Behind The Lies

Behind The Lies
Dikira Hamil



Dengan cepat Angkasa meninggalkan kamar Iyash sebelum dia tertahan dengan keberadaan Ira. Namun, di ujung tangga Ashilla tersandung dan terjatuh, hingga tangannya terlepas dari genggaman Angkasa.


Angkasa menghela napas dan segera membantu Ashilla untuk berdiri, akan tetapi dia tak berkata apa-apa meski dia ingin. Dia menahan semua kata makian dalam kepalanya karena takut Ashilla akan merasa jijik dengan itu.


Sementara itu Iyash hanya bisa menahan perasaannya di puncak tangga. Rasanya menyakitkan melepaskan kepergian wanita yang selama ini dia inginkan.


Nampaknya Ira tidak tahu kepulangan Angkasa dan Ashilla karena dia sibuk di dapur memasak untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya.


Di dalam mobil Angkasa diam dan masih mencoba menenangkan diri. Dia bahkan belum berniat untuk melajukan kendaraannya. Selama dua tahun terakhir ini dia selalu berusaha menjadi yang terbaik di depan Ashilla.


Ashilla tahu kalau Angkasa ingin marah, tak seharusnya pria itu menahannya, alangkah lebih baik jika Angkasa meluapkan saja semua kemarahan itu.


“Sayang,” Ashilla menggenggam tangan Angkasa di atas roda kemudi. “Aku nggak tahu kalau Iyash–”


“Gila!” Angkasa memangkas kalimat Ashilla. “Dia gila karena terus menganggap kalau kamu Aruna!”


Mendengar nama itu lagi, Ashilla menjadi sangat penasaran, siapa dan seperti apa wanita itu, kenapa Iyash berpikir kalau pacarnya itu memang dia? Namun, Ashilla tak ingin membahas itu, dia takut Angkasa semakin marah.


“Kita nggak perlu bahas lagi kejadian ini,” usul Ashilla.


“Nggak perlu dibahas?” Angkasa menjeda pertanyaannya. “Kayaknya kamu senang dipeluk Iyash?” Kali ini dia malah menuduh yang tidak-tidak.


Ashilla membasahi tenggorokannya. “Nggak. Bukan gitu, tapi–”


“Tapi,” cibir Angkasa. “Kata ‘tapi’ adalah pembenaran dari sebuah alasan.”


Seketika kening Ashilla mengkerut. “Ya aku harus bilang apa?”


“Kamu … arrrggghhh!” Angkasa memukul roda kemudinya dan itu membuat Ashilla terkesiap.


Ekor mata Angkasa melihat sebuah mobil yang berhenti di belakang mobilnya dan dia pun memutuskan untuk segera pergi meninggalkan halaman rumah Iyash sesaat setelah melihat Rasya dan istrinya turun dari mobil tersebut.


“Kalau kamu pikir. Ini salah aku, aku minta maaf,” kata Ashilla kesal. “Aku nggak tahu kalau aku memang mirip dengan pacarnya Iyash.”


“Bukan salah kamu,” tukas Angkasa tenang.


Apa sebaiknya dia ceritakan kejadian di resto tempo hari? Tidak-tidak! Mungkin itu akan membuat Angkasa semakin marah. Namun, apa yang harus dia katakan untuk mencairkan suasana ini?


“HP kamu gimana?” Tiba-tiba dia mendengar Angkasa mengalihkan pembicaraan.


“Masih mati. Kayaknya harus dibawa ke tukang servis.”


“Aku antar kamu ke sana.”


Ashilla tak mencari alasan dan membiarkan Angkasa tetap mengantarnya. Namun, sepanjang jalan dia tak bisa berhenti memikirkan Iyash. Hanya Iyash. Ya, pria itu telah memporak-porandakan kewarasannya.


“Sayang, kepala aku sakit.” Ashilla memegang pelipisnya sendiri.


“Sejak kapan?” tanya Angkasa datar karena dia pikir Ashilla hanya mencari alasan untuk menolak ajakannya.


“Sebenarnya dari tadi udah sakit, cuma aku tahan.”


“Kamu itu.” Angkasa menghela napas. “Seharusnya pulang dari panti kita langsung pulang,” omel pria itu kesal.


Ashilla tak memberi tanggapan, pasalnya dia merasa bersalah karena memaksakan kehendaknya pada Angkasa. “Aku minta maaf, seharusnya memang kita pulang saja tadi, jadi kejadian seperti ini–”


“Iya.” Angkasa menyunat kalimat panjang Ashilla. Dia tahu kalau wanita itu tak benar-benar merasa bersalah akan kejadian ini, mengingat sebelumnya Ashilla begitu senang.


“Kalau begitu, aku antar kamu ke Dokter, mumpung baru jam empat.”


Ashilla mengangguk mengingat dirinya tak punya alasan untuk menolak. Mobil terus melaju membawanya ke sebuah klinik sesampainya di sana Angkasa langsung turun dan mengajaknya masuk. Mereka diminta mendaftar sebelum diperiksa.


Ketika sedang menunggu Ashilla mengedarkan pandangan dan melihat semua pasien di kelilingnya. “Kenapa kita ke sini?” tanyanya pada Angkasa yang kebetulan ada di sebelahnya.


“Katanya sakit kepala?”


“Iya, tapi–”


“Bu Ashilla,” panggilan itu menggema di koridor ruangan.


Ashilla bangkit dan Angkasa mengikutinya dari belakang. Mereka disambut oleh seorang perawat dan dibimbing masuk menuju ruang pemeriksaan, kemudian duduk di depan meja Dokter.


“Keluhannya apa, Bu?” tanya Dokter wanita paruh baya.


“Sakit kepala, Dok.”


“Sudah berapa lama?”


“Sejak semalam. Kayaknya saya juga masuk angin,” terka Ashilla.


Angkasa malah merasa kalau kata ‘juga’ yang Ashilla katakan dikaitkan pada Iyash yang masuk angin.


“Merasa kembung?”


“Iya.”


Mau tak mau Ashilla mengikuti perintah tersebut, sementara Angkasa berdiri di sebelah ranjang.


“Sudah tes urin?” tanya Dokter sembari memeriksa detak jantung Ashilla.


"Maksudnya?" Kening Ashilla mengernyit. "Kenapa saya harus tes urin?"


"Oh, jadi belum ya?" Dokter kemudian memeriksa tensi darah wanita itu. “Kapan terakhir haid?”


Lagi-lagi Ashilla mengernyit, kali ini dia menatap Angkasa, namun Angkasa malah mengedikkan bahu.


"Saya sakit kepala, Dok. Apa hubungannya dengan terakhir haid?"


Dokter malah tersenyum. "Ini biasa terjadi pada ibu hamil."


Seketika Ashilla duduk tegak. “Saya nggak hamil, Dok. Saya cuma pusing dan masuk angin,” kilahnya kesal.


Dokter Ekawati merasa heran dan menatap Angkasa.


“I-iya, Dok. Calon istri saya cuma sakit kepala,” bela Angkasa gugup.


Dokter Ekawati tersenyum. “Maaf karena saya biasa memeriksa ibu hamil. jadi saya langsung memikirkan hal itu.”


Ashilla membasahi tenggorokannya dan dia mengingat semua wanita di depan yang rata-rata mereka datang bersama pasangannya masing-masing dan tak sedikit dari mereka yang berbadan dua. "Tapi, Dokter nggak bisa langsung menyimpulkan."


"Iya, 'kan ini lagi diperiksa." Dokter Ekawati tetap tersenyum tenang.


“Semalam saya kecebur kolam, kembung bukan berarti saya hamil, ‘kan, Dok?” Nampaknya Ashilla masih kesal.


“Iya-iya. Saya minta maaf karena terbiasa bertanya demikian. Kebetulan pasien sebelumnya memiliki keluhan yang sama dan dia memang sedang hamil.”


Ashilla menghela napas dan menatap Angkasa. “Lagi pula kami belum menikah.”


Dokter Ekawati kembali tersenyum. “Iya. Saya periksa kembali, ya?”


Ashilla membiarkan Dokter Ekawati memeriksa tensi darahnya yang tadi sempat terhenti. “Bagus, semua normal. Nggak ada demam juga. Ada keluhan lain?”


Ashilla menggeleng. Tentu saja, dia hanya merasa pusing.


“Kalau begitu saya beri obat pereda sakit kepala.” Dokter Ekawati kembali ke tempat duduknya dan menuliskan resep, lalu memberikannya pada Ashilla.


“Makasih, Dok.” Wanita itu menyambar kertas tersebut dan melangkah pergi. Dia masih merasa kesal dan gondok karena dituduh hamil, padahal dia dan Angkasa tidak pernah melakukan apapun.


“Maaf, Dok.” Angkasa sendiri nampaknya merasa malu dengan sikap Ashilla. “Total biayanya berapa ya?”


“200.”


Angkasa mengangguk dan menarik dua lembar uang dari dompetnya, kemudian memberikannya pada Dokter tersebut. “Terima kasih.” Dia pun keluar dan menyusul Ashilla. Nampak wanita itu tengah berdiri di depan mobilnya.


Setelah pintu mobil terbuka, Ashilla lekas masuk dan dia masih terlihat kesal, sampai Angkasa tak disuguhinya senyuman.


“Maaf, habisnya klinik yang aku temui cuma ini,” kata Angkasa sembari masuk ke dalam mobil.


“Seharusnya kamu lihat plang di depan. Klinik bersalin Khairunnisa.” Ashilla menunjukkan kantong kresek putih dengan logo klinik tersebut.


“Iya, aku memang nggak lihat.”


“Aku kesal, jadinya dikira aku hamil di luar nikah?”


“Ya, kalau kamu nggak bilang kita belum nikah, Dokter itu nggak akan ngira kamu begitu.”


“Jadi aku harus pura-pura jadi istri kamu?”


“Ya apa salahnya sejam juga nggak.” Angkasa jadi ikut kesal karena Ashilla seperti tak ingin jadi istrinya, seakan memang tak lelah mencari alasan untuk menolaknya.


“Bukan itu masalahnya, aku dituduh hamil.” Ashilla sampai menuduh dadanya sendiri.


“Ya, tapi nyatanya kamu nggak hamil, ‘kan?”


“Ya, nggak. Memang kamu mau aku hamil?”


“Iya.” Angkasa mendekat ke depan wajah Ashilla. “Agar kamu mau menikah denganku.”


“Astaga, kamu mau mengikuti perintah Adisty?”


“CK!” Angkasa berdecak dan kembali bersandar di kursinya. “Hari ini kamu kenapa, Shill.”


“Kamu yang kenapa, udah tahu aku sakit kepala, dibawa ke tempat ini.”


Angkasa mengusap kasar wajahnya sendiri. “Aku udah minta maaf, Shilla.”


“Aku masih kesal, Angkasa.” Ashilla juga duduk bersandar dan mereka sama-sama diam di dalam mobil sebelum mobil tersebut melaju meninggalkan klinik bersalin.


***