Behind The Lies

Behind The Lies
Pertanyaan Dijawab Pertanyaan



Sampai detik ini belum ada kabar di mana Edgar berada. Rumah yang semula ramai  tampak begitu sepi. Biasanya akan ada tawa canda Edgar di meja makan dan akan ada suara deheman Ganjar untuk menenangkan suasana yang kisruh.


Asa akan teriak mengadukan kejahilan Om nya. “Bunda-Bunda, Om Edgar nakal. Sekarang bahkan yang terlihat Asa begitu lemas, dia malas dan mengeluh tak ingin ke sekolah.


Setiap makanan yang masuk ke dalam mulut Miranti terasa begitu hambar, hanya ada kepahitan yang dia rasakan. Air mata mengurai di setiap suapnya.


Ashilla menghela napas melihat Miranti seperti itu. Sebelumnya Miranti tak pernah menjadi sesedih ini.


“Bund, Aku sama Angkasa akan cari Kak Edgar.”


“Mau cari kemana?” tanya Miranti dengan wajah tertunduk. “Kakak kamu mungkin tidak ingin kembali.”


“Kak Edgar pasti kembali, Bund.”


“Kalau dia memang akan pulang, dia akan mengabari kita di mana dia sekarang.”


“Dia ada di Surabaya,” sahut suara di depan pintu yang sudah terbuka.


Semua orang menoleh ke asal suara yang belum terlihat siapa pemilik suara tersebut.


Sepasang kaki melangkah dan mendekat. “Semalam, aku minta bantuan temanku yang polisi untuk melacak keberadaan Kak Edgar,” kata Marissa.


“Di mana?” Miranti bangkit dan hendak mendekat. Namun, Marissa sudah lebih dulu mendekat padanya dengan berlari, sehingga bisa menahan Miranti untuk tetap duduk.


“Di sini, Bund.” Marissa menunjukkan layar ponselnya.


Semua orang terdiam melihat Miranti dan Marissa. Nampak seri di wajah Miranti telah kembali dan itu membuat Marissa merasa telah menjadi penawar untuk luka di hati Miranti.


“Dia di mana, Bund?” tanya Ashilla penasaran.


Alih-alih menjawab. Miranti malah bangkit dan pergi meninggalkan meja makan.


“Bunda mau kemana?” tanya Ashilla seraya bangkit dan pergi menyusulnya.


“Bunda harus nyusul Kakak kamu. Dia ada di Surabaya.”


“Sedang apa dia di sana, gimana kalau itu hanya karangan aja, biar Bunda senang?”


“Bunda yakin dia memang ada di sana.”


“Kenapa Bunda bisa seyakin itu?”


Miranti tergemap. Dia kemudian menatap Aruna yang sedari tadi hanya diam dan bahkan semalam pun tak ikut berkumpul.


“Run,” panggil Miranti. Dia kemudian memberi isyarat agar Aruna mendekat padanya.


Aruna menoleh pada Faran, lalu kemudian bangkit dan mendekat pada Miranti.


“Kamu dulu tinggal di Surabaya, ‘kan?” tanya Miranti.


Aruna mengangguk.


“Kamu mungkin tahu, alamat yang diberikan Marissa.”


Aruna menggeleng.


“Cha,” panggil Miranti. “Tunjukkan.”


Marissa lekas menunjukkan layar ponselnya.


Seketika Aruna tergemap. Ingatannya melayang pada tempat itu lagi, tempat yang memiliki banyak kenangannya bersama sang ayah. Tempat yang membuat dirinya sadar kalau seharusnya dia tetap di sana. Tempat yang membuatnya tak mengerti tentang luka sang ayah.


“Kamu tahu, ‘kan?” tanya Miranti memastikan.


“Jawab, Run,” kata Ashilla.


Aruna menolak semua pikirannya. “Buat apa Kak Edgar di sana. Punya tujuan apa? Marissa pasti bohong soal ini.”


“Aku juga nggak tahu, tapi, aku percaya kalau Kak Edgar di sini karena temanku nggak mungkin bohong,”  jawab Marissa.


Lagi-lagi Marissa mengabaikan Ashilla. Dia malah menatap Aruna dan memastikan kalau Aruna memang tahu tempat itu. Dia sangat yakin. “Kamu tahu tempat itu, ‘kan, Run?”


Aruna termangu. Dia tahu, tapi dia tak berani mengatakannya. Namun, dia juga tak mungkin berbohong.


“Aruna jawab!” teriakan Ashilla membuat semua orang terkesiap. Sebenarnya Ashilla kesal karena berkali-kali Miranti mengabaikannya dan bahkan tak menatap wajahnya.


Faran dan Angkasa langsung mendekat ke arah mereka.


“Buat apa Kak Edgar pergi ke tempat aku dibesarkan. Ada urusan apa Kak Edgar di sana?” Suara Aruna bergetar.


Semua orang terkejut mendengar hal itu. Pertanyaan Ashilla dijawab dengan pertanyaan lagi. Namun, di sana Miranti mendapat jawaban.


“Apa?” Seketika kening Ashilla mengernyit. Dia kembali bertanya pada Miranti. “Bunda, sebenarnya ini ada apa?” Dia sangat yakin kalau Edgar tak akan pergi tanpa alasan.


Miranti terpegun. Dia tak mungkin mengatakan kalau Edgar ke sana untuk mencari keluarga sang ayah. Dia tahu kalau itu adalah tempat asal Hasa. Sebenarnya dia tak perlu menanyakan itu pada Aruna, karena dia juga terkejut kalau Gusman dan Aruna pernah tinggal di sana.


Dunia begitu sempit, semua menjadi mudah dengan silaturahmi. Hanya saja semua menjadi sulit ketika manusia memutuskan hubungan dengan manusia lainnya. Itulah yang terjadi.


“Cha, makasih udah bantu. Sekarang kamu boleh pergi, mau kerja, ‘kan?” kata Miranti.


Marissa mengangguk. “Iya, Bund. Kalau begitu Icha pamit.” Dia pun mengecup punggung tangan Miranti. “Kak Aruna, Kak Ashilla, Icha berangkat dulu.”


Ashilla mendelik, sedangkan Aruna sendiri tak menoleh.


Marissa sadar dengan suasana yang menegangkan itu. Dia tak mungkin berada di sana karena dia bukan siapa-siapa. Dia hanya orang yang kebetulan bisa mengenal keluarga itu.


“Dari tadi, Bunda nggak jawab pertanyaan aku, tapi aku yakin Bunda menyembunyikan sesuatu. Kak Edgar nggak mungkin pergi tanpa kabar, apalagi sampai mengabaikan kita semua di sini.”


Ashilla masih dengan pertanyaan dan keyakianannya. Sekarang dia malah menuduh Miranti, namun memang dia tak akan menuduh jika semalam tidak terjadi apa-apa.


Miranti belum mau menjawab. Dia malah berniat pergi ke kamar, namun Ashilla menahannya dengan berkata, “Biar aku yang katakan semuanya.”


Langkah kaki Miranti tertahan.


“Kamu pernah cerita,” kata Ashilla pada Aruna, “kalau Iyash tinggal di Surabaya bersama kakek dan neneknya dari pihak ayah.”


Aruna tergemap. Kenapa Ashilla harus mengatakan itu di depan Faran.


“Itulah alasan Kak Edgar ke sana. Kurasa dia sudah tahu siapa ayah kandungnya.”


Aruna mengernyit. “Maksud kamu apa?”


Angkasa dan Faran tak kalah terkejut.


“Bund, kalau Bunda nggak bilang semuanya. Jangan salahkan aku kalau–”


“Ashilla benar,” sahut Miranti cepat. “Edgar ke sana mencari ayahnya.”


“Apa ayahnya itu Om Hasa?” tebak Angkasa.


“Nggak mungkin.” Aruna mundur. Namun, punggungnya menabrak dada Faran. Dan Faran lekas merangkulnya.


 “Maaf, aku cuma menebak,” kata Angkasa.


“Bilang kalau Angkasa benar, Bund,” paksa Ashilla.


Miranti menghela napas. Dia kemudian menggeleng. “Ini hanya salah paham. Dia ke Surabaya memang mencari ayahnya, tapi bukan berarti itu orang yang Angkasa sebutkan,” sanggah Miranti.


Ashilla berdecak karena Miranti tak mau jujur. Dia bingung kenapa semua orang di keluarganya sangat berat berkata jujur. Kedua tangannya mengepal kuat. Dadanya bergejolak dan ingin berteriak kalau dia jujur dan Miranti bohong.


“Kalian lanjutkan makan. Bunda harus pergi.”


“Biar kami antar, Bund,” kata Angkasa. “Kita bisa berangkat ke sana sama-sama, ‘kan?”


“Nggak apa-apa, Bunda bisa sendiri.” Miranti pergi ke kamar, sementara sebagian orang tercenung.


Aruna sendiri bingung dengan semua ini. Dia pikir kalau Miranti adalah sosok perempuan yang memang selalu menerima keadaan dengan berkata jujur dan itu selalu diikuti oleh Ashilla. Namun, sekarang tampak keduanya berbeda. Dia sangat yakin kalau tidak Ashilla yang bohong, mungkin Miranti.