Behind The Lies

Behind The Lies
Jangan Ada Kata Putus



“Sayang.” Angkasa yang baru berhasil melepaskan kostum tokoh kesayangannya itu lekas mendekat dan memeluk Ashilla. “Aku minta maaf. Aku panik dan nggak sempat menolong kamu.” Angkasa kemudian mengecup puncak kepala Ashilla beberapa kali.


Ashilla termangu dan tetap menatap Iyash yang nampak basah kuyup, dia tak menjauhkan pandangannya dari pria itu, meski dia tengah berada dalam pelukan Angkasa. Ashilla ingin mengucapkan terima kasih, namun trauma itu membuatnya tak dapat berkata apa-apa.


Iyash bergeser, namun, Ashilla menahan tangannya. Hingga pria itu terperangah merasakan genggaman Ashilla. “Run, aku–”


Seketika Angkasa menoleh. “Cukup, Yash! Dia bukan Aruna,” teriak Angkasa seraya melepaskan pelukannya pada Ashilla, kemudian bangkit.


“Aruna atau bukan, dia hampir mati,” ucap Iyash kaku karena dia baru menyadari kalau saat Ashilla terkesiap lantaran ketukan gelas di meja itu telah mengingatkannya pada Aruna dan alam bawah sadarnya terus menganggap wanita itu memang Aruna.


“Gue udah kasih lu kesempatan buat nolong dia, tapi lu lama, terlalu sayang sama kostum culun lu itu.” Iyash kemudian mengedarkan pandangan. “Yang lain juga,” tambahnya dengan nada yang sedikit lebih rendah.


“Iya, karena cuma lu yang nggak pakai kostum.”


“Walaupun gue pakai kostum aneh itu, gue bakalan tetap loncat dan nolong dia karena ini urusannya nyawa,” teriak Iyash.


“Lu nolong dia karena dia mirip Aruna, iya, ‘kan?”


Iyash termangu sampai beberapa detik.


“Perlu gue tegasin sekali lagi, dia cewek gue, dia Ashilla Wijaya, bukan Aruna Anastasya, seperti yang lu sebutin dalam cerita itu.”


“Angkasa, harusnya lo bilang terima kasih sama Iyash,” kata Lisa.


Napas Ashilla terengah dan dia merasa bersalah mendengar pertengkaran itu. Ashilla kembali terbatuk dan mencoba bangkit, lalu mengambil langkah, meski sempoyongan. Angkasa lekas datang memburunya. “Sayang, aku minta maaf.”


Ashilla malah meminta Angkasa bergeser dan memberinya jalan. Sementara Iyash lekas mengambil blazernya di meja, kemudian pergi meninggalkan acara tersebut tanpa berkata apapun lagi.


“Kita pulang,” ucap Angkasa.


Ashilla menarik napas dalam-dalam seraya memegangi dadanya sendiri. “Kita putus,” ucapnya pelan, Dia segera menyambar tasnya dari bahu Angkasa.


Angkasa tergemap mendengar Ashilla memutuskannya di depan semua orang. “Sayang, aku nggak terima kamu mutusin aku gitu aja.”


“Gitu aja?” Ashilla mengedarkan pandangan, dia kemudian menatap Angkasa sembari menunjuk dadanya sendiri. “Kamu pikir aku ini apa? Aku udah ngajak kamu pulang dari tadi.”


“Tapi kamu nggak bisa minta putus cuma gara-gara aku terlambat menolong kamu.”


Ashilla menggeleng, kemudian mengambil langkah terseok-seok sembari terus menangis. Dia tahu dia salah karena mengorbankan hubungannya yang sudah terjalin satu tahun itu dengan kejadian malam ini, padahal sepanjang malam Angkasa memperlakukannya dengan baik.


“Siapa yang udah bikin cewek gue jatuh ke kolam?” teriak Angkasa.


Langkah kaki Ashilla terhenti dan ingin dia katakan kalau orang itu adalah Adisty.


“Lu, ‘kan, Dis,” tuduh Angkasa. “Gue tahu ini pasti ulah lu. Si Cinta yang licik dan akan melakukan apapun untuk menyingkirkan siapa saja yang dekat sama sahabat kecilnya.”


PLAK!


Satu tamparan mendarat di pipi Angkasa dan itu membuat Ashilla menoleh.


“Anjing, kenapa lo nuduh gue? Bisa aja orang yang ngelakuinnya si Sarah, mantan temen bobo lo.”


PLAK!


Kali ini telapak tangan Angkasa yang mendarat di pipi Adisty, kemudian pria itu menjambak rambut sahabatnya dengan kasar dan menariknya ke bibir kolam. Adisty sempat melawan, namun tenaga Angkasa lebih besar. Semua orang ketakutan dan tak ada satupun yang mencoba melerai mereka atau mencegah Angkasa agar tidak keluar dari batasannya.


“Dari tadi, gue udah sabar ikutin semua permainan lu, seharusnya keputusan gue untuk tidak ngumpul adalah hal yang tepat.” Angkasa terus menahan Adisty di dalam kolam meski wanita itu hampir mati karena kehabisan napas. “Mulut lu emang nggak pernah dididik dengan benar, dasar ******!” cerca Angkasa.


Perlahan orang-orang pergi membubarkan diri, tampaknya mereka tak mau ikut campur. Apa itu yang disebut pertemanan?


Ashila berjalan terseok-seok, lalu menjatuhkan lutut dan memeluk punggung Angkasa. Dia berharap malam itu tak ada yang kehilangan nyawa dan berurusan dengan polisi.


Perlahan Angkasa berhenti menyiksa Adisty. Dia mulai merasakan pelukan Ashilla, kemudian berbalik dan membantunya berdiri. “Sayang,” dia lalu mendekapnya hangat, “maaf karena gagal melindungi kamu.”


Perlahan Adisty bangkit, setengah tubuhnya sudah basah dari kepala sampai ke dada. Tentu menyakitkan berjongkok dan menahan diri agar tak jatuh dari bibir kolam, sementara dia dipaksa untuk menunduk dan kesulitan bernapas di dalam air.


Ashilla tak menanggapi, namun dari kejadian tersebut dia belajar satu hal, mana yang tulus dan mana yang pura-pura tulus.


“Kita pulang. Aku minta maaf, seharusnya saat kamu meminta pulang, aku menurutinya. Aku memang bodoh karena bertahan dalam pertemanan seperti ini.”


Ashilla menangis dalam pelukan Angkasa. Dan itu membuat Angkasa benar-benar merasa bersalah.


***


Sepanjang perjalanan pulang. Ashilla dan Angkasa sama-sama terdiam. Ashilla merasa sesak, sehingga dia terus memegangi dadanya sendiri.


“Sayang?” Angkasa menoleh sekilas dan saat dia menyadari kalau Ashilla tidak baik-baik saja, dia lekas menepi. “Kita ke Dokter.”


Ashilla meredakan rasa sakit yang mengingatkannya pada trauma itu lagi. Kepalanya sudah berdenyut sejak tadi, jika memang Angkasa peduli, seharusnya dia tak perlu menunggu persetujuan Ashilla untuk mengantarnya ke Dokter.


“Aku antar kamu ke Dokter.” Angkasa kembali memutar kemudi dan melesat pergi menuju rumah sakit. Namun, Ashilla menahan tangannya.


“Antar aku pulang aja, aku nggak apa-apa.”


“Kamu yakin?”


Ashilla mengangguk.


“Nggak. Kamu harus ke Dokter.”


“Mungkin semuanya cukup sampai di sini. Aku nggak bisa sama-sama kamu lagi.”


Kali ini Angkasa berhenti mengemudi dan berhenti di tengah jalan, hal itu dapat membahayakan mereka kalau ada pengendara lain di belakangnya. Namun Tuhan masih membantu mereka untuk selamat malam ini.


“Sayang.” Angkasa menggeleng pelan. “Apa karena aku nggak bisa menolong kamu?”


Ashilla tak menjawab.


“Atau karena aku memaksa kamu untuk tetap berada di sana, iya?”


Lagi-lagi Ashilla tak menjawab dan hanya ada air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


“Sayang, please.” Angkasa memohon sembari menyeka pipi basah Ashilla. “Tadi aku udah berusaha buat melepas kostum aku dan turun ke kolam, tapi udah keduluan sama Iyash. Aku memang harusnya berterima kasih sama Iyash, tapi aku emosi saat dia manggil kamu, Aruna.”


Perasaan Ashilla terus berkecamuk. Dia sendiri tak memiliki alasan pasti memutuskan Angkasa. Kalimat itu tiba-tiba keluar begitu saja bersama dengan luapan emosinya.


“Aku pulang dan menyusul kamu ke sini, bukan untuk putus sama kamu, Sayang,” kata Angkasa lembut. “Tolong jangan ambil keputusan dalam keadaan marah.”


Ashilla tak memberi tanggapan apapun, dia malah terus menangis dan meluapkan semua emosinya untuk kejadian malam ini.


“Untuk semua yang terjadi malam ini, aku minta maaf. Sekarang aku antar kamu pulang dan besok pagi aku ke rumah. Semoga besok semua baik-baik saja.”


Perlahan Angkasa kembali melajukan kendaraannya. Meski malam ini dia merasa kesal, marah dan bahkan kecewa karena Ashilla memutuskannya karena hal sepele. Ya, bagi Angkasa semua bisa dibicarakan dengan baik tanpa perlu ada kata putus.