
Sebelum mereka berangkat ke kantor polisi, Ashilla mengeluh tentang darah di jok mobilnya. Dia sampai muntah karena bau yang menyengat hidungnya.
“Aku telepon temanku dulu,” kata Iyash berinisiatif. Dia menyambungkan panggilan pada Raffa dan memintanya mengirim orang untuk mengambil mobil Ashilla dari rumah sakit dan membawanya ke tempat cuci mobil.
“Kalau nodanya susah hilang, tolong ganti aja kulit joknya, biar nanti aku transfer uangnya. Soalnya itu mobil Opa,” kata Ashilla.
Iyash menoleh pada wanita berbaju merah muda tersebut dan segera melanjutkan kalimat Ashilla pada orang di telepon. Setelah itu dia memutus sambungan dan memberikan satu helmnya pada Ashilla. “Maaf terbiasa bawa motor.”
“Nggak usah minta maaf.” Ashilla meraih helm tersebut dari tangan Iyash. Dia kemudian mengenakannya, namun dia membiarkan tali helm itu menjuntai tanpa menguncinya. “Sudah.”
Iyash menatapnya lama. Dia kemudian mendekat dan membantu mengunci helm yang dikenakan Ashilla. Jantung Ashilla tiba-tiba berdegup melihat Iyash sangat dekat dengan wajahnya. Dia takut Iyash akan mengecupnya lagi seperti ketika di resto tempo hari.
“Ini kalau kena angin bisa lepas,” kata Iyash pelan.
“Oh.”
Setelah helm terkunci, pria itu lekas naik ke motornya diikuti Ashilla. Hari itu Iyash tak banyak bicara, namun pergerakannya cepat. Pria seperti itulah banyak bertindak sedikit bicara, membuat Ashilla merasa penasaran dan ingin mendengar Iyash bicara lebih banyak, atau setidaknya membahas kejadian di acara reuni. Eh tapi buat apa? Ashilla saja merasa gondok dengan kejadian tersebut.
“Keluarganya pasti sedih,” ucap Ashilla berniat memancing Iyash ke dalam obrolan. Namun pria itu begitu fokus mengemudi, sehingga tak menanggapinya. Mungkin Ashilla bicara kurang keras karena deru motor dan angin yang saling bersahutan, belum lagi suara kendaraan lain yang menambah kebisingan jalanan ibu kota.
“Yash.” Ashilla menepuk bahu pria itu. “Keluarganya pasti sedih, ‘kan?”
“Nggak ada yang nggak sedih ditinggal orang yang kita cintai,” jawab Iyash.
Ashilla tercenung mendengar kalimatnya. Entah kenapa dia merasa kalau Iyash menyampaikan kalimat tersebut dari hati dan jatuh lagi ke hati.
Sementara motor terus menggeber di bawah teriknya sinar matahari. Ini kali pertama Ashilla menikmati polusi jalanan dalam berkendara. Angin bertiup dari depan dan menerbangkan rambut panjangnya, meski memakai helm, dia yakin rambutnya pasti berantakan.
Sesampainya di depan kantor polisi. Ashilla lekas turun dan mencoba membuka helm, namun tak bisa. Sementara Iyash sudah lebih dulu masuk ke kantor polisi. Akhirnya Ashilla mengenakan helm tersebut dan berdiri di sebelahnya.
“Kenapa nggak dibuka?” tanya Iyash pelan.
“Nggak bisa,” bisik Ashilla malu.
Iyash lekas menurunkan wajahnya dan menatap dagu Ashilla, pengait helm masih terkunci, dia sebenarnya penasaran, apakah Ashilla baru pertama kali mengenakan helm atau wanita itu hanya mencari perhatiannya saja?
“Sudah kucoba beberapa kali, tapi tetap nggak bisa,” keluh Ashilla pelan.
Iyash tersenyum simpul.
“Aku beneran nggak bisa,” tambah Ashilla meyakinkan pria itu, sepertinya dia merasa kalau senyum Iyash hanya untuk mengejeknya.
“Memang kamu belum pernah pakai helm?” tanya Iyash sembari membukakannya.
Ashilla menggeleng. “Mungkin.” Wanita itu mengedikkan bahu. “Aku lupa.”
“Sepeda?”
Entah kenapa Iyash harus bertanya hal sepele seperti itu. Apa memang itu teramat penting? Ashilla terdiam untuk beberapa saat, kemudian menggeleng. “Kalau nggak naik mobil, aku biasa jalan kaki.”
“Oh.”
Sesaat Ashilla terpesona menatap ketampanan Iyash. Tampaknya Iyash memang cukup pintar merawat diri, terlihat dari penampilannya yang rapi, kulitnya yang bersih dengan tone yang tidak gelap dan tidak juga terlalu putih. Bagi Ashilla, Iyash tak berlebihan dalam mengekspresikan penampilannya sama halnya dengan Angkasa.
“Sudah, Shill,” kata Iyash, namun Ashilla masih menatapnya, meski Iyash sudah menegakkan tubuhnya. “Shil.” Iyash menjentikkan jari di depan wajah wanita itu.
“Maaf, makasih.” Ashilla nampak gugup dan lekas tertunduk.
Iyash duduk berhadapan dengan pria berseragam coklat, dia dipaksa untuk banyak bicara sementara Ashilla sendiri bicara seperlunya ketika mendapat pertanyaan saja.
Selesai dari kantor polisi, Iyash mengajak Ashilla ke sebuah restoran karena waktu sudah masuk jam makan siang. “Kamu banyak melamun, siapa tahu kalau makan, kamu bisa lebih terkoneksi.”
Ashilla mendengkus. “Memang aku ponsel.”
“Ponsel aja butuh di charge, butuh sinyal kuat agar bisa digunakan dengan baik, manusia pun begitu, mungkin otak kamu butuh setidaknya cairan untuk bisa kembali berpikir jernih setelah apa yang kamu lewati hari ini.”
“Tapi, aku nggak laper.”
“Tapi, aku lapar,” kata Iyash. “Terserah kalau nggak mau makan nggak apa-apa.”
“Terima kasih untuk hari ini, kalau nggak ada kamu aku nggak tahu gimana.”
Iyash tersenyum kecil. Ashilla baru saja mengapresiasi dirinya. Tak perlu memberi hadiah untuk mengucapkan terima kasih karena dengan berkata demikian lebih membanggakan dari apapun yang mampu dihadirkan.
“Cuma kebetulan,” kata Iyash pura-pura tak senang.
“Nggak ada yang kebetulan, aku nggak pernah percaya kebetulan, bagiku semua sudah ada jalannya.”
Iyash mengangguk seraya membasahi tenggorokan.
Mereka masuk ke dalam restoran italia yang pernah Iyash kunjungi bersama Aruna dulu. Ashilla mencari tempat duduk di dekat jendela dan itu berhasil mengundang ingatan Iyash lagi karena dulu pun Aruna memilih duduk di sana.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Iyash setelah duduk.
“Terserah kamu aja, asli aku lagi nggak nafsu makan.”
“Minumnya?”
“Dia jus alpukat, saya es lemon aja.”
“Nggak,” tolak Ashilla cepat. “Saya nggak suka jus alpukat, saya es lemon juga, sama kayak dia.”
“Baik, mohon ditunggu.”
Iyash tergemap menatap Ashilla. Dia baru saja menghidupkan Aruna dalam diri wanita itu. Ashilla sendiri baru saja menyadarinya. Dia sebenarnya menyukai jus alpukat, namun memilih berbohong dengan mengatakan kebalikannya karena tak ingin Iyash berada dalam mimpi seolah siang itu dia makan ditemani Aruna, meski Ashilla tidak tahu seberapa mirip dirinya dengan wanita yang sudah sering dia dengar namanya itu.
“Aku kebayang darah itu lagi,” keluh Ashilla.
“Nggak usah disebutin, itu malah semakin membuat kamu ingin membayangkannya.”
Ashilla tergemap menatap Iyash. Pria itu tak pernah berkata hal yang tidak berguna, bahkan sepertinya dia sangat jarang basa-basi.
“Kamu suka ravioli?” tanya Ashilla sesaat setelah dua piring ravioli mendarat di meja.
“Iya. Kamu minta aku yang memilih, jadi aku pilihkan itu, kalau nggak suka harusnya bilang dari awal,” kata Iyash datar tanpa menatap lawan bicaranya.
“Bukan. Aku juga suka kok,” tukas Ashilla tak enak hati.
“Kalau begitu makan. Bersyukurlah hari ini masih bisa makan.”
Ashilla tergemap dan langsung tertunduk menikmati makanannya. Dia memaksakan diri untuk makan, meski sedari tadi dia merasa mual dan ingin muntah.
“Aku harus bilang apa sama Opa?”
“Bilang aja semuanya, nggak ada gunanya kamu tutupi.”
“Aku takut Opa khawatir. Selama aku bisa mengatasinya, aku nggak perlu melibatkan orang lain.”
“Pak Ganjar kakek kamu, ‘kan? Jujur, lebih baik daripada menutupi kebenaran untuk membuatnya tidak khawatir, toh Pak Ganjar akan tetap tahu. Entah itu dari kamu sendiri atau orang lain.”
“Iya-iya,” dengkus Ashilla kesal. “Seharusnya aku kenal kamu dari dulu, dengan begitu aku akan jadikan kamu guru spiritualku.”
Deg! Dada Iyash seperti dihantam benda berat, dia sampai berhenti mengunyah. Apa yang dikatakan Ashilla barusan, persis seperti apa yang dia dengar tiga belas tahun yang lalu dari mulut Aruna.
“Kamu punya pacar?” tanya Ashilla tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Aku takut pacar kamu marah.”
Iyash menggeleng.
“Jadi, perempuan seperti apa yang kamu cari?”
Iyash memilih menyeruput es lemon daripada menjawab pertanyaan Ashilla.
“Seperti aku?” tebak wanita itu asal. Seketika Iyash mengangkat wajah dan terdiam menatapnya. Kemudian terdengar kekehan Ashilla dan itu membuatnya mengerjap. “Aku bercanda. Mana mungkin sepertiku. Kamu pasti mencari yang berbeda dengan mantan pacar kamu,’kan?”
Iyash tak menanggapi dan memilih untuk menghabiskan minumannya.
“Kasihan pacar kamu selanjutnya, dia pasti sedih karena kamu masih belum bisa bangkit dari cinta masa lalu kamu.”
Iyash malah bangkit. “Aku antar kamu pulang sekarang.”
“Eh ….” Ashilla terperangah. “Tapi makananku belum habis.”
Iyash tak peduli. Dia memilih untuk memanggil pelayan dan meminta bill, setelah membayar dia menatap Ashilla. “Aku tunggu kamu di luar. Kecuali kamu mau pulang sendiri.” Sedetik setelahnya dia berlalu.
Air muka pria itu berubah dan itu membuat Ashilla merasa bersalah. Dia lekas bangkit dan menyusul Iyash. “Yash, aku salah bicara?”
Iyash tak memberi tanggapan.
“Kalau aku salah, aku minta maaf,” kata Ashilla sembari meraih helm yang diberikan Iyash padanya.
Iyash kembali tak menanggapi dan langsung naik ke motornya. “Yash,” panggil Ashilla lagi. “Aku minta maaf ya, kalau aku menyinggung kamu.”
“Cepat, aku harus ke proyek.”
Ashilla menghela napas. “Antar aku ke kantor.”
Iyash langsung menancap gas dan melesat pergi. Ashilla menatap punggung pemuda itu, aroma musk kembali menguar terbawa angin dan mendarat di penciumannya. Ah, dia benci ingatan itu lagi. Kenapa waktu itu Iyash harus mengecup bibirnya?
Entah berapa lama mereka menempuh perjalanan, yang jelas Ashilla merasa sangat lama apalagi tak ada obrolan apa-apa. Ketika turun dari motor, Ashilla kembali meminta maaf. Namun, Iyash masih mengabaikannya. Iyash menerima helm dari tangannya tanpa bicara apapun.
Ashilla malah merengut. “Iyash, makasih.”
Iyash mengangguk dan pergi bersama kendaraannya. Ashilla sendiri mematung di depan gedung perusahaan Wijaya Group.