
“Maira, namanya Maira,” kata Edgar sembari memberikan obat pada Ashilla. Tentu saja Ashilla mengernyit tak mengerti.
“Siapa Maria?” tanya Miranti penasaran.
“Maira, namanya Maira.” Edgar mengulangi kalimat tersebut.
“Maira siapa?” tanya Ashilla kesal. “Pulang-pulang kayak orang kena hipnotis,” gerutunya.
“Anaknya Dokter Mirza,” jawab Edgar.
Seketika Ashilla dan Miranti bersitatap dengan kedua alis yang terangkat.
Edgar keluar dari kamar Aruna dengan wajah sumringah. Pria itu seperti baru saja tersihir.
“Kamu udah makan?” tanya Ashilla pada Aruna.
Aruna menggeleng. Jangankan makan, minum saja tidak, selain barusan ketika sadar dari pingsan.
“Aku ambilkan makan dulu, nanti kamu bisa minum obat,” kata Ashilla seraya meletakkan obat di meja.
Aruna tak menggeleng maupun mengangguk. Ashilla tak perlu persetujuannya, dia tetap ke dapur mengambilkan makan untuk saudara kembarnya.
“Kamu makan dulu sama Ashilla, habis minum obat istirahat. Bunda mau bicara sama Edgar.”
Aruna mengangguk. Miranti pun pergi dari kamarnya. Dalam keheningan Aruna melihat bayangan Iyash, wajah marah kalimat menyakitkan yang Iyash lontarkan kembali terngiang. Banyak hal berubah dalam diri Iyash. Namun, bukan kali ini dia merasakannya, dulu ketika dia hendak tinggal di Jakarta sepuluh tahun lalu, sebelum kecelakaan itu terjadi, Iyash sangat asing di pikirannya. Dua tahun berpacaran tak membuatnya paham siapa Iyash dan bagaimana pria itu sebenarnya. Menilik ke belakang akhirnya dia tahu kalau Iyash memang seperti itu.
Ashilla kembali dari dapur dan membuyarkan lamunannya. “Kamu keluar dari rumah diam-diam, mau kemana?” tanyanya seraya meletakkan gelas di meja, kemudian duduk.
“Maaf merepotkan.” Aruna lekas duduk tegak untuk makan.
“Makan dulu.” Ashilla memberikan piring yang dipegangnya.
Nasi beserta sayur sop tak membuatnya berselera. Namun, dia harus tetap makan.
“Kami panik karena kamu nggak jawab telepon, jadi terpaksa telepon Faran.” Ashilla bangkit dan menyiapkan obat. “Terus kami dapat telepon lagi katanya kamu jalan-jalan keluar dan sudah mau pulang.” Ashilla kembali duduk.
“Kalau aku boleh tahu, kamu pergi kemana?”
Aruna menatap saudaranya tanpa berkedip.
“Pengalaman kamu hari ini aman sama aku.” Ashilla mencoba meyakinkannya.
“Aku ….” Aruna menjeda kalimatnya lama.
“Apa ada hubungannya sama kiriman kemarin?”
Aruna mengangguk.
“Iyash?” Ashilla menunggu anggukan Aruna selanjutnya. “Kamu bertemu Iyash?”
Aruna membasahi tenggorokannya. Dia kemudian meletakkan piring di meja dan mulai minum obat disusul air putih.
Ashilla menghela napas. “Kenapa kamu nggak ngajak aku?”
“Buat apa?”
“Setidaknya ada orang yang menemani kamu.”
“Aku memang menemuinya.”
“Untuk?”
“Minta maaf.”
“Oke.” Ashilla mengangguk. “Jadi, kalian sudah baikan?”
“Makin buruk. Dia sudah banyak berubah.”
“Terus apa itu salah kamu?” Ashilla menggenggam tangan Aruna. “Semua perubahan yang terjadi dalam hidup orang lain, mau itu baik atau buruk sekalipun, itu bukan salah kamu.”
Aruna termangu. Perlahan air di kedua matanya tumpah.
“Semua gara-gara aku, Shill.”
“Run, mungkin kamu salah paham.”
Aruna menggeleng. “Aku baru sadar kalau selama dua tahun berpacaran aku selalu menuruti semua keinginannya.”
“Oh, jadi kamu merasa bersalah untuk sesuatu yang sudah berlalu?”
Ashilla termangu.
“Sesampainya di Jakarta aku tahu semuanya. Dia menunjukkan perangai aslinya. Selama ini dia hanya ingin mengaturku.”
Aruna menghela napas. Dia tertunduk seraya menyeka air matanya. “Aku pikir aku menemukan jati diriku pada Iyash, ternyata aku salah. Sejak aku datang ke Jakarta aku menolak untuk tinggal di rumahnya, tapi dia marah dan menghina statusku. Akhirnya aku semakin sadar kalau aku tidak bisa bergantung padanya.”
Ashilla mengangguk. Dia mengusap punggung Aruna lembut. “Aku tahu Iyash sedikit otoriter,” Ashilla masih ingat saat Iyash melarangnya pulang dan memaksa untuk mengantarnya, Iyash bahkan tak segan mengancam ketika dia menolak menjadi ibu angkatnya Lily, “tapi, bukan berarti itu salah kamu.”
Aruna termenung. “Terkadang dia memang suka memaksakan kehendak.”
“Apa bedanya sama Opa?” sahut Ashilla. “Mungkin itulah kenapa ayah tidak setuju. Dia pernah bilang sama Bunda kalau dia kehilangan kamu ketika kamu berpacaran dengan Iyash. Bunda juga sempat minta aku jauhi Iyash.”
Aruna mengangguk. Akhirnya dia mengerti dan sadar kalau selama ini ayahnya sudah bertindak benar menikahkannya dengan Faran. Ayahnya juga sudah mengambil langkah yang benar dengan mengambil jalan sendiri untuk membesarkan dirinya. Satu yang harus dia yakini bahwa semua itu adalah ketetapan Sang Maha Kuasa. Tuhan tahu yang terbaik untuk dirinya.
Ashilla menepuk punggung tangan Aruna. “Udah jangan dipikirin, kamu udah paling beruntung dapetin Faran.”
“Aku menyesal pernah mengkhianati Mas Faran.”
“Karena kamu menemui Iyash diam-diam?” tebak Ashilla.
Aruna lekas menggeleng. “Karena saat dia melamarku di depan ayah, saat dia menikahiku, hatiku tertahan di Iyash.”
“Ssstttt ….” Ashilla lekas memeluk saudaranya. “Yang penting sekarang nggak. Aku udah bisa melihat cinta dimata kamu untuk Faran.”
Ashilla kemudian membelai pipi Aruna. “Udah jangan nangis lagi. Sekarang lebih baik kamu istirahat. Besok aku mau ajak kamu ke salon, tapi kalau sakit gini, enaknya kita treatment di rumah aja kali ya.”
Aruna tersenyum seraya mengangguk.
“Jangan sakit lagi ah, ‘kan aku mau nikah. Masa Opa sembuh kamu sakit.”
“Makasih ya, Shill.”
“Iya, kalau ada apa-apa tinggal bilang.”
Aruna mengangguk dan memeluk pinggang Ashilla. “Makasih ya, Kak.”
Ashilla tertawa. “Geli banget dipanggil Kakak. Kayak Bunda dipanggil Bude, ngadat abis-abisan.”
Aruna tersenyum. “Please. Aku selalu ingin punya kakak seperti kamu.”
“Iya, adikku. Lebih baik sekarang kamu tidur. Faran pasti khawatir, dari tadi udah nanyain, kamu udah sampai rumah belum?”
Aruna melepaskan pelukannya. Ashilla kemudian bangkit. “Tidur ya, aku juga capek.”
“Tidur di sini aja,” pinta Aruna.
“Kesepian ya karena nggak ada suaminya?” goda Ashilla.
Aruna tersenyum. “Please.”
“Ya udah.” Ashilla naik ke ranjang dan tidur di sebelah Aruna.
***
Seorang wanita tercenung di depan cermin. Garis hitam di bawah mata membuatnya terlihat buruk.
“Kamu belum tidur?” tanya Roy seraya duduk di atas ranjang.
“Sudah beberapa hari ini aku nggak bisa tidur,” jawab Dewi.
“Kenapa? Ada masalah?”
Dewi berbalik dan memunggungi kaca. “Bantu aku bertemu anakku sekali saja.”
“Kamu sudah sering memintanya, temui sendiri, masa lalu kamu bukan urusanku.” Roy menarik selimut.
Dewi termenung. Kenapa Roy bisa dengan tenangnya mengatakan hal itu. “Aku tahu dulu kamu menikahiku bukan karena cinta, tapi karena inginkan anak, setelah Adisty dan Shaka lahir, aku pikir kamu akan membuangku, tapi tidak, kamu meresmikan pernikahan siri kita, kamu melengkapi semuanya agar pernikahan kita diakui negara, tapi kamu tahu aku meninggalkan orang-orang yang aku cintai demi–”
“Harta,” tukas Roy. “Kamu sudah hidup enak, jadi, berhenti memikirkan masa lalu.”
Jantung Dewi mencelus. “Tapi, dia juga anakku,” ungkapnya lirih.
“Adisty dan Shaka jauh lebih penting.” Roy merebahkan tubuh, lalu berbalik dan memunggungi istrinya.
Tangan Dewi mengepal kuat, dia tertunduk sembari meratapi kesedihannya.
***