
Setelah perselisihannya dengan Aruna karena perbedaan sudut pandang, Gusman pergi meninggalkan rumah sakit, sementara waktu itu Aruna sedang terlelap. Entah memang tidur, atau pura-pura tidur untuk melupakan kesedihannya.
Pagi itu Gusman sudah berdiri di depan sebuah rumah. Perasaannya benar-benar gamang, sunyi dan tak bergairah, rasanya tak sanggup melihat Aruna seperti ini, dia berharap kedua orang tuanya mau memusnahkan kebuntuan di hatinya.
Ruas-ruas jarinya mengetuk daun pintu rumah tersebut. Awalnya dia berpikir untuk berbalik dan pergi. Namun, tiba-tiba pintu terbuka dan itu membuatnya mengurungkan niat untuk meninggalkan tempat itu.
“Gusman?” Suara sang ibu terdengar begitu lembut.
Dengan perasaan yang terus berkecamuk. Gusman menjatuhkan lutut di depan ibunya. “Maaf, Ma.” Dia kemudian memeluk kaki sang ibu. “Gusman minta maaf.”
Wanita tujuh puluh tahun tersebut lekas membantu Gusman untuk berdiri. “Kemana saja kamu, Nak?” Lestari membelai pipi Gusman, lalu memeluknya erat. “Mama sudah memaafkan kamu, jauh sebelum kamu memintanya.”
Setelah melepaskan pelukan. Lestari mengajak anaknya untuk masuk. “Papa pasti senang kamu pulang. Dua tahun yang lalu, Papa mendengar kalau anak kamu ada di Jakarta dan katanya dia sedang mencari Dewi, tapi kembali ke Surabaya, apa itu benar?”
Gusman mengangguk.
“Sejak hari Papa mendengarnya, dia langsung menyuruh orang untuk mencari kamu di seluruh Surabaya, tapi tidak ketemu.”
Gusman mendaratkan bokong dan menahan tangan sang ibu.
“Mama panggilkan Papa dulu ya.” Namun, sebelum itu Lestari mengunci pintu, lalu mencabutnya karena takut sang anak pergi lagi. “Tunggu.”
Gusman sendiri termenung di atas sofa. Apa yang akan sang ayah pikirkan tentang dirinya yang hanya datang dalam keadaan benar-benar butuh.
Perlahan Gusman mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat, dia pun segera bangkit ketika melihat Ganjar sudah berdiri di depannya.
“Gusman?”
Gusman segera mengambil langkah dan mendekat pada sang ayah. “Maaf.” Sama seperti yang dia lakukan pada sang Ibu, Gusman juga memeluk kaki ayahnya. “Maafkan Gusman, Pa.”
Perlahan bibir Ganjar tersungging. “Papa sudah maafkan kamu, Nak. Berdiri-berdiri.”
Gusman pun bangkit. Kemudian memeluk sang ayah dan menangis, bukan dengan suara kecil, atau nyaris tanpa suara, tangisan Gusman justru terdengar begitu pilu dan penuh penyesalan. Tidak seperti ketika dia kehilangan Dewi. Kali ini justru berlipat-lipat lebih menyakitkan. Seberapa jauh pun dia pergi keluarga tetap tempat kembali.
“Kamu kenapa?” tanya Ganjar seraya menepuk punggung sang anak. “Duduk yuk, duduk.”
Lestari ikut menangis. Doa yang setiap malam dikumandangkan pada sang pencipta telah dikabulkan, Gusman telah kembali.
Gusman kembali duduk di sofa. Dia menggasak kasar kedua pipinya. “Gus datang ke sini untuk meminta tolong, Pa.”
“Katakan. Kami orang tuamu, kami tidak akan membiarkanmu susah lagi,” kata Ganjar. Berbeda dengan puluhan tahun lalu, bahkan kalimat tersebut tak pernah terucap. Mungkin Ganjar menyesal dan tak ingin Gusman menjauh lagi darinya.
“Aruna mengalami kecelakaan.”
“Innalillahi.” Lestari mengusap wajah sembari meneruskan doa tersebut dalam hati, pun dengan Ganjar.
“Gus minta tolong rawat Aruna karena umur Gus nggak akan lama lagi.”
Seketika jantung kedua orang tuanya mencelus, namun mereka berpikir kalau Gusman hanya membuatnya takut saja. “Maksud kamu apa?”
“Enam bulan yang lalu Gus divonis kanker otak.”
“Astaghfirullah.”
“Kalau Gus pergi, Aruna sendirian.” Gusman terlihat begitu tegar, padahal setiap malam dia sedih dan resah lantaran memikirkan akan seperti apa Aruna tanpa dirinya.
“Kenapa kamu baru pulang?” tanya Ganjar.
Gusman menarik napas dalam. “Maaf, Pa. Maaf karena sudah egois. Sekarang di pikiran Gus hanya kebahagiaan Aruna.”
“Keterlaluan kamu, Gus.”
Gusman mengangguk. Dia memang sudah keterlaluan karena membiarkan Aruna dalam kesulitan.
“Aruna mendapat beasiswa untuk sekolah di sini, tapi dia mengalami kecelakaan dan sekarang dia minta untuk pergi dari Jakarta. Kami tidak mungkin kembali ke Surabaya.”
Ganjar menatap sang istri yang kemudian mengangguk.
“Tolong Gus, Pa, Ma.”
“Setelah kamu bercerai dari Dewi, kami pikir kamu akan pulang, tapi kamu malah menghilang,” kata Lestari.
“Terlalu berat hidup di sini, jadi, Gus memutuskan pindah ke Surabaya.”
“Kenapa kamu tidak pulang saja ke sini, padahal kalau kamu ingin pergi, kamu bisa menyusul Miranti ke New York.”
“Gus malu, Pa, Ma. Gus bahkan tidak bisa mencari nafkah dan Gus tidak mungkin bergantung terus menerus pada kalian.”
“Kamu lupa kamu harus melanjutkan perusahaan.”
Gusman tertunduk lesu.
“Kenapa harus malu, lagi pula kami ini orang tua kamu,” kata Lestari.
Gusman menghela napas.
“Yang sudah terjadi, sudah, kita hanya perlu menerima dan memperbaiki kedepannya,” kata Ganjar.
Gusman masih tertunduk lesu.
Gusman menggeleng.
“Semoga masih bisa diobati,” kata Lestari.
“Kita akan berjuang. Sekarang di mana Aruna?”
“Di rumah sakit.”
“Kapan boleh pulang?”
“Nanti sore bisa pulang paksa.”
“Kenapa harus pulang paksa, kenapa nggak nunggu dia sembuh dulu?” tanya Lestari.
“Aruna ngotot minta pulang. Cuma Gus bingung, mau bawa dia pulang ke mana.”
“Tentu saja ke sini. Dia cucu kami,” kata Lestari. “Pa, minta Yayan antar Gusman untuk bawa Aruna ke sini.”
“Iya.” Ganjar kemudian menatap Gusman. “Ajak Gusman makan, habis itu ganti pakaian, lalu pergi diantar Yayan.”
Lestari mengangguk dan bangkit. “Yuk, Gus.” Dia berjalan diikuti Gusman. “Miranti nanyain kamu terus, anaknya sudah besar.”
Gusman tersenyum.
***
Tepat pukul tiga sore, Gusman kembali ke rumah sakit dengan pakaian rapi dan wangi tak seperti sebelumnya. Pagi tadi sebelum Gusman pergi menemui keluarganya, dia menandatangani surat kepulangan Aruna dan saat dia kembali dia melihat selang infus sudah dilepas dari tangan Aruna.
Bukannya senang dengan kembalinya sang ayah, Aruna malah termangu menatapnya. “Ayah dari mana?” tanyanya heran melihat penampilan Gusman yang berbeda.
Gusman tak menjawab. Dia langsung mengeluarkan pakaian baru dari tas yang dibawanya. “Kamu ganti baju, kita pulang sekarang.”
“Ke Surabaya?”
Gusman terdiam beberapa detik.
“Yah, kemana?”
“Ke rumah Kakek, Nenek kamu.”
“Hahh?” Kening Aruna mengernyit. Dia memang tahu kalau sang ayah masih punya orang tua, namun dia tidak menyangka akan diajak bertemu mereka, tapi setidaknya dia tidak kembali ke Surabaya.
“Cepat kamu ganti pakaian kamu.”
Aruna lekas mengambil pakaian tersebut, lalu pergi ke kamar mandi.
Gusman tampak resah, dia berharap tidak bertemu orang tua Iyash. Dia hanya tidak ingin Aruna kembali sakit hati dengan perlakuan ibunya Iyash.
Beberapa menit menunggu, Aruna keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru berwarna coklat, bukan lagi rok seperti yang sering dipakainya, melainkan blouse dan celana jeans.
“Kita pulang sekarang.”
“Yah.” Aruna menahan tangan sang ayah, “Kita ke tempat kos Runa dulu ya.”
“Nggak usah.”
“Tapi, Yah, barang-barang Runa di sana.”
“Buang saja. Kamu akan hidup baru bersama–”
“Nggak,” tolak Aruna cepat. “Meski hanya buku, itu kenangan Aruna. Lagi pula, ijazah, KTP semua di sana, masa harus direlakan, apa gunanya Runa sekolah kalau tiba-tiba harus dibuang?”
“Iya-iya. Ayah minta maaf. Sekarang kita ke sana dulu.”
Aruna mengangguk. Dia kemudian berjalan dituntun sang ayah menuju tempat parkir. Namun, dia tercenung di depan avanza hitam.
“Ini mobil kakek kamu dan ini Yayan.”
Aruna mengangguk. Sementara Yayan tersenyum ramah padanya. Namun, Aruna tak membalas senyum itu, bukan sombong, Aruna memang jarang tersenyum pada orang yang baru ditemuinya.
Yayan membukakan pintu dan Aruna lekas masuk.
“Makasih, Yan,” kata Gusman. Dia kemudian masuk melalui pintu lain di jok belakang. Sementara Yayan lekas duduk di belakang kemudi dan siap melajukan mobilnya.
“Langsung ke rumah, Mas?” tanya Yayan.
“Nggak, ke tempat kos Aruna dulu.”
“Di mana ya, Mas?” tanya Yayan seraya kembali menatap spion yang mengarah ke jok belakang.
Aruna menatap sang ayah dan memberitahunya. Tak disangka sang ayah tahu tempat itu dan langsung melesat ke tempat tujuan. Aruna sampai termangu, seharusnya wajar karena ayahnya besar di Jakarta, meski menghabiskan setengah umurnya di Surabaya.
Sesampainya di sana, Aruna langsung mengemasi pakaian dan mengosongkan kamar kos tersebut sembari terus menangisi dirinya. Entah apa yang terjadi esok, entah bagaimana dengan masa depannya, yang jelas Aruna sudah tak dapat lagi membayangkan hidupnya bahkan satu jam ke depan.
Aruna duduk menangis di atas tikar. Dia mengambil bolpoin dan menuliskan sesuatu dalam lembar terakhir buku diarynya.
Tangannya bergetar ketika menuliskan kalimat perpisahan tersebut. Setelah selesai dia menggantungkan kunci di pintu, sehingga tak ada yang tahu kalau sore itu dia meninggalkan tempat kosnya.