Behind The Lies

Behind The Lies
Lupa Punya Angkasa



“Dunia sempit ya,” komentar Miranti sembari menatap langit-langit kamar dengan cahaya redup.


“Iya.” Ashilla pun mengikutinya. “Dia Arsitek, Bund. Orangnya baik banget,” puji Ashilla terlepas dari apa yang pernah terjadi dan mengesampingkan cerita tentang Aruna.


“Hmm ….”


“Seminggu yang lalu Shilla menolong ibu-ibu yang mau melahirkan, di rumah sakit Shilla ketemu sama dia dan dia mau membantu.”


“Innalillahi, meninggal?”


“Iya, Bund.”


“Terus bayinya?”


“Bayinya kembar, tapi yang satu meninggal sama ibunya. Iyash bantu Shilla ke kantor polisi. Katanya dari hasil pemeriksaan, kemungkinan kalau ibu itu sering disiksa dan berhasil kabur. Selama menunggu perkembangan kasus itu, kami yang merawat bayinya.”


“Kamu mengalami hal yang luar biasa, Shill.”


Ashilla seketika menoleh. Itulah yang pernah dikatakan ibunya ketika dia baru saja melahirkan Asa dan berhasil melewati post partum syndrome.


“Bunda bangga sama kamu.”


“Makasih, Bund.”


“Jadi, tadi kamu jenguk bayi itu?”


“Ehm. Empat hari yang lalu, Iyash mencarikan rumah untuk Suster Rika dan Lily. Awalnya mereka tinggal di rumahnya, tapi Mamanya Iyash judes, Bund, dia kayak yang nggak suka.”


“Kok gitu? Anaknya sudah melakukan hal terpuji, tapi kenapa malah nggak suka?”


Ashilla mengedikkan bahu. “Tadi sore Lily masuk rumah sakit, Bund. Bilirubinnya tinggi.”


“Jadi, kamu ke rumah sakit? Kenapa nggak nginap di sana?”


“Nggak, Bund. Shilla takut Opa marah karena tahu Shilla nggak pulang. Shilla juga takut Asa bangun dan mencari Shilla.”


Miranti meletakkan telapak tangan di pipi anaknya. “Percayalah, tidak melahirkan pun kamu sudah dipercaya kembali untuk menjadi ibu.”


Ashilla tersenyum, kemudian mengangguk lalu berangsur turun dari tempat tidur. “Shilla mau ke kamar ganti baju, Bund.”


“Iya. Bunda juga mau tidur.”


Ashilla pergi dari kamar sang ibu dan masuk ke kamarnya, dia tersenyum melihat Asa terlelap memeluk guling di atas tempat tidurnya. Sejauh ini Asa tak pernah bertanya tentang ayahnya. Entah nanti, Ashilla belum siap mendapat pertanyaan itu dari Asa.


***


Pagi hari Asa terbangun dalam pelukan Ashilla. “Morning, Mom.” Anak kecil itu tersenyum.


Ashilla membalas senyumannya dan mengecup puncak kepala bocah berambut ikal tersebut. “Get up, take a shower, then have breakfast,” kata Ashilla dengan nada rendah dan tetap lembut. Berharap Asa tak menyebutnya otoriter karena menurutnya itu hanya usul, bukan bagian dari mendikte.


“Jalan-jalan, ‘kan, Mam?”


“Iya.”


“Asyik.” Asa melompat dari ranjang.


Ashilla sendiri merasa sakit kepala karena tidur terlalu malam. Namun, dia tak mungkin membatalkan acara hari ini karena dia sudah berjanji. Perlahan Ashilla pergi meninggalkan tempat tidur.


“Pagi,” sapa Ashilla pada semua orang.


“Pagi, Sayang,” jawab Miranti.


“Bunda udah cantik, udah wangi, mau ke mana?”


“Kan mau ikut jalan-jalan.”


“Oh iya, lupa.” Ashilla mengempas tubuhnya ke sofa, kepalanya tengadah menatap langit-langit ruang keluarga. “Lemas banget, ya Tuhan.”


“Mandi dulu biar segar.”


“Semenjak kerja jadi nggak ada waktu tidur siang, malam juga tidurnya sedikit,” keluh Ashilla.


“Jangan terlalu capek.”


“Pengennya gitu, Bund. Lebih santai sedikit, tapi nggak bisa, kebayang Opa dulu kerjanya gimana.”


“Hm.” Miranti membawa dua gelas teh ke meja dekat Ashilla duduk. “Teh hangat.”


“Eh, Opa mana?”


“Lagi berjemur di halaman belakang. Kamu contoh Opa, banyak bergerak, mangkanya tubuhnya tetap bugar, walaupun gula darahnya tinggi. Kamu tahu ‘kan penyakit diabetes itu bikin tubuh lemas.”


Ashilla mengangguk. Dia lekas mengambil secangkir teh di meja dan menyesapnya.


“Hm. Astaga, aku terlalu sibuk sampai lupa punya Angkasa.”


“Hus, jangan gitu ah nggak baik. Masa gara-gara kerja jauh kamu lupa sama dia.”


“Kemarin aku nggak tahu dia menelepon.”


“Kamu nggak sedang menghindari dia, ‘kan?” selidik Miranti.


“Nggak.”


“Bulan ini terakhir Angkasa kerja sama Bunda.”


“Iya.” Ashilla bosan mendengar itu lagi. Semua sudah dibicarakan dan rasanya tak perlu dibahas kembali.


“Kapan kamu siap menikah sama dia?”


“Ini pasti Angkasa yang nanya, iya, ‘kan?” tebak Ashilla. Pasalnya dia tahu kalau ibunya tak pernah memaksakan hal tersebut bahkan bertanya tentang ini pun tidak.


“Kenapa? Angkasa baik, dia udah dekat banget sama Asa. Dia juga sayang sama kamu. Memang apa lagi yang kamu tunggu?


Ashilla menghela napas. “Hati Shilla belum mengizinkan, Bund.”


“Kenapa?”


“Shilla nggak tahu.”


“Ya, tapi mau sampai kapan?”


Ashilla menggeleng. “Butuh waktu.”


“Bunda nggak maksa. Itu semua pilihan kamu. Bunda cuma tidak ingin kamu menyesal.”


“Itu. Shilla takut menyesal karena menikah. Shilla merasa nggak butuh pernikahan.”


“Kalau begitu jangan menjalin hubungan. Kasihan Angkasa, kamu minta dia cari perempuan lain aja, lagi pula dia menjalin hubungan untuk membangun rumah tangga. Tujuan akhir dia menikah bukan putus.”


“Bunda kok ada dipihak Angkasa?”


“Bukan begitu. Bunda ada di pihak kamu.”


Ashilla mendengkus. “Shilla sayang sama Angkasa, Ma, tapi–” Wanita itu menjeda kalimatnya.


Miranti bangkit seraya menepuk lutut Ashilla. “Ada kalanya kita mengalah pada perasaan itu untuk melihat mereka bahagia.”


Ashilla tercenung.


“Selama ini manusia salah kaprah karena berpikir kalau cinta harus bersama, berpikir kalau cinta harus memiliki. Padahal cinta adalah ketika kita bisa tersenyum atas kebahagiaan mereka.”


Ashilla menoleh menatap punggung sang ibu di depan kompor. “Bunda ….” Dia kemudian bangkit, lalu pergi memeluknya. “Shilla nggak pernah punya sahabat sesempurna Bunda.”


Miranti tersenyum.


***


Selesai mandi Ashilla merenungkan perkataan Miranti, sehingga dia memutuskan untuk menghubungi Angkasa. Tak perlu menunggu lama untuk mendapat jawaban karena Angkasa tak pernah mengabaikan panggilannya.


“Hai,” sapa Ashilla pada pria itu. “Maaf kemarin aku–”


“Sayang, please–”


Tiba-tiba Angkasa memohon entah untuk apa. Jangan-jangan dia ingin meminta akses untuk ke sosial medianya lagi.


“Untuk apa?”


“Tolong jangan diamkan aku lagi. Aku nggak ngerti salahku apa sampai kamu nggak mau menerima panggilanku.”


“Aku nggak tahu kalau kemarin kamu nelepon. Aku sibuk sama Asa sampai lupa–” Kalimat Ashilla tertahan di kerongkongan. Entah kenapa kemarin dia tidak menyadari panggilan Angkasa, padahal jelas-jelas ketika dia mendapat panggilan dari Suster Rika, dia tahu itu.


“Lupa kalau kamu punya aku?” tuduh Angkasa, seolah memang dia tahu kalau kalimat itulah yang tertahan di tenggorokan Ashilla.


Ashilla menghela napas. “Aku nggak nyangka berhubungan jarak jauh ternyata seribet ini.”


“Nggak ribet. Kalau kamu nggak mau menerima panggilanku, kamu tinggal ngasih aku akses ke sosmed kamu.”


“Itu lagi.” Kening Ashilla mengernyit. “Kamu nggak perlu minta akses, kamu cuma perlu percaya sama aku.”


“Sayangnya aku nggak percaya, Shilla.”


“Ya udah kita putus!” Seketika hening. Mungkin di seberang sana Angkasa merasa seperti tersambar petir. “Kalau udah nggak ada percaya, buat apa dipertahankan?”


Tak ada tanggapan apa-apa, Angkasa diam dan Ashilla memilih untuk memutus sambungan telepon.