
Semua orang perlahan pergi meninggalkan pesta hanya tinggal Miranti, Aruna, Faran dan kedua orang tuanya yang berdiri di sana. “Bund.” Perlahan Faran dan Aruna mendekat.
Miranti menoleh. Dia terkejut melihat Aruna ternyata ada di sana dan melihat semuanya. “Run.”
Aruna terdiam, meski sedih dan menyayangkan kejadian ini, tapi kesedihannya tak sedalam Ashilla. Tadi, bukannya dia tak ingin membela Ashilla. Hanya saja Faran melarangnya, dia tidak ingin hal itu malah menjadi bumerang bagi Aruna.
Kejadian itu seketika membuat mereka kehilangan kata-kata.
“Sebaiknya kalian juga tidur,” kata Miranti seraya duduk.
“Mir.” Ayu mendekat dan membelai bahu sahabatnya itu.
“Yu.” Miranti menepuk tangan Ayu. “Sebaiknya kalian tidur.”
“Kamu juga, Mir.”
“Permisi.” Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah belakang Faran.
Semua orang berbalik dan menoleh ke asal suara.
“Acaranya sudah selesai?” tanya pria itu seraya mengedarkan pandangan dan berhenti pada Aruna.
Miranti bangkit. “Baru selesai,” jawabnya.
“Oh.” Pria itu menghela napas. “Kemarin penerbangan saya ditunda karena ada masalah teknis. Sekarang pun terlambat.”
“Oh, memang dari mana?” tanya Miranti.
“Saya tugas di Kalimantan.”
“Sengaja ke Jakarta untuk ke pernikahan Angkasa?”
“Iya.”
“Aduh, kasian. Temannya Angkasa dari mana?”
Pria itu tersenyum. “Saya–”
“Bund, aku sama Aruna duluan ya,” kata Faran.
“Iya. Ibu hamil harus banyak istirahat,” kata Miranti.
Faran mengangguk. Kemudian pergi bersama Aruna.
Sementara pria itu terus menatap Aruna, bahkan sampai Aruna dan Faran pergi.
“Tante antar bertemu Angkasa.”
Pria itu mengerjap dan lekas menatap Miranti.
“Ayo,” ajak Miranti.
Pria itu segera mengikuti Miranti. Sementara Ayu dan Kamal berjalan bersama mereka.
“Di Kalimantan tugas apa?” tanya Miranti.
“Saya TNI AU, Tante.”
“Waw.”
Pria itu tersenyum.
Sesampainya di depan kamar hotel Angkasa, Miranti mengetuk, sedangkan Ayu dan Kamal sudah meminta izin untuk kembali ke kamar.
“Sebenarnya nggak boleh ya ganggu pengantin.” Miranti tersenyum sembari menunggu pintu dibuka.
“Oh, kalau begitu saya bisa datang lagi besok.”
“Nggak usah, nggak apa-apa, besok beda lagi. Kamu bisa chek-in satu kamar di sini, biar kami yang bayar.”
“Makasih, Tante.”
“Tante lupa tanya nama.”
Pria itu tersenyum.
“Nama kamu siapa?”
“Saya Da–”
Pintu tiba-tiba terbuka, sehingga membuat pria itu urung menyebut namanya.
“Daniel?” Kedua mata Angkasa terbuka lebar. Dia langsung memeluk saudara tirinya itu sekilas.
“Hei, sorry telat.”
“Its okay, yang penting dateng.”
Daniel tersenyum.
“Sebentar aku panggil dulu istriku.”
Daniel mengangguk. Sementara Angkasa tak membiarkan pintu terbuka lebar karena Ashilla sedang mengganti pakaian.
“Daniel,” panggil Miranti.
“Iya, Tante?”
“Tante tinggal dulu ya.”
Daniel mengangguk. “Terima kasih, Tante.”
“Sama-sama.” Miranti pun pergi ke kamarnya. Malam itu dia tidur bersama Asa, sementara Edgar bersama Ganjar dan tentu saja Faran dengan Aruna dan Angkasa bersama Ashilla.
Malam itu Ashilla tengah berdiri di depan cermin. Sejak tadi Angkasa berusaha menghapus kesedihannya, namun Ashilla masih saja merasa sesak.
“Sayang,” panggil Angkasa pelan. “Ada adikku di luar. Dia datang dari Kalimantan.”
Ashilla menoleh. “Kamu nggak bilang kamu punya adik?”
“Aku, ‘kan pernah cerita kalau Mama Laila punya anak laki-laki seusiaku,” kata Angkasa sembari memeluk bahu Ashilla. “Temui dia sebentar yuk,” ajaknya pelan.
Angkasa sudah lebih dulu berdiri di depan pintu. “Maaf lama, baru beres ganti baju. Gimana kalau kita ngobrol di cafe aja sambil minum kopi.”
“Boleh,” kata Daniel tak keberatan.
“Sebentar.” Angkasa lekas menoleh ke belakang. “Sayang?”
“Iya.” Ashilla berjalan ke dekat pintu. Angkasa tersenyum menatap sang istri. Ashilla tak membalas senyumannya. Tak biasanya dia menangis sampai selama ini, biasanya akan dia lupakan masalah dalam beberapa menit saja.
Angkasa segera membuka pintu kamarnya dengan lebar. “Kenalin, istriku, Ashilla.”
“Hai,” sapa Daniel ketika pintu baru saja terbuka. “A-Ashilla?”
Senyum kaku Ashilla perlahan memudar.
“Gimana istriku, cantik, ‘kan?”
“Cantik,” kata Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari Ashilla, sementara Ashilla sendiri malah tertunduk kaku.
“Kamu nggak ucapin selamat?” tanya Angkasa.
“Iya, selamat, Kak.” Namun, lagi-lagi Daniel tak berhenti berkedip menatap Ashilla.
Angkasa tak menaruh curiga sedikitpun. Dia merasa wajar dengan tatapan Daniel terhadap istrinya karena dia tahu, tak ada yang tidak akan terpesona dengan kecantikan Ashilla. Iya, ‘kan?
“Hai.” Daniel mengulurkan tangan pada Ashilla. Namun, wanita itu tetap tertunduk, seperti malu menunjukkan diri.
“Yang.” Angkasa menyentuh lengan sang istri. “Ini Daniel.”
“Hahhhh?” Ashilla mengangkat wajah dan meraih tangan Daniel. “Shilla.”
Daniel mengangguk, kemudian melepaskan genggaman.
“Kita ngobrol di kafe?” ajak Angkasa.
“Aku nggak ikut,” tolak Ashilla cepat.
“Kenapa?” tanya Angkasa.
“Capek.”
“Sebentar aja,” bujuk Angkasa.
“Lagian malu. Aku pakai baju kayak gini,” kata Ashilla gugup.
“Yah.”
Ashilla tersenyum kering.
“Nggak apa-apa, kita bisa ngobrol besok pagi, tadi ibu mertua kamu pesan satu kamar untukku,” kata Daniel.
“Oh gitu?”
“Iya.”
“Oke. Makasih ya, udah bela-belain datang.”
“Nggak apa-apa sekalian pulang.”
“Udah ketemu Mama?”
Daniel menggeleng. “Aku langsung ke sini.”
“Pantes, masa ke kondangan bawa ransel.”
Daniel tersenyum kecil. Dia kemudian melirik Ashilla, tapi wanita itu langsung tertunduk. “Aku ….” Daniel kemudian mengalihkan pandangannya pada Angkasa. “Pesan kamar dulu.”
“Iya.”
“Bye, Shill,” kata Daniel kaku.
Ashilla mengangguk. “Bye,” gumamnya.
Daniel kemudian pergi dan memesan kamar. Sementara Ashilla lekas masuk ke dalam dan duduk di tepi ranjang. Debar dibalik dadanya bergemuruh, ada resah yang tiba-tiba mengusik damainya malam ini.
“Aku pikir Daniel nggak akan datang,” kata Angkasa seraya duduk di sebelah sang istri. “Terakhir ketemu saat ulang tahun Mama, itupun dua tahun yang lalu.”
Ashilla tak menanggapi, tapi dia mendengar perkataan Angkasa. Diamnya Ashilla membuat Angkasa khawatir. Dia takut Ashilla masih memikirkan kejadian tadi.
Angkasa mengarahkan wajah sang istri agar menghadap ke arahnya. “Aku tahu kedatangan Adisty mengacaukan semuanya. Dia memang keterlaluan, tapi kamu nggak perlu memikirkan dia. Kita fokus saja pada diri kita malam ini.”
“Aku nggak peduli sama Adisty. Terserah dia mau apa, aku cuma merasa bersalah karena minta ibu datang ke pernikahanku,” bohong Ashilla, padahal dia sangat sakit hati ketika Adisty menghina dirinya.
Angkasa mengangguk. Dia melihat semua hinaan keluarga Ashilla terhadap Dewi. Dia memang tidak tahu apa masalahnya sampai Ganjar begitu membenci Dewi.
“Aku janji akan bantu kamu untuk mencari jalan keluarnya.” Angkasa menggenggam kedua tangan Ashilla.
“Aku nggak yakin ada jalan untuk masalah ini. Bunda bahkan ikut membenci ibu.”
“Apa yang membuat Bunda membenci ibu?”
“Aku nggak tahu.”
“Kamu jangan sedih. Ini hari bahagia kita. Aku mau malam ini indah, agar suatu saat aku bisa mengenangnya.”
Ashilla menghela napas.
“Kita fokus saja pada diri kita malam ini, ya,” bujuk Angkasa sembari memasukan tangan ke dalam ceruk leher istrinya.
Ashilla terpaku menatap Angkasa. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya dan melahap bibir istrinya. Awalnya Ashilla menikmati sentuhan Angkasa, namun, tiba-tiba sekelebat kejadian yang seharusnya dia lupakan sejak dulu malah mampir ke dalam ingatan.
Ashilla segera bangkit dan menarik pakaiannya kembali. “Aku–” Dia terlihat gugup. “Aku, capek, Sayang,” kilahnya seraya mundur.
Angkasa terlihat kecewa. Dia bangkit dan mendekat pada Ashilla.
“Aku tidur duluan ya.” Ashilla lekas berjalan melewati Angkasa dan naik ke ranjang.
Angkasa menghela napas dan menatap punggung Ashilla. Dia sudah mempersiapkan diri untuk malam ini, semuanya gagal karena kehadiran Adisty membuat Ashilla sedih.