
Setelah makan siang mereka berpencar tak lagi berkumpul di satu titik seperti sebelumnya. Ada yang berkumpul di halaman belakang untuk melihat ikan seperti Ganjar, Sam dan kedua anaknya, ada pula yang di ruang tamu seperti para wanita Miranti, Mila, Ajeng dan Marissa, ada yang tetap duduk di depan meja makan seperti Edgar, pria itu memeriksa ponsel sembari meminta dibuatkan kopi oleh Bi Sumi. Ada yang di ruang keluarga seperti Ashilla yang kebetulan ingin sendiri saja daripada harus menyimak kehebohan Mila.
“Tante, kamar mandinya di mana?” tanya Marissa.
“Dari ruang makan itu, kamu belok kiri aja.”
Marissa mengangguk. Dia kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi, namun, untuk ke sana dia harus melewati ruang makan yang kebetulan di sanamasih ada Edgar.
Edgar bangkit dan belum menyadari ada Marissa. “Bi, kopinya bawa ke sofa depan tv,” pinta Edgar seraya berbalik dan tak sengaja dia bertabrakan dengan Marissa. “Maaf.”
Marissa mengangguk. “Kamar mandinya di mana?”
Edgar menunjuk ke arah kiri. “Belok kiri.”
“Makasih,” kata Marissa.
“Tunggu.” Edgar membasahi tenggorokan.
Marissa batal melangkah.
“Aku minta maaf soal tadi.”
“Nggak apa-apa, Tante Mila memang suka berlebihan. Aku ke sini bukan untuk Tante Mila, kok. Aku cuma pengen ketemu sama penulis semua cerita yang aku baca.”
“Kamu baca semua ceritaku?”
Marissa mengangguk. “Semuanya.”
Edgar tersenyum.
“Aku nggak bohong. Main aja ke rumahku, lemariku penuh dengan buku karangan Edgario Wijaya.” Marissa tersenyum. “Ngomong-ngomong itu nama asli?”
Edgar mengangguk. Meski penulis biasanya menggunakan nama pena, tapi tidak dengan Edgar, baginya nama itu adalah keberuntungannya.
“Kenapa nggak pakai nama pena?”
“Aku sudah beruntung dengan nama itu.”
“Oh.” Marissa kembali tersenyum. “Aku permisi.” Dia kemudian pergi ke kamar mandi.
Edgar sendiri malah mematung dan tak berhenti menatap Marissa. Wanita itu baru saja meninggalkan jejak di hatinya.
“Kopinya, Mas?” tanya Bi Sumi.
Edgar mengerjap. “Bawa ke meja depan tv, Bi.”
“Baik, Mas.” Bi Sumi lekas membawakan kopi tersebut dan meletakkannya di meja.
“Shill, besok ada rapat komite,” kata Edgar seraya duduk. Dia kemudian merogoh saku dan memberikan surat undangan rapat dari sekolah Asa.
“Jam berapa?” tanya Ashilla seraya menerima surat undangan rapat tersebut.
“Jam tujuh. Mereka udah tahu kamu ada rencana, tapi siapa tahu kamu mau datang.” Edgar membuka jaket jeansnya dan tampaklah dada bidang yang terbalut kaos putih polos.
Ashilla membuka surat undangan tersebut. “Kak Edgar mau datang?” tanya Ashilla.
“Nggak ah, malas,” kata Edgar seraya mengambil cangkir berisi kopi hitam itu.
“Terus siapa yang wakilkan aku?” Ashilla tengadah menatap pria itu.
“Aruna sama Faran aja. Edukasi buat mereka sebelum punya anak.”
Ashilla terkekeh. “Dasar jomblo.”
“Sekarang nggak dong, tuh Tante Mila bawa calon,” seloroh Edgar seraya bangkit. Dia benar-benar tak serius mengatakannya, tapi, Marissa yang baru kembali dari kamar mandi terlanjur mendengarnya. Marissa termangu, jantungnya tak henti berdegup. Sungguh telinganya masih baik untuk mendengar perkataan Edgar barusan.
“Serius?” tanya Ashilla seraya melipat kembali surat undangan tersebut.
“Nggak ada yang lebih serius selain menulis.” Edgar berbalik, namun dia terkejut saat melihat Marissa berdiri tepat di depannya.
Ashilla menghela napas sambil menatap sang kakak. Tak dinyana dia juga terkejut melihat Marissa ada di sana.
“Sorry,” kata Edgar.
“Oke.” Marissa mengambil langkah dan pergi ke ruang tamu, lalu duduk kembali di sebelah Mila.
“Marissa, udah ada rencana mau kerja di mana?” tanya Miranti.
“Udah, Tan, Minggu lalu melamar di perusahaan konstruksi suaminya teman Mama, kebetulan sedang membutuhkan jasa interior.”
“Oh.”
“Bagus, dong.”
Marissa tersenyum. Namun, perlahan senyumnya memudar saat tak sengaja cermin besar di belakang Miranti menunjukkan Edgar yang sedang berdiri di ruang keluarga, kali ini pria itu tengah sibuk menerima telepon. Edgar juga tak sengaja melihat Marissa di cermin itu. Jantung Marissa kembali berdegup, ucapan Edgar masih terngiang di telinganya. Meski kalimat kedua menjatuhkannya, namun, kalimat pertama berhasil menerbangkannya. Entah itu bercanda ataupun serius.
Marissa memang belum ada niat menikah, tapi apa salahnya jika dia ingin mengenal Edgar lebih jauh karena jujur dia tertarik dengan semua buku yang Edgar tulis, sejak dulu dia berpikir kalau Edgar adalah pria yang jenius.
“Bund, Faran sama kedua orang tuanya udah di jalan.”
Marissa terkejut saat Edgar sudah ada di ruang tamu.
Rupanya tadi Edgar menerima telepon dari Faran.
“Kamu mau jemput mereka?” tanya Miranti pada Edgar.
“Nggak. Katanya kalau udah sampai Bandara mereka mau naik taksi.”
“Oh, jadi mereka baru terbang?”
Edgar mengangguk.
“Kirain udah sampai Bandara.”
“Nggak. Mereka cuma mau ngasih kabar. Sorean paling sampai sini. Katanya jangan bilang Aruna, mereka mau kasih kejutan.”
“Oke. Tapi, mereka tahu kalau besok pagi kita berangkat.”
“Iya.” Edgar berbalik dan hendak pergi.
“Edgar,” panggil Mila.
Edgar segera menahan langkah. “Iya, Tante?”
Mila menatap Marissa. “Kalian nggak mau ngobrol?”
Keduanya mematung di tempat masing-masing.
“Cha, kesempatan ngobrol sama penulis idola kamu nggak datang dua kali loh,” ujar Mila.
Jantung Marissa berdegup, begitupun dengan Edgar. Jika waktu itu Edgar tertarik secara fisik pada Maira, kali ini dia justru tertarik pada cara Marissa mereview ceritanya. Secara fisik Marissa juga cantik, namun, tidak begitu menarik hatinya, sedangkan Maira secara fisik saja sudah menarik hati dan membuatnya penasaran. Namun, apa salahnya jika Edgar mengenali keduanya. Dia memang belum diberi kesempatan untuk mengenal Maira karena belum menemukan titik di mana mereka bisa bertemu dan mengobrol.
“Mau ngobrol?” tawar Edgar.
“Boleh,” jawab Marissa gugup.
“Kita mungkin bisa mengobrol di samping rumah.”
“Ngapain di sana? Panas!” Miranti memukul lengan anaknya.
Edgar tersenyum kikuk.
“Ngobrol di halaman belakang aja,” usul Miranti.
“Ada Opa sama Om Ben.”
“Ya udah ngobrol di sini aja,” usul Mila. “Di sini memang nggak ada ruangan lagi?”
Tentu saja tidak ada, sejak Miranti perawan sampai setua sekarang rumah Ganjar tak pernah ada perubahan. Rumah tua bergaya Eropa yang berdiri hanya satu lantai. Ganjar tak mengizinkan siapapun merubah interiornya karena memang rumah itu adalah perjuangan pertamanya bersama sang istri.
“Di depan tv aja,” ajak Edgar seraya pergi.
“Stt. Cepat,” titah Mila pada Marissa. “Kesempatan nggak datang dua kali,” bisiknya.
Miranti terpegun. Apakah kali ini Edgar akan berhasil membangun hubungan? Tak ada yang tahu kalau Edgar menghindari hal tersebut.
Marissa lekas pergi mengikuti Edgar ke ruang keluarga, tempat sebelumnya mereka berkumpul.
“Kamu tenang aja, aku yakin ini akan berhasil,” kata Mila pada Miranti.
“Aku nggak yakin,” jawab Miranti pesimis.
“Loh kok gitu? Aku yakin mereka akan cocok.”
“Cuma tentang buku.”
“Tentang hobi pun masuk. Icha sama Edgar punya hobi yang sama. Travelling. Udah kamu tenang aja.”
Miranti mengangguk dan terpaksa percaya pada Mila.
***