Behind The Lies

Behind The Lies
Dia Siapa?



“Dia siapa, Bund?” tanya Ashilla pada Miranti.


Miranti menarik napas, kemudian mengedikkan bahu. “Bunda juga nggak tahu.”


“Aruna, tolong Maafkan Mama, Nak.”


“Udah sekarang kita masuk.” Miranti menarik tangan Ashilla.


Ashilla kembali melangkah, namun dia merasa sangat penasaran, sehingga memilih untuk menoleh pada wanita tersebut.


“Aruna,” teriak Dewi kembali.


Ashilla hanya bisa menghela napas.


“Lebih baik sekarang kamu pulang!” titah Ganjar pada Dewi.


“Pak tolong, Pak.” Dewi memohon sampai menjatuhkan lutut di depan Ganjar. “Saya ingin memeluk anak saya sekali saja.”


“Tidak bisa, Wi, anak kamu sudah meninggal. Dia Ashilla anaknya Miranti.”


“Miranti tidak punya anak. Saya tahu itu. Dia tidak pernah menikah.”


“Cukup, lebih baik kamu pulang!” Ganjar sudah tak dapat bersabar lagi.


Dewi menggeleng dan tetap bersikukuh untuk ada di sana.


“Jangan meminta saya untuk melakukan hal kasar pada kamu.”


“Sudah biasa. Dulu atau sekarang saya tetap kotoran di mata Anda,” kata Dewi seraya menundukkan kepala dan tetap berlutut di depan Ganjar.


“Sekarang kamu pulang sebelum saya seret,” ancam Ganjar. “Sejak kamu menelantarkan mereka, hubungan kamu dengan keluarga ini sudah putus.”


“Aruna.” Dewi malah berteriak, sehingga membuat Ashilla bangkit dari duduknya dan kembali ke ruang tamu. Miranti sempat menahan tangannya, namun Ashilla memilih untuk tetap pergi menemui wanita yang memanggilnya Aruna.


Tampak Ganjar sedang menyeret wanita tersebut dari depan pintu. “Opa cukup,” kata Ashilla seraya mendekat. “Sebenarnya ini bisa dibicarakan baik-baik.”


Dewi terperangah menatap Ashilla. Entah kenapa dia merasa seperti melihat dirinya ketika muda. Perlahan kemudian wanita itu bangkit. “Aruna.” Dia merengkuh tubuh Ashilla dan memeluknya erat. “Mama minta maaf.”


Ashilla terperangah. Kedua matanya berkaca-kaca.


“Mama menyesal melakukan ini sama kamu. Tolong maafkan kesalahan Mama, Nak.”


Ashilla menarik napas dan menahan air matanya dengan cara mengedip-ngedipkan matanya. Kemudian dia melepaskan kedua tangan Dewi yang melingkar di bahunya. “Maaf, Tante, Anda salah orang, saya Ashilla, bukan Aruna seperti yang Tante panggil barusan.”


Jantung Dewi mencelus. “Kamu anakku.”


Ashilla menoleh ke belakang dan menatap Miranti juga Ganjar, lalu kembali menatap Dewi. “Saya Ashilla, bukan Aruna.”


“Kalau begitu tunjukkan kalau kamu memang bukan anakku. Tunjukkan tanda lahir di tengkuk leher kamu.”


 Ashilla membasahi tenggorokan dan menoleh pada Miranti.


“Cepat!”


“Cukup! Saya ibunya,” kata Miranti kesal. “Lebih baik kamu pergi sebelum kami panggil polisi.”


Dewi menatap nyalang Miranti. “Saya akan lakukan apapun untuk mendapatkan hak saya sebagai ibu.”


“Hak?” Miranti berteriak. Dia ingin menampar wanita itu.  Jika dulu saja dia sudah menghilangkan hak Aruna sebagai anak, lalu hak seperti apa yang Dewi maksud? “Hak kamu bukan di sini,” kata Miranti pada akhirnya.


Dewi mengepalkan tangan kuat-kuat. “Saya janji akan membalaskan semua rasa sakit hati saya pada kalian.”


“Yayan,” panggil Miranti geram.


“Iya, Mbak.”


“Seret wanita ini keluar!”


Yayan tercenung dan tak langsung menuruti perintah Miranti. Puluhan tahun lalu dia pernah melakukannya dan sudah setua ini dia harus menyakiti wanita yang sama. Dia tidak mungkin melakukannya lagi.


“Yayan!”


“Nggak usah, Pak,” kata Ashilla. “Biar saya antar ibu ini ke depan.” Ashilla menatap wajah merah penuh kesedihan tersebut. Dia mengerti apa yang terjadi, Iyash saja bisa sangat kehilangan apalagi seorang ibu. “Mari, Bu,” ajak Ashilla seraya menuntun wanita tersebut.


Dalam setiap langkah Dewi terus menangis. Betapa kelamnya masa lalu yang sudah dia lewati itu. Sekarang di sisa umurnya dia hanya ingin diakui. Dulu memang dia pernah meminta agar dianggap tiada oleh anak dan juga suami, namun sekarang entah apa yang terjadi padanya hingga dia merasa ingin diakui.


“Hati-hati di sini, Nak,” kata Dewi sembari membelai pipi Ashilla.


Ashilla mengernyit. “Selama bersama keluarga, saya akan baik-baik saja, terima kasih.”


“Dia bukan keluarga kamu!” teriak Dewi.


Ashilla terkesiap dan lekas mundur.


“Kelak kamu akan tahu siapa mereka sebenarnya,” sambung Dewi.


Ashilla terus mundur sampai menabrak tubuh Miranti dan hampir terjatuh.


“Wanita gila,” gumam Ganjar seraya melangkah masuk.


Jantung Ashilla masih berdegup kaget. “Bund, dia–”


“Bukan siapa-siapa. Sudah Bunda katakan kamu masuk.”


Ashilla termenung menatap Asa di depan pintu.


“Mama?”


 “Sayang.” Ashilla memeluknya erat.


“What’s wrong?”


Ashilla menggeleng, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah seraya menggenggam tangan Asa. Jujur dia takut, sangat takut, sehingga merasa sumber kekuatannya ada pada Asa, sedangkan Miranti malah seperti menyalahkannya.


Asa mengambilkan segelas air usai Ashilla duduk di ruang keluarga. “MInum dulu, Ma.”


Ashilla meraih gelas tersebut. “Makasih, Sayang.”


Asa mengangguk.


Dari kejauhan Miranti hanya bisa menatap Ashilla. Dia masih merasa kesal dengan kedatangan Dewi. Sedangkan Ganjar memilih mengurung diri di kamar.


Setelah menenggak segelas air, Ashilla bangkit dan mendekat pada Miranti. “Bunda sama Opa kenal dia, ‘kan?”


“Dia cuma wanita gila, Shill,” gumam Miranti.


“Dia siapa, Bund?”


“Sudah Bunda bilang dia wanita gila.”


“Wanita gila itu punya nama, ‘kan?” desak Ashilla.


“Nggak ada hubungannya sama kita. Dia cuma wanita nyasar yang mencari anaknya.”


“Maksud Bunda Aruna?”


“Mungkin, sedari tadi dia menyebut nama itu, ‘kan?”


Ashilla menghela napas. “Kasihan.”


“Tidak ada yang perlu dikasihani. Seharusnya wanita sakit itu dirawat bukan dibiarkan berkeliling mencari anaknya dari rumah ke rumah.”


“Rumah ke rumah?” Kening Ashilla mengernyit.


“Sudah lama, sebelum kamu lahir wanita itu sudah sakit dan terus mencari anaknya,” tutur Miranti.


Ashilla membasahi tenggorokan. Entah pada siapa dia harus percaya. Pasalnya Miranti adalah ibunya, Ganjar adalah kakeknya, namun apa yang tersirat dari kedua mata wanita yang bernama Dewi itu tampak begitu nyata dan tak ada kebohongan di dalamnya.


“Jangan dipikirin,” pinta Miranti. “Kamu mau makan sekarang?”


Ashilla menatap semua hidangan yang tersaji di meja.


“Sudah. Makan sekarang, biar nanti kamu bisa istirahat lebih awal.” Miranti kemudian menatap Asa. “Asa, sini, makan dulu.”


“Asa nggak lapar, Bund.”


Ashilla sendiri memilih untuk makan malam lebih awal karena seperti kata ibunya, dia memang ingin istirahat lebih awal.


Ashilla mengambil nasi dan lauk pauk. “Tadi Shilla putusin Angkasa,” tuturnya pelan.


“Apa?” Kedua mata Miranti membola. “Kenapa putus?”


Ashilla menghela napas. “Shilla rasa dia udah nggak percaya, jadi buat apa?”


“Dia cuma khawatir, itu wajar,” bela Miranti.


“Khawatir boleh, tapi tidak perlu sampai meminta akses sosial media, Shilla, Bund.”


“Apa itu yang Angkasa lakukan?”


Ashilla mengangguk.


“Sejak kapan?”


“Belum, dia hanya baru memintanya.”


“Astaga, Shilla. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Jangan sampai kamu salah langkah. Jadi ini yang membuat kamu kelihatan banyak pikiran itu?”


Ashilla kembali mengangguk.


“Sampai pingsan,” dengkus Miranti. “Kalau sekiranya masih sayang kenapa harus putus?”


“Shilla rasa Angkasa pantas mendapat yang lebih baik.”


“Yang lebih baik itu seperti apa? Kalau menurutnya kamu yang terbaik, terus mau apa?” cecar Miranti.


Ashilla tertunduk seraya meneteskan air mata.


“Please, Bunda bukan belain dia, tapi, Bunda tahu kamu masih sayang sama dia, iya, ‘kan?”


Ashilla mengangguk.


“Cuma karena kamu belum siap menikah dan kamu pikir Angkasa pantas mendapat yang lain? Memang kamu rela?”


Ashilla lekas menggeleng.  Tentu saja betapa takutnya dia kehilangan Angkasa ketika Sarah secara terang-terangan mendekati pria itu. Lalu sekarang malah sok-sokan meminta Angkasa mencari yang lain?