
Angkasa tak bisa tidur dan terus memikirkan perkataan Adisty, sebenarnya dia tidak tega membiarkan Adisty pulang tanpa bantuannya, setidaknya selama ini dia selalu ada untuk Adisty. Namun, dia harap untuk kali ini saja Adisty mengerti, dia hanya tidak ingin terlibat apapun lagi, dia takut Adisty malah mengacaukan pernikahannya.
Angkasa merebahkan tubuh di ranjang, pikirannya mengawang. Kenapa dia harus memikirkan hal lain selain pernikahannya?
Seminggu cukup lama untuk mencari tau semuanya. Mungkin bukan untuk Adisty, tapi untuk dirinya sendiri.
Angkasa mengambil ponsel dan mencoba menelpon Ashilla.
Di nada dering ketiga panggilannya terjawab. Terdengar suara lelah di ujung sana. Masih tegakah Angkasa membicarakan ini dengan wanita yang lelah mengurusi kehidupan orang lain sepanjang hari dan melupakan kehidupannya sendiri?
“Kamu lagi apa?” tanya Angkasa.
“Aku mau tidur.”
“Aku ganggu?”
“Kalau aku bilang iya?”
Angkasa terdiam. Kemudian terdengar kekehan di ujung sana.
“Kamu mau bicara apa?”
“Nggak, aku cuma mau bilang aku kangen sama kamu.”
Ashilla kembali tertawa. “Baru tadi sore.”
“Iya.” Angkasa tersenyum kaku. Dia memang tidak akan tega melakukan ini. Ashilla adalah segalanya, dia tidak ingin merusak suasana wanita kesayangannya.
“Seharusnya kita tidak bertemu dulu, kata Bunda kita bisa merasakan rindu lebih dari ini di hari pernikahan kita nanti,” karang Ashilla.
Angkasa kembali tersenyum. Mendengar Ashilla berbicara sepertinya tak mungkin wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya. Mungkin saja Adisty berbohong padanya. Bisa saja Adisty punya rencana yang lebih licik dari yang pernah dilakukan sebelumnya.
“Aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu.”
“Jangan kekanak-kanakan, sebentar lagi kamu jadi ayah.”
Angkasa kembali tersenyum. “Sejak pertama kali kamu menerimaku, aku sudah menjadi ayah bagi Asa.”
Ashilla tersenyum lembut. Dimana lagi dia bisa menemukan pria seperti Angkasa. Bahkan ayahnya Asa saja tidak mengakuinya.
“Kamu pasti capek, ya udah, lebih baik sekarang kamu tidur.” Akhirnya Angkasa terpaksa mengakhiri panggilan teleponnya.
“Ya udah sampai ketemu minggu depan.”
“Minggu depan?” Seketika Angkasa bangkit.
Ashilla tertawa. “Mau gimana lagi, kita harus dipingit.”
“Udah nggak jaman, Sayang.”
“Iya sih, ya udah besok kita ketemu.”
“Ya, mau nggak mau karena kita tidak mengandalkan orang lain untuk pernikahan kita. Besok jam sepuluh aku ke rumah karena Tante Maya mau ketemu kamu sama Bunda.”
“Iya, aku sampai lupa.”
“Untung aku ingetin.”
“Ya udah aku tutup teleponnya. “
“Sampai ketemu besok.”
“Iya.” Jaringan telepon mengakhiri obrolan mereka.
Ashilla tidak pernah tahu tujuan Angkasa meneleponnya. Angkasa sendiri tak ingin memikirkan itu. Dia ingin pernikahannya berjalan lancar.
***
Ganjar pulang dari rumah sakit sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan. Semua anggota keluarganya berkumpul di rumah. Ganjar merasa bahagia karena rumahnya kini menjadi begitu ramai.
Ashilla dan Aruna sedang memasak di dapur lantaran sebentar lagi keluarga Angkasa akan datang ke rumah. Keduanya kompak dibantu Bi Sumi. Sementara Faran ikut menonton.
Aruna tersenyum. “Aku udah lama nggak masak. Kalau ada Mas Faran juga kita lebih sering makan di luar atau beli jadi.”
“Tapi, pernah dong dimasakin, kira-kira kamu suka dia masak apa?” tanya Ashilla pada Faran.
“Aku nggak suka lihat dia lama-lama di dapur,” jawab Faran. Tentu saja apa yang dikatakan Faran tidak benar. Cuman memang Aruna tidak pernah memasakan makanan apapun untuknya.
“Tuh, ‘kan ….” Aruna berbalik menuju kompor. “Jadi, buat apa aku masak.”
“Sayang sekali, padahal dulu ayah selalu memuji masakan Aruna. Kenapa sih, Mas, memang kalau lama-lama di dapur dia jadi bau bawang?” Ashilla terus menggoda sepasang suami istri itu.
Faran tersenyum. Sejujurnya dia juga ingin memuji istrinya andai Aruna memang mau membuatkan makanan untuknya.
“Terus kalau nggak di dapur kamu suka lihat dia berlama-lama di mana?”
“Di kamarlah, depan laptop,” tukas Aruna sembari menggoreng bawang. Itu hanya bisa-bisanya dia saja, mentang-mentang Faran tak pernah melarangnya untuk terus bekerja meski sedang berduaan.
“Ya, cuma kemarin aja dia lupa sama laptopnya,” sahut Faran sembari pergi dari dapur.
Ashilla terperangah. “Kayaknya yang kalian bicarakan kebalikannya,” tuduh wanita berambut panjang itu.
“Nggak, yang Mas Faran bilang memang benar, kamu ‘kan tahu dia nggak pernah bohong.”
“Iya, tapi semenjak hidup dengan kamu, dia jadi pintar berbohong, sama kayak aku.”
Sebenarnya Ashilla tak bermaksud menyindir, namun, Aruna terlalu perasa untuk menerima ucapannya.
Wanita itu tercenung di depan wajan sampai tak sadar telur orek yang dia goreng gosong.
“Astaga.” Ashilla lekas berhenti memotong sayuran dan langsung mematikan kompor.
Aruna mengerjap. “Maaf.”
“Jangan sambil melamun, untung gosongnya nggak parah,” omel Ashilla.
Aruna lekas berbalik dan pergi meninggalkan dapur. Sementara Ashilla belum sadar kalau Aruna baru saja tersinggung olehnya.
“Udah masaknya?” tanya Faran ketika Aruna masuk ke kamar.
“Nggak jadi masak, telurnya gosong.” Aruna pergi berdiri dan menatap bayangannya di cermin. Entah kenapa tiba-tiba ingatan bertahun-tahun silam kembali muncul, padahal sudah lama berlalu bahkan itu terlalu kecil untuk diingat, tapi Aruna memang diberi kekuatan ingatan yang cukup tajam, sehingga hal kecil pun sangat sulit dia lupakan. Dia ingin seperti orang lain yang tak pernah mempermasalahkan hal kecil, tapi dia bukan orang seperti itu, hal kecil saja bisa menjadi besar dalam hidupnya.
Pertengkaran tak pernah terjadi bukan karena sudah ada kecocokan, namun karena Aruna dan Faran yang sama-sama saling mengalah, sehingga membuat keduanya terlalu nyaman akan hal itu.
“Mas,” panggil Aruna.
“Iya?” Faran meninggalkan bukunya dan langsung menatap punggung sang istri.
Aruna menatap lama bayangan Faran di cermin. “Sudah berapa kali kamu berbohong karena aku?”
Faran mengernyit. “Bohong gimana?”
Aruna termangu. Mana mungkin dia bilang kalau dia baru saja tersinggung dengan perkataan Ashilla.
Faran menggaruk kepalanya sendiri. “Yang mana sih?”
“Nggak usah dipikirin,” kata Aruna seraya naik ke atas ranjang dan tidur. Sebenarnya kalimat yang baru saja dia katakan adalah untuk dirinya sendiri, bukan untuk Faran.
“Kok malah tidur, ‘kan mau ada tamu.”
“Tamunya buat Ashilla bukan buat aku.” Aruna memejamkan mata seraya membelakangi Faran.”Lagian dari tadi aku juga nggak enak badan.”
Faran segera meletakkan telapak tangan di kening Aruna.
“Bukan berarti aku demam. Aku cuma butuh istirahat.”
Faran menghela napas sembari menjauhkan tangannya dari kening istrinya. “Kamu tadi nanya sudah berapa kali aku bohong karena kamu?” Faran menyandarkan punggung. “Sudah sering.”
Aruna membuka mata dan termenung, namun tanpa merubah posisi. “Mungkin itulah sebabnya hubungan kita nggak pernah ada kemajuan.”
Aruna lekas berbalik dan menatap suaminya. Dia juga sempat berpikir begitu. Tidak pernah cekcok bukan berarti sudah cocok, tapi karena keduanya yang selalu banyak mengalah dan berbohonglah salah satunya. Bukan cuma Faran yang selalu berbohong dan berpura-pura tidak pernah ada masalah dalam hubungannya, Aruna juga sudah ahli melakukannya sejak dia menikah dengan pria itu. Intinya perasaan keduanya yang tak sebebas Ashilla dan Angkasa.