
Hasa terus menatap Edgar dan Miranti sampai dia tidak sadar Ira sudah berdiri di sebelahnya. “Dia siapa?”
Hasa menoleh. “Ma, kamu di sini.”
“Memang kamu pikir aku di mana, Pa?”
“Nggak, tadi, ‘kan sama Iyash.” Hasa tersenyum kikuk.
“Dia siapa?” tanya Ira.
“Siapa?” Hasa malah balik bertanya.
“Perempuan yang mengobrol dengan kamu, dia siapa, Pa?”
“Oh, teman lama. Ternyata dia ibu dari istrinya Angkasa.”
“Hah?” Seketika Ira terperangah mendengar itu. “Jadi, mantan pacar kamu itu ibunya Aruna?”
“Hah?” Hasa malah ikut bingung.
“Jangan pura-pura, Pa.”
“Papa nggak ngerti maksud Mama.”
“Kalimatku cukup sederhana untuk dipahami.”
“Kita bicarakan ini di rumah, malu dilihat orang,” kata Hasa pelan.
“Aku tunggu kamu di mobil.” Ira kemudian melengos pergi, sementara Hasa masih berdiri di sana. Dia kemudian memutar badan dan kembali melihat Edgar yang baru saja pergi bersama Miranti.
“Kak Edgar.” Tiba-tiba sebuah suara membuat langkah Edgar terhenti. Dia lekas menoleh ke asal suara dan terlihat Marissa sedang berjalan ke arahnya bersama seorang perempuan.
“Apa kabar?” tanya Marissa ketika sudah dekat.
“Baik,” jawab Edgar singkat. Baru kemarin mereka mengobrol, bahkan Edgar mengantarkannya pulang.
“Kenalin, Yuri, temanku. Aku cerita sama dia soal Kak Edgar.”
“Hai.” Yuri tersenyum seraya mengulurkan tangan. “Yuri.”
“Edgar.” Pria itu menjabat tangan Yuri sekilas. Dia kemudian menatap Marissa. “Kamu cerita soal apa?”
“Profesi Kak Edgar. Dia juga penggemar berat buku-buku Kakak.”
“Oh.”
Marissa tiba-tiba menyikut Yuri. Dengan segera Yuri mengeluarkan buku dan meminta tanda tangan Edgar. “Boleh minta tanda tangan?”
Edgar mengangguk dan mengambil buku beserta bolpoin yang diberikan Yuri. Di halaman pertama buku yang dia tulis, dia membubuhkan tanda tangannya.
“Makasih, Kak.
“Sama-sama.”
“Emmh, Yuri tadi bilang kalau bisa minta foto sekalian.”
“Hah?” Edgar menggaruk tengkuk lehernya sendiri. “Aku penulis, bukan artis.”
“Sama-sama pelaku seni, ‘kan? Dan kami cinta seni. Kami akan menghargai siapapun dengan profesi sebagai pelaku seni,” kata Marissa.
“Iya, Kak. Boleh ya?” bujuk Yuri.
Demi fans, Edgar tak boleh menolak karena karyanya bukan apa-apa tanpa pembaca. “Oke.”
Yuri segera berdiri di sebelah Edgar.
“Sebentar,” kata Marissa seraya mengedarkan pandangan. Dari kejauhan Hasa memperhatikan ke arahnya dan secara kebetulan Marissa melihatnya. Dia mendekat pada suami dari sahabat ibunya itu. “Om Hasa?”
“Marissa? Ngapain kamu di sini?” tanya Hasa pura-pura baru melihatnya.
“Yang nikah ini ….” Marissa tampak berpikir. “Ah, ceritanya panjang.” Dia kemudian menatap ponsel di tangannya. “Oh iya, Om. Maaf nggak sopan. Tolong fotoin ya.” Dia memberikan ponselnya pada Hasa.
“Memang dia siapa?” tanya Hasa seraya meraih ponsel Marissa.
“Penulis buku best seller dari New York.”
“Oh.” Hasa tercenung.
“Ayo Om,” ajak Marissa.
Hasa mengangguk dan lekas mengikuti gadis itu. Dia kemudian mengarahkan kamera pada Marissa yang baru saja berdiri di sebelah Edgar. Edgar diapit dua gadis muda, tapi itu bukan hal luar biasa karena Edgar sudah sering dikelilingi para perempuan.
Hasa segera mengarahkan kamera ponsel Marissa, lalu beberapa jepret gambar di ambil. “Sudah.”
“Makasih, Om.”
“Iya.” Hasa termangu menatap Edgar. Sementara Edgar tersenyum dan menatapnya sekilas.
“Iya, Kak,” sahut Yuri. “Makasih, ya.”
Edgar kembali tersenyum dan senyumnya benar-benar mematikan, seperti ada cupid yang melayang dan menembus ke dalam hati kedua gadis itu.
“Meleleh,” kata Marissa pelan. Sedangkan Edgar baru saja pergi. Yuri mengangguk setuju.
Hasa berdehem dan seketika Marissa tersadar. “Makasih ya, Om.”
Hasa mengangguk. “Ingat besok jangan terlambat, kalau terlambat kamu secara otomatis ditolak kerja di perusahaan Om.”
Marissa berdiri tegak. “Iya, Om, siap.”
Hasa berlalu dengan sejuta pertanyaan. Seharusnya dia bertanya pada Marissa tentang nama pria berwajah tegas itu, agar dia bisa mencari tahunya dengan mudah. Jelas-jelas pria itu melambai pada Miranti dan memanggilnya Bunda. Mungkin saja dia memang anak kandung Miranti dengannya.
***
Semua orang tampak berbahagia untuk kedua mempelai. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, dan pesta akan berakhir dalam waktu satu setengah jam lagi. Namun para tamu undangan tetap berdatangan dan bergantian memberi doa.
Sayangnya Ashilla tak mengundang satupun teman SMP maupun SMA nya. Angkasa sampai heran karena Ashilla tak memaparkan alasan kenapa dia tak mengundang teman. Bahkan selama di Jakarta, dia belum bertemu dengan mereka satupun.
Sejak hamil, dia memang menarik diri, bahkan dia tak menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas-nya. Dia langsung pindah untuk menyembunyikan kehamilan tersebut, sejak saat itu teman-temannya tak tahu kemana Ashilla pergi. Bahkan dia berbohong pada Angkasa, kalau dia besar di New York.
Meski tak mengundang teman, namun para tamu tetap banyak karena Angkasa mengundang semua teman, Miranti mengundang semua kenalannya di Jakarta, dan tentu saja, Ganjar mengundang semua kolega termasuk semua karyawan di perusahaannya.
Keriuhan dan obrolan semua orang tak lantas membuat alunan musik romantis itu lenyap begitu saja, meski macam-macam suara seakan tumpang tindih merasuki telinga.
Di sisi lain Marissa dan Yuri tak henti membicarakan pesona Edgar malam itu. Seseorang dinilai dari hasil karyanya, dan Marissa setuju akan hal itu. Dia sampai tak memperhatikan sekitar karena terlalu fokus pada pembicaraannya saja, sehingga tak sengaja menabrak Iyash yang baru saja berbalik dan hendak pulang.
“Maaf,” kata Marissa panik lantaran dia baru saja menumpahkan cairan kopi ke blazer Iyash.
Waktu terlalu singkat untuk memperhatikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang jelas ketika Iyash bangkit dan berbalik, Marissa sudah ada di sana dan terlalu dekat untuk menghindar, sehingga tak sengaja keduanya bertabrakan.
Iyash menunjuk blazernya yang terkena tumpahan kopi.
“Iya-iya. Saya minta maaf, Kak.”
“Kak?” Kening Iyash mengernyit. “Memang saya Kakak Kamu?”
“Iya, Mas.”
“Cih.” Iyash menatap sinis wanita itu. “Saya nggak akan lupa malam ini,” ucapnya kesal sembari menunjuk wajah polos Marissa yang sangat mirip anak SMA, malah Iyash pikir Marissa baru lulus SMP.
Mungkin semua orang menikmati pesta malam ini, tapi tidak dengan Iyash. Wajahnya yang datar dan angkuh malah membuat Marissa ikut kesal.
“Saya sudah minta maaf.” Marissa tidak tahu kalau pria itu adalah anak dari sahabat ibunya, pemilik dari perusahaan yang akan menginterviewnya besok.
“Maaf kamu tidak berarti apa-apa. Jas saya tetap kotor.”
“Terus saya harus apa? Cuci jas kamu?” teriak Marissa kesal.
Iyash mendelik dan melenggang pergi.
“Arrgghh! Dasar songong!” teriak Marissa. Seketika Iyash menoleh dan menatap tajam wanita itu. Iyash akan mengingat wajah wanita yang sudah mencari masalah dengannya malam itu.
“Udah, Cha. Malu,” kata Yuri menenangkan.
“Kok ada ya, orang kayak gitu?” dengkus Marissa seraya duduk di kursi bekas Iyash.
“Barusan ada.”
“Iya, ih … heran.”
Di depan parkir Iyash berpapasan dengan Dewi dan Adisty yang baru saja datang. Iyash tidak tahu kalau sebenarnya Adisty adalah saudara seibunya Aruna dan Ashilla. Dulu, meski Aruna menunjukkan foto ibunya, tapi Iyash tidak begitu mengenali Dewi dalam foto tersebut. Dan sekarang Iyash lupa kalau Aruna pernah menunjukkan foto Dewi padanya.
“Sudah mau pulang, Yash?” tanya Dewi.
“Sudah. Kenapa baru datang, Tante?”
“Sengaja nunggu Adisty, biar bisa bareng.”
Iyash menoleh pada Adisty, namun wanita itu malah memalingkan wajah darinya. Sejak Adisty bertemu Nadine di rumah Iyash waktu itu, Adisty malas melihat wajah Iyash lagi, dia sudah bersumpah untuk tidak berharap apapun pada pria seperti Iyash.
“Hai, Dis,” sapa Iyash.
Adisty menoleh sekilas dan malah terlihat kesal. Sejak SMP dia berharap pada Iyash, sampai sejauh ini dia masih saja bersikap bodoh dengan mengharapkan pria yang jelas-jelas tidak akan pernah memiliki setitik rasa apapun padanya.
“Yuk, Ma.” Adisty merangkul lengan ibunya.
“Ya udah, Yash. Kami masuk dulu, keburu acara pestanya selesai,” kata Dewi.
“Iya, Tante.”
Dewi dan Adisty masuk ke dalam, sementara Iyash melesat pergi dengan kendaraannya.