
Angkasa terpegun di atas ranjang.
"Kamu bohong soal Asa. Kamu juga bohong soal masa lalu kamu."
"Maaf, tapi aku nggak mau bahas itu."
"Kamu selalu bilang kalau kamu nggak punya teman di sini karena kamu besar di Amerika. Dengan bodohnya aku percaya."
"Nggak ada waktu, aku harus cari Asa." Ashilla hendak melangkah, namun Angkasa lekas bangkit dan menahannya.
"Aku kira, aku sudah cukup mengenal kamu."
"Terus apa?" Ashilla mengangkat dagu. "Kamu nyesel nikah sama aku? Lagian aku tahu kalau kamu dekati aku karena kamu pikir aku adalah Aruna, iya, 'kan?" tuduh Ashilla.
Angkasa berdecak. Dia hanya tidak menyangka dia berada diantara dua pria yang bernasib sama, satunya Iyash dan satunya lagi Daniel. Namun, yang lebih membuatnya tidak mengerti kenapa Ashilla berpikir seperti itu?
Masih terlalu dini untuk bertengkar karena ini merupakan hari kedua mereka menjadi sepasang pengantin, tapi sejak kemarin hubungannya dengan Ashilla memang kurang harmonis. Apa ini pertanda buruk?
Angkasa mengempas bokongnya ke ranjang, dia kembali duduk tercenung.
"Semua sudah jelas, selain ayah yang tidak menginginkan aku, ibu yang tidak tahu kelahiranku, dan semua pria yang lebih mengidolakan Aruna, aku cuma manusia berdosa yang tidak pernah diharapkan."
Angkasa tengadah menatap istrinya. "Kamu kenapa?"
"Udahlah, nggak ada gunanya, kamu juga nggak akan ngerti." Ashilla kemudian pergi keluar dan kembali mencari Asa.
Sedangkan Angkasa malah merasa ditarik ke masa lalu saat Daniel tak mau sekolah kemiliteran, waktu itu Daniel menjelaskan kalau ada hal lain yang harus dia pertanggung jawabkan. Namun, ayah kandungnya Daniel bersikeras agar Daniel menjadi anggota TNI AU. Sehingga Daniel terpaksa ikut ayahnya dan pindah dari Jakarta. Dia tidak menyangka kalau maksud dari pertanggungjawaban yang Daniel katakan adalah soal Asa.
Dada Angkasa bergemuruh, dia tak dapat lupa ekspresi Daniel ketika pertama melihat Ashilla dari balik pintu hotel. Bahkan panggilan Daniel pada Ashilla persis seperti orang yang sudah lama saling mengenal.
Angkasa juga tak bisa lupa bagaimana Ashilla menolaknya usai melihat Daniel, bahkan semalam dia ikut merasakan kecanggungan yang dirasakan Ashilla. Meski dia sempat kesal dan menganggap kalau Ashilla sudah egois, namun rupanya tak ada yang salah dengan keinginan istrinya itu.
Sementara itu Ashilla sibuk mengelilingi rumah untuk mencari Asa, namun, tiba-tiba dia mendengar suara Yayan di depan pintu.
“Pak?”
“Non, saya diminta ibu buat mengantarkan ini.” Yayan memberikan barang bawaannya.
“Makasih, Pak.” Ashilla melongok keluar. “Apa di depan Bapak melihat Asa?”
“Nggak, Non.”
Ashilla menghela napas. “Bapak tunggu di dalam, saya mau bantu Asa siap-siap.” Dia kemudian menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lewat lima menit. “Tapi, Asa nggak tahu kemana.” Dia melenggang masuk diikuti Yayan yang kemudian duduk di sofa.
Ashilla terus mengedarkan pandangan, dia menanyakan Asa pada setiap orang yang dia lihat, termasuk pada ayah dan ibu mertuanya. Namun, tak ada satupun yang melihat Asa.
“Angkasa,” panggil Ashilla seraya naik ke lantai dua dan kembali ke kamar. Dia berdecak kesal. “Aku udah cari kemana-mana, Asa nggak ada.”
“Dia sama Daniel,” jawab Angkasa seraya meletakkan ponsel di meja.
“Hah?” Kening Ashilla mengernyit kaget.
“Aku tadi telepon Daniel. Dia ajak Asa pergi lari keliling komplek,” tutur Angkasa.
“Gila kamu. Kenapa diam aja, seharusnya kamu susul dia?” Ashilla berbalik dan hendak pergi, namun Asa menahan tangannya.
“Biarin aja,” kata Angkasa pelan.
Ashilla berbalik dan tersulut emosi. “Enteng banget kamu ngomong?” tanyanya geram.
“Dia ayahnya, ‘kan? Kamu harus beri dia kesempatan dekat dengan Asa.”
Ashilla terperangah. "Nyesel aku cerita ini sama kamu."
“Oh… memang mau sampai kapan kamu sembunyikan ini?"
Ashilla tergemap.
"Lagian perlu kamu tahu, keadaan ini juga bukan kemauan Daniel. Dulu aku masih ingat saat dia–”
“Cukup! Aku kecewa sama kamu.” Ashilla melenggang pergi.
“Shill,” panggil Angkasa. “Shilla.” Dia lekas mengejar istrinya. “Tolong bicarakan ini dengan kepala dingin.”
“Kamu nggak akan pernah mengerti.” Ashilla terus melangkah.
“Kamu nggak akan tahu dan akan pernah tahu bagaimana aku menjalani semuanya dari nol.” Suara Ashilla bergetar.
Angkasa termangu melihat luka di kedua mata Ashilla. Dia pikir selama ini Ashilla adalah wanita yang kuat. Namun, akhirnya dia sadar bahwa kekuatan yang Ashilla miliki ada pada Asa.
Angkasa lekas mendekap hangat sang istri. “Aku janji semua akan baik-baik aja.”
Ashilla menangis dalam pelukan sang suami. “Aku nggak mau dia mengambil anakku.”
Angkasa menggeleng. “Aku tahu Daniel tidak akan melakukan itu.”
Ashilla lekas melepaskan pelukan Angkasa. “Aku nggak mau tinggal di sini, kita kembali ke rumah Opa.” Wanita itu kembali ke kamar dan langsung mengemas pakaian.
Angkasa menghela napas. Dia pergi mengikuti Ashilla. “Oke, kalau kamu nggak mau tinggal di sini, nanti siang kita akan kembali ke rumah Opa,” kata pria itu di depan pintu.
“Aku maunya sekarang.”
“Nggak bisa, Shill. Aku harus bilang dulu sama Papa.”
Ashilla berhenti mengemas pakaian. Dia mendekat pada Angkasa, sejujurnya dia juga ragu jika harus kembali ke rumah Ganjar. Semua kado yang dia terima kemarin ada di kamar Angkasa. Dia tidak mungkin membawa semua barang-barang itu ke rumah kakeknya.
Ashilla mendekat. “Kita beli town house aja.”
Angkasa terdiam menatap sang istri.
“Please. Kamu bisa pakai uang aku dulu.”
“Mama ….”
Tiba-tiba sebuah suara menghentikan pembicaraan mereka. Ashilla dan Angkasa lekas menoleh ke asal suara.
“Asa.” Ashilla langsung memeluk anaknya. “Kamu dari mana?”
“Habis lari sama Om Daniel,” jawab Asa polos. "Badan Asa lebih bugar, Asa jadi nggak lemas lagi," kata Asa dalam pelukan ibunya.
“Dari tadi Mama nyari kamu.” Ashilla melepaskan pelukannya. “Lain kali jangan pergi sama orang asing,” tambahnya seraya menggenggam pipi Asa.
Asa menoleh pada Daniel. “Om Daniel bukan orang asing, Ma.”
Daniel tersenyum.
Asa kembali menatap sang ibu. “Om Daniel adiknya Papa Angkasa, ‘kan? Jadi, dia Omnya Asa juga.”
Wajah Ashilla merah padam menatap Daniel. “Lain kali jangan pernah ajak Asa pergi."
Daniel mengernyit. "Kenapa? Lagian Asa sudah besar, iya, 'kan, Sa?"
Asa tersenyum. "Mama cuma khawatir, Om."
"Oh, kalau begitu Om harus minta maaf sama Mama, iya, 'kan?"
Asa mengangguk.
Daniel mendekat, namun Ashilla malah mundur, tapi Daniel terus mendekat pada wanita itu, bahkan dia mengabaikan Angkasa yang berdiri di depan pintu kamar. "Jangan pernah jauhkan Asa, atau aku akan bilang semuanya," ancam Daniel pelan.
Kedua mata Ashilla membola. Tangannya mengepal kuat.
"Kamu sudah bilang sama Angkasa, 'kan? Syukurlah aku nggak perlu repot-repot."
Ashilla membasahi tenggorokan. Dia kemudian menatap Asa. "Asa, ayo mandi, Pak Yayan sudah nunggu di bawah, seragam sama tasnya sudah ada di kamar kamu."
"Iya, Ma." Asa kemudian pergi ke kamarnya.
Setelah Asa pergi Ashilla kembali menatap Daniel.
"Sejak kamu pergi meninggalkan aku, Asa bukan lagi anakmu, jadi jangan pernah kamu berharap bisa dekat sama dia."
"Kamu mungkin lupa, saat kamu memberitahuku kalau kamu hamil, aku bilang aku akan bertanggung jawab."
"Lalu kamu kemana saat Opa memintamu datang? Aku menyusul ke rumah kamu, tapi tetangga kamu bilang kamu sudah pergi ke Kalimantan."
Dada Angkasa sakit menyaksikan ini. Dia merasa bukan apa-apa untuk Ashilla. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang menahan perasaan Ashilla, sehingga wanita itu terus meragukannya, padahal sejatinya Ashilla hanya sedang meragukan dirinya sendiri.