Behind The Lies

Behind The Lies
Surprise



Sungguh Ashilla marah karena selama hampir tiga minggu ini dia merasa dibodohi. Dia salah karena sudah mempercayai Iyash begitu saja.


“Suster Rika boleh bawa Lily ke panti asuhan, kalau Iyash nanya, bilang saya yang ngasih izin.”


“Tapi, nanti—”


“Nggak usah dipikirin, biar itu jadi urusan saya.” Nampaknya Ashilla punya cara sendiri untuk membalas apa yang Iyash lakukan padanya. Yang tadinya mau meminta maaf atas tingkah Asa pun, dia urungkan karena kejadian ini.


“Sekarang kemasi semua barang-barang, saya akan antar hari ini.”


“Ibu serius?”


“Memang saya kelihatan bercanda? Saya tidak akan mentolerir orang yang sudah membohongi saya.”


Suster Rika tertunduk. Tak ada yang salah dengan semua laporannya. Itu justru  membuka jalan pikiran Ashilla.


“Saya juga merasa kasihan jika Lily tetap di sini.”


Suster Rika mengangguk. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar untuk mengemasi barang-barang.


Tiga puluh menit berlalu dan semua barang sudah ada di bagasi mobil Ashilla. Setelah itu mobil melesat membawa Lily dan Suter Rika ke panti asuhan, sedangkan sedari tadi Asa hanya diam di tempat duduknya.  Dia sudah berjanji untuk tidak banyak bicara.


[Saya sudah pindah dari rumah itu dan menyerahkan bayi ini ke panti asuhan.] Kirim suster Rika pada seseorang.


[Bagus, pastikan wanita itu tidak lagi terikat dengan Iyash.]


[Baik.]


Suster Rika menatap Ashilla yang sedang mengemudi dan terus mengajaknya bicara, namun sedari tadi dia tak mendengarkan lantaran sibuk mengirim pesan pada orang yang menyuruhnya untuk menjauhkan Iyash dan Ashilla.


***


Setelah dari panti, Ashilla langsung pulang. Iyash sendiri belum menyadari dengan keputusan Ashilla untuk mengirim Lily ke panti asuhan.


Iyash masih berada di luar kota dengan proyek barunya. Entah apa yang akan terjadi jika dia tahu kalau saat ini Lily berada di panti asuhan.


Sementara Ashilla tak banyak memikirkan hal ini, dia menjalani malamnya seolah tak terjadi apa-apa. Sampai malam menjelang ketika dia hendak menarik selimut untuk tidur, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan.


Dengan sangat terpaksa Ashilla bangkit dan berjalan ke dekat pintu. “Kenapa, Bi?” tanya Ashilla pada Bi Sumi.


“Ada tamu, Non.”


“Siapa?”


“Aku,” kata Angkasa sembari berjalan dari ruang tamu ke arahnya.


Ashilla terperangah. Sedangkan Angkasa langsung merengkuh dan memeluk tubuhnya. “Ini aku nggak mimpi, ‘kan?” tanya Ashilla. Angkasa malah tertawa.


“Kangen banget sama kamu.” Angkasa terus mendekapnya hangat.


“Kamu kapan pulang?” tanya Ashilla.


“Kemarin malam.” Angkasa melepas pelukannya, kemudian mengecup kening Ashilla.


Ashilla menarik napas. “Aku kaget. Belum juga satu bulan, kok udah pulang?”


“Udah beres, semuanya udah beres, Sayang. Satu bulan itu hanya perkiraan lamanya, kalau bisa selesai lebih cepat ya, itu bagus.”


“Hhhh, kamu benar-benar bikin aku kaget. Tahu begini aku jemput kamu di Bandara.”


“Nggak usah, aku tahu kamu kerepotan.”


Ashilla mengangguk. “Aku masih nggak percaya, kayak mimpi.” Ashilla tersenyum kikuk.


“Aku mau ngajak kamu makan.”


“Aku udah makan,” jawab Ashilla. Dia kemudian menatap ke luar jendela. “Lagian ini udah malam. Makan di sini aja.” Ashilla menarik tangan Angkasa dan mengajaknya ke meja makan.


“Udah ketemu Opa,  ‘kan?”


“Udah.” Angkasa mendaratkan bokong di kursi.


“Asa?”


“Udah.”


“Kok aku nggak tahu.”


“Surprise.”


Ashilla menghela napas. Dia lalu menyediakan makanan untuk Angkasa.


“Aku bahagia karena setelah ini aku akan lebih sering bertemu kamu dan Asa.” Angkasa terus tersenyum sembari membelai pipi Ashilla.


“Gimana perjalanannya?” tanya Ashilla.


“Melelahkan, Sayang.”


“Pasti.” Ashilla mengambilkan piring dan menuangkan nasi beserta lauknya.


“Adem banget lihatnya, udah kayak suami istri,” komentar Ganjar tiba-tiba. Tentu saja itu melambungkan Angkasa. Namun Ashilla malah terlihat gugup.


"Memang sudah cocok ya, Opa?" tanya Angkasa.


Ashilla terlihat menghela napas. Dan itu menyadarkan Angkasa.


"Tidak perlu terburu-buru, Opa. Semua butuh persiapan," kata Angkasa.


Ashilla pun mengangguk setuju.


"Mau sampai kapan?" tanya Ganjar seraya duduk di depan keduanya. "Takutnya Opa keburu dipanggil Tuhan dan belum sempat melihat kalian menikah."


Angkasa lekas menoleh menatap Ashilla, pun dengan wanita itu yang secara otomatis membalas tatapan Angkasa.


"Ashilla sudah cukup dekat dengan keluarga kamu. Kamu sendiri sudah kami anggap keluarga, kalau hanya itu, sudah, kalian jadi saudara angkat saja jangan jadi pasangan," tambah Ganjar.


Kening Ashilla mengernyit. "Opa."


Ganjar malah bangkit meninggalkan kursi. Angkasa sendiri tak dapat berkata-kata. Semua sudah tahu kalau dia ingin menikahi Ashilla, tapi wanita itu selalu mengulur waktu. Dari pada harus memaksakan kehendaknya dan itu malah membuatnya kehilangan Ashilla, lebih baik dia menahan keinginan itu.


Ashilla menghela napas melihat Ganjar pergi meninggalkan kursi. Angkasa langsung menggenggam tangannya.


"Om." Tiba-tiba suara Asa menggantikan keheningan. Bocah itu datang membawa hasil gambarnya. "Lihat."


"Wah apa ini?" Angkasa melepaskan genggaman tangannya dari Ashilla dan meraih gambar Asa. "Biar Om tebak."


Asa tersenyum lebar.


"Ini pasti Mama, Asa sama Om. Iya, 'kan?" tebak Angkasa percaya diri.


Asa malah tertawa. "Ini gambar Om." Bocah itu menyambar kertas tersebut dari tangan Angkasa.


Seketika Angkasa ikut tertawa dan mengacak puncak kepala Asa dengan telapak tangannya. Bocah itu masih tertawa dan bergidik geli. Ashilla sendiri hanya tersenyum. Selama ini Angkasa hadir persis seperti ayah sekaligus sahabatnya Asa.


“Asa udah makan?” tanya Angkasa.


“Udah, Mama yang belum.”


Seketika Angkasa menoleh pada Ashilla. “Kenapa?”


“Diet, takut gendut,” cibir Asa sembari pergi.


Angkasa malah kembali tertawa melihat gerak-gerik Asa. “Mungkin Mama takut Om nggak cinta lagi karena gendut.”


Asa menoleh. “Bukan, tapi Mama takut Om terlalu cinta kalau Mama gendut.”


Kedua mata Ashilla membola dan kali ini dia yang tertawa. Angkasa sendiri malah mengernyit. “Apa? Cinta Om lebih besar dari berat badan Mama kamu, Asa.”


Asa terus tertawa. “Pipi Mama merah,” ledeknya.


Ashilla menggeleng. “Panas.”


“Panas karena ada yang terlalu cinta?” kata Angkasa.


“Jadi menurut kamu aku gendut.” Ashilla mencubit perut Angkasa sampai meringis.


“Asa,” panggil Angkasa. “Ini gara-gara kamu.”


Asa kembali tertawa seraya pergi.


Dari kejauhan Ganjar menyaksikan kedekatan mereka. Hatinya justru tersayat jika mengingat apa yang selama ini dia tutupi.


“Makan lagi, habiskan,” pinta Ashilla.


“Kamu juga.” Angkasa menciduk satu sendok nasi dan yang sudah disiram kuah sop buntut.


Ashilla menggeleng. “Aku lagi nggak nafsu makan.”


“Ayo dong, Sayang. Cinta aku bertambah seiring dengan bertambahnya berat badan kamu.” Angkasa menahan tawa lantaran Asa baru saja memulai gombalannya.


“Gila,” delik Ashilla.


“Asa-Asa.” Angkasa menggeleng seraya mengunyah.


Ashilla malah tak hentinya tersenyum melihat Angkasa.


“Kenapa?” tanya Angkasa.


Ashilla lekas menggeleng seraya menyembunyikan senyumnya.


“Kenapa?”


Ashilla malah menjatuhkan kepala di bahu pria itu, lalu merangkul lengannya. “Makasih untuk semua yang kamu lakukan pada Asa. Kamu pernah sangat kesal sama Asa, tapi akhirnya kalian bisa sedekat sekarang dan Asa bisa nurut banget sama kamu.”


Angkasa tersenyum dan membelai punggung tangan Ashilla. “Asa sudah aku anggap seperti anak sendiri. Kamu tahu, ‘kan aku ini anak tunggal dari orang tua tunggal. Rasanya tidak enak hidup sendiri, dititip di sana-sini, punya ibu tiri malah kayak asisten Papa di kantor. Nikah cuma buat membesarkan perusahaan, bukan membesarkan anak semata wayangnya.”


Mendengar isi hati Angkasa, Ashilla semakin mengencangkan pelukannya di tangan pria itu.


“Asa berhak bahagia, begitupun dengan kamu. Jika ibu tidak bisa memilih anak seperti apa yang ingin dia lahirkan, pun dengan anak yang nggak bisa memilih dari ibu seperti dia ingin dilahirkan.”


Seketika Ashilla merengut dan berkaca-kaca. “Kamu bikin aku sedih.”


“Iya, aku juga sedih.” Namun, Angkasa mengatakannya sambil tertawa, sehingga Ashilla memukulnya lagi karena merasa Angkasa baru saja mengejeknya.