
Edgar segera melepaskan pelukan pria tersebut, dia kemudian menatap sang ibu dan pria itu bergantian.
Miranti hanya tertunduk dan tak berani menatap anak semata wayangnnya, seolah dia baru saja kehilangan kepercayaan dirinya sendiri.
Tak ada yang mau menjelaskan apapun padanya, sehingga Edgar pun segera menatap Ganjar. “Opa tahu sesuatu?”
Seketika Ganjar menggeleng.
Edgar kembali menatap ibunya. “Bund?”
Perlahan Miranti mengangkat wajah dan menatap Edgar. “Iya. Dia ayahmu.”
“Hah?” Kedua mata Edgar membulat. “Jadi, selama ini?”
“Iya.” Miranti mengangguk. “Bunda bohong sama kamu.”
Jantung Edgar mencelus. “Kenapa bohong?”
“Nggak ada gunanya kamu tahu. Ayah kamu–” Miranti segera menatap Hasa. “Dia pergi meninggalkan Bunda dan menikah dengan wanita lain, padahal saat itu BUnda sedang hamil.”
Edgar tergemap. Tubuhnya kaku dan lidahnya terasa kelu. Selama ini dia percaya kalau ayahnya sudah tiada. Meski dia tak diizinkan untuk tahu bagaimana rupa sang ayah, namun, tak sedikitpun dia mengira kalau dirinya dan Asa berstatus sama.
“Papa minta maaf,” kata Hasa.
Edgar segera mundur. Dia memang bukan anak kecil lagi, tapi sedewasa apapun dirinya kalau diberi kabar mengejutkan seperti ini tentu membutuhkan banyak waktu untuk merenungi semuanya.
“Edgar. Papa bisa jelasin semuanya sama kamu.”
“Nggak, kamu akan mendengar semua kebenarannya dari Bunda.”
“Mir.” Hasa menatap Miranti. “Please, jangan buat dia membenci aku.”
“Benci atau tidak, itu tergantung pada Edgar, dia sudah cukup dewasa untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Mir, aku mohon.”
“Aku tidak akan melarang kamu untuk dekat dengan Edgar, kamu bisa mendekatinya sesuka hati dan sepuas yang kamu mau, tapi sekarang aku minta kamu pulang, karena nggak ada gunanya kamu di sini.”
Edgar lekas pergi ke kamar meninggalkan ayah dan ibunya.
***
Sementara itu di kediaman Hasa sendiri, Ira sedang panik karena siang tadi dia mendapat laporan dari Rahma, sahabat sekaligus ibunya Marissa. Sejak tadi dia menunggu Iyash pulang, namun anak bungsunya itu belum juga datang.
Dan begitu Iyash datang, Ira langsung mengintrogasinya. “Kamu tolak Icha?” Sudah menjadi kebiasaan jika ada apa-apa suka langsung bertanya tanpa membiarkan anaknya masuk dan bahkan duduk terlebih dahulu.
Bukannya menjawab, Iyash malah terlihat bingung. “Icha siapa?”
“Anaknya Tante Rahma.”
“Aku nggak kenal.” Iyash melangkah masuk dan mengabaikan sang ibu.
“Yash?” Ira segera menyusul putranya. “Kenapa kamu tolak dia?”
Iyash menghela napas dan segera menoleh. “Maksud Mama apa? Aku nggak ngerti.”
“Kamu dengar ya, ada anak teman Mama yang interview pagi tadi, kenapa kamu tolak dia?”
“Aku tolak semua pelamar hari ini. Jadi, aku nggak ingat siapa yang Mama maksud?”
Ira berdecak. “Siapa aja yang daftar?”
“Ya mana aku tahu, buat apa mengingat nama mereka.” Iyash mengedikkan bahu.
Ira menghela napas. “Ya udah sekarang kamu telepon Marissa dan bilang kalau dia diterima,” instruksi Ira.
“Tunggu-tunggu, Marissa?”
“Iya, Marissa Indrawan.”
“Cewek bodoh itu?”
“Yash, maksud kamu apa? Jangan suka menilai orang sembarangan.”
“Memang,” dengkus Iyash. “Bikin surat lamaran aja nggak becus.”
“Husss! Kamu ini kenapa sih?”
“Udah Mah, lupain aja, sampai kapanpun, aku nggak akan terima dia.” Iyash kembali berjalan.
“Yash, Mama nggak peduli apa yang kamu pikirkan tentang dia, pokoknya kamu terima dia di kantor.”
“Nggak,” tolak Iyash cepat. Dia kembali mengambil langkah.
“Yash!”
Iyash menghentikan langkah dan menoleh. “Nggak bisa, Ma. Dia nggak punya pengalaman apa-apa.”
“Ya namanya juga baru lulus kuliah. Kamu ajarin dia, jadikan ini sebagai pengalaman kerja buat dia.”
Ira tercenung. Dia percaya Iyash bisa bekerja dengan baik karena Hasa juga jauh lebih mempercayai putranya itu. Jika Iyash menolak semua pelamar hari ini, mungkin memang benar, tak ada satupun yang sesuai dengan kriteria yang perusahaan inginkan. Namun, masalahnya dia sudah berjanji pada Rahma akan mempekerjakan Marissa di kantornya.
Seolah belum selesai membicarakan ini dengan sang anak, Ira segera menyusul Iyash ke kamar.
“Yash, Mama mau bicara,” kata Ira di depan pintu kamar Iyash yang tidak tertutup rapat.
Mendengar suara sang ibu, dia lekas membatalkan niatnya untuk ke kamar mandi dan segera mendekat pada ibunya yang masih berdiri di depan pintu.
“Kalau soal Marissa, aku nggak mau dengar apa-apa lagi,” kata Iyash.
“Boleh Mama masuk?”
Iyash langnsung membukakan pintu untuk ibunya.
Ira pun masuk dan langsung duduk di tepi ranjang. “Untuk semua masalah di masa lalu, Mama minta maaf.”
Iyash menghela napas dan mendekat. “Soal Aruna lagi? Aku nggak mau bahas dia.”
Ira menatap Iyash yang berdiri di depannya. “Mama minta maaf karena dulu Papa terpaksa menikahi Mama.”
Seketika Iyash tergemap. Dia pikir mungkin ini tentang perceraian kedua orang tuanya.
“Mama pikir seiring waktu Papa akan mencintai Mama.” Ira tertunduk dan Iyash lekas duduk di sebelah ibunya. “Enam tahun Mama mendapatkan pernikahan hanya sebagai formalitas saja.”
Iyash termangu.
“Setelah enam tahun, Papa bilang kalau dia ingin punya anak. Mama pikir dia sudah mencintai Mama, ternyata dia hanya ingin memiliki pewaris.”
“Kak Rasya?”
Ira mengangkat wajah dan menatap Iyash. “Kak Rasya anak Mama dengan suami pertama Mama, dulu Papanya Kak Rasya meninggal dalam kecelakaan, setahun setelahnya Opa menikahkan Mama dengan orang kepercayaannya, sekaligus anak dari pemilik saham terbesar di deprusahaan.”
“Hah?”
Ira menghela napas seraya mengangguk. “Atas dasar itulah kami menikah. Mama nggak tahu kalau dulu Papa sudah memiliki pacar dan bahkan pacarnya itu sedang hamil.”
Iyash terperangah. “Ma ….” Dia mulai khawatir saat melihat air mata ibunya.
“Wanita itu adalah Miranti, ibunya Aruna dan Ashilla.”
“Hah?” Jantung Iyash mencelus. “Mama nggak salah orang?”
“Iya, Mama yakin dia orangnya. Papa kamu masih mencintainya dan dia akan menceraikan Mama karena Papa kamu ingin kembali pada Miranti.”
“Nggak mungkin, Ma, aku dengar sendiri Mama yang minta cerai.”
“Iyash, kamu menguping?”
“Aku nggak sengaja.”
Ira bangkit dan maju dua langkah ke dekat jendela. “Mama nggak mau dimadu, jadi, Mama minta Papa kamu untuk menceraikan Mama.”
“Apa?”
Ira segera menoleh. “Iya, Yash. Mama takut Papa nggak akan bisa adil,” kilahnya. Jelas-jelas dia sudah sakit hati terlalu lama dan tidak ingin menambah rasa sakit itu lagi dengan mengizinkan Hasa menduakan dirinya. “Papa akan lebih memperhatikan anaknya Miranti.”
“Jadi, aku punya Kakak selain Kak Rasya?”
“Iya, dia mungkin Kakaknya Aruna, itulah kenapa Mama tidak pernah merestui kamu dengan dia.”
Iyash menggeleng. Dia tidak percaya jika itu alasan Ira tidak merestuinya dengan Aruna. “Aku tahu bakun itu alasan Mama, karena aku juga tahu Mama baru mengetahui semua ini.”
“Nggak, Yash, Mama tahu dari dulu,” bohong Ira. Tak seharusnya dia mengaitkan kejadian ini dengan kejadian yang sudah berlalu dan bahkan Iyash sudah merelakannya.”
“Cukup, Ma!” Iyash bangkit. “Jangan pernah Mama berpikir aku masih mengharapkan Aruna. Aku sudah ikhlaskan dia, karena dia juga belum tentu bahagia dengan aku.”
Ira terperangah. Dia lalu mengusap dada Iyash. “Maaf, Yash, maaf.”
Iyash menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. “Harusnya Mama fokus sama masalah Mama sendiri.”
Ira tergemap. “Kamu nggak sedih Mama sama Papa akan pisah?”
“Nggak,” jawab Iyash datar.
Jantung Ira mencelus.
“Sama seperti aku, Papa juga bebas memilih jalan hidupnya.”
“Iyash, tapi–”
“Kalau selama ini Mama merasa sakit hati, buat apa dipertahankan? Toh sekarang Opa sama Oma juga sudah meninggal.”
Ira terpegun. Dia tidak menyangka Iyash akan mengatakan hal itu. “Kamu persis seperti Papa kamu.”
“Papa bilang aku lebih mirip Mama,” kata Iyash seraya melengos pergi ke kamar mandi.
Ira tercenung. Dulu Iyash tak begini. Dia sadar betul Iyash berubah setelah mengenal Aruna. Namun, dia lupa kalau perubahan besar itu terjadi saat Iyash tahu kalau dirinya berbohong tentang kematian Aruna.