
Iyash termangu melihat kertas undangan di atas meja kerjanya. Di sana tertera nama Ashilla Wijaya dan Angkasa Andromeda. Jantungnya mencelus. Dadanya bergemuruh. Dia lekas mengambil kartu undangan tersebut dan pergi meninggalkan kantor.
“Kemana, Yash?” tanya sang ayah panik.
“Ada perlu.” Pria berjas marun itu melangkah dengan kaki yang lebar. Tepat jam sepuluh dia meninggalkan kantor dan seluruh pekerjaannya hanya untuk mendatangi Ashilla dan mengkonfirmasi semuanya.
Mobil melesat cepat menerjang panasnya terik matahari.
Di waktu yang sama Ashilla tengah sibuk dengan rapat perusahaan tentang menurunnya penghasilan selama tiga bulan terakhir.
“Ini harus ditindak lanjuti secepatnya, Bu,” kata Novia.
“Masa saya harus turun langsung?” Ashilla mengernyit. “Pak Yadi memang tidak bisa mengurus ini bersama team?”
“Bi-bisa, Bu,” kata Pak Yadi selaku orang yang dipercaya Ganjar untuk mengurus bagian Gudang dan pemasaran.
“Bagus. Saya tinggal minta laporannya.” Hampir tiga bulan Ashilla bekerja di perusahaan tekstil milik Ganjar, namun dia masih belum paham. Bahkan pendapatan perusahaan pun menurun drastis.
Tak sedikit karyawan yang membicarakannya. Ashilla tak fokus dan seperti tak serius dalam menjalankan perusahaan. Mereka pikir Ganjar salah karena terlalu yakin cucu manjanya bisa mengurus semua ini.
“Sudah saya harus pergi, ada urusan.” Ashilla kemudian bangkit.
Selalu seperti itu, keluar masuk kantor seenaknya.
“Kalian kenapa?” tanya Ashilla pada semua divisi kantor yang menatapnya kesal. “Rapatnya sudah selesai, ‘kan? Saya ada urusan. Nanti kalau sempat saya datang lagi ke sini buat lihat progresnya.”
Novia menghela napas seraya tertunduk. Sepuluh tahun dia menjadi asisten Ganjar, tak pernah atasannya itu bersikap seenaknya seperti Ashilla sekarang.
Ashilla benar-benar pergi meninggalkan meeting room. Dia yakin semua orang dalam ruangan itu tak keberatan, lagi pula dia terlalu banyak urusan untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Angkasa yang tinggal dua minggu lagi.
Saat tengah berjalan di lobi, dia terkejut melihat Iyash menyekal langkahnya. “Aku mau bicara,” kata pria itu.
“Maaf, aku sibuk.” Ashilla kembali mengambil langkah.
“Ini penting.” Iyash mengejar dan menahan tangan wanita itu.
Ashilla menghela napas dan berhenti melangkah. “Lily bukan urusanku lagi.”
Iyash lekas mendekat dan berdiri di depannya. “Bukan itu, tapi soal ini.” Dia mengeluarkan kartu undangan dari saku jasnya dan menunjukkannya pada Ashilla.
“Kamu sudah terima? Syukurlah jangan lupa datang.”
“Aku nggak bisa terima pernikahan kamu dengan Angkasa.”
“Hah?” Kening wanita itu mengernyit. “Apa urusan kamu? Kita bukan partner dalam hal apapun.”
“Tolong jangan bersikap seperti ini lagi. Mau sampai kapan kamu seperti ini?”
“Maksudnya?”
“Berhenti pura-pura menjadi orang lain.”
Ashilla membuang muka.
“Kamu pikir aku tidak tahu?”
“Apa yang kamu tahu tentang aku?” tantang Ashilla. “Tidak ada. Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku.”
“Run, please.” Iyash menahan tangan Ashilla.
“Iyash!” Ashilla menepis tangan pria itu. “Seharusnya kamu yang berhenti berpura-pura karena aku yakin kamu tahu kalau aku bukan Aruna,” tandas Ashilla. “Aku bukan dia. Jika wajahku mirip dengannya, bukan berarti aku dia. Sudah cukup aku gila selama ini.”
Iyash menggeleng. “Aku minta maaf untuk kejadian waktu itu.”
“Cukup! Aku terlalu banyak urusan dan aku tidak bisa untuk mengurusi sesuatu yang bukan menjadi urusanku.” Ashilla kemudian melenggang pergi.
Jantung Iyash mencelus. Dia terus mengejar Ashilla sampai ke tempat parkir, namun wanita itu mengabaikannya dan melesat pergi dengan mobil fortuner silver.
“Aruna!” teriak Iyash. Sejak kejadian sepuluh tahun yang lalu, Iyash menjadi tak waras, dia terus berharap Aruna akan kembali padanya. Namun, dia tidak menyangka kalau Aruna akan melupakannya dan tak memaafkannya atas kejadian itu.
***
“Gedung sudah, undangan sudah, fitting baju sudah. Giliran kamu.” Ashilla mengempas punggung ke sandaran kursi dan membiarkan buku tergeletak di meja.
Angkasa menarik buku tersebut dan melihatnya, sementara Angkasa sibuk berpikir, Ashilla mengacungkan tangan pada pelayan untuk memesan minuman. “Cappucino ice.”
Pelayan itu mengangguk. “Ada lagi?”
“Sudah.”
“Baik, ditunggu, Mbak.”
Beruntung Angkasa tak mendengar gumamannya. Kalau dia tahu, bisa-bisa ini menjadi bahan pertengkaran.
“Tante Ira, ‘kan bisnis catering, terus menantunya punya WO. Udahlah kita pakai jasa mereka aja.”
“What?” Kedua mata Ashilla membola. Baru tadi dia bertemu anaknya dan sekarang dia harus berurusan dengan ibunya. “Nggak-nggak,” katanya sembari mengangkat wajah.
“Memang kenapa?” tanya Angkasa heran.
“Kenapa harus Tante Ira, kenapa nggak yang lain aja?”
“Yang lain itu siapa? Memang kamu punya kenalan?”
“Nggak harus kenalan, jasa WO banyak, catering apalagi,” dengkus Ashilla kesal.
“Nggak ada waktu. Pernikahan kita udah dekat. Sekarang aku tanya, memang kenapa kalau Tante Ira?”
Ashilla termangu. Dia tidak mungkin bilang kalau dia tidak menyukai ibunya Iyash karena sikap judesnya. Dia masih ingat bagaimana perlakuan Ira terhadapnya.
“Kalau ini masalah Iyash. Nggak ada hubungannya sama dia, lagi pula dulu aku udah pernah bilang kalau aku ingin Tante Ira berperan dalam pernikahanku, lalu apa salahnya?” Nampaknya Angkasa serius dengan perkataannya.
“Dia bisa datang sebagai tamu undangan,” usul Ashilla.
Angkasa terdiam beberapa saat.
“Kita bisa minta bantuan–” Tenggorokan Ashilla tercekat, otaknya mendadak buntu. Dia lupa kalau sejak pindah ke New York dia memutuskan semua pertemanannya.
“Bantuan siapa?”
“Kamu yakin Tante Ira bisa bantu?” tanya Ashilla.
“Aku ini–” Angkasa menunjuk dadanya sendiri. “Sudah dianggap anak sama Tante Ira, aku sudah ceritakan semuanya sama kamu.”
Ashilla bosan, Angkasa pasti akan mengulang semua cerita membosankannya itu lagi. “Ya sudah, nggak apa-apa. Terserah kamu aja.”
“Nanti sore aku akan menemui Tante Ira.”
“Terserah.” Ashilla memutar bola mata.
“Kamu kok gitu. Ini pernikahan kita, jangan bersikap seolah-olah kamu nggak peduli.”
“Udah ah.” Ashilla merapikan tasnya. “Aku harus kembali ke kantor. “Kamu urus aja, semuanya, pokoknya aku tahu beres.”
“Loh, Shill?” Angkasa mencoba menahan kepergian wanita itu.
“Pekerjaanku banyak. Dua minggu menjelang pernikahan, tapi aku masih harus ngurus kantor Opa. Harusnya kamu ngerti. Aku memforsir diriku untuk apapun yang orang lain inginkan.”
“Maksudnya gimana? Orang lain? Ini pernikahan kita.”
“Iya-iya. Ini keseribu kalinya kamu mengatakan itu.”
“Lebay kamu,” dengkus Angkasa.
“Aku nggak lebay. Hari ini aku benar-benar stress.” Tentu saja, urusan kantor belum selesai Iyash datang dan menuduhnya yang tidak-tidak.
“Sayang ….” Angkasa mencoba tenang, kalau bukan dirinya yang menenangkan Ashilla, lalu siapa?
Ashilla menghela napas, kemudian mengedarkan pandangan. “Kopiku lama. Nggak ada gunanya ditungguin. Aku harus kembali ke kantor.” Ashilla bangkit diikuti Angkasa. Pria itu membayar kopi miliknya, namun tidak milik Ashilla.
Saat berjalan menuju pintu keluar, pelayan memanggilnya. “Mbak, kopinya.”
“Saya tidak membayar kopi yang pembuatannya memakan waktu hampir dua puluh menit!” kata Ashilla seraya melangkah keluar.
“Maaf, Mbak tadi mesin kami macet,” adu pelayan tersebut.
“Saya bukan bos kamu, jadi, tidak perlu kamu mengadu masalah kamu pada saya.”
Angkasa mengatupkan kedua tangannya. “Maaf, Mbak.”
Sementara Ashilla pergi dengan langkah yang lebar menuju tempat parkir. Angkasa selalu merasa bersalah dengan suasana buruk hati Ashilla, padahal itu bukan tanggung jawabnya karena dia tak bisa mengendalikan semuanya sendiri.
“Sayang, kamu tenang, kita bisa bicarakan ini baik-baik,” kata Angaksa seraya mengetuk kaca mobil Ashilla.
Ashilla menurunkan kaca jendela mobilnya. “Lain kali jangan memintaku bertemu di jam kerja, aku orang sibuk,” kata Ashilla kesal.
Angkasa tergemap. Dia tidak heran, jika awal-awal tinggal di Jakarta Ashilla banyak diam, bahkan terlihat lebih kalem, itu karena dia tak ingin mencari masalah, apalagi di tempat baru. Dan, ya … wanita itu lebih suka mencari masalah dengannya.
Mobil melesat pergi sementara Angkasa mematung hingga beberapa detik. Ibu tirinya bilang kalau menjelang pernikahan selalu ada saja masalah, entah itu masalah sepele yang bahkan tidak pernah dipermasalahkan sama sekali, tapi menjelang pernikahan semua menjadi teramat penting, termasuk hal yang tak pernah diperhatikan sebelumnya.
***