
Iyash berhenti di depan restoran, bertepatan dengan itu, mobil yang dikemudikan Yayan juga berhenti di sana. Namun, baik Iyash maupun Aruna sama-sama tidak menyadari kalau mereka baru saja ditakdirkan untuk bertemu kembali malam itu.
Iyash dan Nadine sudah lebih dulu masuk, sedangkan Aruna masih di dalam mobil.
“Pak Yayan juga harus makan sama kami,” kata Faran.
“Nggak usah, Den, Pak Yayan tunggu di sini aja,” tolak Yayan.
“Tapi, Pak Yayan pasti lapar, ‘kan? Sedari tadi bawa mobil,” kata Faran. “Makan bareng kami aja, Pak.”
Yayan tersenyum. Niat Faran memang baik, tapi Yayan mengerti, bagi sepasang suami istri yang sangat jarang bertemu, sudah pasti membutuhkan waktu untuk berdua.
“Den Faran sama Non Aruna pasti butuh waktu untuk berdua. Nanti kalau saya lapar, saya bisa makan di tempat lain.”
“Kenapa harus di tempat lain. Di sini juga bisa,” kata Faran lagi. Maksud dia memang tak harus satu meja dengannya jika Yayan merasa tak nyaman dan takut mengganggu privasinya, Faran hanya ingin Yayan juga makan karena dia yakin Aruna tak akan memperhatikan hal itu.
“Pak Yayan justru mau izin ke mushola dulu, Den.”
“Oh begitu. Ya sudah.” Faran kemudian turun, sedangkan Aruna sudah lebih dulu keluar dari mobil, mereka lalu melangkah masuk ke dalam restoran. Faran menggenggam tangan Aruna, dia bahkan terus mengecup punggung tangan wanita itu. Aruna tak pernah menolak, dia juga tak pernah merasa risih. Menurutnya Faran berhak melakukan hal mesra padanya karena dia adalah istrinya.
Aruna menarik kursi, lalu duduk. Dia tak sadar kalau dia baru saja membelakangi meja Iyash. Iyash juga tak menyadarinya karena dia sedang sibuk memilih menu makan malamnya bersama Nadine.
Faran sendiri duduk di sebelah Aruna, dia kemudian membuka buku menu yang sudah tersaji di meja.
“Kamu mau makan apa?” tanya Faran
“Aku lagi nggak nafsu makan.”
“Masa aku makan sendiri.” Faran fokus memilih makanan, sementara Aruna mengedarkan pandangan.
“Mas,” panggilnya lembut.
“Hm?” Faran lekas menoleh.
“Bukan kamu, tapi aku lagi manggil pelayan,” goda Aruna.
Seketika Faran tersenyum kecut. “Manggil pelayan kok mesra gitu.”
Aruna terkikik sembari menjatuhkan kepala di bahu Faran. Seharusnya meski tidak ada kata cinta, yang terpenting adalah bahasa tubuh, tapi Faran tetap ingin mendengar Aruna membicarakan tentang cinta.
“Mas.”
“Manggil pelayan, ‘kan?” Faran kembali tertunduk dan memilih menu.
“Nggak, aku manggil kamu.” Aruna tertawa.
“Kenapa, Sayang? Jadinya kamu mau makan apa?” Faran menatap sang istri.
“Aku nggak lapar, Mas. Nanti aku nyicipin punya kamu aja.”
“Boleh-boleh.”
Aruna menegakkan tubuhnya. “Aku ke toilet dulu ya.”
Faran mengangguk. “Jangan lama.”
Aruna menunjukkan kelima jarinya.
Faran menatapnya. “Lima detik, ‘kan?”
Aruna tertawa kecil dan Faran tak berhenti menatapnya. Sungguh setiap dia melihat wanita itu rasa cintanya semakin besar dan dia semakin takut kehilangannya.
“Eh iya, aku ada hadiah buat kamu, Ayah dan Ibu.”
“Apa?”
“Nanti aja.” Aruna kemudian berbalik dan melenggang pergi ke toilet.
Faran termangu. Baru kali ini Aruna membuatnya penasaran. Biasanya Aruna memberikan hadiah hanya ketika ada yang ulang tahun atau ada sebuah perayaan dan ketika berkunjung ke Bali.
Ketika Aruna sedang berjalan di lorong menuju toilet. Tiba-tiba dia tak sengaja berpapasan dengan Iyash yang juga baru kembali dari toilet.
Keduanya mematung cukup lama. Iyash pikir Tuhan memang akan terus memberinya jalan.
“Permisi,” kata Aruna sambil lalu. Namun, Iyash menahan tangannya.
“Percaya atau tidak, sekali kita bertemu, kita akan terus bertemu.”
Jantung Aruna mencelus.
“Aku tahu kamu susah payah mengubur semua kenangan kita. Kamu ingin kita terlihat seperti orang asing, tapi aku nggak bisa melakukannya,” kata Iyash.
Aruna masih mematung dan belum menanggapi Iyash.
“Aku nggak bisa.” Aruna mendorong tangan Iyash.
“Tapi, kenapa?” Iyash malah menahan tangannya lebih keras karena takut Aruna lepas lagi.
“Aw, sakit, Yash.” Aruna meringis.
Iyash terkejut dan segera melepaskan genggaman tangannya. “Maaf.”
Aruna segera pergi masuk ke dalam toilet perempuan.
Iyash kecewa, tapi dia yakin kalau dia hanya harus bersabar untuk bisa memberi waktu bagi Aruna.
Sementara itu di dalam toilet Aruna begitu resah dan khawatir. Dia hanya belum siap memberitahu Iyash tentang statusnya saat ini.
Dalam keadaan panik dia lekas menelepon Faran.
Faran sendiri terkejut mendapat telepon dari Aruna, dia panik dan langsung menjawab panggilan tersebut.
“Mas,” panggil Aruna resah.
“Kenapa, Sayang?”
“Mas, aku nggak enak badan, kepalaku sakit,” bohong Aruna. “Kita nggak jadi makan di sini ya, kalau udah pesan bungkus aja makanannya. Nanti bisa di makan di mobil.”
Faran lekas bangkit. “Sekarang kamu di mana?”
“Aku tunggu di mobil ya, Mas. Tolong bawain tasku,” pinta Aruna sembari keluar dari toilet dan berjalan cepat menuju tempat parkir. Dia berharap semoga Iyash tak melihatnya.
“Iya,” jawab Faran khawatir. “Tapi, aku udah pesan, nggak enak kalau dibatalin,” kata Faran sembari terus melangkah menuju kasir. “Kamu nggak apa-apa, ‘kan kalau nunggu sebentar untuk memberi waktu pelayannya membungkus pesanan kita?”
“Iya, Mas.” Sesampainya di tempat parkir, Aruna lekas berdiri di dekat mobil dan berharap Yayan sudah kembali dari musholla. Namun, dia tak melihat pria itu, sehingga memutuskan untuk memanggilnya melalui jaringan telepon dan mematikan sambungan teleponnya dengan Faran.
“Pak Yayan di mana?” tanya Aruna setelah panggilannya terjawab.
“Masih di musholla.”
“Cepat ke sini, saya sama Mas Faran nggak jadi makan di restoran ini.”
“Oh, begitu. Tunggu ya, Non.” Pak Yayan lekas berlari dan tak butuh satu menit dia sudah ada di depan mobil. “Den Farannya mana, Non.”
“Masih di dalam, buka pintunya, Pak.”
Yayan lekas menekan tombol pada kunci mobilnya. Aruna kemudian masuk dan menunggu di dalam. Namun, dia kembali khawatir karena Yayan tidak masuk dan malah menunggu di luar. Dia takut kalau Iyash akan melihatnya.
“Pak,” panggil Aruna usai menurunkan kaca jendela. “Masuk aja, tunggu di dalam. Mas Faran sedang memesan makanan.”
Yayan menurut dan Aruna kembali menutup jendela.
“Kenapa nggak makan di dalam, Non?” tanya Yayan setelah duduk di kursi kemudi.
“Saya nggak nyaman, Pak.”
“Oh tempatnya kurang nyaman?”
“Bukan, mungkin karena di dalam terlalu penuh, jadi saya ngerasa pusing.”
“Oh.”
Tiba-tiba pintu mobil di sebelah kanan Aruna terbuka. “Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya Faran langsung seraya masuk dan meletakkan satu bowl sup krim.
“Aku pusing, Mas.”
“Mau ke Dokter?”
“Nggak usah,” tolak Aruna cepat. “Ngapain bayar orang, sementara aku bisa mendapatkannya secara gratis.”
Faran tersenyum. Mungkin karena panik sehingga kalimat itu keluar dari mulutnya begitu saja. Padahal biasanya juga dia yang memeriksa kondisi kesehatan Aruna.
“Pak sambil jalan aja,” pinta Faran.
“Langsung pulang, Den?” tanya Yayan.
“Iya, pulang aja, biar Aruna bisa istirahat. Jenguk Opa bisa besok lagi.”
“Baik, Den.”
Faran kemudian menatap Aruna. “Kayaknya kamu harus makan.” Dia lalu membuka mangkok berbahan karton tersebut dan mulai menyuapi Aruna. “Pelan-pelan aja, Pak,” pintanya pada Yayan. “Biar Aruna bisa sambil makan.”
Aruna terperangah melihat rasa khawatir di wajah suaminya. Berdosa sekali karena dia sudah membohongi pria sesoleh Faran. “Mas juga makan.”
“Iya.” Faran mengambil satu suapan dan melahapnya. Lalu mengulanginya pada Aruna sampai makanan tersebut habis.