
Semua orang berkumpul untuk melaksanakan makan malam. Rumah terasa semakin ramai dengan kehadiran Iyash dan Marissa. Awalnya Nenek Alma dan Juragan Hartanto ditemani Rania, cucu dari adiknya Nenek Alma yang sudah meninggal. Kemudian datang Edgar yang meminta izin untuk menyewa tempat di sana karena sedang melakukan riset. Namun, Nenek Alma menolak uang sewa dan mengizinkan Edgar untuk tinggal di sana.
Saat semua hendak memulai makan, Iyash malah terdiam, bahkan piringnya masih kosong tak terisi apa-apa. Dia bukannya tidak lapar, sejak siang dia sudah melewatkan makan siangnya. Namun sepertinya semua orang belum menyadari keadaannya yang tidak bisa makan dengan tangan kanan lantaran masih disangga arm sling.
“Yash, kamu nggak makan?” tanya Nenek Alma.
“Pakai tangan kiri susah, Nek,” keluh Iyash datar seraya melirik Marissa. Dia tidak ingin Marissa melupakan tugas untuk merawatnya, ia ingin membuat Marissa terus merasa bersalah.
Seketika Marissa berhenti mengunyah, bahkan tangannya tertahan di depan mulut.
“Tapi, kamu harus makan. Sini Nenek suapin,” ajak Nenek Alma.
“Nggak, nggak usah. Nenek makan aja,” kata Iyash.
Marissa termenung dan merasa malu sendiri. Lagi-lagi dia tersadar kalau Iyash begini karena dirinya dan dia diminta untuk merawat pria itu. Dia memang orang yang peka dan tak pernah menutup diri dari keadaan sekitar, hanya saja terkadang dia sengaja melupakannya.
“Kak Iyash makan bareng Icha aja,” kata wanita itu sembari menggeser piring ke dekat Iyash. “Biar Icha yang suapin, Nek.”
“Kamu yakin?” tanya Nenek Alma.
“Iya. Sebentar Icha cuci tangan lagi. Biar nanti bisa pakai sendok.” Marissa bangkit, namun Iyash menahannya.
“Kenapa harus cuci tangan lagi? Kamu keberatan kalau saya makan langsung dari tangan kamu?” tantang pria itu.
Marissa tergemap. “Nggak masalah,” serunya tak mau kalah.
“Ya udah cepat, saya lapar.”
Marissa duduk kembali. “Dasar melunjak,” gumamnya sembari mencomot nasi beserta satu cubit tempe bacem.
“Ngomong apa kamu?” tanya Iyash.
“Nggak. Cepat makan.” Marissa menjejalkan nasi tersebut ke dalam mulut pria itu, kemudian dia menambahkan secubit ikan mas, dan potongan labu siam. “Kunyah yang lama.”
Wanita itu lalu kembali mengisi perutnya. Dia tak peduli jika tangannya bekas mulut Iyash. Yang jelas dia lapar dan untungnya dia bukan orang yang jijikan.
Edgar sendiri tak nyaman melihat bagaimana Marissa memperlakukan Iyash. Begitu manis meski keduanya tidak saling mengakui satu sama lain.
Sedangkan Nenek Alma malah tersenyum melihat kedekatan dan perlakuan Marissa terhadap Iyash. Hasa benar kalau Marissa adalah anak yang manis. Dia jadi teringat telepon Hasa selepas magrib tadi. Anak bungsunya itu meminta izin untuk menjodohkan Iyash dengan Marissa.
“Ibu setuju, ‘kan?” Hasa mengakhiri permintaan restunya dengan pertanyaan. “Marissa anak yang baik, sejak Restu meninggal, Hasa yang bertanggung jawab untuk membesarkannya.”
Nenek Alma malah menangis haru. Dia teringat bagaimana perubahan Iyash yang tadinya ceria, lalu kemudian menjadi sedingin dan sebeku sekarang. Sepuluh tahun Iyash bertahan dan menunggu Aruna yang jelas-jelas tidak akan kembali pada dirinya. Nenek Alma memang tidak tahu kalau Aruna masih hidup. Bahkan Iqbal juga tidak tahu karena saat Aruna kembali ke Indonesia, dia sedang melaksanakan ibadah umrah, lalu dilanjutkan wisata ke Turki.
“Bu,” panggil Hasa di telepon.
“Apa Iyash mau? Kalian pernah mencoba menjodohkan Iyash dengan Adisty, ‘kan?” tanya Nenek Alma.
“Iya,” jawab Hasa. “Iyash tidak mau, katanya Adisty bukan tipenya.”
“Terus ini bagaimana?”
Nenek Alma tersenyum.
“Kalau ibu setuju, Hasa tidak akan menundanya lagi.”
“Apa sebaiknya kita bicarakan ini dulu sama Bapak?”
“Iya. Ibu bisa memberi tahu Bapak soal ini. Semoga kalian setuju.”
“Iya, nanti ibu kabari lagi kalau sudah bicara sama Bapak.”
“Baik, Bu, terima kasih.”
Sekarang Nenek Alma tahu kalau Marissa tak hanya baik, dia juga merasa sikap manisnya bisa mengubah dan melunakkan sikap keras Iyash dan dia juga yakin Marissa bisa mencairkan sikap dingin cucu bungsunya itu.
Tak terasa Marissa sudah tiga kali menciduk nasi dan mengisi piringnya dengan lauk pauk. Sebelumnya dia tak pernah makan sebanyak ini. Mungkin Iyashlah sebenarnya yang makannya banyak. Atau mungkin juga ini karena dia lapar dan merasa berlomba dengan Iyash.
“Izin merokok.” Tiba-tiba Marissa mendengar suara Edgar. Dia baru sadar kalau tujuannya ke sini adalah untuk Edgar, tapi kenapa dia malah sibuk dengan Iyash.
Edgar pergi meninggalkan ruang makan. Dia menghisap rokok ditemani segelas kopi yang sudah tak hangat lagi. Sebelum makan, dia sempat meminta Lastri untuk membuatkannya kopi hitam yang kental.
Saat Edgar meninggalkan meja makan, Marissa termenung dan tidak sadar kalau tangannya tertahan di depan wajah Iyash. Iyash sampai meraih pergelangan tangan Marissa dan mengarahkan ke mulutnya.
“Kamu nggak mikir gimana kalau nasi masuk ke lubang hidung saya?” omel pria itu sembari mengunyah.
“Maaf.” Marissa kembali ke posisinya.
“Marissa,” panggil Iyash lantaran wanita itu malah tertunduk sembari menatap butiran nasi yang tinggal tiga suap lagi.
Wanita itu menoleh dan kembali menyuapi Iyash. “Cepat habiskan. Aku harus bicara pada Kak Edgar,” bisiknya.
Namun, Iyash tak ingin mendengar itu. Dia tidak suka melihat Marissa sengaja mendekati Edgar secara terang-terangan. Menurutnya Marissa harus sedikit jual mahal, seperti yang dilakukan Marissa terhadapnya.
Iyash sengaja mengunyahnya lama, agar Marissa tetap di dekatnya, padahal makanan tinggal dua suap lagi. Namun, dia ingin menahan Marissa lebih lama lagi.
“Cepat, Kak,” pinta gadis itu pelan.
“Kamu sendiri yang bilang kalau saya harus mengunyahnya lama.”
“Sekarang dipercepat aja,” kata Marissa sembari mengambil suapan terakhir. Namun, mulut Iyash masih penuh dengan makanan sebelumnya.
Marissa menghela napas.
Iyash melihat helaan napas Marissa. Mungkin dia harus memberi Marissa kesempatan untuk menyelesaikan tugas dari Miranti.
“Akhirnya selesai juga memberi makan beruang,” kata Marissa ketika berhasil memberikan seuapan terakhir ke mulut Iyash.
Iyash sudah beberapa kali mendengar Marissa menyebutnya beruang dari Alaska. Dia gak peduli dengan panggilan tersebut. Itu terserah pada Marissa.
Sementara Edgar termenung di bawah langit gelap. Tak lama datang Juragan Hartanto. Dia berhenti mengisap rokok, lalu menoleh pada pria berkaki tiga tersebut.
Perlahan Juragan Hartanto duduk, kemudian meletakkan tongkatnya di pinggir kursi. “Kamu sudah kenal Iyash?”
Edgar menggeleng. Tentu saja dia tidak mengenal adiknya sendiri. Hatinya hanya bisa teriris melihat kenyataan ini. Namun, dengan keberadaannya di sana, Edgar sudah cukup kuat. Jika itu terjadi pada yang lain, seperti Aruna, Gusman dan Ganjar, mungkin mereka akan memilih untuk menghindari kenyataan dan mencari hal lain dalam hidupnya. Namun, tidak dengan Edgar, dia sudah lama menunggu momen ini.
“Iyash cucu kesayangan Nenek Alma. Terlalu lama Nenek menanti cucu dari Hasa. Entah berapa tahun sejak Hasa menikahi Ira,” ungkap Juragan Hartanto.
Dada Edgar bergemuruh, mendadak napasnya terasa tercekat di tenggorokan sampai dia tak bisa menanggapi perkataan Juragan Hartanto. Dia hanya ingin bilang kalau Iyash beruntung dikelilingi banyak orang yang sayang sama dia.
Juragan Hartanto tersenyum menatap Edgar. “Iyash tidak mirip Hasa, dia malah lebih mirip ibunya.”
Edgar tersenyum kikuk.
“Kakek justru malah melihat kamu mirip Hasa ketika muda. Aneh ya.”
Edgar terbatuk mendengar penuturan juragan Hartanto.
“Mungkin kebetulan. Tapi, ini benar-benar aneh, padahal mungkin kamu juga belum pernah bertemu dengan Hasa.”
Edgar benar-benar tak bisa menanggapi Juragan Hartanto. Dia malah ingin menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Hanya sadar dia sadar kalau itu tak pantas. Selama ini Miranti membesarkannya menjadi pria yang kuat.