
Tadi siang Ashilla dan Asa disambut di rumah Angkasa. Sebenarnya Edgar sudah membujuk agar Asa tidak ikut dengan Ashilla, namun, bocah itu ngotot ingin ikut dengan ibunya. Dia tidak berpikir kalau Ashilla tak akan terus memperhatikannya karena sekarang Ashilla juga harus memperhatikan Angkasa. Baru satu malam saja Asa merasa Angkasa sudah merebut perhatian ibunya, padahal dia juga bukan balita, meski masih anak-anak, tapi seharusnya Asa sudah bisa mandiri.
Sejak tadi Asa malah sengaja ingin dilayani, padahal di rumah itu Ashilla juga merasa seperti tamu.
“Ayo makan yang banyak,” kata Laila sembari menambahkan lauk di atas piring Asa. “Asa, kalau butuh apa-apa, minta sama Bibi.”
Asa mengangguk.
“Maaf merepotkan, Ma,” kata Ashilla tak enak hati. Sejujurnya Ashilla merasa tidak percaya diri, jika saja tidak ada Asa dalam hidupnya, dia tidak akan merasa rendah diri seperti ini, meski keluarga Angkasa tidak mempermasalahkan itu, tapi dia tetap saja merasa minder.
“Kamu bisa masak, ‘kan, Shill?” tanya Laila.
Ashilla tersenyum kikuk. “Nggak terlalu, tapi nanti aku bisa belajar kok, Ma.”
“Nggak apa-apa, Mama juga nggak bisa masak, lagipula itu bukan sesuatu yang wajib bagi wanita, sekarang pria saja banyak yang bisa masak.”
Ashilla kembali tersenyum.
“Tapi, aku maunya kamu bisa masak,” bisik Angkasa sembari memiringkan tubuh pada istrinya.
Ashilla tak menjawab, dia hanya meliriknya sekilas.
“Maaf telat,” kata Daniel yang baru saja datang, dia kemudian menarik kursi yang berseberangan langsung dengan tempat duduk Ashilla, sehingga tidak sengaja kedua bersirobok.
Ashilla lekas tertunduk seraya membasahi tenggorokan.
“Aku rencananya nggak akan kembali ke Kalimantan,” kata Daniel sembari mengambil nasi.
“Hah? Serius?” Laila tersenyum lebar. “Mama senang dengarnya, jadi, tugas kamu sudah selesai?”
“Iya, Ma.”
“Wah, kejutan,” kata Angkasa.
Ashilla terperangah menatap suaminya.
Erik sendiri hanya tersenyum menanggapi.
“Jadi, kamu siap untuk gabung di perusahaan?” tanya Laila antusias.
“Aku Tentara, Ma.”
“Memang kenapa? Tentara juga bisa jadi pebisnis, ‘kan?”
Erik langsung meletakan alat makannya. “Tugas di Kalimantan sudah selesai, terus sekarang kamu ditugaskan di mana?”
Daniel tercenung menatap Ayah tirinya itu.
“Pa, selama belum pensiun, ‘kan, Daniel masih menjadi abdi negara,” kata Angkasa.
“Papa cuma nanya,” ucap Erik pada Angkasa.
“Iya, aku tahu, Pa, tapi Daniel–”
“Aku belum mendapat tugas baru,” sela Daniel.
“Oh, kalau begitu sudah waktunya kamu cari jodoh, jadi, nanti pas dapat tugas baru, kamu sudah punya istri,” usul Laila.
“Aku setuju,” kata Angkasa.
“Aku belum menemukan dia, Ma,” kata Daniel sembari menatap Ashilla.
Ashilla langsung tertunduk mendengar Daniel berkata demikian.
Daniel mengalihkan pandangan pada sang ibu. “Dia harus tahu kalau aku tidak lari dari tanggung jawab. Aku bisa bertanggung jawab.”
“Mama tahu, tapi mungkin dia juga sudah menikah.” Laila menepuk punggung tangan anaknya. “Sudah saatnya kamu mencari jodoh. Kamu mau yang seperti apa?”
Daniel membasahi tenggorokan dan kembali menatap Ashilla. “Seperti istrinya Kak Angkasa.”
Angkasa tertawa kecil, namun seketika tawanya terhenti ketika Ashilla terbatuk dan wajahnya terlihat memerah. “Sayang.” Dia langsung memberikan Ashilla segelas air.
“Kamu ini, bikin istri kakakmu jadi gugup.” Laila tersenyum.
Sementara Daniel tak hentinya menatap Ashilla.
Ashilla memegangi dadanya sendiri.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Angkasa.
Ashilla menggeleng. “Aku ke kamar mandi dulu.” Dia kemudian bangkit. “Permisi.”
“Aku antar?” Angkasa ikut bangkit.
Semua orang kembali melanjutkan makan. Namun, Erik sudah tak berselera, dia akhirnya menyadari kalau ada yang berbeda dari tatapan Daniel pada Ashilla.
Sampai makan malam selesai, Ashilla tak kembali ke ruang makan. Dia malah mengurung diri di kamar. Mungkin seharusnya dia tetap di rumah Ganjar, bukan di sini. Dia tampak resah, dadanya tak henti bergemuruh.
“Istri kamu kok nggak balik lagi?” tanya Laila.
Angkasa mengedarkan pandangan. “Iya. Asa, Mama kamu mana ya?”
Asa mengedikkan bahu. “Biar Asa cari.” Dia bangkit.
“Nggak usah, biar Papa aja.” Angkasa bangkit dan langsung pergi meninggalkan meja makan. Sedangkan Asa kembali duduk.
Angkasa langsung ke kamar karena dia sangat yakin, Ashilla menggunakan kamar mandi di kamarnya. Perlahan dia mengetuk, kemudian membuka pintu.
Ashilla terkesiap. Dia segera memunggungi pintu dan pura-pura sedang berbicara di telepon.
Angkasa mendekat dan berdiri di belakang istrinya.
“Iya, nggak apa-apa, makasih ya,” kata Ashilla di depan telepon yang sebenarnya tidak ada panggilan dari siapapun.
Ashilla menjauhkan ponsel dari telinganya, dia kemudian berbalik dan pura-pura hendak kembali, namun langkahnya tertahan. “Kamu di sini?” tanyanya pura-pura.
“Pantesan lama, ternyata ada telepon.” Angkasa tersenyum.
Ashilla mengangguk. “Dari Aruna.” Dia kemudian duduk di tepi ranjang. “Dia sudah mengemaskan pakaian untuk Asa sekolah besok.” Ashilla tak berbohong, memang itu yang terjadi, hanya saja, Aruna tidak menelepon, melainkan memberitahunya lewat pesan.
“Oh begitu.” Angkasa ikut duduk di sebelah istrinya. “Biar besok aku ambil.”
“Nggak, nggak usah. Biar Pak Yayan yang mengantarnya ke sini sehabis subuh, sekalian mengantar Asa ke sekolah.”
“Jauh, Sayang. Kasihan Pak Yayan.”
“Nggak apa-apa. Pak Yayan dibayar untuk itu kok.”
“Tapi, yang bayar Opa kamu.”
Ashilla termangu.
“Ya udah nggak apa-apa.” Angkasa menarik tangan istrinya seraya bangkit, namun Ashilla tetap duduk. “Kita lanjutkan makan.”
“Aku nggak mau. Udah nggak laper.”
“Tapi, kamu baru makan sedikit.” Angkasa kembali duduk.
“Benar kata Opa, nggak enak menumpang. Sebaiknya kita sewa rumah aja.”
Angkasa mengernyit karena tiba-tiba Ashilla berkata demikian. “Papa sama Mama nggak keberatan kita di sini, lagian nggak enak masa langsung sewa rumah sedangkan Papa mau kita tinggal di sini aja.”
“Aku nggak betah.”
“Kamu belum satu malam loh tinggal di sini. Masa udah nggak betah?”
Ashilla termenung. Bagaimana caranya dia bilang pada Angkasa tanpa menyinggung perasaan pria itu, kalau sebenarnya dia tidak merasa nyaman jika harus satu atap dengan Daniel.
“Apa karena tadi Daniel bilang begitu?” tebak Angkasa. “Ya ampun, Sayang, dia cuma bercanda.”
Ashilla menggeleng. Jujur dia bingung harus berkata apa, yang jelas dia merasa kalau apa yang dikatakan Daniel begitu serius.
“Mungkin kamu nggak bisa bedakan dia bercanda atau serius, mukanya memang datar kayak gitu, tapi kamu harus percaya dia bercanda.”
Ashilla menghela napas. “Nggak, aku rasa dia memang serius.”
“Kalau serius memangnya kenapa?” Angkasa tertawa. “Dia cuma bilang ingin wanita seperti kamu.” Dia kemudian merangkul nya. “Tapi, bukan berarti harus kamu, ‘kan?”
Ashilla tersenyum kikuk.
“Aku nggak akan memberikan kamu pada siapapun, dengan alasan apapun, meski suatu saat ayahnya Asa datang dan mengajak kamu kembali.”
Jantung Ashilla mencelus.
“Dia boleh bawa Asa, tapi tidak dengan kamu.”
Ashilla langsung bangkit. “Aku nggak akan biarin dia bawa Asa. Kamu tahu susah payah aku bangkit dan membesarkan Asa sendirian. Dia pikir dia siapa seenaknya datang dan pergi. Meski dia ayahnya Asa, tapi dia tidak ikut membesarkannya, bahkan dia pergi dan tak mengakui anaknya.”
“Sssttt.” Angkasa bangkit. “Maaf-maaf. Aku juga nggak akan biarin dia bawa Asa. Bahkan aku nggak akan biarin dia menyentuh Asa sedikitpun,” tukas Angkasa.
Salah bicara memang wajar, karena awalnya Angkasa cuma bercanda, tapi dia tidak menyangka Ashilla akan seserius ini.
Ashilla meredakan gejolak emosi di dadanya. Dia kembali duduk dan tertunduk. Dia tahu dia akan menghadapi satu hari yang dia takutkan dalam hidupnya.