
Susu formula yang diminum Lily sudah habis, namun bayi mungil itu masih merengek. “Sebenarnya Suster Rika bisa nggak sih jagain Lily?” gumam Ashilla sembari membuka popok bayi merah itu. “Yash minta tisu.” Namun, Iyash tak langsung menyahut dan tak langsung menyodorkan apa yang Ashilla minta.
“Dede ee? Astaga, Papanya mana, diminta tisu juga.” Ashilla lekas menoleh. “Iyash, minta tisu.”
Iyash mengerjap dan langsung mencari tisu di meja.
“Tisu basah,” kata Ashilla. Sebenarnya Ashilla tahu kalau sedari tadi Iyash menatapnya, dia juga tak nyaman, namun dia tak ingin membuat keributan seperti waktu itu.
“Yang ini?” Iyash lekas memberikannya.
“Iya, makasih.”
Ashilla membersihkan kotoran dari bayi tersebut, melapnya dengan pelan dan lembut sembari bersenandung melagukan “Somewhere over the rainbow, Way up high, There's a land that I heard of, Once in a lullaby, Some–”
“Maaf, tadi saya sholat Isya dulu.” Kedatangan suster Rika membuat Ashilla berhenti dengan lagunya dan Iyash kesal bukan main karena dia sedang menikmati suara Ashilla dengan senandung yang begitu lembut hingga mengantarkan Lily untuk kembali tidur padahal belum selesai diganti popok.
Ashilla tersenyum menatap bayi mungil tersebut. Dia lekas merapikan semuanya dan meletakkan popok kotor di bawah. Dia lalu membersihkan tangannya dengan tisu bersih. “Suster Rika come back again, Baby. Mama pulang ya.”Ashilla membelai pipi Lily.
Iyash kembali tersenyum mendengar Ashilla berbicara dengan bayi itu. Nadanya yang lucu dan suaranya yang lembut membuat Iyash ingin agar Ashilla tetap di tempatnya. Itulah kenapa saat Ashilla beranjak dari tempatnya duduk, dia lekas menahannya. “Nggak, kamu nggak boleh pulang, Lily butuh kamu,” kata pria itu.
Ashilla menghela napas. “Yang di rumah juga butuh aku, Yash. Lagian Lily juga udah tidur, apa gunanya Suster Rika di sini?”
Seketika Suster Rika tertunduk. Setiap dia berada diantara mereka, pertengkaran selalu terjadi. Apa selama dia tidak ada barusan, mereka juga bertengkar? Suster Rika tidak tahu betapa tenangnya mereka saat dia tidak ada.
“Please, Yash. Aku janji besok ke sini asal malam ini aku diizinkan pulang. Kalau malam ini menginap, aku besok nggak ke sini.” Ashilla baru saja memberi dua pilihan. Namun, lelaki egois itu tak pernah ingin memilih, dia tetap ingin Ashilla di sini dan besok pun Ashilla harus tetap datang.
“Nggak. Kamu tetap menginap di sini dan besok tetap datang. Memang kamu nggak khawatir sama bayi kita.”
Seketika Ashilla tersenyum, kemudian dari senyum itu meledak menjadi tawa. Entah kenapa dia merasa Iyash terlalu serius ketika menyebut “bayi kita”.
“Udah ah, aku harus pulang,” kata Ashilla bersikukuh.
Iyash menahan tangan wanita itu. “Kamu ngerti nggak sih, aku khawatir kalau kamu pulang di malam selarut ini.”
Ashilla tergemap dan perlahan kedua matanya mengarah pada genggaman tangan Iyash, kemudian kembali menatap kedua mata pria itu. “Opa nggak tahu aku pergi, dia pasti marah. Bundaku juga akan marah, please kamu ngerti. Akhir-akhir ini kesehatan Opa menurun, gula darahnya belum stabil.”
Melihat permohonan Ashilla, Iyash merasa tidak tega. “Ya sudah aku antar kamu pulang.”
“Nggak usah, nanti kamu susah cari kendaraan.”
“Motor aku mengikuti mobil kamu dari belakang,” kata Iyash.
Ashilla terperangah. Iyash begitu protektif terhadapnya. Apa itu karena Iyash masih menganggap kalau Ashilla adalah Aruna? Tidak, Ashilla tidak ingin kehilangan jati dirinya. “Nggak usah, Yash.”
“Kamu nggak boleh nolak, kalau mau pulang aku antar, kalau nggak mau diantar kamu tetap di sini.”
Ashilla kembali terperangah. Dia kemudian menatap Suster Rika yang lekas tertunduk dan mengalihkan pandangan dari mereka. Ashilla lalu menatap arloji yang sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit.
“Ya sudah. Sus, nitip Lily, kalau ada apa-apa telepon.”
“Baik, Bu.”
“Jaga anak kami baik-baik,” kata Iyash.
“Baik, Pak.”
Ashilla kemudian pergi dari kamar bayi itu diikuti Iyash dari belakang. Sesampainya di tempat parkir, Ashilla lekas masuk ke dalam mobil dan Iyash naik ke motor, pria itu benar-benar mengikuti Ashilla dari belakang.
Sesekali ketika sedang mengemudi Ashilla melirik spion untuk memastikan Iyash masih ada dibelakangnya. Diam-diam dia menyukai tindakan Iyash terhadapnya, hatinya malah mengabaikan dan tak peduli tentang apakah Iyash menganggapnya Aruna atau bukan yang jelas dia merasa aman malam ini.
Tepat pukul satu lewat dua puluh menit mereka sampai di depan rumah Pak Ganjar. Ashilla turun dan lekas mendekat pada Iyash. Pria itu segera mengangkat kaca helm yang menghalangi wajahnya.
“Makasih udah di antar, kamu hati-hati di jalan.”
Iyash mengangguk.
“Kamu ke rumah sakit lagi?”
Ashilla membasahi tenggorokan. Sebenarnya dia tidak peduli, entah Iyash mau kembali ke rumah sakit atau pulang sekalian. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, kenapa tadi Iyash bersikeras menahannya di rumah sakit dengan alasan Lily butuh dirinya.
“Lily juga butuh kamu, Yash,” kata Ashilla pada akhirnya.
“Tapi aku nggak bisa merawatnya seperti kamu merawat dia.”
Ashilla tersenyum. Iyash tidak tahu saja kalau Ashilla sudah memiliki anak, sehingga sedikitnya dia memiliki pengalaman dan memiliki sifat keibuan yang sudah cukup terasah.
“Ya sudah aku masuk.” Ashilla kemudian berbalik dan hendak mengambil langkah.
“Shilla,” panggil Iyash.
Seketika bibir Ashilla tersungging karena Iyash tidak salah menyebut namanya, itu artinya Iyash sadar kalau wanita yang ada di hadapannya adalah Ashilla.
Ashilla lekas menoleh. “Ya?”
“Makasih.”
“Untuk?” Kening Ashilla mengernyit.
“Untuk malam ini.”
Ashilla tersenyum. “Memang kenapa malam ini?”
“Nggak, sampai ketemu besok,” kata Iyash gugup.
Ashilla menarik napas, kemudian mengangguk. Dia lekas masuk ke dalam rumah, sedangkan Iyash pergi bersama motornya. Di dalam rumah Ashilla dikejutkan dengan keberadaan Miranti yang ternyata mengintipnya sejak tadi.
“Bunda, bikin kaget,” gumam Ashilla.
“Bunda khawatir kamu belum pulang, takut Opa tahu.”
Ashilla mengangguk.
“Habis dari mana, dia siapa?” tanya Miranti penasaran.
“Itu yang mau Shilla ceritain sama Bunda.”
“Ya udah cerita di kamar Bunda.”
Ashilla mengangguk dan lekas mengikuti sang ibu ke kamarnya. Di dalam kamar Ashilla pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan kaki, dia juga mencuci muka. Sehabis dari kamar mandi, dia melihat ibunya yang sudah merentangkan tubuh di ranjang. “Sini.” Miranti menepuk bantal di sebelahnya. Hal yang sering dilakukannya setiap Ashilla ingin menceritakan sesuatu.
Ashilla mendekat dan perlahan naik ke ranjang, lalu tidur menghadap ibunya. “Namanya Iyash,” bisik Ashilla. “Dia temannya Angkasa, jadi dia pernah menolongku pas aku tenggelam di kolam waktu Angkasa mengadakan reuni sama teman-temannya.”
“Kamu tenggelam, terus Angkasa kemana?”
“Dia dengan culunnya pakai kostum Thor dan nggak bisa langsung turun ke air.”
“Astaga. Terus si Iyash ini pakai kostum apa?”
“Nggak. Dia pakai baju kerja aja, blazer sama celana warna coklat.”
Ashilla memang sengaja tidak menceritakan hari pertama bertemu dengan Iyash. Dia juga tidak ingin ibunya tahu kalau Iyash mendekatinya karena dia mirip dengan Aruna.
“Terus dari situ kalian dekat?”
“Besoknya dia sakit. Shilla ngajak Angkasa ke rumahnya buat bilang terima kasih.”
“Oh.”
“Tapi, Bund. Sebelum kejadian itu, kami sudah saling kenal. Jadi, dia cucu dari sahabat Opa, pemilik panti asuhan Baitul Wahid.”
“Oh.” Seketika kedua mata Bu Miranti terbuka lebar. “Terus-terus?”