Behind The Lies

Behind The Lies
Pacaran



Malam hari menjelang tidur, tiba-tiba Aruna mendengar suara Iyash memanggil namanya dengan suara tipis. “Aruna.” 


Aruna lekas bangkit dan membuka jendela. Benar saja pemuda itu berdiri di depan jendela kamarnya. 


Aruna mengedikkan dagu. Tiba-tiba Iyash melempar buku ke arahnya. Di dalam buku tersebut tertulis. “Pinjam buku Sosiologi. Aku nggak bisa tidur, daripada terus mikirin kamu, lebih baik aku menulis pelajaran tadi.”


Aruna tersenyum. Dia lekas mengambil buku Sosiologinya di meja, kemudian menulis pesan di buku yang Iyash lempar. “Aku kira Halusinasi.” Dia kemudian melempar buku tersebut dan Iyash langsung menangkapnya. 


Rumah kayu yang dihuni Aruna, memiliki bangunan yang lebih tinggi dengan lantai papan, sehingga Iyash tak bisa melihat Aruna lebih dekat, dia bahkan harus terus tengadah hanya agar bisa melihat gadis itu. 


Setelah membaca pesan dari Aruna lewat bukunya, Iyash kembali menulis. “Haha, jangan terlalu banyak mikirin Aku. Jadi, nggak bisa bedain mana yang nyata mana yang nggak."


Iyash kembali melemparkan buku tersebut. 


Aruna tertawa. Namun, tawanya yang keras membuat sang Ayah penasaran dan lekas mengetuk pintu, kemudian membukanya. 


“Run, belum tidur?” tanya Gusman di depan pintu kamar Aruna, seketika kedua mata Aruna membola dan perlahan dia menoleh pada sang ayah. 


"Runa lagi baca buku, Yah." 


“Kenapa jendelanya belum ditutup?” Gusman berjalan ke depan jendela. 


“Nggak usah, Yah, biar Aruna yang tutup,” gadis itu lekas memberi isyarat pada Iyash agar pergi sebelum ayahnya tahu. "Ada Ayah," Desisnya. 


“Kamu kenapa?” tanya Gusman. 


“Nggak apa-apa, Yah.” 


“Cepat ditutup banyak nyamuk.”


“Iya, Yah.” Perlahan Aruna menutup jendela kamarnya dan mengakhiri pertemuannya dengan Iyash malam itu. Sementara Iyash kembali ke kamarnya dan mulai mencatat materi siang tadi . 


***


Semenjak berpacaran, Iyash dan Aruna semakin banyak menghabiskan waktu bersama. Kegiatan sekolah maupun diluar sekolah mereka habiskan bersama-sama. Aruna semakin menunjukan siapa dirinya ketika bersama Iyash. Dia merasa bebas dan merasa menemukan dirinya ketika bersama pemuda itu. 


“Iyash,” panggil Aruna di depan jendela kamar Iyash. Seketika pemuda yang sedang berbaring sembari membaca buku itu tersenyum mendengar suaranya. Dia lekas bangkit dan membuka jendela. “Aku buatkan puding mangga,” kata Aruna sembari menunjukkan kotak makannya ke atas. 


Iyash tersenyum. “Buatku?” 


“Iya.” 


“Awas-awas.” Iyash menggerakkan tangannya ke samping. Aruna mengerti dia pun bergeser dan Iyash langsung melompat dari jendela kamarnya. 


“Aahh!” Aruna sedikit memekik kala Iyash hampir kehilangan keseimbangan. 


“Gugup,” kata Iyash sembari tertawa kecil. “Ini mangga yang aku beli buat kamu?” 


“Iya, aku buatkan puding,” kata Aruna seraya duduk di di atas batu dekat tiang rumah Juragan Hartanto. Cahaya lampu tak begitu terang mengingat kamar Iyash yang berada sedikit menjorok ke pinggir. 


Iyash tersenyum seraya duduk di sebelah gadis pujaan hatinya. 


“Cobain,” kata Aruna seraya menciduk satu sendok teh dan menyuapi Iyash. “Enak nggak?” 


Iyash sedang mengunyah, bibirnya kembali tersungging. “Enak, manis.” 


“Hhhhh.” Aruna menghela napas. “Syukurlah.” Iyash tak perlu tahu perjuangannya membuat puding tersebut. Ini memang kali pertama Aruna membuatnya, bermodalkan dari internet sewaktu dia menggunakan komputer sekolah. “Habiskan,” pinta gadis itu sembari memberikan kotak makan tersebut pada Iyash. 


“Nggak disuapin lagi?” 


“Nggak usah, kamu bisa sendiri.” 


Iyash hanya tersenyum, dia pikir Aruna akan memperlakukannya seperti anak kecil dan terus menyuapinya sampai habis. 


“Ayah tadi nanya, apa aku pacaran sama kamu?” 


Seketika Iyash berhenti mengunyah. “Kamu jawab apa?” 


“Meski ayah sudah bohongin aku, tapi aku nggak bisa bohong sama Ayah."


“Baguslah. Terus Ayah kamu bilang apa?” 


“Ayah nggak bilang apa-apa.” 


Kedua mata Aruna membulat menatap Iyash. “Terus Nenek bilang apa?”


“Nenek cuma berpesan, ‘pacaran boleh, asal jangan berlebihan, lakukan hal-hal yang positif jangan sampai hubungan kalian merusak cita-cita dan nilai akademik kalian di sekolah’. Udah.” 


“Kadang aku merasa kalau Ayah nggak perhatian, dia nggak peduli sama aku.” 


“Peduli, cuma caranya aja yang beda. Kakekku juga nggak seperti Nenek, Papaku juga nggak seperti Mama, tapi aku yakin mereka juga tetap peduli.” 


“Masalahnya aku cuma punya Ayah.” 


“Sekarang kamu punya aku,” kata Iyash sembari menatap gadis itu. Seketika jantung Aruna berdegup. “Aku udah pernah bilang, ‘kan, kalau butuh teman cerita, bilang aja.” Iyash kemudian tertawa kecil. 


“Kalau butuh uang jajan, mintanya sama Ayah kamu, aku bukannya pelit, tapi malu soalnya uangku hasil–” Iyash membuka lebar telapak tangannya. 


Aruna menyenggol bahu Iyash seraya tertawa. "Minta-minta."


Iyash juga tertawa. Nampaknya keduanya tidak malu jika terdengar oleh orang lain dan kedapatan berduaan di tempat gelap. 


"Sssttt." Aruna membekap mulut Iyash dengan telapak tangannya. "Kamu kalau tertawa nggak bisa pelan," kekeh Aruna tertahan. 


"Kamu juga berisik." Iyash merapatkan bahunya ke Aruna.


 “Ayah kamu nggak nyariin, soalnya ini udah jam sembilan?” 


“Iya. Aku pulang,” kata Aruna seraya bangkit. 


“Makasih, Run, aku suka.” 


Aruna mengangguk, kemudian dia melenggang pergi menuju kamarnya. Sementara Iyash sendiri kibungan, bagaimana cara dia bawa kotak makan tersebut, sementara dia harus memanjat jendela?


Akhirnya Iyash pergi ke belakang rumah dan memilih untuk masuk lewat pintu belakang, di sana masih ada Mbok Murti yang baru selesai dari pekerjaannya dan hendak pulang. 


 


“Den iyash? Dari mana, Den?” 


“Habis cari angin,” jawab Iyash sembari masuk ke dalam rumah. 


“Habis merokok?” 


Iyash menoleh seraya tersenyum. “Mbok cium bau rokok?” 


“Ndak.” 


“Aku memang nggak merokok, Mbok. ” Iyash kembali melanjutkan langkah. Dia lalu menyimpan kotak makan berisi puding mangga ke dalam kulkas. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki, setelah itu dia ke kamar dan mengakhiri malamnya dengan tidur.


***


Sudah beberapa hari Aruna sengaja tak membawa sepeda dan memilih menumpang dibonceng Iyash. Dia berdiri di atas step sepeda, kedua tangannya direntangkan sementara Iyash mencoba tetap seimbang. Iyash merasa hidupnya beruntung. Cintanya dengan Aruna berjalan sesuai dengan keinginannya.


 


“Yash,” teriak Aruna seraya memegang kedua bahu Iyash dan sedikit membungkukkan tubuh ke punggung pria itu. “Makasih,” bisiknya. 


Iyash hanya tersenyum. Memang sejauh ini Iyash selalu berusaha mengabulkan semua keinginan Aruna. Seri di wajah Aruna semakin berbinar dan itu menyadarkan teman-temannya kalau Aruna hanya bisa bahagia bersama Iyash. 


Sesampainya di sekolah Aruna mendapat permintaan maaf dari Naya. 


“Run, aku minta maaf,” kalimat itu terlontar secara langsung. 


“Aku juga minta maaf,” kata Aruna. 


“Kamu nggak salah. Aku sadar, seharusnya waktu itu aku tetap di samping kamu, bukan malah menjauh hanya karena aku ingin terus berkumpul dengan Iyash, padahal Iyash memilih kamu, mungkin waktu itu Iyash hanya belum mendapat kesempatan, makanya dia seperti tidak ada perasaan apa-apa sama kamu.” 


Aruna tersenyum. 


Melihat Naya yang sedang meminta maaf pada Aruna, Umam pun mendekat. “Aku juga minta maaf sama kalian.” 


Dennis dan Bagas pun begitu. “Kami juga minta maaf.” 


Aruna tersenyum, pun dengan Iyash. “Aku sudah maafin,” kata Aruna dan Iyash bersamaan. Lalu mereka tersenyum dan saling menatap satu sama lain, kemudian kembali menatap keempat sahabatnya. Sementara Naya, Umam, Bagas dan Dennis nampak canggung. Sebelumnya memang mereka tak pernah melihat wajah Aruna secerah itu. Mereka bahkan lupa kapan terakhir kali Aruna tersenyum bersama mereka.