
Gusman yakin seiring berjalannya waktu Aruna bisa sembuh dari luka di hatinya. Mungkin memang benar, tapi dia lupa kalau waktu tidak bisa membuat Aruna lupa atas semua kejadian ini. Jika memang bisa, Gusman sudah melakukannya dari dulu.
Menoleh ke belakang adalah kebiasaan Gusman dan kebiasaan itu menurun pada Aruna. Namun, tidak pada Ashilla. Dia memiliki guru berpengalaman seperti Miranti. Sama seperti Ashilla, Miranti pergi ke New York karena dia hamil di luar nikah, kekasihnya malah tidak tahu kalau Miranti hamil. Pria itu malah menerima perjodohan keluarganya. Miranti bisa apa selain bertanggung jawab untuk luka hatinya sendiri. Bedanya, Miranti memilih pergi dan dia sudah bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri.
Sedangkan Aruna kesulitan untuk bangkit. Dia terkungkung pada rasa sakit dan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Setiap malam dia mendapat mimpi buruk, sehingga dia mengalami rasa takut berlebih untuk tertidur. Akhirnya selama hampir satu tahun ini dia menghindari tidur. Badannya nampak begitu kurus, kulitnya terlihat kusam, mudah lesu dan dia menjadi sering tidak fokus.
“Kamu nggak tidur lagi?” tanya Miranti.
“Runa bantu Ashilla jagain Asa, Bund.”
“Nggak usah, sekali-sekali boleh, tapi jangan setiap malam, kamu butuh istirahat.”
Ashilla berhenti mengayun-ayun dan terdiam menatap bayinya. Dia sudah sering memperingatkan Aruna untuk tidur, namun, Aruna kesulitan melakukannya.
“Masalah kamu apa, Run?” tanya Miranti. Sedangkan Gusman hanya diam di tempat duduknya. Dia bukannya tak peduli, dia bahkan sudah meminta Miranti untuk membawa Aruna ke psikolog.
“Jika orang lain melukai hati kamu, apa itu tanggung jawab mereka untuk membuat kamu sembuh? Tidak. Itu adalah tanggung jawab kamu,” tutur Miranti dan Aruna malah tercenung. “Kita bertanggung jawab atas rasa sakit dalam hidup kita,” lanjut Miranti.
Aruna menangis mendengar kalimat itu. Sedangkan Ashilla sudah sering mendengar Miranti berkata demikian.
“Apapun yang menyangkut tentang hidup kamu, itu tanggung jawab kamu sendiri. Jangan pernah meminta pertanggungjawaban orang lain untuk rasa sakit itu. Karena apa? Karena kamu bertanggung jawab pada diri kamu sendiri, kenapa kamu harus membuat hati kamu terluka?”
Aruna semakin tertunduk.
“Intinya kalau tidak ingin terluka, jangan pernah mendekati bahaya. Kalau ada orang yang menyakiti kamu, bela diri kamu, jangan membiarkan orang itu terus menyakiti kamu. Kamu ini perempuan yang kuat, buktikan kalau kamu bisa bangkit.”
Aruna menyeka air matanya. Tak ada yang tahu dengan apa yang Aruna rasakan selama satu tahun ini, dia tidak pernah bercerita kalau dia masih memendam luka itu. Dia belum sepenuhnya sembuh seperti Ashilla. Mungkin selama ini Aruna salah memaknai hidup.
“Ayah kamu minta Bunda buat mengantar kamu ke psikolog. Kami rasa kamu memang membutuhkannya.”
“Runa baik-baik aja kok, Bund.”
“Baik gimana? Kamu sudah kehilangan nikmatnya tidur malam.”
Gusman menatap Aruna. Dia juga sudah sering memberitahu Aruna, namun, ini bukan masalah yang mudah. Ketakutan memang datang dari dalam dan hanya dirinya sendiri yang bisa mengatasi rasa takut itu.
“Sebentar lagi kalian mulai kuliah, kamu nggak sayang diri kamu sendiri?” tanya Miranti.
“Runa nggak perlu mengasihani diri sendiri. Untuk apa?”
“Itu namanya kamu menghukum diri kamu. Kenapa, Run?”
Gusman tak berkomentar, sedari tadi hanya Miranti yang banyak bicara.
Aruna menatap sang ayah. Kenapa setelah semua yang terjadi dalam hidupnya, Gusman bahkan tidak jujur tentang penyakitnya sendiri pada Aruna? Kenapa Aruna harus tahu dan mendengarnya dari obrolan Gusman dan Miranti? Aruna hanya ingin Gusman terbuka padanya.
“Kamu siap-siap. Mandi dulu.” Miranti merapikan rambut Aruna. “Kamu harus lebih kuat dari sebelumnya. Semenjak kamu tinggal di sini kamu adalah tanggung jawab Bunda.”
“Itu karena Ayah sakit, ‘kan?” tanya Aruna.
Gusman tergemap. Sementara Ashilla terperangah. Sama seperti Ashilla, dia juga tidak tahu apa-apa soal penyakitnya Gusman.
“Gimana Runa bisa menjalani semua ini kalau nggak ada ayah, semua nggak ada artinya,” kata Aruna.
“Jika memang masalahnya itu, seharusnya kamu bisa membuat ayahmu bangga di sisa umurnya,” kata Miranti.
Aruna lekas menatap Gusman. Namun, pria itu benar-benar bungkam, meski Aruna sudah mengetahui penyakitnya. Sama seperti Gusman Aruna juga merasa tidak berguna.
“Bunda nggak usah khawatir, Runa bisa mengatasi ini.” Namun, ekspresi Aruna tidak menggambarkan kalau dia memang bisa mengatasinya. Dia malah terlihat begitu tertekan.
“Kamu siap-siap dulu ya, Bunda tunggu di sini.”
Aruna tak meninggalkan kursinya, dia hanya ingin mendengar Gusman bicara sekali saja.
“Cepat, Run,” bujuk Miranti.
Aruna tertunduk dan dia terpaksa bangkit meninggalkan ruang makan, kemudian pergi ke kamar dan bersiap sesuai permintaan Miranti. Setidaknya dia tidak membuat pemilik rumah pusing memikirkan dirinya. Selama dia belum bisa hidup dengan caranya sendiri, alangkah lebih baik dia menurut saja perintah Miranti.
Di belahan bumi berbeda, tepatnya di Valencia, salah satu kota di Spanyol, Iyash menjalani kehidupannya, mewujudkan cita-citanya. Setiap minggu, di mengirimkan surat ke Surabaya untuk Aruna. Namun, tak ada satupun balasan yang dia terima.
Akhirnya karena satu dan lain hal, dia memutuskan pulang ke Indonesia dan pergi ke Surabaya untuk menemui Aruna.
“Tadi ayahmu menelpon dan menanyakan apa Iyash sudah sampai?” Nenek Alma tersenyum. “Sekarang Nenek bisa menjawab pertanyaan ayah kamu.” Nenek Alma kemudian memeluk cucu kesayangannya itu. “Kamu apa kabar, Nak?”
“Baik, Nek.”
“Syukurlah.”
“Nenek apa kabar?”
“Alhamdulillah.”
“Kakek mana?”
“Sekarang Kakek sudah sering sakit-sakitan.” Nenek Alma menghela napas. “Bolak-balik masuk rumah sakit.” Nenek Alma mengajak Iyash untuk masuk. “Kakek sedang istirahat di kamar.”
“Nanti aja, Nek, takutnya Iyash ganggu.”
“Nggak-nggak. Masuk aja, Kakek pasti senang.”
Iyash mengangguk dan mengikuti Nenek Alma ke kamar untuk melihat kondisi kakeknya.
“Kek, ini Iyash,” kata pemuda itu.
“Iyash.” Juragan Hartanto tersenyum dan memeluk sang cucu. “Kamu makin ganteng.” Dia meraba wajah Iyash. “Pasti sekarang sudah semakin tinggi.”
Iyash tersenyum. “Kek Iyash istirahat ya.”
“Oh, iya kamu pasti capek,” kata Nenek Alma. “Nanti Nenek siapkan makan malam, sekarang kamu istirahat di kamar.”
Iyash mengangguk dan pergi ke kamarnya. Dia membuka jendela kamar tersebut dengan lebar dan menatap ke jendela kamar Aruna. Dia ingat dia sering melihat Aruna di sana. Satu jam menatap ke sana, jendela tak kunjung terbuka. Akhirnya dia menyimpulkan kalau Aruna sudah tak pernah membuka jendela kamarnya lagi.
“Yash, makan dulu,” kata Nenek Alma seraya membuka pintu. “Tutup jendelanya banyak nyamuk.”
Iyash mengangguk. Namun, sebelumnya dia menatap kembali jendela itu, tapi tetap tidak terbuka. “Nek?”
“Iya?”
Iyash menoleh. “Aruna masih tinggal di sini, ‘kan?”
Alih-alih menjawab, Nenek Alma malah terdiam menatap Iyash sampai beberapa detik.
“Masih tinggal di rumah sebelah, ‘kan, Nek?”
“Pak Ridwan sudah lama nggak ke sini, Yash. Nenek nggak tahu sekarang dia di mana.”
Jantung Iyash mencelus.
“Kalau Aruna?”
Nenek Alma mengernyit seraya menggeleng.
Iyash menghela napas. “Sejak kapan mereka pergi?” tanya Iyash sembari mengikuti Nenek Alma ke ruang makan.”
“Sudah lama.”
Seketika Iyash kehilangan semangat. Padahal dia datang ke Surabaya untuk Aruna, tapi Aruna pergi tanpa memberitahunya.
“Sudah sekarang kamu makan.”
Iyash mengangguk.