Behind The Lies

Behind The Lies
Luka Yang Sudah Menyebar



“Opa memang keras, tapi tidak pernah membesarkan kalian dengan kebohongan. Hidup jujur memang lebih pahit, lebih menyakitkan, tapi itu yang akan mengokohkan kalian,” tambah Ganjar.


Aruna tertunduk dan perlahan mundur sebelum menunjukkan wajah di depan kakeknya itu. “Aku nggak bisa, Mas,” katanya lirih.


“Sayang, kamu harus buktikan kalau kamu tidak seperti yang Opa katakan.”


“Tapi, Opa menghina ayah.”


“Yang dia hina itu anaknya.”


“Apa pantas seorang ayah menghina anaknya?” lirih Aruna seraya melepaskan genggaman tangan Faran, kemudian berlari keluar dari rumah sakit. Namun, tiba-tiba seseorang tak sengaja menabraknya.


Aruna terperangah menatap wanita itu sampai beberapa detik.


“Sayang,” panggil Faran dari belakang.


Aruna berbalik. “Mas lihat wanita ini.” Dia menunjuk wanita yang telah menabraknya. “Aku tidak pernah melupakan wajahnya, meski hanya dari selembar foto, tapi aku yakin dia tidak tahu bagaimana aku tumbuh dan meyakini kalau wanita yang sudah melahirkanku tidak pernah menginginkanku.”


Faran mengernyit menatap Aruna yang begitu marah dan kecewa karena tidak mendapat maaf dari wanita yang baru saja menabraknya. Padahal kemarahan Aruna bukan disebabkan hal itu, namun karena wanita yang baru saja menabraknya itu adalah Dewi, ibu kandungnya sendiri.


Sementara Dewi terperangah menatap Aruna.


Aruna lekas menatap Dewi dengan penuh amarah dan air mata kecewa yang menggenang di kedua sudut matanya.


Dewi menjatuhkan kesedihan, kedua tangannya terulur dan hendak meraih pipi merah Aruna. Namun, Aruna menepisnya. “Lupakan. Kamu bukan ibuku.”


Aruna kembali berlari meninggalkan rumah sakit.


“Maafkan istri saya.” Faran mengatupkan kedua tangannya di depan Dewi.


Dewi tergemap. Dia memang sudah sangat yakin kalau perempuan yang dia temui di rumah Ganjar waktu itu adalah Aruna.


“Sayang,” panggil Faran seraya terus mengejar dan Dewi mengikuti dari belakang mereka.


Aruna menghentikan langkah dan berbalik. Faran lekas mendekapnya ke dalam pelukan. Aruna menangis sejadi-jadinya. Saat ini yang dia miliki memang hanya Faran. Dia merasa dihargai ketika bersama Faran. Dia tidak pernah merasa rendah diri karena Faran selalu mendukung apapun keputusannya. Bersama Faran dia menemukan keluarga yang selama ini dia inginkan.


“Bawa aku pergi, Mas. Bawa aku pergi,” pinta Aruna lirih.


“Iya, Sayang.”


Dada Faran juga sebenarnya sakit melihat Aruna seperti ini. Perkataan Ganjar juga memang sangat keterlaluan, kenapa Ganjar bisa bersikap seperti itu, kenapa dia harus membedakan Aruna hanya karena tidak besar dan tumbuh dalam lingkungannya?


“Aku nggak kuat, Mas,” isak Aruna. “Aku nggak kuat.”


Faran mengangguk. Dia kemudian melepaskan pelukan dan menggenggam kedua pipi Aruna. “Kita akan pulang.”


“Ke hotel. Please.”


“Iya,” jawab Faran tanpa mendebat. Dia tahu kalau Aruna tidak nyaman pulang ke rumah Ganjar malam ini, maka dia tidak akan memaksanya. Dia tahu Aruna hanya sedang mencari ketenangan untuk hati dan dirinya sendiri.


“Tunggu,” panggil Dewi dari belakang.


Faran dan Aruna menghentikan langkah. Dewi langsung berlari dan berdiri di hadapan mereka.


“Nak, tolong maafkan ibu.”


“Iya, Bu, nggak apa-apa justru kami yang harus minta maaf.” Faran kemudian menatap Aruna. “Sayang, kasihan ibu ini, kamu maafkan saja, lagipula dia tidak sengaja, ‘kan?”


Aruna tercenung, rupanya Faran tidak mengerti dengan ungkapan perasaannya beberapa saat lalu.


Aruna mengangguk dan kembali melangkah.


“Aruna.”


Aruna berhenti melangkah, begitupun dengan Faran yang terkejut karena wanita itu tahu nama istrinya.  Dewi kembali berdiri di depan Aruna. “Ini Ibu. Ibu yang sudah meninggalkan kamu bersama ayah. Ibu minta maaf karena membiarkan kamu kesusahan ibu pikir semuanya tidak akan seperti ini.”


Aruna tertunduk dan menjatuhkan air matanya. “Maaf pun sudah terlambat karena luka ini sudah terlalu menyebar,” kata Aruna.


Faran tergemap. Dia baru menyadari kalimat Aruna sebelumnya saat memintanya menatap Dewi.


Dewi menjatuhkan lutut di depan Aruna. “Apa yang harus ibu lakukan agar kamu mau memaafkan ibu dan mendengar semua kebenarannya.”


Kedua tangan Aruna mengepal kuat, dia benci ketika ada orang yang berlutut di depannya. Faran memegangi kedua bahu Dewi dan membantunya berdiri. Dia tahu kalau saat ini Aruna benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya.


Semua yang ada di sana menatap heran ke arah mereka. Dari kejauhan Adisty berlari. “Mama,” teriak wanita itu.


Dewi lekas bangkit. “Sayang, ini kakak kamu. Dia anak Mama dari suami sebelumnya,” ungkap Dewi pada Adisty.


Adisty tercengang. Dia kemudian menggeleng. “Mama salah orang, Ma. Ayo kita pulang.”


Dada Aruna semakin sakit karena pernah hidup terombang-ambing. Aruna benci Adisty untuk semua yang dia lakukan di masa lalu.


“Ayo, Mas,” ajak Aruna seraya menarik tangan Faran. Kepalan tangan Aruna begitu kuat dan Faran tahu kalau Aruna sedang begitu marah.


“Loh, Mas? Sudah?” tanya Yayan ketika mereka sampai di depan mobil.


“Mm, Pak pulang aja,” kata Faran.


“Non Aruna sakit lagi?”


Faran mengangguk. “Tapi, kali ini pulang ke hotel.”


“Kenapa? Tadi Bi Sumi telepon katanya sudah masak banyak.”


“Nggak ada yang nyuruh,” jawab Aruna ketus.


“Non Ashilla yang nyuruh, Non,” kata Yayan.


“Saya nggak peduli, pokoknya Bapak tinggal antar kami ke hotel sekarang!”


“Baik, Non.” Yayan lekas berjalan dan memutari mobil, namun saat dia hendak membuka pintu mobil, dia melihat Dewi berlari ke arah mereka sembari memanggil-manggil nama Aruna.


“Mbak Dewi?” kata Yayan terkejut. Dia kemudian menatap Aruna yang segera masuk ke dalam mobil, sedangkan Faran langsung mengangguk menatap Yayan.


“Yayan, Dia anak saya, ‘kan?” tanya Dewi dari kejauhan. “Tolong ceritakan semuanya sama Aruna, Yan. Saya mohon.”


Faran menatap Yayan yang ikut menangis atas kejadian ini.


“Pak Yayan,” panggil Aruna dari dalam. “Cepat!” Dia kemudian menatap Faran. “Mas, kamu mau tetap di situ?”


Faran lekas masuk ke dalam mobil. Namun, perasaannya berkecamuk. Dia masih mencerna kejadian ini. Hal apa yang dia lewatkan, atau kisah apa yang tak Aruna ceritakan padanya? Luka apa yang membuat Aruna sampai bisa seperti ini, bukankah dia pikir kalau Aruna sudah berdamai dengan masa lalunya, lalu kenapa sekarang, masa lalu masih seperti musuh untuk Aruna?


Dewi mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil tepat di sebelah tempat Faran duduk . Faran hendak membuka jendela tersebut, namun Aruna malah menahannya.


Faran terpaksa mengurungkan niatnya. Dia bukan suami takut istri, tapi dia adalah suami yang terlalu sayang istri, sehingga akan mengabulkan dan memberikan apapun untuk istrinya, meski harus bulan sekalipun.


“Jalan, Pak,” pinta Faran pelan. Dia kemudian menatap Aruna. “Sini, Sayang.” Dia merangkul bahu Aruna dan menyandarkan di bahunya. “Kalau ada yang ingin kamu ungkapkan, ungkapkan saja, apapun itu.”


Aruna hanya ingin menangis. Lagi pula semua kata yang mengganjal sudah dia ungkapkan bersama dengan amarahnya. Dia terus menangis sampai serak dan sesak di dada.


Yayan hanya bisa menatapnya dari spion mobil. Kabut di matanya perlahan jatuh membasahi pipi. Dan untuk kali ini bahkan Faran juga ikut menangis.