
Di daerah khusus ibukota ini waktu terasa sangat singkat, pagi menuju siang terasa sangat cepat, siang menuju sore, pun dengan sore menuju malam. Setelah pulang dari panti asuhan, Ashilla meminta Yayan mengantarnya ke rumah sakit untuk menjenguk Angkasa.
Sesampainya di rumah sakit Ashilla lekas pergi menuju kamar rawat Angkasa. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu karena mendengar suara perempuan dari dalam yang sedang berbincang dengan pacarnya itu.
“Sekarang lo jelasin sama gue.”
Ashilla merapatkan telinga ke daun pintu untuk mendengar lebih jelas percakapan Angkasa entah dengan siapa.
“Kemarin malam Iyash mukulin gue, dikira cewek yang gue pacarin itu Aruna.”
“Apa? Jadi, Iyash udah tahu? Argh! Bego, harusnya elo nggak usah balik. Gue nggak mau sampai Iyash jauhin gue lagi.”
“Udah dari dulu dia jauhin lu, Dis, kenapa lu nggak sadar-sadar.”
“Nggak. Kali ini semua harus berjalan sesuai rencana. Lo harus secepatnya kawinin si Ashilla.”
“Gue nunggu dia siap.”
“Gampang, lo tinggal hamilin dia. Biasanya cewek kalau udah hamil, minta tanggung jawab.”
Jantung Ashilla mencelus mendengar perkataan wanita tersebut.
“Gue nggak pengen merusak semua rasa sayang gue ke dia.”
“Sebaiknya lo ikutin saran gue.”
“Lu pikir gue cowok apaan, Dis?”
“Ah, munafik lo, emang gue nggak tahu–”
Ashilla mendorong pintu dan seketika wanita itu terdiam menatap ke arahnya, pun dengan Angkasa yang tak kalah terkejut melihat kedatangannya. “Sayang.” Angkasa turun dari ranjang dan segera merengkuh tubuh wanitanya.
“Aku dengar semuanya,” bisik Ashilla ketika Angkasa memeluknya.
Kedua mata Angkasa membola, perlahan dia melepaskan pelukannya. “Dia Adisty, temanku.”
Ashilla menatap lama teman Angkasa. “Kamu yang kemarin hampir nabrak aku, ‘kan?”
“Oh, jadi itu lo?” Adisty pura-pura baru mengingatnya, padahal sedari tadi dia membicarakan ini dengan Angkasa. “Maaf gue lupa.”
Ashilla meletakkan barang bawaannya di meja. Dia membawa black forest kesukaan Angkasa.
“Makasih udah datang, dari tadi aku nungguin kamu,” kata Angkasa sembari menarik tangan Ashilla.
Ashilla tersenyum. Sebenarnya dia ingin marah dan membenci teman wanita Angkasa, dia juga menginginkannya pergi, tapi nampaknya Adisty masih belum ingin pergi dan tetap berada di sana menatap ke arah mereka.
Tatapan sinis Adisty membuat Ashilla tak nyaman. Namun, dia ingin tetap berada di sana untuk lelakinya. “Masih ada perlu?” tanya Ashilla pada Adisty.
Adisty merasa gondok. Dia tahu kalau Ashilla baru saja mengusirnya.
“Sayang, kamu bawa apa?” tanya Angkasa mengalihkan pembicaraan.
“Black forest.”
“Waw.” Angkasa kembali duduk di ranjang. “Kamu mau suapin aku?”
Ashilla langsung mengambil sendok yang ada di dalam kotak black forest, lalu menyuapi Angkasa. Sementara Adisty mendelik seraya membuang muka.
“Gimana acaranya lancar?” tanya Angkasa.
“Lancar,” jawab Ashilla. “Pantinya lagi direnovasi, kebetulan tadi ada arsiteknya juga.”
“Terus?”
“Ternyata dia cucu temannya Opa.”
“Wah kok bisa kebetulan?”
“Iya. Kebetulan juga namanya Iyash, cowok yang kalian bicarakan tadi,” kata Ashilla sembari menatap Adisty.
Seketika jantung Adisty mencelus. Dia tidak berpikir kalau pacar Angkasa itu mendengar semua pembicaraannya. Sama seperti Adisty Angkasa juga terkejut, dia terperangah menatap Ashilla.
“Kenapa? Kok kalian kaget?”
Adisty membasahi tenggorokan dan menatap Angkasa.
“Sayang, Iyash itu siapa?” tanya Ashilla.
“Temanku waktu SMP,” jawab Angkasa jujur.
“Kenapa dia harus memukul kamu?” tanya Ashilla lagi sembari menyuapi Angkasa.
“Semalam aku udah jelasin semuanya sama kamu,” jawab Angkasa tergagap.
“Nggak. Kamu nggak bilang soal Aruna. Memang dia siapa?”
“Gue balik,” kata Adisty.
“Syukurlah, memang seharusnya kamu nggak di sini,” ucap Ashilla.
“Sayang.” Angkasa mencoba meredam agar Ashilla tak memancing kemarahan Adisty.
“Kenapa? Kamu mau membela dia? Aku dengar semuanya kalau dia menyuruh kamu menghamili aku, iya, ‘kan?”
“Iya, dia memang begitu, tapi kamu tahu itu tidak akan terjadi.” Angkasa menarik tangan Ashilla dan mengecupnya. “Apa selama dua tahun ini, aku pernah bersikap kurang ajar sama kamu?”
Ashilla sangat menyadari kalau Angkasa selalu memperlakukannya dengan baik.
“Aku percaya sama kamu.”
“Terima kasih.”
“Jadi, Aruna itu siapa?”
Angkasa terdiam. Dia pikir Ashilla tidak akan membahas hal itu lagi.
“Kamu yang mau cerita, atau aku yang cari tahu sendiri?”
“Buat apa kamu mencari tahu hal yang tidak perlu kamu tahu.”
“Aku perlu tahu, karena kemarin ada dua orang pria yang memanggilku Aruna. Aku rasa itu menjadi sesuatu yang penting untuk aku ketahui.”
Seketika Angkasa berhenti mengunyah. “Kamu serius?”
“Ya, dia bahkan–” Ashilla tak berani membeberkan kalau pria itu bahkan menciumnya.
“Kenapa?”
“Sebaiknya kamu beritahu aku, siapa Aruna?”
“Iya-iya.” Angkasa menghela napas. “Sepuluh tahun yang lalu Iyash dan Aruna mengalami kecelakaan, Iyash koma dan Aruna kecelakaan, bahkan Iyash mengalami kebutaan, setelah beberapa bulan akhirnya dia mendapat donor kornea sampai bisa melihat lagi. Sejak saat itu Iyash tak berhenti mencari Aruna, dia tidak percaya kalau Aruna sudah meninggal.”
“Hhhhh ….”
“Aku serius, Sayang, kamu bisa cari tahu kebenaran dari ceritaku.”
“Terus kenapa dia menyebutku Aruna?”
“Karena kamu mirip dia.”
Seketika Ashilla mengernyit. “Serius?”
Angkasa mengangguk. “Wajah kamu mirip dia.”
Ashilla tergemap. “Kamu suka aku apa karena aku mirip dia?” tanyanya setelah beberapa detik.
“Nggak dong, Sayang. Aku suka kamu, sayang kamu, karena kamu Ashilla.”
Ashilla menghela napas lega. Syukurlah Angkasa tak melakukannya karena dia tidak suka disamakan dengan wanita lain. Dia ingin diterima sebagai dirinya sendiri.
“Sore ini aku pulang.”
“Syukurlah.”
“Teman kamu pasti menyesal karena sudah bikin kamu jadi begini.”
Angkasa mengedikkan bahu.
“Kamu nggak dendam sama dia?”
“Buat apa? Biarin aja.”
Ashilla menyipitkan mata dan menyelidiki sesuatu di kedua mata Angkasa.
“Kenapa?”
“Kamu bilang ada orang yang punya dendam. Memangnya Iyash punya dendam apa sama kamu?”
Angkasa membasahi tenggorokan. Dia seperti sedang menelan kalimat yang hendak dia ucapkan.
“Kamu menyembunyikan sesuatu?”
“Sama seperti kamu menyembunyikan masa lalu kamu dan yang aku tahu, kamu punya anak, tapi kamu nggak pernah cerita tentang ayahnya Asa.”
“Buat apa? Kita udah sepakat untuk tidak membahas itu lagi.”
“Oke, kita impas.”
Ashilla mengernyit.
“Aku minta kita nggak perlu membahas masa laluku, karena seperti aku yang nggak pernah mengungkit tentang masa lalu kamu.”
Kali ini Ashilla tergemap. Berharap Angkasa terbuka, namun malah seperti berbalik ke menyerangnya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. “Pak Angkasa sudah siap pulang?” tanya salah seorang perawat.
“Iya, Sus.” Angkasa kemudian pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
Ashilla sendiri tercenung di depan ranjang bekas Angkasa. Tiba-tiba sekelebat pertanyaan bergerombol mengusik damainya. Apa yang Angkasa sembunyikan membuatnya penasaran. Nampaknya dia harus mencari tahu sendiri siapa Aruna dan kenapa Iyash bisa begitu dendam pada Angkasa.
***