Behind The Lies

Behind The Lies
Pilih Kamu



Iyash menatap jendela kamar Aruna, biasanya jendela kayu itu akan terbuka sampai pukul delapan, namun setelah maghrib jendela tersebut tertutup rapat. Aruna telah membuatnya khawatir.


Aruna sendiri sedang berusaha mendapat izin sang ayah, dia takut kalau ayahnya akan curiga.


“Ini apa?” tanya Pak Ridwan sembari menatap kertas yang diberikan Aruna padanya.


“Itu surat izin study tour ke Jakarta, Yah. Ayah tinggal tanda tangan di sini,” kata Aruna sembari menunjuk sudut sebelah kanan.


“Kapan berangkat?”


“Besok.”


“Kenapa mendadak?”


“Iya, Runa lupa ngasih surat itu ke ayah. Baru ingat pas diingetin sama Iyash.”


“Oh. Bayarnya berapa?”


“Ini.” Aruna menunjuk angka bagian atas. “Kalau Ayah nggak ada nggak apa-apa, pakai tabungan Aruna aja.”


“Ada, Ayah ada,” kata Pak Ridwan seraya bangkit, kemudian pergi ke kamar untuk mengambil uang. Tak berapa lama dia kembali. “Sekalian sama bekalnya.” Dia meletakkan uang di atas telapak tangan anak gadisnya.


Aruna tersenyum. “Makasih, Ayah.”


Sementara Iyash belum bicara apa-apa pada Nenek, maupun kakeknya. Dia takut mereka akan bertanya pada Bu Mirasih. Iyash masih memikirkan cara untuk mendapat izin.


“Iyash,” panggil Aruna dengan suara tipis. Iyash lekas melongok ke luar jendela. Nampak Aruna sedang tengadah menatapnya. “Gimana?”


Iyash menggelengkan kepala. Seketika Aruna merengut dan itu membuat Iyash merasa bersalah. “Aku belum dapat izin, aku bingung harus bilang apa.”


Aruna tampak berpikir. “Kamu bilang menginap di Umam aja,” titah Aruna.


“Aku siswa teladan. Anak baik-baik. Juara kelas. Kamu nyuruh aku bohong.”


“Sekali-kali buat bantu aku. Kamu tetap dapat pahala kok.”


“Kayak kamu yang ngasih aja.”


Aruna menghela napas. “Kalau nggak mau ya udah. Aku bisa berangkat sendiri.” Gadis itu kemudian berbalik dan mengambil langkah.


Iyash tidak suka melihat Aruna kecewa. Dia lekas melompat dari jendela. “Ya udah iya.”


Seketika Aruna tersenyum. Perlahan kemudian dia berbalik. “Makasih, Iyash.”


Iyash membasahi tenggorokannya. Jantungnya berdentum.


Aruna lekas melangkah mundur, kemudian berbalik, lalu berlari ke dekat jendela kamarnya. Sebelum naik ke jendela, dia menoleh pada Iyash. Pemuda itu melambaikan tangan padanya, namun dia hanya tersenyum, kemudian naik ke kamar.


Iyash sendiri tercenung. Sejak saat itu dia tidak ingin kehilangan senyum Aruna. Iyash pun kembali ke kamarnya dan pergi menemui nenek Alma di kamarnya. Perlahan Iyash mengetuk pintu.


“Nenek, ini Iyash,” kata pemuda itu.


“Iyash, masuk sini. Nenek sedang memijat kakekmu.”


Perlahan Iyash memutar knop pintu. Tampak Juragan Hartanto sedang tidur telungkup dan Nenek Alma sedang mengoleskan minyak urut ke punggungnya. “Ada apa, Yash.”


“Besok Iyash berangkat pagi-pagi. Ada acara di rumah teman.”


“Acara apa?”


“Teman Iyash ulang tahun,” bohongnya. “Mau kasih kejutan, terus malamnya Iyash menginap di sana.”


“Wah seru itu pasti,” kata Nenek Alma.


“Jadi, gimana, Nek?”


“Tanya Kakek.”


“Kek, boleh ya, sehari aja kok.”


“Boleh. Pergilah,” kata Juragan Hartanto sembari tetap tengkurap dan tanpa menoleh ke arah cucu kesayangannya.


Iyash melompat kegirangan sembari mengayun tinju. “Makasih, Kek, Nek.” Dia kemudian melangkah keluar.


“Eh, tapi, Yash?” panggil Juragan Hartanto dan kali ini sedikit bangun sembari menatap Iyash. “Temanmu laki-laki, ‘kan?”


“Iyalah, Kek. Masa cucu kita menginap di rumah perempuan,” kata Nenek Alma.


“Bukan, maksud kakek, yang ulang tahunnya laki-laki, ‘kan?”


Iyash tercenung. Dia kemudian menarik napas. “Iya, laki-laki, Kek.”


“Ya sudah.” Juragan Hartanto kembali pada posisi semula. “Hati-hati kamu.”


“Ah, paling ke kampung sebelah. Nggak masalah,” gumam Nenek Alma sembari menekan punggung sang suami dengan telapak tangan.


“Iya-iya.”


Iyash sendiri menghela napas lega. Hampir saja ketahuan. Ternyata ide Aruna berhasil meloloskannya. Hanya saja dia sudah berdosa karena berbohong pada orang tua.


***


Pagi itu Aruna terlihat sangat bebas. Senyumnya terus mengembang, seolah dia akan mendapat jawaban atas semua pertanyaannya selama ini. Yang Aruna tahu hanya berusaha, dia mungkin tak tahu hasil yang akan didapatkannya nanti.


“Run, cita-cita kamu apa?” tanya Iyash sembari menatap Aruna yang tengah asyik menikmati pemandangan.


“Nggak tahu, mungkin dosen Sastra.”


“Kenapa mungkin?”


Aruna menghela napas, kemudian menoleh dan menatap Iyash. “Aku takut nggak bisa kuliah, Yash.” Dia menggelengkan kepala. “Sekolah di sana aja karena belas kasihan nenek kamu.”


Iyash tergemap dan Aruna kembali menatap jendela kereta api.


“Kalau ada program beasiswa, nanti aku bantu kamu.”


“Iya, makasih,” kata Aruna tanpa menoleh.


Iyash terus menatapnya. Sebenarnya dia merasa penasaran apa tujuan Aruna ke Jakarta, kenapa mendadak. Kalau bukan karena Iqbal terus apa? Iyash ingin bertanya hanya saja dia takut menyinggung Aruna.


“Yash,” panggil gadis itu.


“Hm?”


“Waktu itu aku habis dari makam. Pulangnya aku bertengkar sama Ayah terus pergi dari rumah. Aku memang ke sungai buat menenangkan diri. Semua ini nggak ada hubungannya sama Kak Iqbal.”


Sebuah klarifikasi yang melegakan hati Iyash. “Terus karena apa?” tanya pemuda itu.


“Karena Ayah bohong soal makam ibu,” jawab Aruna jujur. “Bertahun-tahun aku menganggap kalau itu adalah makam ibu, aku berdoa di sana setiap Minggu, tapi ternyata itu makam orang lain, Yash.”


Jantung Iyash mencelus mendengar penuturan Aruna. Gadis itu bahkan menyembunyikan sedihnya dan tak mampu menghadap Iyash.


“Ibuku mungkin masih hidup.”


“Kenapa kamu bisa yakin?”


“Aku menemukan foto ibu di laci Ayah, kurasa aku bisa mencari petunjuk.”


“Kenapa di Jakarta?”


Seketika Aruna menoleh. “Kamu bilang RSCM itu Jakarta, ‘kan, Yash?”


“Iya-iya.” Iyash tergemap melihat amarah di kedua mata gadis itu. “Iya. Kamu berhak marah. Aku ngerti gimana rasanya dibohongi selama bertahun-tahun. Kamu pasti sakit hati,” kata Iyash tanpa bermaksud untuk mengomporinya. Iyash mengerti kalau Aruna hanya butuh pengakuan atas apa yang dia rasakan.


“Yang lebih menyakitkan Ayah nggak menjelaskan apa-apa. Dia hanya meminta maaf. Aku rasa memang ada sesuatu yang dia sembunyikan.”


“Kurasa kamu sudah cukup dewasa untuk tahu kebenarannya, Run.”


Aruna tercenung menatap Iyash.


“Aku salah bicara?” tanya Iyash.


“Makasih, Iyash.”


Iyash tersenyum. “Aku kira ini urusan cinta,” godanya.


Aruna menggeleng. “Aku nggak punya perasaan apa-apa sama Kak Iqbal,” gumam Aruna seraya kembali menatap ke jendela. “Sebelum pergi ke Jakarta, Kak Iqbal memang menyatakan perasaannya, tapi aku nggak bisa menganggapnya lebih dari seorang Kakak. Aku akui dia sudah banyak berkorban dan aku berterima kasih untuk hal itu, hanya saja aku tidak bisa membalasnya.”


Pengakuan yang benar-benar membuat Iyash senang, saking senangnya dia sampai mengucap, “Alhamdulillah,” seraya mengusap wajah.


Seketika Aruna mengernyit dan menoleh menatapnya. “Kenapa?”


Iyash mengerjap. “Hah, itu bentar lagi nyampe,” bohongnya.


“Serius?” Aruna tampak antusias dan kembali menatap keluar.


Iyash hanya tersenyum gemas melihat tingkah Aruna. “Run?”


“Hm?” sahut Aruna tanpa menoleh.


“Kamu tahu, ‘kan Dennis, Umam sama Bagas suka sama kamu?”


“Mereka juga suka sama Naya. Kurasa mereka suka dengan semua siswa perempuan,” jawab Aruna.


Iyash tersenyum sinis. Dia yakin kalau Aruna tahu akan hal itu. Mengenal Aruna bukan gadis polos yang lugu seperti bayangannya adalah hal yang mengejutkan bagi Iyash.


“Kamu pilih siapa diantara tiga itu?” tanya Iyash.


“Pilih kamu,” jawab Aruna tanpa menoleh.


Seketika Iyash tersenyum. Namun, dia tak ingin terpedaya. “Kamu yakin?”


“Buktinya cuma kamu yang aku ajak, cuma kamu yang tahu rahasia aku,” kata Aruna sembari menoleh dan menatap Iyash.


Iyash menarik napas seraya menahan senyum.


“Pipi kamu merah,” kata Aruna seraya kembali menghadap jendela. Bibirnya ikut tersungging tipis. Sementara Iyash lekas berbalik membelakanginya. Di sinetron atau di novel-novel, pipi merah biasa terjadi pada tokoh perempuan. Namun, kenapa Aruna bisa melihat rona merah di kedua pipi Iyash? Apa karena kulit putih dan bersih Iyash, sehingga warna itu terlihat mencolok?


***