
Setelah menyelesaikan hukuman, Iyash dan Aruna datang ke kantor untuk membuat laporan pada Pak Gusti.
“Bagus. Sudah kapok? Tidak akan bolos lagi?” tanya Pak Gusti. “Seharusnya kalian tidak diizinkan masuk, tapi nanti kalian malah keenakan.”
Iyash dan Aruna tertunduk.
“Iyash?”
Iyash lekas mengangkat wajahnya. “Iya, Pak?”
“Kamu mungkin beruntung karena kepala sekolah adalah Bude kamu dan sekolah ini milik Nenek kamu. Tapi, kamu Aruna?”
Aruna masih tertunduk dan tak ingin menatap Pak Gusti.
“Sebagai wali kelas kalian, jujur saya kecewa.”
“Kami minta maaf, Pak,” kata Aruna.
“Kalian tahu, betapa cepatnya berita itu menyebar?”
“Maaf, Pak,” kata Iyash.
“Kalian ini siswa berprestasi kalau sampai terulang kembali kejadian seperti kemarin. Mungkin Bapak akan kurangi nilai kalian.”
Iyash dan Aruna mengangguk.
“Sekarang kalian boleh pergi.”
“Terima kasih, Pak.”
Iyash berbalik, sementara Aruna sudah lebih dulu melangkah. Iyash terus mengikuti kemana Aruna pergi, padahal setahun yang lalu mereka tampak seperti bermusuhan. Namun, dalam satu kejadian saja mereka menjadi sangat dekat seperti ini.
“Kamu pesan apa?” tanya Aruna pada Iyash yang kebetulan berdiri di belakangnya.
“Aku mau pesan nasi, laper.”
“Aku juga.”
Aruna kemudian berdiri di depan meja. “Bu, nasi uduk dua,” kata Aruna pada Ibu Lastri penjaga kantin.
“Aruna pakai sambal?”
“Iya.”
“Iyash?”
“Dia nggak. Nggak kuat pedes,” ledek Aruna.
“Benar, Yash?” tanya bu Lastri memastikan takutnya Aruna hanya bercanda.
“Iya, saya nggak.”
“Ya sudah.”
Aruna lebih dulu membawa nasi uduk miliknya ke meja, sedangkan Iyash berjalan di belakangnya. Dia tidak menyangka kalau Aruna cukup tahu tentang dirinya.
Dari kejauhan Naya, Dennis, Umam dan Bagas memperhatikan ke arah mereka. Mereka tidak paham kenapa Aruna menjadi jauh dan lebih memilih Iyash, padahal sebelumnya kedua manusia tersebut nampak tak akur.
“Dari kemarin makan mie terus, perutku begah,” kata Iyash seraya duduk di sebelah Aruna.
“Mungkin kamu masuk angin.”
Iyash terdiam menatap Aruna. “Kupikir karena mie.”
“Tiap hari jam istirahat makan mie, nggak apa-apa, ‘kan?”
“Iya sih.” Iyash kembali menatap sepiring nasi uduk di atas meja. Sementara Aruna sudah melahapnya lebih dulu.
“Run, aku penasaran, kemarin Bu Yuli minta kamu menemui kakek kamu, ‘kan?”
“Iya.”
“Kamu tahu siapa kakek kamu?”
“Nggak.”
“Namanya Ganjar Wijaya, ‘kan?”
“Iya.”
“Kamu nggak ada niat buat menemuinya?”
“Nggak, biarin aja. Seharusnya kalau memang ayah punya keluarga, kita mungkin nggak akan sendiri dan hidup miskin seperti sekarang. Ayah juga pasti akan kenalkan aku ke keluarganya.”
“Semalam kamu sama ayah kamu, baik-baik aja, ‘kan?”
Aruna terdiam, namun tetap mengunyah. Mengingat kembali kejadian semalam membuatnya kesal. “Ayah nggak bicara apa-apa.”
“Hah?”
“Bertanya pun nggak. Aku bingung menghadapi ayah.”
“Kalau begitu nggak usah dipikirkan, Run.”
“Tapi masalahnya aku udah tahu, Yash.”
“Iya, tapi ayah kamu nggak ingin kamu tahu, itu mungkin kenapa semalam dia nggak bicarakan ini.”
“Iya, mungkin, Yash.”
“Kamu bersikap saja seperti tidak tahu apa-apa.”
“Kamu bisa pura-pura seolah kemarin kita nggak dapat info apa-apa. Bersikap saja seolah perjalanan kita kemarin sia-sia.”
“Ya aku ngerti, nanti kucoba.”
Mereka menikmati nasi uduk dan tempe kering dengan sangat lahap. Sebagian orang merasa kasihan karena mereka pasti sangat lelah setelah membersihkan kamar mandi sekolah.
“Aku sebel banget sama Mas Sugeng,” keluh Aruna.
“Hm. Aku juga.”
“Tadi pas mau berangkat sekolah, dia masih saja mengungkit kejadian kemarin,” adu Aruna.
“Tapi, tadi pas aku ketemu sama dia, biasa aja.”
“Iyalah, kamu cucu majikannya.”
Iyash tersenyum. “Tapi dia ada benarnya juga sih, Run. Waktu di mushola rumah sakit, ‘kan kita tidur bareng.”
“Tapi, ‘kan kita nggak ngapa-ngapain, Yash. Cuma tidur doang.”
Iyash kembali tersenyum sembari tertunduk menikmati nasinya.
Tiba-tiba Aruna menghela napas. Gadis itu kemudian bangkit. “Lupa beli minum.” Dia lalu pergi memesan dua botol teh dan memberikan satu pada Iyash.
“Makasih,” kata Iyash seraya menegakkan kepala.
“Belum dibayar, jangan bilang makasih dulu,” kata Aruna seraya duduk. Wajah datar dan perkataan yang tanpa intonasi itu membuat Iyash tersenyum kecil. Pemuda itu benar-benar tidak menyangka kalau Aruna selalu penuh dengan kejutan.
***
Sejak perjalanan ke Jakarta mereka menjadi semakin dekat. Pulang sekolah selalu bersama, istirahat selalu berdua, bahkan mereka jadi duduk sebangku. Aruna tak lagi murung dan Iyash merasa bangga karena bisa ikut andil dalam membantunya menyembuhkan hati.
Namun, ada yang berbeda dari keempat teman Aruna. Umam tampak tak bergairah sejak Iyash dan Aruna menjadi sangat dekat, dia merasa kalau Aruna sudah melupakannya, pun dengan Dennis, Bagas dan Naya, mereka merasa kalau Aruna sudah berubah.
Naya kesal ketika Aruna tak lagi duduk sebangku bersamanya. Dia cemburu dan menyebut kalau Aruna seperti kacang lupa kulitnya.
“Kamu tahu, ‘kan kacang lupa kulit? Sekarang kemana-mana berdua, kayaknya kelas, kantin, taman, bahkan jalan pun punya mereka, sedangkan kita cuma semut-semut yang tidak ada artinya,” kata Naya saat kebetulan Aruna lewat.
Namun, Aruna tak menyadari kalau apa yang dikatakan Naya ditujukan untuknya. Dia lewat dan duduk di di tempat kosong tanpa menghiraukan keempat temannya. Saat Iyash baru saja selesai mengantri makanan, Aruna melambaikan tangan.
“Hai Nay,” sapa Iyash saat melewati Naya dan ketiga temannya yang lain.
Naya tak menyahut dan bersikap judes pada Iyash, padahal sebelumnya dialah yang paling ramah diantara yang lain.
“Tiba-tiba lupa teman sendiri,” kata Naya pada akhirnya.
Iyash berhenti melangkah. “Siapa yang lupa?” tanyanya.
“Itu buktinya? Kalian sibuk pacaran, sibuk berduaan,” kata Naya seraya bangkit.
Aruna berhenti mengunyah, namun tak menoleh pada Naya.
Iyast malah tersenyum. “Kamu kenapa, Nay?”
“Naya cemburulah,” sahut Bagas.
“Naya tuh suka sama kamu, Yash,” kata Umam.
“Oh.” Iyash mengangguk, dia kemudian menatap Aruna yang masih tertunduk.
“Masa cuma oh?” kata Umam lagi.
“Aku harus jawab apa?”
“Jangan bilang kalau kamu juga suka sama Aruna.” Umam lagi yang bicara semantara Dennis, Bagas dan lainnya terdiam menatap Iyash.
“Kenapa?” tanya Iyash setelah cukup lama terdiam.
“Kamu ada perasaan sama Aruna, ‘kan?” tanya Umam kembali, sepertinya benar-benar ingin memastikan apa yang Iyash rasakan.
“Bukan urusan kalian,” jawab Iyash tanpa menatap ke arah mereka dan memilih duduk di sebelah Aruna. “Lagian apa yang aku rasakan tidak merugikan siapapun.”
“Kamu bilang apa yang kamu rasakan tidak merugikan siapapun?” Bagas mengambil alih pembicaraan.
Iyash pun mengangguk.
“Naya merasa dirugikan dengan apa yang kamu rasakan,” timpal Bagas tiba-tiba.
Iyash malah tertawa. “Nggak ada yang salah dengan apa yang dirasakan Naya, tapi kalau dia merasa dirugikan seharusnya dia tidak memutuskan untuk suka sama aku, karena aku juga tidak pernah merasa dirugikan dengan apa yang dirasakan Aruna, entah dia suka Mas Iqbal, atau suka pada salah satu dari kalian. Aku nggak masalah. Kalau kalian pikir bisa mengendalikan perasaan orang lain, kalian justru salah, kenapa nggak dari dulu coba buat mengendalikan perasaan kalian sendiri? Kenapa harus mengatur perasaan orang, hm?” kata Iyash panjang lebar.
“Kamu nggak akan pernah merasa dirugikan karena Aruna juga suka sama kamu,” kata Naya seraya bangkit.
Selama ini pura-pura benci, padahal sama-sama suka. Jadi, arti benci benar-benar cinta itu bener?" ledek Umam.
"Munafik!" tambah Naya.
“Kalian yang munafik," kata Aruna. "Aku tahu kalau kalian nggak pernah tulus temenan sama aku karena aku anak buruh pemetik teh. Memang aku nggak tahu kalau kalian suka ngomongin aku dibelakang?” tuduh Aruna.
Iyash tertunduk dan tak sanggup melihat wajah Aruna. Sejujurnya dia kecewa kenapa Aruna harus berpikir demikian.
“Kamu jangan lupa saat Iyash menjelek-jelekkan kamu di kantin waktu itu.”
“Nggak, aku nggak lupa. Justru aku kagum sama dia, karena cuma dia yang nggak pernah ngomongin aku sambil bisik-bisik.”
Iyash terperangah.
“Jadi apa artinya persahabatan kita selama ini?” tanya Naya.
“Ya, kamu pikir aja sendiri.” Aruna pun pergi dan secara perlahan satu-persatu mereka pun pergi menyisakan Iyash duduk tercenung di atas kursi. Tatapan semua orang membuat Iyash tak nyaman. Kenapa mereka harus bertengkar di kantin ditonton oleh semua siswa. Seolah memang tak memiliki privasi?