilan langsung tersambung.


“Badan kamu panas,” kata Miranti usai memeriksa kening Aruna. “Pasti gara-gara hujan-hujanan.”


Aruna hanya mengangguk. Padahal ada yang lebih parah dari sekedar hujan.


Setelah menelepon Ashilla kembali. “Udah. Kita diminta tunggu. Dokter Mirza ternyata deket. Ih tahu gitu, dari tadi aja hubungi Dokter Mirza, untung belum berangkat ke rumah sakit.”


“Kayaknya kita harus kasih tahu Faran,” kata Miranti.


“Nggak usah, Bund. Aku nggak apa-apa kok,” tolak Aruna.


“Iya, jangan dulu, Bund, kasihan Faran baru aja sampai Bali, masa sudah harus diminta pulang,” timpal Ashilla.


“Nggak diminta pulang, cuma ngasih tahu keadaan Aruna aja.”


“Bunda nggak tahu gimana khawatirnya Faran? Dia pasti akan bela-belain pulang lagi ke sini. Kasihan capek, lagian Aruna kita yang urus, ‘kan?” kata Ashilla lagi.


Aruna mengangguk setuju dengan Ashilla. “Aku cuma butuh istirahat aja.”


“Iya,” jawab Miranti pelan. “Kamu mau pindah ke kamar?”


Aruna mengangguk. Perlahan dia bangun dibantu Miranti dan juga Ashilla. Setelah Aruna berbaring di kamar. Tiba-tiba mereka mendengar suara bell berdenting. Ashilla lekas pergi ke pintu utama. Di sana berdiri seorang wanita yang masih begitu muda sekitar dua puluh lima tahunan.


“Dokter Mirza?” tanya Ashilla.


“Oh. Silakan masuk,” pinta Ashilla. “Maaf mengganggu malam-malam, adik saya sempat pingsan dan badannya demam.”


“Iya, nggak apa-apa.” Dokter Mirza mengikuti Ashilla, sementara anak gadisnya berjalan di belakang. Dari jauh Edgar terus menatap gadis berpiyama merah muda itu. Tak pernah dia melihat gadis dengan mata selebar itu. BIasanya secantik apapun dia akan melewatkannya.


“Mai, tasnya mana?” tanya Dokter Mirza.


Ashilla bergeser untuk mengizinkan anak Dokter Mirza masuk. Sementara Edgar tak mau ketinggalan, baru kali ini dia dibuat penasaran sampai ingin melihat wanita itu berulang kali.


Dokter mulai memeriksa keadaan Aruna, dia mendekatkan stetoskop ke dada wanita itu. “Coba tarik napas,” pintanya.


Aruna lekas menarik napas dan mengeluarkannya perlahan.


“Ada sesak?” tanya Dokter Mirza.


“Sedikit, Dok.”


“Lagi stress ya? Jangan stress, kalau ada apa-apa sebaiknya bilang.” Dokter Mirza mengedarkan pandangan. “Ini banyak keluarga yang bisa bantu masalah kamu.”


Aruna termenung dan pura-pura tak terjadi apapun sore tadi.


Dokter Mirza memeriksa tekanan darahnya. “Darahnya rendah banget.”Pria tua itu kembali mengulanginya. “Sudah sering kayak gini?”


Aruna tak menjawab dan malah sibuk melamun. Dokter Mirza terpaksa bertanya pada Miranti. “Bu, sudah sering dia kayak gini?”


Miranti mengangguk, walaupun sebenarnya dia tidak tahu pasti, tapi kemarin Faran juga sempat mengatakan begitu.


“Saran saya besok di tes darah biar tahu penyebabnya. Nggak semua anemia berasal dari kurangnya zat besi. Jangan dianggap sepele, semua yang berbahaya berawal dari hal yang kalian anggap sepele.”


Miranti mengangguk. ‘Jadi, sekarang gimana, Dok?”


“Sedang mengkonsumsi obat?” tanya Dokter Mirza.


Aruna menggeleng. “Cuma vitamin.”


“Mana lihat.”


“Di mana, Run, biar aku ambilkan?” kata Ashilla.


“Di laci.”


Ashilla lekas mengambilkan kantong obat di laci meja rias Aruna.


“Sejak kapan minum ini?”


“Tiga hari yang lalu.”


“Oh pantas, ya sudah, ini diteruskan saja, tapi, saya kasih obat penurun demam sama antibiotik.” Dokter menuliskan resep. “Bisa diambil ke klinik.” Dokter Mirza kemudian menatap anaknya. “Mai.”


“Iya, Pa?”


“Kamu kalau balik lagi ke sini buat mengantar obat bisa?”


“Sendiri, Pa?”


“Iya. Papa nggak mungkin balik lagi.”


“Pa, tapi–”


“Biar saya yang ambil obatnya,” jawab Edgar cepat memangkas alasan anaknya Dokter Mirza.


“Oh baguslah. Ya sudah kalau begitu kami pamit.” Dokter Mirza bangkit. “Kamu ikut kami saja,” kata Dokter Mirza pada Edgar.


Edgar mengangguk. Sudut matanya melirik wanita  yang memakai piyama dan cardigan abu yang berdiri di sebelah Ashilla.


“Jangan lupa bawa payung hujannya masih deras,” kata Miranti pada anaknya.


“Sekarang istirahat. Insya Allah besok juga baikan. Tapi, tetap harus cek lab.”


“Baik, Dok, terima kasih,” kata Ashilla seraya mengantar Dokter Mirza ke depan.


“Pak Ganjar, sehat?” tanya Dokter Mirza.


“Sudah lebih baik, Dok,” jawab Ganjar.


“Nanti lakukan tes berkala lagi. Jangan lupa jaga kesehatan.”


“Siap, Dokter, terima kasih.”


“Dok, jadi berapa?” tanya Ashilla pelan.


“Bayar di rumah saja, sekalian mengambil obat.”


“Oh ya sudah.” Ashilla kemudian menatap Edgar dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Edgar. “Kalau kurang tambahin dulu,” bisiknya.


“Hm.” Edgar kemudian ikut dengan Dokter Mirza dan wanita yang dipanggil Mai tersebut.