
Tak berapa lama setelah kepergian Angkasa. Iqbal datang dan meminta maaf karena baru pulang dari Sukabumi sehingga dia tidak bisa menemani Iyash dalam masa sulit itu.
“Yash, syukurlah. Mas minta maaf, KKN nya baru selesai. Mau pulang tanggung.”
“Iya, Mas, nggak apa-apa.”
Iqbal menghela napas seraya tersenyum. Dia sudah mendapat telepon dari Ira terkait kematian Aruna dan dia diminta untuk tidak mengatakan belasungkawa di depan Iyash.
“Mas,” panggil Iyash pelan.
“Iya?” Iqbal sedikit membungkukkan badan.
“Bisa, ‘kan pulang ke Surabaya?”
“Untuk?” Seketika Iqbal mengernyit dan langsung menegakkan tubuh.
“Jemput Aruna. Bawa dia ke sini aku mau ketemu.”
Seketika Iqbal menoleh dan menatap Ira.
“Mas?” bujuk Iyash.
Iqbal menghela napas. “Aku baru pulang dari Sukabumi.”
“Nggak harus sekarang kok, Mas. Aku tahu Mas Iqbal capek.”
“Hhhh … syukurlah, aku memang belum istirahat, Yash. Dari terminal langsung ke sini.” Iqbal melihat barang-barang yang dia letakkan di dekat pintu. “Kamu lihat, itu bukan oleh-oleh, tapi pakaian kotor semua.”
Ira tersenyum dan merasa lega karena Iqbal berhasil mengalihkan keinginan Iyash.
“Mas bisanya kapan?” tanya Iyash lagi.
“Belum tahu, Yash, aku nggak bisa mikir kalau belum istirahat.”
“Kalau begitu, Mas bantu telepon dia, aku benar-benar pengen bicara sama dia.”
“Aruna, ‘kan nggak punya HP.”
“Telepon Nenek. Nanti biar Nenek yang sambungkan,” pinta Iyash lagi.
Iyash memang akan terus meminta sebelum keinginannya dikabulkan.
“Nanti aja, Yash. Mas Iqbal capek, kamu juga perlu istirahat,” kata Ira.
“Iya, Iqbal juga belum mandi, nggak nyaman banget, lengket,” keluh Iqbal sembari menarik ujung kaosnya.
“Kamu sudah makan?” tanya Ira pada anak dari kakak suaminya itu.
“Belum, Tante.”
“Makan dulu. Ada nasi kotak di meja dari teman-teman Iyash, kamu ambil satu.”
Iqbal menoleh ke meja. “Wah tahu aja kalau lagi laper.” Dia kemudian berjalan beberapa langkah, lalu duduk di sofa dan membuka satu kotak nasi berisi ayam serundeng, tahu dan tempe bacem, serta sambal dan lalapan.
“Mas, tapi Aruna tahu, ‘kan? Aku masuk rumah sakit?” tanya Iyash memastikan.
“Sebenarnya Mas nggak tahu juga, ‘kan udah lama nggak ketemu. Tapi, Mas yakin, dia pasti tahu, Dek. Nenek, ‘kan pasti cerita,” jawab Iqbal sembari bangkit dan mencuci tangan di wastafel.
“Kenapa dia nggak peduli? Kenapa dia nggak datang jenguk aku?”
“Kamu, ‘kan tahu, Yash, Aruna nggak biasa pergi sendiri.”
“Kenapa nggak sama ayahnya jenguk aku?”
Iyash menghela napas dan terpaksa diam, meski dia masih ingin membujuk Iqbal untuk menelepon Aruna. Sejak kemarin dia sudah meminta ibunya, tapi, Ira selalu bilang nggak enak takut merepotkan Nenek Alma.
“Ma, aku mau mengobrol berdua sama Mas Iqbal boleh?” tanya Iyash.
“Jadi?” tanya Ira.
“Mama keluar dulu,” pinta Iyash.
“Memang kenapa kalau Mama tahu?”
“Aku malu aja, Ma.”
“Malu.” Ira melenggang keluar.
“Mas,” panggil Iyash setelah ibunya pergi.
“Hm?”
“Aku nggak ingat beberapa hal, kepalaku seperti ada lubang,” keluh Iyash.
“Maksudnya?” Iqbal menatap ke arahnya sembari tetap makan.
Iyash tidak ingat kalau dia membantu Aruna untuk mendapatkan beasiswa di Jakarta. Yang dia ingat adalah ketika Aruna berkata dia tidak bisa bermimpi terlalu tinggi karena takut kecewa. Kalimat itu Aruna ucapkan ketika di ****** sekolah, saat itu mereka dihukum karena bolos. Selebihnya Iyash lupa-lupa ingat dengan beberapa kejadian, tapi dia ingat saat menyatakan perasaannya pada Aruna dibawah pohon di pinggir jalan, namun Iyash tidak ingat apakah saat itu Aruna menerimanya atau tidak.
“Aku sama Aruna pacaran, ‘kan?”
Iqbal terperangah.
“Aku lupa, tapi aku ingat kalau aku dekat sama dia. Aku juga ingat kalau aku pernah mengatakan perasaanku, tapi aku tidak ingat apakah dia menerimaku atau menolakku seperti dia menolak Mas Iqbal.”
“Kenapa kamu tidak lupa bagian terakhir?” dengkus Iqbal. Ya, kenapa Iyash tidak lupa kalau Aruna pernah menolak Iqbal?
“Mas?”
“Aku nggak tahu, Dek, kamu yang jalani.”
“Beneran?”
Tentu saja Iqbal berbohong. Dia diminta untuk melakukannya oleh Ira.
Iyash menghela napas. “Kalau aku tanyakan ini, apa dia akan marah?”
“Kamu kenapa sih, mikirin dia terus, benar kata Tante Ira, mending kamu istirahat biar cepat sembuh dan bisa segera pulang. Memang kamu betah menginap di sini?”
Iyash terpegun.
***
Selama sebulan terakhir ini Iyash melakukan terapi berjalan, konsultasi dengan psikolog dan melakukan relaksasi untuk ketenangan pikirannya. Benar kata ibunya dia harus sembuh karena mungkin Aruna tak ingin melihatnya lemah seperti ini. Sekarang Iyash sudah bisa berjalan kembali, meski masih terhuyung-huyung. Namun, ingatannya masih belum pulih, sehingga dia masih belum bisa mengingat dirinya dengan baik.
Hari ini Iyash harus berangkat ke Spanyol karena hasil tesnya dinyatakan lulus dan dia diterima untuk kuliah di sana. Iyash berangkat diantar keluarga sampai Bandara, dia tidak membawa kamera seperti saat dia pergi ke Surabaya lantaran dia lupa menyimpan kameranya, Sehingga dia hanya bisa mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponselnya saja.
Di dalam pesawat Iyash membuka sebuah kotak berwarna putih. Semalam ketika dia mencari kameranya dia menemukan kotak itu di gudang dan berhasil membukanya dengan cara menghancurkan gembok kotak tersebut karena dia tidak tahu kodenya.
Iyash tercenung melihat sebuah buku dalam kotak tersebut. Dia tidak tahu buku itu milik siapa dan dia juga tidak mengenal tulisan didalamnya. Tak ada hal istimewa, meski dia sudah membaca sampai setengah dari buku tersebut. Dalam buku diary itu tidak satu pun nama seseorang disebut termasuk nama dirinya, yang tertulis hanya kata “aku dan dia” yang menunjukkan entah pada siapa. Hanya ada potongan-potongan kisah yang tidak dapat dirangkai.
“Buku aneh,” dengkus Iyash seraya terus membuka setiap lembar tanpa membacanya. Namun, sesaat jemarinya berhenti dan dia menemukan sebuah kalimat di akhir buku tersebut.
“Aku minta maaf untuk malam terburuk yang pernah kita lalui. Jika kamu merasa kehilangan, itu yang terbaik. Wujudkan cita-citamu, bahagiakan kedua orang tuamu. Aku juga akan melakukan yang terbaik untuk hidupku. Jangan khawatirkan aku, hidupku mungkin akan jauh lebih baik tanpa kamu, begitupun dengan hidupmu.”
Iyash tercenung. Namun, tetap saja dia tidak merasa kalau kata “Dia” atau “Kamu” yang terdapat dalam buku itu adalah untuk dirinya, sedangkan “aku” adalah Aruna si penulis buku tersebut. Iyash kehilangan memori untuk sebagian momen, jangankan memahami isi dari buku tersebut, mengingatnya saja dia tidak bisa.