
Sejak kejadian malam itu, Aruna semakin judes, dia terus berusaha menghindari kontak mata dengan Iyash. Ketika para siswa perempuan mengidolakan dan meneriaki nama Iyash saat pemuda itu sedang bermain basket di lapang, Aruna justru diam-diam mencuri pandang. Namun, saat Iyash memergokinya, dia lekas berpaling dan itu membuat Iyash tersenyum.
Usai kejadian itu Iyash sendiri merasa gelisah dan sulit tidur hingga beberapa hari, bahkan dia merasa dadanya berdebar dan terus terbayang wajah Aruna. Seharusnya dia melarang dirinya untuk tidak jatuh cinta pada gadis itu, karena perasaan itu mungkin tak akan terbalas. Namun karena sudah terlanjur, jadi biarkan saja perasaan itu tumbuh apa adanya.
Setelah ujian kenaikan, Iyash kembali mendapat nilai terbaik dengan peringkat pertama di kelas. Dia selalu bangga pada dirinya karena berhasil mengesampingkan perasaannya pada Aruna dan tetap menjadi yang terbaik di kelas. Setelah satu tahun belajar di Surabaya Iyash pulang ke Jakarta sekaligus menemani Iqbal mencari universitas dan mengambil jurusan Humaniora.
Sepulang dari Jakarta Iyash dikejutkan dengan kabar menghilangnya Aruna. Sejak pagi Pak Ridwan mencarinya dan menjelang maghrib Aruna masih belum pulang.
“Kamu bantu Pak Ridwan cari Aruna, mungkin dia main ke rumah temannya,” kata Nenek Alma pada Iyash.
Iyash hanya mengangguk, kemudian pergi menemani Pak Ridwan.
“Yash, biasanya Aruna main di mana, di rumah siapa?” tanya Pak Ridwan.
Jantung Iyash mencelus, sungguh dia tak tahu menahu tentang Aruna. Katanya suka, tapi dia tak pernah mencari tahu hal-hal tentang Aruna.
“Kamu nggak tahu?” tanya Pak Ridwan lagi.
Iyash menggeleng.
“Maaf ya, mengganggu istirahatnya.”
“Nggak apa-apa, Pak,” kata Iyash sembari terus melangkah mengikuti Pak Ridwan. Senja semakin meredup, adzan maghrib berkumandang dan Pak Ridwan tampak semakin resah, pun dengan Iyash.
“Kemana perginya Aruna? Bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya?” tanya Pak ridwan resah. “Dia adalah satu-satunya orang yang Bapak punya.”
Hati Iyash merasa tercubit mendengar getar dari suara Pak Ridwan. Mereka terus berjalan menyisir bebatuan di tepi kebun.
“Kalau terjadi apa-apa, bapak nggak bisa memaafkan diri bapak sendiri.”
“Aruna pasti baik-baik aja kok, Pak,” kata Iyash mencoba menenangkan.
“Kamu coba telepon teman-temannya.”
Iyash mengangguk dan mencoba menghubungi teman-temannya satu-persatu. Namun, tak ada yang tahu di mana Aruna. Pak Ridwan tampak semakin sedih. Iyash baru ingat kalau sewaktu Mas Iqbal pamit pada Aruna, mereka habis dari sungai.
“Mungkin ke sungai, Pak,” kata Iyash.
“Mau apa ke sungai, Aruna pernah tenggelam di sana dan dia punya trauma.”
Kedua mata Iyash membola. “Ya sudah kita cari ke sana dulu, Pak. Siapa tahu memang dia di sana.”
Akhirnya mereka pergi ke sana mengambil jalan menuju ke sekolah karena sungai berada di belakang gedung sekolah. “Aruna bawa sepedanya, ‘kan, Pak?”
Pak Ridwan mengangguk. Saat mereka baru saja sampai di perempatan jalan dekat warung Pak Yanto mereka melihat Aruna berjalan menuntun sepedanya dalam keadaan lusuh dan lemas.
“Aruna!” pekik Pak Ridwan sembari berlari menghambur dan memeluk anak gadisnya. Pak Ridwan membiarkan sepeda yang di pegang Aruna terjatuh, namun Aruna tak membalas pelukan ayahnya. Tatapannya kosong dan dia seperti menyimpan kecewa.
“Maafin ayah, ya, Nak,” kata Pak Ridwan sembari memegang kedua pipi anaknya. Namun, Aruna benar-benar tak merespon sang ayah, meski ayahnya kembali mendekapnya dalam pelukan.
“Sekarang kita pulang ya.” Pak Ridwan kemudian membungkuk dan mengambil alih sepeda Aruna, lalu menuntunnya.
Sedangkan Iyash sendiri tampak bingung. Apa yang harus dia lakukan? Dia hanya tidak percaya kepergian Iqbal mampu meninggalkan kesedihan di hati Aruna sampai seperti ini. Bagaimana bisa seorang Iqbal meluluhkan hati Aruna? Tidak! Iyash tidak terima.
Sejenak Iyash mematung di belakang dan terus memperhatikan bagaimana Aruna berjalan. Sangat lesu dan tak bergairah. Jika memang ini karena kepergian Iqbal, dia tak akan memiliki celah untuk bisa dekat dengannya.
Iyash kemudian mendekat dan berjalan di samping Aruna. “Mas Iqbal titip salam, maaf nggak sempat pamit karena dia harus pergi sebelum subuh,” karang pemuda itu hanya untuk bisa melihat binar bahagia di wajah Aruna. Namun, Aruna tak memberi reaksi apa-apa dan bahkan tak menoleh sama sekali.
“Maaf, kalau yang menyampaikan salamnya aku,” tambah Iyash pelan.
“Makasih, Nak,” ucap Pak Ridwan, sementara Aruna benar-benar bersikap dingin dan mendiamkan Iyash, bahkan sepertinya dia tak menganggap pemuda itu ada.
Iyash mengerti kalau Aruna masih membencinya, selama ini memang dia belum minta maaf soal kertas narasi yang dia lempar, soal foto-foto itu dan soal dia yang menciumnya menirukan adegan yang dilakukan Baek Seung Jo pada Oh Hani.
“Pak Ridwan, kalau begitu saya duluan,” ucap Iyash pelan.
Pak Ridwan mengangguk dan Iyash pun lekas berbelok ke rumah Juragan Hartanto. Di depan pintu pagar Iyash mematung dan memperhatikan Aruna. Dia semakin tak mengenalnya sore itu.
***
Sudah hampir sebulan Iyash menjadi siswa kelas dua SMA, tak banyak yang berubah dengan suasana kelas. Namun, satu yang mengganjal, sikap Aruna yang semakin banyak diam dan kehilangan cerianya. Semua orang menganggap kalau ini semua karena Kak Iqbalnya yang pergi. Iyash justru masih penasaran, benarkah begitu?
Lagi pula kenapa Aruna harus menyiksa dirinya dengan terus memikirkan Iqbal. Iyash hanya bisa menghela napas meredam iri dan juga rasa cemburu. Akhir-akhir ini Aruna bahkan memisahkan diri dari semua teman-temannya. Dia lebih asyik membaca buku Sastra Inggris karya Jane Austen dengan judul Pride and Prejudice, hadiah dari Iqbal. Apa istimewanya buku itu?
“Aku dengar dia juga ingin kuliah di sana, makannya sekarang rajin belajar, dia ingin dapet beasiswa,” kata Naya setengah berbisik.
“Kapan dia ngomong?” tanya Bagas penasaran.
“Waktu dia tahu Kak Iqbal mau kuliah di Jakarta,” jawab Naya.
“Ya ampun, aku iri, pengen juga ada yang sayang sama aku kayak Aruna ke Kak Iqbal,” kata Umam.
Seketika itu juga Iyash mendelik. “Sayang kok nyiksa diri sendiri,” tukas pria itu kesal. Sepertinya memang hanya Iyash yang menyadari kalau apa yang dilakukan Aruna adalah salah. “Masku masih hidup, dia belum mati, orang cuma ditinggal ke Jakarta, ngapain sesedih itu, kayak yang nggak bakal ketemu lagi,” tambah Iyash agak keras agar Aruna yang berada di meja lain dapat mendengarnya.
“Ya udah kita kasih tahu Kak Iqbal aja,” usul Naya.
“Nggak usah,” tolak Iyash tak suka. “Kalian harus tahu kalau Budeku nggak setuju dengan hubungan mereka, jadi, aku harap jangan ada satupun dari kalian yang mengganggu pendidikan Masku. Kalau kalian tidak ingin Bude Mira semakin nggak suka pada Aruna.”
“Kamu ngarang cerita, ‘kan?” tuduh Bagas.
“Nggaklah, kamu bisa cari tahu sendiri,” tukas Iyash.
“Dengar ya, meski kamu ada di kelompok kami, bukan berarti kamu adalah teman kami, setelah apa yang kamu lakukan pada Aruna selama ini,” balas Bagas sengit.
“Memang apa yang aku lakukan, hm?”
Seketika mereka terdiam. Iyash yakin kalau mereka tak memiliki jawaban apa-apa. “Kalian semua pengecut. Memang aku nggak tahu, kalau kamu juga suka sama Aruna,” ucap Iyash pada Bagas. “Kamu mengalah karena Dennis dan Uman juga menyukainya, ‘kan?”
“Jangan sok tahu kamu.” Bagas bangkit. “Mentang-mentang kamu membencinya, kamu bisa bersikap seenaknya, begitu?” Bagas mendorong dada dada Iyash.
“Seenaknya gimana maksudnya?” Iyash pun bangkit.
Selama ini memang Iyash berhasil pura-pura membenci Aruna, padahal dia menyukai gadis itu sejak lama, sebelum mereka dipersatukan di sekolah yang sama. Setiap dia berlibur ke Surabaya diam-diam Iyash selalu memperhatikannya. Namun, sama halnya seperti Bagas, Iyash juga mungkin mengalah pada Iqbal.