Behind The Lies

Behind The Lies
Epilog



Tiga bulan setelah undangan makan malam dari Aruna dan suaminya, Iyash belum juga mengabari kapan dirinya siap untuk duduk satu meja dengan mantan pacar yang sudah melanjutkan hidupnya bahkan dia tak yakin bisa duduk satu meja dengan suami dari wanita yang pernah dia cintai. Namun, malam itu Aruna kembali menghubunginya lewat pesan singkat.


[Yash, rencananya mulai besok lusa, aku akan tinggal di Bali. Aku mengabarimu karena aku masih punya utang sama kamu. Kamu ingat, ‘kan soal undangan makan malam waktu itu?]


Iyash membalas pesan tersebut setelah satu jam dia menerimanya. [Iya.] Dan hanya kata singkat itu saja seolah tarif pesan ditentukan oleh banyaknya huruf.


Sementara itu tak sampai satu menit Aruna langsung membalasnya. [Kalau nanti malam kamu bisa?]


[Bisa.]


[Tempatnya?]


[Bebas.]


[Oke, nanti aku kirim lokasinya.]


Iyash tak membalas kembali pesan tersebut. Namun, dia akan tetap datang dan menyelesaikan semua yang pernah dia mulai. Dia tahu sekarang Aruna sudah bahagia dengan hidupnya, sementara dia masih tertatih menikmati semuanya.


Aruna memang sudah nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Miranti juga sudah berdamai dengan Dewi, sehingga Dewi bisa ikut merawat Ashilla yang sedang hamil muda. Sedangkan Adisty tak mempermasalahkan keinginan ibunya, meski dia masih bersikap dingin pada Ashilla dan juga pada Aruna.


Asa sudah tahu siapa ayahnya dan itu ternyata adalah Daniel, saudara tiri Angkasa. Meski masih belum bisa dipahami kenapa orang dewasa itu rumit, tapi hal itu tak menghalangi Asa untuk menjadi dewasa. Angkasa dan Ashilla memberinya pengarahan dan menjelaskan, “kalau hidup itu memang unik, selama kamu bisa memotong akar masalah dalam kehidupan kamu, kamu tidak akan mengalami masalah sampai serumit masalah yang kami hadapi”.


Bukan tanpa alasan Ashilla memberi tahu Asa, semua itu karena permintaan Edgar, dia tidak ingin Asa menjadi seperti dirinya. Sedangkan sekarang Edgar benar-benar hidup dan tak lagi mengalami mati suri seperti dulu. Maira berhasil memberi warna dalam hidupnya. Beberapa kali datang untuk menemani Dokter Mirza bermain catur, akhirnya dia mengungkapkan niatnya baiknya pada Maira. Rencananya Edgar akan menikahi Maira setelah wanita itu lulus menjadi Dokter Spesialis Kandungan.


Semua orang memiliki kehidupan yang unik, terkadang meski menghabiskan sehari, dua hari, setahun dua tahun bahkan mungkin selama hidupnya menjadi Ibu Rumah Tangga tanpa bekerja di luar seperti keputusan Ashilla dan Aruna, nyatanya tak ada kehidupan yang sia-sia jika dilakukan dengan benar.


“Ibu Rumah Tangga adalah pekerjaan mulia, tak akan ada yang bisa menggaji mereka karena harganya terlalu mahal, oleh sebab itu Tuhan sendirilah yang akan menggaji mereka”.


Ungkapan tersebut pernah Aruna sampaikan dalam forum saat dirinya menjadi pembicara di sebuah acara yang diadakan oleh komunitas pecinta novel.


Aruna bangga pada dirinya sendiri karena pernah mengalami banyak hal dalam hidup.


Dia mendapat banyak tepuk tangan yang begitu meriah. Bahkan waktu itu Iyash hadir dalam acara tersebut, menggunakan jaket hitam, topi dan masker, karena dia tidak ingin ada orang yang melihatnya. Dia juga tahu kalau Marissa ada di sana. Dia tidak ingin menjadi bulan-bulanan Marissa kalau wanita itu tahu bahwa orang yang Aruna sebut sebagai cinta pertama Anastasya adalah dirinya. Sayangnya, Aruna tidak tahu kalau cinta pertamanya hadir dan mendengarkan pidatonya pagi itu.


Iyash memang hanya pernah hadir dan biasanya yang hadir hanya sepintas. Meski begitu Aruna mengakui kalau Iyash adalah cinta pertamanya. (Tanpa menyebutkan nama) Namun, hal tersebut benar-benar sampai ke relung hati Iyash.


“Menurut Tuhan saya dan cinta pertama saya itu tidak bisa bersatu, bahkan terlalu sulit untuk kami mencari jalan tengah dalam permasalahan kami, dipaksakan pun tidak akan baik untuk kesehatan mental kami, bukan karena restu, bukan juga karena keegoisan kami, tapi karena ada hal lain yang membuat kami sulit menyatu dan bersinergi.


Saya selalu merasa rendah diri setiap bersamanya. Seperti yang sudah kalian baca dalam buku saya, Behind The True Story. Dibalik kisah nyata yang kalian lihat sekarang, nyatanya saya pernah berada di titik paling rendah dan bahkan merasa tidak diakui, sampai dia hadir dan memberi saya jutaan warna, sampai tak sadar saya bergantung pada dirinya dan lupa kalau ada kehidupan lain yang harus saya seimbangkan, termasuk cinta saya pada Tuhan, cinta saya pada ayah dan cinta saya pada teman-teman saya.


Tuhan punya caranya sendiri untuk membuat seseorang tetap bertahan dalam satu hubungan, atau Tuhan punya cara lain untuk memisahkan mereka. Yang jelas intinya, jangan bertahan jika hubungan itu memberatkan salah satu diantara kalian. Karena rasa nyaman dan aman itu sangat penting.”


Aruna kemudian menggenggam tangan Faran yang sejak tadi duduk di sebelahnya. “Sampai Tuhan pertemukan saya dengan beliau.” Dia kemudian tersenyum pada sang suami yang selalu siap siaga menemani dirinya. Kemarin Faran kembali dari Bali hanya untuk menemani Aruna menjadi pembicara pagi itu.


“Beliau awalnya adalah pilihan ayah, namun seiring berjalannya waktu saya tahu kalau dia dikirim Tuhan untuk menyeimbangkan hidup saya.”


Faran tersenyum, begitupun dengan Aruna, sampai tepuk tangan dan sorak sorai menggema di lantai dua salah satu mall di Jakarta.


“Jangan salah, beliau ini menemani setiap proses dalam hidup saya. Dan beliau tidak langsung meminang saya, beliau menunggu sampai saya benar-benar sembuh, dan perlahan beliau membantu mengembalikan senyum saya, lalu mengisi semua lubang di hati saya.” Aruna tersenyum menatap Faran. “Terima kasih, Mas, sudah menemaniku sampai sejauh ini,” kata Aruna lembut.


Faran membalas senyuman sang istri. “Sama-sama, Mas akan berusaha untuk membuatkan kamu dan anak-anak kita rumah di surga, Mas juga akan meminta agar Allah menjadikan kamu bidadari di dunia, sekaligus di surga-Nya.”


Tepuk tangan kembali menggema. Suasana semakin riuh, apalagi saat Edgar berteriak menggoda pasangan yang sudah menikah hampir delapan tahun tersebut. Miranti tersenyum bangga, begitupun dengan Ashilla.


Sementara Iyash tertunduk merapikan topinya. Tak dapat dipungkiri, kedua pasang mata itu dipenuhi cinta satu sama lain. Dan dia salah tentang dirinya selama ini. Dia bukanlah penyebab Aruna menjauh, tapi diterangkan kalau Aruna menjauh karena dirinya sendiri. Dalam buku yang Aruna tulis sudah sangat jelas, kalau dulu Aruna hanyalah perempuan yang tak berpendirian, bahkan lebih bahaya dari kata lemah.


Namun, akhirnya Iyash mengerti kalau dia dan Aruna memang tak bisa bersama bukan karena tidak saling cinta, tapi karena tidak bersinergi. Menurut bahasa sekarang, mungkin lebih tepat kalau menyebut Iyash sebagai Red Flag bagi Aruna, sedangkan Faran sebagai Green Flag. Meski, Aruna tak menyebutnya secara gamblang, namun, Iyash sadar akan hal itu.


Sebenarnya Iyash hanya merasa tidak percaya diri. Seperti yang pernah dikatakan Rahma pada Marissa, kalau Marissa hanya perlu membantu Iyash untuk mencintai diri sendiri dan mengembalikan kepercayaan dirinya. Bukan tanpa sebab Iyash menjadi seperti sekarang, meski sudah menjalin hubungan dengan Marissa selama tiga bulan, nyatanya hubungan tersebut belum ada perkembangan apapun karena Iyash masih diam di tempat.


Sejatinya hubungan akan berjalan jika keduanya sama-sama bergerak.