Behind The Lies

Behind The Lies
Tempat kost



Ketika hendak pulang Aruna bersikukuh meminta Iyash untuk mengantarnya ke tempat kos yang disebutkan Angkasa.


“Lain kali aja,” kata Iyash sembari memberikan helmnya pada Aruna.


“Kok lain kali? Aku nggak mungkin tinggal di rumah kamu terus, ‘kan?”


“Memang kenapa?”


“Kamu bilang sementara, jadi untuk apa aku kembali ke rumah kamu.”


“Hei, sementara itu nggak ditentukan dan kamu tetap bisa menginap malam ini.”


“Aku nggak enak sama semua orang.”


“Kamu nggak usah dengar kata orang. Lagi pula orang tuaku nggak keberatan.”


Aruna menghela napas, haruskah dia bilang kalau sebenarnya semua orang menentang itu.


“Udah ayo kita pulang, udah mau malam.”


Aruna menahan tangan Iyash ketika pria itu hendak naik ke motor.


“Run, lagi pula apa kata ayah kamu nanti. Aku nggak mau dibilang nggak bertanggung jawab.”


“Dengan aku mandiri di sini, bukan berarti kamu nggak bertanggung jawab. Makasih bantuanmu selama ini.”


“Bantuan apa? Semua yang aku lakukan adalah hal yang wajar.”


Wajar? Aruna mencoba untuk tersenyum, meski terasa berat. Dia tidak mungkin meributkan hal yang sudah terjadi, lagi pula semua bantuan yang Iyash berikan adalah nyata. Namun, dia tak mengerti apa maksud dari kata wajar yang dikatakan Iyash.


“Yash, aku nggak nyaman tinggal di rumah kamu.” Akhirnya Aruna jujur. “Semuanya laki-laki.”


“Mama aku perempuan. Lima pembantu kami perempuan.”


“Yash, please.”


“Tapi, aku nggak tenang, Run, apalagi kosan di sana jauh banget dari rumahku.”


“Justru itu, kalau aku berangkat kuliah dari rumah kamu, itu jauh banget, Yash. Aku juga nggak mau semua tetangga ngomongin aku.”


“Baru juga satu malam kamu tinggal di rumahku. Masa tetangga udah pada ngomongin, memang kamu dengar dari mana?”


“Apa perlu nunggu seminggu untuk mendengar omongan tidak mengenakan itu.”


“Kamu terlalu khawatir, Run.”


“Iya,” tukas Aruna. Nampaknya dia benar-benar berusaha untuk tidak pulang ke rumah Iyash malam ini.


“Besok aja, Run.”


“Kalau nggak bisa, aku minta bantuan teman kamu.”


“Siapa?”


“Angkasa. Tadi dia yang ngasih tahu ada kost di sana, ‘kan?”


“Ya udah kalau kamu mau pergi, pergi aja, nanti aku hubungi kamu lewat Angkasa.” Iyash kemudian mengedarkan pandangan, lalu melambai pada pria yang hendak masuk ke dalam mobil.


Angkasa lekas berlari ke arahnya.  “Kenapa, Yash?”


“Gue harus pulang, tapi Aruna minta anter ke tempat kos yang lu bilang dan kebetulan gue nggak tahu tempatnya.”


“So?”


“Gue minta lu buat anter dia ya, kalau ada apa-apa lu hubungi gue.”


“Oh, gampang.” Angkasa kemudian menatap Aruna. “Tapi,  kamu bawa hp, ‘kan?”


Aruna mengangguk.


“Kalau begitu matikan,” titah Angkasa.


“Lah, kok?” Kening Aruna mengernyit.


“Nggak.” Angkasa tersenyum melihat wajah kaget Aruna. “Bercanda.” Dia kemudian tertunduk dan menatap sepatunya sendiri. “Gemas,” gumamnya.


“Sa, gue nggak bisa lama. Kebetulan nyokap udah nelpon dari tadi.”


“Nanti gue antar Aruna ke rumah lu?”


“Iya.” Iyash kemudian menatap Aruna. “Run, aku duluan ya.”


Aruna mengangguk. “Hati-hati.”


“Kamu juga.”


“Tenang ada gue,” kata Angkasa bangga.


Aruna tersenyum menatap kedua sahabat itu bergantian.


“Jangan diapa-apain,” pinta Iyash.


“Iya, bawel ah,” dengkus Angkasa kesal.


“Ya udah gue duluan.”  Motor Iyash melesat pergi meninggalkan Aruna bersama Angkasa.


“Mau pergi sekarang?” tanya Angkasa.


Aruna mengerjap, perlahan kemudian dia mengangguk.


“Kamu bisa naik mobilku.”


Aruna lalu mengikuti Angkasa dari belakang. Pria itu membukakan pintu mobil untuknya.


“Makasih.”


Angkasa hanya tersenyum. Pria itu kemudian masuk ke dalam mobil dari pintu satunya. Sebelum dia melajukan mobil tersebut dia menoleh pada Aruna.


“Aruna?”


“Iya?”


Angkasa mendekat dan seketika Aruna mundur, meski punggungnya tertahan kursi. “Aku cuma mau memasangkan sabuk, kalau nggak dipakai bahaya.” Pria itu kemudian menegakkan kembali tubuhnya, lalu mulai mengemudikan kendaraan tersebut.


Berkali-kali Aruna menarik napas.


“Sebenarnya kosannya, ‘kan ada di belakang, tapi aku sekalian pulang, biar nggak balik lagi ke sini.”


Aruna mengangguk saja, lagipula dia tidak tahu kemana dia harus pergi.


Tak perlu waktu sampai lima menit Angkasa sampai di depan kos, rupanya dia hanya perlu keluar dari kampus, kemudian berbelok dan memang benar tempat kos tersebut tepat berada di belakang kampus.


“Sudah sampai,” kata Angkasa seraya menurunkan gigi.


“Di sini?”


“Iya, tuh.” Pria itu menunjuk sebuah rumah dengan pagar tinggi dan terdapat papan nama, Kostan Putri.


Aruna lekas turun diikuti Angkasa. Dia kemudian berdiri di depan pagar tersebut sementara Angkasa menekan bell.


Seorang wanita berlari ke arah mereka. “Ya, Mas?”


“Ada kamar yang kosong?” tanya Angkasa.


“Ada.” Wanita tersebut langsung membukakan pagar dan mengizinkan Aruna dan Angkasa untuk masuk. “Sebulan 700, udah ada kamar mandi di dalam, jadi nggak perlu ngantri.”


Jantung Aruna mencelus ketika mendengar harga yang ditawarkan. “Hm, bisa kurang?”


Seketika wanita itu lekat menatapnya. “Nyesel saya nggak nawarin sejuta. Ini sudah murah, Neng.”


Angkasa terkekeh. “Ibu bisa saja. Teman saya juga bercanda, Bu.” Dia kemudian menatap Aruna dan mengedikkan dagu. “Gimana?”


“Ya udah, saya ambil.”


Wanita itu langsung membuka telapak tangannya di depan Aruna. Sementara Aruna sendiri malah menatapnya lama. Perlahan kemudian dia mengeluarkan uang dan meletakkan di tangan wanita tersebut, kebetulan jumlah yang dia punya hanya ada satu juta dan sekarang tinggal tiga ratus.


Wanita itu kemudian memberikan kunci kamar kepada Aruna.


“Sudah bisa ditempati?”


“Sudah.”


Angkasa sekatika menoleh menatap Aruna. “Kamu yakin, nggak pulang dulu ke rumah Iyash?”


“Nggak. Aku langsung menginap di sini aja, mungkin besok aku bisa ke rumah Iyash.”


“Oh ya udah.” Angkasa kemudian menatap wanita pemilik kos tersebut. “Makasih, Bu.”


“Sama-sama. Ini peraturan kos, kamu baca baik-baik, kalau melanggar, siap-siap angkat kaki.”


Aruna mengangguk seraya mengambil alih kertas yang disodorkan wanita itu padanya.


“Saya tinggal.” Saat hendak melangkah wanita itu kembali menoleh. “Ingat, tidak boleh bawa laki-laki ke kamar dan suruh pacar kamu ini untuk segera pulang.”


Jantung Angkasa berdegup. Benarkah dia dan Aruna seperti sepasang kekasih? Sementara Aruna sendiri terperangah menatap Angkasa. Pria itu kemudian tertawa. “Ibu bisa aja, saya kakaknya.”


“Oh.” Ibu itu menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Kamu pasti bohong. Sudah cepat pulang.”


“Iya-iya.” Angkasa lekas menatap Aruna. “Aku duluan, Run.”


“Mm.” Aruna menahan tangan Angkasa dan pria itu langsung menatapnya. “Terima kasih.”


“Sama-sama. Teman Iyash temanku juga. Pacar Iyash ….”


Aruna tersenyum seraya melepaskan genggaman tangannya dari Angkasa. Seketika jantung Angkasa menggelepar.


“Aku pulang, sampai ketemu besok.”


“Besok mungkin nggak ketemu.”


“Ya udah besoknya lagi,” kekeh Angkasa.


Aruna kembali tersenyum.


“Dah.”


Gadis pemilik senyum manis itu mengangguk. Dia beruntung karena baru saja bertemu orang baik seperti Angkasa.