
Penerbangan dari Bali ke Jakarta hanya menghabiskan waktu satu jam tiga puluh sampai empat puluh lima menit. Dan Aruna sudah berada di Bandara menelepon sembari mengedarkan pandangan. Tak berapa lama dia melambaikan tangan pada seorang pria. Faran Ibram. Pria asal Bali yang berprofesi sebagai Psikiater. Dialah yang membantu Aruna melewati semuanya.
Aruna terus berjalan ke arah Faran, begitupun dengan Faran, ketika sudah sama-sama berhadapan keduanya langsung berpelukan. Saling melepas rindu satu sama lain. Saling merasakan luapan cinta yang tertahan hampir satu bulan lebih.
“Aku kangen kamu,” kata pria berkacamata itu seraya mendekapnya hangat.
Aruna tersenyum. “Aku juga.”
Faran mengakhiri pelukannya dengan kecupan manis di puncak kepala Aruna.
“Sudah shalat?” tanya Faran.
“Udah tadi pas nyampe Bandara aku ke mushola dulu.”
“Alhamdulillah.” Faran mengusap puncak kepala Aruna. “Sholelah.” Persis seperti seorang ayah pada anaknya.”
Aruna tersenyum. Tak dapat dipungkiri kalau hidup Aruna menjadi lebih tertata setelah bersama Faran.
“Penerbanganku sekarang singkat,” kata Faran.
Ya, inilah penerbangan tersingkat dari hubungan jarak jauhnya. Biasanya dia akan terbang ke Jerman yang memakan waktu tidak sebentar, di awal-awal hubungan mereka, dia bahkan terbang selama hampir sehari semalam untuk bisa menemui Aruna di New York. Perjuangan yang tidak mudah demi cintanya.
Pertemuan mereka berawal ketika Faran sedang menempuh pendidikan S2 nya di New York. Faran sendiri adalah anak dari sahabat Miranti, tapi dia juga bersahabat baik dengan Edgar. sehingga ketika di New York orang tua Faran menitipkannya pada Miranti. Hubungan Faran dengan keluarga besar Aruna sudah cukup dekat, meski Aruna merasa asing sendiri. Waktu itu Miranti meminta kesediaannya untuk membantu Aruna melakukan terapi pasca trauma.
“Ada salam dari Ibu,” kata pria berkacamata itu seraya berjalan di sebelah Aruna.
Aruna mengangguk.
“Maaf ibu nggak bisa ikut, lututnya sakit lagi,” tambah Faran.
“Nggak apa-apa. Setelah Opa membaik, aku janji akan menemui ibu,” kata Aruna sembari menatap pria itu.
“Harus. Ibu kangen banget sama kamu.” Kali ini Faran merangkul bahu Aruna dan mengecup keningnya.
Aruna memeluk pinggang Faran. “Mas sudah makan?” tanyanya perhatian.
“Belum sempat. Keluar rumah sakit, aku langsung terbang.”
“Tapi, kayaknya malaikatku ini lupa bawa sayap,” kekeh Aruna seraya menyandarkan kepala di dada Faran.
Faran tersenyum gemas. Entah apa yang membuat Faran selalu jatuh cinta terhadap Aruna. Dulu Aruna adalah gadis pemurung, apalagi setelah ayahnya meninggal karena kanker otak. Aruna semakin sulit untuk menerima dirinya. Wanita itu berpikir kalau semua yang terjadi dalam hidupnya adalah kesalahannya karena seharusnya dia tak pernah lahir. Aruna berpikir jika dia tak pernah ada, ayahnya mungkin tak akan pergi ke Surabaya, menjauh dari keluarganya sendiri untuk membuktikan kalau dia mampu membesarkannya.
Di tahun ketiga Faran mengenal Aruna, dia menyatakan perasaannya pada Gusman yang waktu itu dirawat olehnya, kalimat yang dipakainya waktu itu begitu berkesan, sampai Gusman dan Miranti kagum dengan pengertian Faran.
“Pak, saya sedang mencari calon istri, apakah Bapak rela, jika anak perempuan bapak saya pinang?”
Waktu itu Gusman terenyuh. Dia tahu kalau Faran tertarik pada Aruna sejak pemuda itu menjadi terapis anak gadisnya. “Kamu sudah bilang sama Aruna?”
Faran menggeleng. “Saya lebih berani bicara sama Bapak,” kata pria itu. Tentu saja, karena selain Aruna jarang bicara, Aruna juga susah didekati. Lain hal dengan Ashilla yang lebih banyak mengeluarkan bahasa verbal dibanding bahasa tubuh seperti Aruna. Terkadang Aruna hanya menggeleng dan mengangguk.
“Bagaimana, Pak?” tanya Faran.
“Biasanya kalau untuk masalah ini Bapak akan biarkan Aruna memilih, tapi untuk hal ini biar Bapak yang pilihkan.”
Faran gugup dan takut kalau Gusman akan menolaknya. Namun, waktu itu Gusman langsung menerimanya dengan berkata, “Bapak titipkan Aruna sama kamu, tolong jaga dia, jangan sampai dia menoleh ke belakang. Dia harus tetap bangkit dan berjalan lurus ke depan.”
Sejak saat itu Faran berjanji akan menjaga Aruna. Faran tahu kalau Aruna hanya merasa tidak bebas dan menahan semua perasaan serta semua luapan emosinya. Namun, dia sangat yakin kalau Aruna butuh orang yang bisa mengerti inginnya, dan Faran selalu ingin menjadi orang itu, orang yang selalu ada untuk Aruna dalam segala hal. Mendukung Aruna dalam setiap keputusannya.
Faran cukup yakin kalau Aruna bisa menyayangi dirinya sendiri dan memaafkan semua yang terjadi. Karena perpisahan kedua orang tuanya bukan kesalahannya dan kecelakaan itu juga bukan kesalahannya. Semua rasa sakit dalam hidupnya adalah untuk menaikkan tingkat kedewasaannya.
Satu bulan sebelum meninggal, Gusman memberi tahu niat baik Faran pada Aruna dan ingin menikahkan mereka. Tentu saja awalnya Aruna menolak karena dia tak memiliki perasaan pada Faran, namun semakin hari kesehatan sang ayah semakin memburuk dan pria itu ingin menjadi wali nikah Aruna sebelum meninggal. Akhirnya Aruna mengabulkan permintaan terakhir sang ayah.
Pernikahan mereka digelar secara siri di kediaman Miranti di New York, dan hanya dihadiri keluarga dekat saja. Keluarga Faran sangat baik dan begitu menyayangi Aruna seperti anak perempuan mereka sendiri. Selang dua minggu Faran mendaftarkan pernikahannya di Kantor Urusan Agama di Bali.
Meski sudah tujuh tahun terdaftar sebagai suami istri, tapi sampai detik ini butuh perjuangan untuk bisa mempertahankan Aruna menjadi pasangannya. Ada satu keinginan Faran yang belum terwujud sampai detik ini, dia hanya ingin mendengar Aruna membicarakan cinta dengannya. Itu saja!
Setiap pertemuan Faran berharap tak akan ada perpisahan lagi. Dia ingin mengakhiri hubungan jarak jauhnya dengan membuat Aruna membulatkan keputusan dan tinggal bersamanya di Bali. Pertemuan terakhirnya dengan Aruna satu bulan setengah yang lalu membuatnya merasa ada yang berbeda, Aruna menjadi lebih manja, bahkan Aruna memintanya tinggal lebih lama.
Faran berjalan mengimbangi langkah kaki Aruna menyisir selasar Bandara. Sesekali dia menatap wanita berambut sebahu tersebut. Siang tadi rambutnya di cepol, namun sekarang dia membiarkannya tergerai.
Entah di langkah ke berapa tiba-tiba Faran menahan tangan Aruna dan memintanya berhenti melangkah.
Aruna menoleh dan menatapanya. “Iya?”
“Nggak. Mas cuma mau bilang kalau Mas cinta sama kamu.”
Aruna tersipu malu. Dia kemudian berbalik dan kembali melangkah.
Jantung Faran mencelus. Dia selalu berharap Aruna akan mengatakan hal yang sama. Namun, mungkin wanita itu belum siap. Mungkin saja Aruna masih malu, atau jangan-jangan selama tujuh tahun terakhir ini Aruna belum mencintainya? Di awal-awal pernikahan Aruna jujur kalau dia tidak memiliki perasaan apapun padanya. Sampai beberapa tahun bersama, Aruna mengganti kata tidak menjadi belum dan akhir-akhir ini justru Faran dibuat misterius oleh senyum wanita itu.
Setelah sampai di depan mobil, Faran menyapa ramah Yayan.
“Den Faran, apa kabar, Den? Sehat?”
“Alhamdulillah, Pak. Bapak gimana?”
“Alhamdulillah, Den.”
“Pak antar kami ke restoran ya, Mas Faran belum makan,” kata Aruna sembari masuk ke dalam mobil.
“Baik, Non.”
Aruna tersenyum pada pria yang sudah duduk di sebelahnya itu. Dia kemudian menyandarkan kepala di bahu Faran. Dan Faran kembali meninggalkan jejak manis di puncak kepalanya.
“Gimana perjalanan kamu semalam?”
“Capek,” keluh Aruna. Dia sangat jarang ke Jakarta, bahkan dapat dihitung jari dia mengunjungi kakek dan neneknya selama sepuluh tahun terakhir ini. Apalagi setelah Neneknya meninggal, Aruna hampir tidak pernah lagi datang. Dia memang sering bolak-balik Indonesia, tapi dia selalu melewatkan Jakarta. Semenjak menikah dengan Faran, tempat pulangnya adalah Bali. Mungkin karena itulah Ganjar kesal dan menganggapnya sudah tiada. Aruna seperti meneruskan watak keras kepala sang ayah.