
Meski sudah mendapat penanganan, kondisi Ganjar tak lantas membaik. Hal itu membuat Miranti semakin panik, apalagi sampai detik ini dia kesulitan menghubungi Edgar.
“Kak Edgar mana, Bund?” tanya Ashilla setelah beberapa menit menemani Miranti di rumah sakit.
“Bunda nggak tahu, dari malam kayaknya dia pergi,” kata Miranti resah.
“Biar aku coba telepon.” Ashilla merogoh ponsel dan mencoba menghubungi Edgar. Namun, panggilannya tak terjawab, meski sudah tersambung. Ashilla menatap Miranti dan menggeleng.
“Aku sama Mas Faran juga sudah mencoba menghubungi Kak Edgar, tapi nggak dijawab,” kata Aruna.
“Duh, kemana ya? Masa travelling. Sebelumnya dia bilang apa, Bund?” tanya Ashilla.
“Nggak bilang apa-apa.”
“Kemana ya?”
Semalam Edgar memang pergi menggunakan mobil lama Ganjar yang sudah diberikan padanya. Dia melakukan perjalanan tanpa jeda ke sebuah kota tempat sang ayah dibesarkan. Semalam dia berhasil mencari tahu soal Hasa melalui jejaring internet. Sekarang informasi apapun cukup mudah didapatkan apalagi untuk seorang pebisnis.
Edgar baru menghabiskan setengah perjalanan menuju kota Surabaya. Dia pernah mendengar kalau Aruna juga sempat tinggal di sana. Dia tahu kota Surabaya adalah kota yang luas, dia tidak akan menemukan satu tempat tanpa mendapat petunjuk. Namun dia berhasil mendapatkan petunjuk tersebut.
Sementara itu di rumah sakit. Miranti mencoba pergi meninggalkan sang ayah yang sedang kritis. Dia bersikukuh untuk mencari Edgar.
“Kemana, Bund?” tanya Ashilla panik.
“Kemanapun, pokoknya Bunda harus temukan Edgar.”
“Nggak bisa, memang Bunda mau cari kemana?” Ashilla bangkit dan menyusulnya.
“Keluarga Pak Ganjar Wijaya?” tanya Dokter dari ruang IGD?”
“Iya.” Miranti mengurungkan niatnya untuk pergi, dia lekas kembali dan mendekat pada Dokter. “Gimana ayah saya, Dok?”
“Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain.”
Miranti mengedarkan pandangan. “Maksudnya gimana?” tanyanya pelan.
“Pak Ganjar sudah tidak ada.”
Seketika jeritan Miranti melengking. “Papa.”
“Bund. Bunda.” Ashilla langsung memeluknya erat.
Sedangkan Aruna malah mematung dan tak bereaksi apapun. Dia terkejut, namun, tak bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan saat ini. Entahlah, pikirannya malah mengawang pada kejadian di mana dia merasa sakit hati oleh ucapan Ganjar.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” gumam Faran dan Yayan bersamaan.
Sementara Angkasa berdiri di sebelah Miranti dan Ashilla. Dia mengusap punggung sang istri yang menangis bersama Miranti.
Perlahan mereka masuk ke dalam ruangan tersebut. Tampak tubuh Ganjar tertutup kain putih.
“Papa.” Miranti mendekat dan memeluk tubuh tak bernyawa itu.
Aruna justru tak mau masuk, dia malah berdiri di depan pintu dan melihat rintihan Miranti. Hubungannya dengan Ganjar memang belum membaik sampai detik ini, meski satu rumah, tapi mereka tak berinteraksi dengan baik.
“Sayang,” panggil Faran pada istrinya. Namun, Aruna tetap mematung di depan pintu. Faran mendekat dan mengajak sang istri untuk masuk, namun Aruna menolak.
“Aku tunggu di luar aja,” kata Aruna seraya melenggang pergi meninggalkan pintu ruangan tersebut.
Faran terperangah.
Aruna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sumpah dia tak bisa mengeluarkan air mata setetes pun untuk mengungkapkan bela sungkawa atas kepergian sang kakek. Apa mungkin ini karena amarah yang dia rasakan atau karena hal lain? Namun, yang jelas dia cukup kesal pada dirinya sendiri akan hal ini.
Faran mendekat dan duduk di sebelah sang istri sembari memeluk bahunya. “Sssshhhh. Sabar, Sayang, semua akan baik-baik aja.”
Aruna lekas menjauhkan telapak tangannya dan menatap wajah sang suami. “Aku nggak bisa nangis. Kenapa, aku nggak bisa nangis?” Dia menunjuk dadanya sendiri dengan penuh rasa dongkol.
Faran membalas tatapan penuh amarah itu.
“Kenapa aku nggak bisa nangis?” tanya Aruna pada diri sendiri. “Kenapa, Mas? Apa aku udah nggak punya empati?” Aruna memegang dadanya sendiri.
Nada kesal yang Faran dengar membuat dia khawatir pada keadaan Aruna. “Sayang, memang nggak semua rasa sedih harus diungkapkan dengan tangis,” tutur Faran lembut seraya menggenggam tangan sang istri.
“Kamu tahu.” Faran kemudian menepuk punggung tangan istrinya lembut. “Waktu bapaknya ibu meninggal, Mas juga nggak nangis, Sayang. Waktu dengar kabar itu, Mas nggak bisa nangis, padahal Mas sangat dekat dengan almarhum kakek. Mas seperti orang yang baru saja disambar petir, Mas terdiam kaku. Kata ibu waktu itu Mas syok. Di makam pun Mas nggak bisa nangis, cuma bisa diam, tapi setelah pulang dari makam, Mas baru menangis, bahkan nggak bisa berhenti sampai dua hari, setiap ingat kakek Mas nangis.”
“Tapi, aku nggak ngerasain itu, aku nggak syok, aku nggak kaget, aku merasa aku biasa aja,” kata Aruna yakin, padahal Faran melihat amarah di kedua matanya.
“Kamu bohong,” tukas Faran.
Seketika Aruna terdiam menatap sang suami.
Faran menetapnya lama. Dia kemudian membelai lembut pipi sang istri. “Maafkan, ikhlaskan, dendam hanya membuat kamu merasa sakit.”
Aruna tercenung. Kalimat Faran seperti batu yang dilempar ke dadanya dan jatuh tepat di atas kotak kesedihan, hingga kotak tersebut pecah dan mengirim air mata jatuh keluar dari kedua sudut matanya.
Faran tergemap.
“Aku nggak bisa, Mas, aku nggak bisa,” lirih Aruna pilu. “Aku mau pulang, aku nggak mau di sini. Bawa aku pergi, bawa aku pergi.”
Faran termangu. Dia tahu kalau kesedihan Aruna bukan karena kepergian Ganjar, tapi karena rasa sakitnya selama ini.
“Kita pulang,” kata Faran seraya membantu Aruna bangkit. “Tapi, Mas pamit dulu sama Bunda ya, takutnya Bunda khawatir.”
Aruna menahan tangan sang suami.
“Sebentar aja, Sayang.” Faran melepaskan genggaman sang istri perlahan. Dia pergi dan meninggalkan Aruna yang kembali menangis mengingat berapa banyak kalimat yang dia dengar dari Ganjar, kalimat menyakitkan yang berhasil menghukum dirinya sendiri.
Faran mendekat pada Miranti, Ashilla, Angkasa dan Yayan masih berdiri dekat jasad tersebut. Faran merasa tak enak hati jika membicarakan ini pada Miranti atau Ashilla, sehingga dia pun hanya berbisik pada Yayan.
“Pak Yayan sudah mengabari Bi Sumi?”
Yayan menggeleng.
“Biar saya sama Aruna pulang duluan dan memberitahu Bi Sumi untuk menyiapkan semuanya. Pak Yayan di sini aja.”
Yayan mengangguk.
Setelah itu Faran keluar dan kembali pada Aruna yang sudah berhenti menangis. Dia mengajak sang istri pulang. “Nggak masalah jika datang terakhir dan pulang duluan karena adakalanya kita harus mencari tempat kita sendiri,” kata Faran sembari berjalan dan menggenggam tangan sang istri.
Aruna termenung menatap langkah kaki sang suami di sebelahnya. Dia kemudian beralih pada genggaman tangan pria yang sangat tulus mencintainya itu. “Mas.”
“Iya?” Faran berhenti melangkah.
Aruna mengangkat wajah dan menatap sang suami.
“Kenapa?” tanya Faran.
Bukannya menjawab Aruna malah menggeleng. Dia kembali berjalan dan Faran lekas mengimbangi langkah kaki istri yang sangat dicintainya itu. Faran tahu setiap orang memiliki bagian terberat dalam hidup. Mengikhlaskan rasa sakit adalah bagian terberat Aruna, tapi Faran yakin kalau cepat atau lambat Aruna bisa melakukannya.