
Suara pukulan di meja membuat Ashilla terkesiap. “Ngumpul lagi, yuk, ngumpul. Kita lanjut main apa nih?” Adisty menginterupsi.
“Truth or dare aja deh. Jangan tebak gaya, udah nggak minat, kita udah keburu sedih tadi,” kata Sarah sembari duduk dan menatap sinis ke arah Ashilla.
Jantung Ashilla mencelus, dari tatapannya dia yakin kalau Sarah memang tak main-main dengan kalimatnya.
“Oke kalau gitu. Sebentar.” Adisty mengambil spin dan meletakkannya di meja. “Thalia, ibu hamil nggak boleh ikutan, soalnya kita mau minum-minum.”
“Oke.” Wanita hamil itu kemudian bangkit dan lebih memilih pergi mengasingkan diri dan Adisty langsung menyingkirkan kursi bekas duduk wanita yang dipanggil Thalia tersebut.
“Dis, gue juga lagi hamil, nggak ikutan ya,” kata Kevin.
“Anjir, ganti gender lo,” ledek Adisty. “Si Kevin hamil di luar nalar,” sambungnnya seraya tergelak di susul tawa teman-teman yang lain, sementara Iyash tak tertawa, bagi Adisty tawa Iyash terlalu mahal, bahkan dia meminta harga dirinya dibeli oleh tujuh puluh persen harta ayahnya Adisty.
“Maaf, saya nggak bisa ikutan,” ucap Ashilla ketika melihat Adisty menyiapkan beberapa botol bir di meja.
“Loh, kenapa?” tanya Adisty seraya mengedikkan alis dan menatap sinis.
“Saya nggak minum,” kata Ashilla lagi.
“Yah.” Adisty mencemooh. Wanita itu kemudian mengedikkan bahu lalu menatap Angkasa. “Sa, kalau cewek lo ikutan, terus dia nggak mau jujur dan nggak mau ngerjain tantangan, lo yang minum ya?”
“Oke, nggak masalah.” Angkasa menatap Ashilla.
“Tuh, uuu … beruntung banget lo punya Angkasa,” goda Adisty.
“Saya tetap nggak bisa ikut,” ucap Ashilla yakin.
“Sayang, nggak apa-apa seru-seruan, tantangannya aku yang ngerjain,” bujuk Angkasa sembari menarik tangan Ashilla.
“Nggak, aku tetap nggak ikutan.”
“Takut ketahuan?” tantang Adisty sembari menatap Ashilla, “Hm?”
“Maksudnya?” Kening Ashilla mengernyit.
Adisty mencebik seraya mengedikkan bahu. Kemudian dia kembali menyusun gelas-gelas kecil yang akan diisi bir.
Ashilla lekas bangkit, dia lalu pergi dari tempat itu dan tentu saja Angkasa langsung menyusulnya. Pria itu menarik tangannya dan mengajak bicara di tempat yang agak jauh dari kerumunan.
“Sayang, please. Cuma sekali ini aja, kok.” Angkasa mengacungkan telunjuknya. “Sekali.”
“Aku nggak bisa biarin kamu mabuk.”
“Aku nggak akan mabuk.”
Ashilla tetap menggeleng.
Angkasa menghela napas dan melepas genggaman tangannya dari Ashilla. “Aku sudah sering mengalah sama kamu, aku sudah sering menuruti semua kemauan kamu. Please. Sekali ini aja, aku nggak enak sama teman-temanku.”
Ashilla berdecak. “Ya udah iya.” Meski sebenarnya dia bisa pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun, dia tetap memilih Angkasa dan mengabaikan keinginannya. “Aku percaya kamu. Semoga kamu nggak mengecewakan.”
“Aku janji.” Angkasa tersenyum dan mengajak Ashilla kembali ke tempat teman-temannya berada.
“Kita tetap ikutan,” kata Angkasa pada teman-temannya. “Namanya satu paket,” tambahnya sembari duduk kembali di sebelah Iyash sementara Ashilla masih mematung dan Angkasa pun menoleh. “Iya, ‘kan, Sayang?”
Ashilla mengangguk. Mau tak mau dia duduk kembali di sebelah Angkasa.
“Meninggalkan drama percintaan sahabat kita Angkasa. Lebih baik kita segera mulai. Bebas ajuin pertanyaan apapun, ya,” kata Adisty sembari memutar spin.
Ashilla menghela napas, jantungnya berdegup. Ada perasaan yang cukup wajar ketika dia takut spin berhenti pada dirinya. Namun, spin tu malah berhenti pada Angkasa.
“Angkasa, lo duluan. Truth or dare?” tanya Adisty.
“Truth aja deh, masa baru main gue udah mabok,” kata Angkasa sembari menoleh pada Ashilla yang kembali menghela napas.
“Oke. Pertanyaan dari gue.” Adisty mengetuk-ngetukkan jari ke meja. “Berapa kali lo main ranjang sama Ashilla dalam seminggu?”
“Anjing.” Angkasa berdecak.
Jantung Ashilla justru langsung mencelus. Seketika dia teringat saat wanita itu menyuruh Angkasa untuk meghamilinya.
“Jawab!” titah Adisty. “Kalau lo nggak jawab, ya lo minum.”
Angkasa hendak mengambil segelas bir, namun Ashilla menahannya. Pria itu lekas menatap wajah kecewa Ashilla. “Hubungan kami nggak sejauh itu,” jawab Ashilla jujur.
“Loh, kok lo yang jawab?” tanya Sarah. “Ini pertanyaan buat Angkasa.”
“Tapi, memang kami nggak pernah melakukannya,” jawab Ashilla lagi. “Angkasa menghargai komitmenku. Dan kami akan melakukannya setelah menikah.”
“Iya,” sahut Angkasa sembari menjauhkan tangannya dari Bir. “Gue sama Ashilla nggak pernah melakukan itu.”
“Angkasa nggak bohong,” tandas Ashilla cepat. “Terserah mau percaya atau nggak, yang jelas memang selama dua tahun kami kenal, Angkasa orang yang baik dan menghargai perempuan, apalagi setelah kami menjalin hubungan serius selama setahun terakhir ini.”
Sarah tertawa sinis. “Lo belum tahu aja, gimana Angkasa sama gue.”
Iyash tertunduk seraya tersenyum. Sementara Ashilla mulai geram dan menjauhkan genggamannya dari tangan Angkasa.
“Angkasa, lu serius ? Terus ******* siapa yang sering lu ceritain sama gue itu?” tanya Martin.
Dada Ashilla semakin sesak.
“Udah dong, kalian jangan ngarang cerita.” Angkasa menggenggam tangan Ashilla. “Tolong hargai kita.”
Adisty malah berdecak.
“Kalian tinggal lama di luar Negri, udah biasa hidup dengan budaya barat, masa semalam aja nggak pernah,” tanya Kevin memastikan.
Ashilla hanya bisa beristighfar di dalam hati. Dia merasa kalau acara itu diadakan sebagai ajang pembulian dan sebagai ajang membongkar aib orang.
“Sumpah gue nggak pernah. kita udah berkomitmen akan melakukannya setelah menikah. Gue sayang Ashilla tulus dan gue menghargai prinsipnya.”
“Oh, udah tobat ternyata,” cibir Sarah.
“Sar?”
“Apa lo takut ketahuan?”
Ashilla semakin tak nyaman.
“Udah-udah, gue percaya. Iya-in aja kenapa sih,” kata Adisty sembari memutar kembali spin tersebut.
“Lu beneran percaya?” tanya Sarah pada Adisty.
“Nggaklah. Biar cepat aja, dari pada ribut di sini. Ngapain ngurusin orang yang sok suci.”
Kalimat Adisty benar-benar seperti tombak yang menghujam dada Ashilla.
Adisty kembali memutar Spin dan berhenti pada Sarah.
“Sar, ceritain gimana pertama kali lu lepas perawan?” tanya Adisty.
Iyash tertunduk seraya menggeleng. Sebenarnya dia bisa saja pergi, namun dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan acara tersebut selama Ashilla masih di sana.
“Dis, ganti pertanyaan bisa nggak sih?” tanya Angkasa kesal. “Kenapa pertanyaan lu jorok semua.”
“Jorok?” Adisty tersenyum sinis. “Apa itu karena lu takut kita semua tau, siapa yang pertama kali ngerasain Sarah?”
“Adisty!” Kali ini Iyash ikut geram. “Lu nggak bisa kayak gini.”
Adisty malah membuang muka dari Iyash, kemudian menatap Sarah.”Buruan cerita, Sar. Kalau nggak mau jawab, ya lo minum,” titahnya sembari menyodorkan segelas bir pada Sarah.
“Ini aib sih, tapi gue juga nggak bisa minum. Bagi gue ini sama bahayanya. Lo ngasih pertanyaan jebakan, Dis.”
Adisty tersenyum sinis.
“Gue–” Sarah kemudian menatap Angkasa. “Kalau gue bongkar semua di sini, mungkin gue nggak punya harga diri.”
“Sama aja, dulu atau sekarang harga diri lo udah nggak ada,” kata Adisty.
“Ya nggak jauh bedalah sama lu,” cibir Angkasa.
“Kenapa lu yang sewot?” tanya Adisty kesal.
“Bukan gitu, Dis, dengan mengajukan pertanyaan kayak gitu, memang lu lebih baik dari Sarah?”
Adisty kembali mendelik. “Sarah!”
“Gue nggak bisa jawab, Dis. Gue minum aja.” Sarah pun menenggak segelas bir tersebut.
“Yah, cemen,” cibir Adisty.
“Cemen apaan? Dua-duanya berat buat Sarah, Dis,” bela Iyash. “Lu tahu dia sakit dan Dokter bilang dia nggak boleh minum alkohol.”
“Ya terus kenapa dia nggak jawab aja?”
“Dia bilang itu aib. Memang siapa yang mau bocorin aibnya sendiri. Gue kawinin lu kalau berani bocorin aib lu sendiri,” tantang Iyash.
“Ya udah, ya udah.” Adisty kembali memutar spin. “Semua aja bela Sarah. Memang gue nggak tau apa yang dia lakuin sama gue?”
Sarah membasahi tenggorokan.