
Menjelang maghrib Iyash berdiri di depan pintu rumah Ganjar sembari memegang kardus besar yang dia bawa tadi. Tak berapa lama setelah dia menekan bell, pintu terbuka.
“Cari siapa, Mas?” tanya Bi Sumi. Seharusnya Bi Sumi sudah tak asing lagi dengan wajah Iyash, mengingat dia sudah sering datang.
“Saya cuma mau titip ini buat Aruna.”
Bi Sumi menatap kardus yang dipegang Iyash. “Bukan buat Non Ashilla?”
“Bukan, ini milik Aruna. Tolong bilang ini dari Surabaya, teman SMA nya .”
“Baik, Mas.” Bi Sumi menerima kardus tersebut. Bobotnya lumayan berat mengingat kebanyakan dari isinya adalah buku-buku, album foto dan hadiah-hadiah kecil darinya waktu masih SMA.
Setelah memberikan itu, Iyash pergi dan tak menemui siapapun lagi selain Bi Sumi. Bi Sumi sendiri langsung membawanya ke ruang keluarga, di sana sedang berkumpul semua anggota keluarga membicarakan keberangkatan Faran esok hari.
“Cutiku memang cuma tiga hari, tapi nanti pas nikahan Ashilla, aku balik lagi ke sini bareng sama Ibu dan Ayah,” kata Faran.
“Kapan?” tanya Aruna.
“Emmm …. pokoknya sebelum pernikahan Ashilla aku udah di sini.”
Aruna mengedarkan pandangan meminta persetujuan yang lain, meski tidak setuju pun Faran akan tetap berangkat karena dia tak punya kegiatan apapun di Jakarta.
“Kalau mau ikut Mas Faran boleh kok, Run,” kata Ashilla.
“Nggak-nggak, Aruna tetap di sini, kasihan nanti dia kecapekan,” kata Faran.
“Heemmh, ngapain bolak-balik,” dengkus Miranti. “Biar Aruna di sini aja.”
“Permisi,” ucap Bi Sumi seraya mendekat. “Maaf mengganggu. Ini ada titipan dari teman SMA nya Non Aruna, katanya dari Surabaya.”
Aruna lekas bangkit dan menatap kardus tersebut. Bagaimana mungkin selama hampir sepuluh tahun ini semua temannya menganggap kalau dirinya sudah tiada.
“Yang mengirimnya masih di sini?” tanya Faran.
Bi Sumi menggeleng.
“Dari siapa, Bi?” tanya Ashilla. “Bibi tahu orangnya?”
“Bibi nggak terlalu lihat wajahnya, dia laki-laki pakai hoodie, kacamata hitam sama masker.”
Perlahan Aruna mendekat dan menerima kardus tersebut.
“Jangan dibuka,” pinta Faran. “Siapa tahu itu dari orang jahat.”
Ashilla segera melihat Aruna, kemudian menatap kardus tersebut. “Mas Faran ini, Aruna nggak punya musuh,” kata Ashilla.
“Buka sini, Run,” pinta Miranti.
“Bunda ih, privasi.” Kedua mata Ashilla membola. Ashilla memang sangat yakin kalau barang itu dari Iyash.
“Bunda cuma bercanda.”
“Aku ….” Aruna menatap pintu kamarnya, kemudian kembali menatap anggota keluarganya. “Buka ini di kamar.”
Faran termangu menatap istrinya, dia berharap Aruna memberinya izin untuk ikut melihat isi kardus tersebut, namun Aruna malah pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Jantung Aruna bertabuh, dia meletakkan kardus tersebut di lantai dekat pintu. Dia kemudian menutup pintu, bahkan menguncinya karena dia hanya ingin sendiri. Hatinya menjerit menggaungkan nama Iyash. Dia yakin kalau orang itulah yang mengirimkan semua benda-benda itu untuknya.
Aruna membuka semua isinya. Semua kenangannya bersama Naya, Umam, Dennis dan Bagas juga ada di sana. Kertas narasi yang sempat Iyash sembunyikan, pulpen lama yang Iyash pinjam dan dibilang hilang, ternyata Iyash juga menyimpannya. Foto-fotonya bersama sang ayah, seragam SMA nya, hadiah ulang tahunnya.
Napas Aruna kembali sesak. Andai dia tidak meminta Iyash untuk menjauh dan pura-pura tidak mengenalnya. Namun, Iyash tak sebodoh dirinya hingga menganggapnya musuh.
Aruna menangis dan terus menangis sampai dadanya benar-benar sakit. Diantara tumpukan barang-barang tersebut, dia menemukan kartu nama Iyash. Perlahan dan cukup lama Aruna menatap kertas kecil tersebut, di menit ketiga akhirnya dia memutuskan untuk menelepon nomor yang tertera di bawah nama Iyash Wiyahasa Ardhana.
Baru saja nomornya tersambung, Iyash sudah menjawab panggilannya.
“Hai,” sapa Aruna tercekat.
Iyash yang ternyata masih berada di sekitaran komplek tempat tinggal Ganjar itupun terharu karena Aruna tak benar-benar serius dengan perkataannya.
“Iyash, aku–”
Iyash menarik napas dalam. “Hai, Run. Maaf karena sudah mengganggu sore hari kamu.”
“Hei … untuk apa?” tanya Iyash bergetar.
“Maaf.” Hanya itu kalimat yang terus Aruna sampaikan. “Maaf.”
“Astaga, Run.” Mendengar suara tangis Aruna, Iyash semakin tak kuat.
“Seharusnya saat aku melihat kamu di Jerman waktu itu, aku memeluk kamu.”
Jantung Iyash mencelus. Seketika dia terpegun. “Kamu tahu aku di sana?” tanya pria itu pelan.
Aruna mengangguk, seolah memang Iyash bisa melihatnya. “Maaf, Yash. Aku minta maaf.” Dia terus menangis dan tak bisa menahan semua rasa yang membuncah dalam dirinya.
“Kalau kamu bersedia, temui aku besok sore, aku kirim lokasinya. Kalau sampai maghrib kamu nggak ada, aku janji akan lupain kamu dan pura-pura tidak mengenal kamu.”
“Nggak-nggak.” Aruna semakin terisak. Dengan meminta Iyash melupakan dan pura-pura tidak mengenalnya adalah tindakan terbodoh yang dia lakukan kesekian kalinya. “Kamu tunggu aku besok.”
Iyash tersenyum dan langsung mengirim lokasi panti asuhan itu pada Aruna. “Aku tunggu kamu di sana.”
Aruna membasahi tenggorokannya, dia kemudian mengangguk. “Yash, aku–”
Tiba-tiba suara ketukan di daun pintu menghentikan kalimatnya. Dia lekas berbalik, tapi malah terlihat bingung.
“Sayang,” panggil Faran di depan pintu. “Mas, mau ke Masjid, sarungnya di dalam, bisa kamu buka sebentar?”
Jantung Aruna mencelus. Dia panik dan segera meletakkan ponselnya dalam keadaan telungkup di atas meja. Dia pikir Iyash sudah mematikan sambungan teleponnya, ternyata tidak, pria itu malah sengaja mendengarkan percakapannya.
“Sayang,” panggil Faran sekali lagi.
Aruna menggasak pipinya yang basah, kemudian berjalan diantara semua benda yang berserakan. Dia segera merapikan benda itu usai membuka pintu.
Faran terperangah melihat kekacauan di kamarnya. “Ini apa?”
“Maaf berantakan,” kata Aruna sembari memasukan semua benda-benda itu ke dalam kardus.
“Isinya apa?” Faran berjongkok dan mengambil satu amplop merah muda bergambar hati.
“Bukan apa-apa, Mas,” jawab Aruna seraya merebut amplop tersebut dari tangan Faran.
Faran tergemap dan menatap wajah sendu istrinya. Mata merah dan sembab itu membuatnya yakin kalau ini bukan hadiah biasa.
“Mau ke Masjid, ‘kan?” tanya Aruna seraya bangkit dan membawa kardus tersebut.
Faran mematung sampai beberapa detik. Dia kemudian bangkit dan menatap wanita itu.
“Aku juga mau sholat,” sisa-sisa isakan masih ada dalam napas Aruna sehingga Faran bisa merasakannya. “Mas, tolong tutup lagi pintunya,” pinta Aruna tanpa menoleh pada suaminya itu.
Jantung Faran mencelus. Beberapa detik kemudian dia pergi dari kamar dan menutup pintu.
Aruna sendiri termenung di atas ranjang. Isakannya begitu dalam, dadanya masih terasa sesak. “Maafin aku, Mas,” gumamnya pelan. Dia kemudian menutup wajah dengan telapak tangannya.
Tiba-tiba pintu kembali terbuka. “Aku ketinggalan kacama–” Faran mematung menatap sang istri yang tengah menangis. “Sayang.” Perlahan dia mendekat dan berlutut di depan wanita yang sedang duduk di tepi ranjang sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
“Aku nggak apa-apa, Mas, kalau mau pergi-pergi aja.”
“Kamu masih marah?” tanya Faran lembut. “Lama banget marahnya. Mas harus apa biar kamu maafin Mas?”
Aruna menggeleng. Syukurlah Faran masih berpikir ini tentang kejadian tadi pagi.
“Sayang,” bujuk Faran.
“Om,” panggil Asa di depan pintu. Bocah itu kemudian menatap Aruna. “Nuna kenapa?”
Faran lekas bangkit. “Lagi malu mukanya bengkak,” bohong pria itu.
“Wah, Asa juga mau lihat.”
“Eit, nggak boleh, ayo-ayo, nanti telat,” ajak Faran seraya menarik tangan bocah itu, tak lupa dia menutup pintu kamar dan membiarkan Aruna sendiri.
Setelah Faran pergi Aruna menghela napas dan menjauhkan telapak tangannya. Seketika sedihnya mereda mendengar suara polos Asa dan kebohongan Faran barusan.