Behind The Lies

Behind The Lies
Permintaan Aruna



Iyash menutup panggilan bertepatan dengan kedatangan Dokter dan para perawat. Semalam dia dilarikan ke rumah sakit karena timah panas menembus bagian lengan kanannya. Dia tidak menyangka kalau peluru akan sampai pada dirinya. Awalnya dia ingin menghalau timah panas tersebut agar tidak mengenai Marissa, namun malah melukai dirinya sendiri.


Ketika Dokter sedang memeriksanya, Marissa masuk dan berdiri di sebelah ranjang. Kalau saja kedua orang tua Iyash tidak memintanya tetap di sini, tentu dia akan pulang dengan ibunya. Dia ingin menolak, namun dia juga sadar Iyash seperti ini karena dirinya.


“Dok, saya sudah boleh pulang, ‘kan?” tanya Iyash.


Dokter tersenyum. “Setidaknya dua puluh empat jam setelah operasi, Pak.”


“Tapi, ini penting, Dok, saya harus pergi,” kukuh pria itu.


Marissa terpegun,  dia rasa keinginan Iyash untuk pergi ada kaitannya dengan telepon yang pria itu terima beberapa saat lalu. Dia tidak tahu siapa yang menelepon karena saat Iyash menerima panggilan pria itu memintanya keluar.


“Kalau untuk sekarang belum, terlalu rawan, Pak,” kata wanita berjas putih tersebut.


Iyash menghela napas. Dia kemudian melirik Marissa sekilas.


“Cuma sehari, Dok,” kata Iyash lagi.


Dokter masih tersenyum, namun kali ini disertai helaan napas yang panjang.


“Saya tahu kok, Dok, kondisi saya, saya merasa kalau saya baik-baik saja.”


“Kak,” sentak Marissa akhirnya. “Kenapa sih, memang mau kemana?” tanyanya kesal.


“Kamu diam aja,” kata Iyash dingin dan datar.


Marissa mendengkus. “Dok, kalau dia mau pergi, biarin aja, resiko dia yang tanggung sendiri.”


Dokter tersenyum ke arah mereka, sedetik kemudian dia dan rombongannya pergi tanpa mengabulkan keinginan pasiennya.


Dokter malah tersenyum ke arah kami, sedetik kemudian dia dan rombongannya pergi. Kurasa Dokter juga sudah tak peduli.


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Kak Iyash.


“Lagian siapa yang mau? Kalau bukan karena Tante Ira yang minta, aku udah pulang dari tadi.”


“Kalau begitu buat apa kamu di sini?”


“Ya udah. Jangan minta bantuan apapun, kalau butuh apa-apa ambil sendiri,” dengkus Marissa seraya mengambil goodie bag di atas meja, dia kemudian melenggang pergi meninggalkan Iyash sendirian. Sedangkan Iyash sendiri sibuk merencanakan agar bisa pergi dan memenuhi permintaan Aruna. Meski dalam keadaan seperti ini dia masih berusaha menjadi yang terbaik untuk Aruna. Namun, kali ini berbeda, sebagai sahabat, bukan sebagai mantan pacar yang masih ingin bersama.


***


Tepat jam makan siang Iyash berhasil keluar dari rumah sakit. Dia memanfaatkan waktu para pekerja rumah sakit yang sedang beristirahat. Sehingga tak ada satupun dari mereka yang menyadari kalau pria bersweater putih itu adalah pasien. Dia bahkan melepaskan arm slingnya hanya agar tak ada yang menyadarinya. Namun, setelah berhasil keluar dari rumah sakit, dia memakai kembali penyangga tangan tersebut karena rasa kebas yang masih dia rasakan.


Pukul setengah dua siang, dia sudah berada di bandara. Namun, bertepatan dengan itu, pihak rumah sakit baru menyadari kalau mereka telah kehilangan satu pasien. Mereka segera menghubungi keluarga Iyash.


Ira terkejut mendengar kabar tersebut. Dia mencoba menghubungi Marissa, namun tak ada jawaban karena Marissa juga sudah pergi, wanita dua puluh dua tahun tersebut diminta Miranti pergi ke Surabaya untuk menyusul Edgar dan membawanya pulang.


Akhirnya Ira menelepon Rahma untuk menanyakan tentang anaknya. Siapa tahu Iyash pergi bersama Marissa.


“Halo,” sapaan terdengar usai panggilannya terjawab. Namun, Ira tak menjawab sapaan tersebut.


“Iyash di mana?” tanya Ira langsung.


“Hah?”


“Dia nggak ada di rumah sakit. Pihak rumah sakit baru mengabari kalau Iyash pergi,” lapor Ira.


Jantung Rahma mencelus. “Ya ampun.”


“Icha di mana? Kenapa dia susah dihubungi?” tanya Ira.


“Aku minta maaf, Ra. Icha pergi ke Surabaya.”


“Iyash mengusirnya dari rumah sakit. Jadi, tadi dia pulang. Terus Miranti ke sini minta Icha buat menyusul anaknya ke Surabaya.”


“Hah?” Wajah Ira seketika memerah. Dia mencoba menahan luapan amarahnya dengan mengambil napas dan mengembuskannya beberapa kali.


“Aku minta maaf,” sesal Rahma.


“Kenapa Icha bisa mengenal Miranti?”


“Miranti itu sepupunya Ben, suaminya Mila.”


Ira terdiam lama.


“Ra, nanti aku coba hubungi Icha.”


Tiba-tiba sambungan telepon terputus.


Di waktu yang sama Iyash baru masuk ke dalam pesawat. Dia mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor di tiketnya. Begitu dia menemukannya, dia langsung duduk, namun, saat dia menoleh ke samping, dia terkejut karena melihat Marissa tengah duduk di sana.


“Kamu?”


Kening Marissa mengernyit. “Bukannya Dokter melarang Kak Iyash pergi? Ngapain di sini?” cecar wanita itu.


“Loh, suka-suka saya. Kamu sendiri, buat apa di sini?” tanya Iyash.


Marissa melipat kedua tangannya di depan persis seperti anak kecil. “Suka-suka saya.”


“Kamu disuruh Mama untuk mengintai saya?” tuduh Iyash.


“Hah?” pekik wanita itu kesal. “Amit-amit.” Dia mengetukkan sendi jari ke kepalanya sendiri. “Dibayar berapapun aku nggak akan sudi.” Sesaat kemudian dia bangkit. “Mbak,” panggilnya pada salah satu pramugari. “Bisa saya duduk di tempat lain?”


“Nggak bisa, Mbak. Kecuali, ada yang mau bertukar kursi dengan Mbak.”


Wanita berambut panjang tersebut menggaruk tengkuk lehernya kesal. Kemudian duduk kembali. Pramugari menjelaskan dan meminta mereka bersiap karena pesawat akan segera lepas landas.


Sepertinya Marissa gagal menikmati perjalanannya siang ini. Begitupun dengan Iyash. Pagi tadi dia mengusirnya dari rumah sakit, tapi malah dipertemukan di tempat itu.


“Satu setengah jam, seperti memakan waktu satu setengah tahun. Lama,” dengkus Marissa.


“Pesawat baru terbang sekitar sepuluh menit,” timpal Iyash tanpa menatap wanita tersebut.


Marissa menghela napas. Dia kemudian merogoh tas dan mengambil buku. Dia suka buku dengan judul Ekspektasi karya Edgar.


“Semakin dewasa, semakin tak pernah berekspektasi, karena semakin besar ekspektasi, semakin besar peluang untuk kecewa.” Dia membaca kalimat itu dengan keras.


“Ekspektasi itu harus, selama kamu punya batasannya,” komentar Iyash tenang.


Marissa mengernyit dan menjauhkan buku dari pandangannya. “Kenapa?”


Iyash menoleh, namun, Marissa langsung berpaling dan kembali membaca buku. Alih-alih membaca, Marissa malah terganggu dengan kalimat Iyash yang terus terngiang di telinga.


“Batasan seperti apa yang harus aku miliki?” tanya wanita itu sembari menjauhkan buku bersampul langit gelap itu dari wajahnya, kemudian dia menatap Iyash.


“Manusia bebas berharap, selama harapan itu digantungkan kepada Tuhan. Manusia punya batasan, tapi Tuhan tidak. Dengan kamu berharap pada Tuhan, kemungkinan kamu kecewa sangat tipis, bahkan mungkin tidak ada.”


“Sok religius,” dengkus Marissa.


Iyash tersenyum sinis. “Karena Tuhan tahu apa yang terbaik buat kamu.”


“Waw,” ejek Marissa sembari kembali menyembunyikan wajahnya di balik buku.


Iyash sendiri tak begitu bermasalah dengan kehadiran wanita itu. Dia tahu kalau tujuan Marissa pergi untuk menyusul Edgar sama seperti dirinya.