Behind The Lies

Behind The Lies
Pengakuan



Malam hari Adisty datang menemui Angkasa di kediamannya. Namun, waktu itu Angkasa sedang ada kepentingan sehingga Adisty terpaksa menunggu sampai setengah jam. Kalau bukan karena ingin menemukan jawaban, dia tak mungkin mau menunggu sampai selama itu.


“Akhirnya lo pulang juga,” kata Adisty seraya bangkit.


Di depan pintu Angkasa mengernyit. Dia hanya terkejut dengan kedatangan Adisty. Sudah lama sejak acara reuni itu mereka tak pernah lagi bertemu bahkan untuk bertukar kabar sekalipun.


“Gue ke sini ada perlu,” kata Adisty langsung.


Angkasa mendengkus seraya tersenyum sinis. “Gue pikir lu mau minta maaf."


“Buat apa? Gue nggak punya salah,” kilah wanita itu.


Angkasa mengangkat satu alisnya. “Terus lu mau apa?”


“Kenapa lo nggak pernah bilang kalau Aruna masih hidup?”


Angkasa kembali tersenyum sinis. “Gue pikir Iyash orang pertama yang akan bertanya soal ini, tapi ternyata lu, Dis. Ngapain sih, bukan urusan lu juga, ‘kan?”


"Lo tinggal jawab aja. Sebenarnya lo tau, 'kan?"


"Udah deh, nggak usah ngurusin orang lain. Udah lama juga. Lagian dia nggak akan kembali sama Iyash. Lu percaya sama gue.”


“Gue nggak peduli sama Iyash.” Adisty menunjuk dadanya sendiri. “Bagi gue Iyash udah nggak menarik. Terlepas dari dia yang tukang bohong, tukang umbar janji, tukang mainin cewek.”


Angkasa tertawa. “Fitnah apa lagi, Dis?”


“Sssttt … gue ke sini bukan untuk bahas itu.”


“Terus apa? Soal Aruna? Gue juga baru tahu dua hari yang lalu saat dia ada di rumah sakit.”


“Jangan bohong. Dua tahun lo kenal Ashilla, mana mungkin lo nggak tahu kalau dia sama Aruna kembar.”


“Sumpah. Lu bisa potong telinga gue.”


“Lu mau punya satu telinga? Sini gue kabulin.” Adisty hendak menarik satu telinga Angkasa. Namun, pria itu berhasil menghindar.


“Gue nggak bohong. Aruna meminta Ashilla untuk merahasiakan semuanya.”


“Buat apa? Balas dendam?” tuduh Adisty.


“Kenapa harus balas dendam?” Kening Angkasa mengernyit. “Emangnya lu yang bikin dia celaka?”


Sekejap kedua mata Adisty membola, dia kembali duduk di sofa. Kali ini Angkasa pun duduk bersandar seraya memeriksa ponsel.


“Jangan-jangan emang bener?” tuduh pria itu tanpa menatap Adisty dan tetap memainkan ponselnya.


Perlahan Adisty mengangguk. “Gue nyesel karena udah nurutin semua maunya Tante Ira.”


“Hah?" Seketika Angkasa menatap wanita itu. "Maksudnya?”


“Tante Ira minta gue buat jauhin Aruna dari Iyash. Dia minta gue buat nakut-nakutin Aruna.”


“Dengan nyewa preman?”


Adisty mengangguk.


“Shit!”


“Tapi, gue nggak nyuruh mereka buat mukulin Iyash sampe babak belur kayak gitu. Gue cuma minta mereka buat menggertak Iyash doang.”


“Bohong! Dari dulu dia nuduh gue, Dis. Dia sampe benci sama gue gara-gara hal yang gue sendiri nggak tahu. Waktu dia mukulin gue, akhirnya gue iyain aja tuduhannya, biar dia puas.”


“Sorry, yang tau hal ini Sarah. Mungkin nggak sih, dia yang nyuruh preman itu buat mukulin Iyash sampai babak belur?” Ashilla tampak berpikir.


“Gue nggak peduli,” dengkus Angkasa. “Lu sama dia sama aja.”


Adisty menghela napas. “Gue nyesel udah minta orang buat rusakin rem mobil Iyash.”


“Anjing!” Seketika Angkasa bangkit. “Jadi, ini semua beneran ulah elu? Lu mau dia mati, heh?”


Adisty mematung.


“Tujuan lu apa? Sampai main-main sama nyawa orang?”


“Dengerin gue dulu.” Adisty menarik tangan Angkasa untuk duduk lagi. “Beberapa minggu yang lalu, nyokap gue bilang kalau sebenarnya dia punya anak dari suami lamanya dan gue kaget kalau anak itu ternyata Aruna.”


Jantung Angkasa mencelus. Namun, dia tak ingin percaya ucapan Adisty begitu saja.


“Tapi, yang gue bingung nyokap gue nggak tahu soal Ashilla.”


Angkasa langsung membuang napas. Dia rasa Adisty memang berbohong. “Mending lu balik, Dis. Gue nggak bisa percaya omongan lu.”


“Gue serius.”


“Semuanya bener, anjing!” Adisty bangkit dan berdiri di depan Angkasa.


Angkasa mengangguk. "Thanks pengakuannya," kata pria itu seraya menunjukkan rekaman ponselnya.


Adisty terperangah. Rupanya sedari tadi Angkasa merekam percakapannya. “Lo mau apa sama rekaman itu?”


“Supaya lu nggak nyakitin Ashilla ataupun Aruna lagi.”


"Gue nggak akan nyakitin mereka, tapi sekarang lo hapus rekaman itu.”


“Kenapa harus gue hapus?”


Adisty termangu.


“Lo takut gue laporin ke polisi?”


“Gue nggak peduli.”


“Ya udah, urusan lu udah selesai berarti. Mending sekarang lu balik." Angkasa memutar kedua bahu Adisty.


"Nggak-nggak. Lo harus bantuin gue."


"Gue nggak ada urusan sama masalah lu,."


"Gue mohon, lo tolongin gue sekali lagi.”


Angkasa menghela napas seraya melepaskan genggamannya di kedua bahu Adisty. “Dis, gue sibuk banget nyiapin pernikahan. Kalau lu butuh bantuan, lu cari yang lain aja, gue nggak bisa,” tolak Angkasa halus.


Adisty berdecak. “Sekarang gue sadar mana sahabat mana yang bukan.”


“Gue udah sadar dari dulu kali, Dis. Gue nggak lupa saat lu bikin Ashilla tenggelam.”


“Lo masih dendam?” tuduh wanita itu.


“Iyalah, selama lu nggak ada itikad baik buat minta maaf–” Angkasa menggeleng. “Gue nggak bisa maafin siapapun yang udah nyakitin orang yang gue sayang.”


“Ya udah gue minta maaf.”


“Gue nggak bisa maafin, mending sekarang lu balik.” Lagi-lagi Angkasa mengusir wanita itu. “Kalau Aruna mau balas dendam. Gue bakal bantuin dia.”


Adisty merasa dongkol dengan perkataan Angkasa barusan. “Jahat lo. Kita temenan udah lama.”


“Nggak ada pengaruh apapun. Lu tetep aja nggak menghargai gue maupun Iyash, padahal dari segi usia, gue dan Iyash lebih tua.”


Adisty menghela napas. “Gue tau gue salah.”


“Terus?”


“Bantuin gue,” bujuk Adisty lagi.


 “Nggak, nggak,” kukuh Angkasa.


“Lo kenapa sih? Padahal lo belum dengar gue mau minta tolong apa.”


“Memangnya apa?” Angkasa mengedikkan dagu.


“Bantu gue buat ketemu sama Aruna dan Ashilla sekaligus.”


Seketika kening Angkasa mengernyit.


“Please, gue cuma mau bilang kalau sebenarnya ibu mereka itu masih ada.”


Angkasa terdiam beberapa saat. “Lu serius?” tanya pria itu pada akhirnya.


“Gue serius. Gue juga mau minta maaf sama mereka, ternyata mereka itu kakak gue.”


Angkasa membasahi tenggorokan dan terus menatap Adisty. "Gue nggak paham."


Adisty menghela napas. "Coba lu tanya cerita lengkapnya sama Aruna atau Ashilla."


"Cerita lengkap yang mana? Yang ini aja gue nggak ngerti, tiba-tiba lu bilang mereka kakak lu."


Tentu saja ini cukup membingungkan bagi Angkasa, yang dia tahu kalau Ashilla sejak kecil dibesarkan Ganjar, sedangkan Aruna berasal dari Surabaya dan hidup susah.


"Gue juga baru tahu kalau sebelumnya nyokap gue udah pernah nikah dan punya anak," kata Adisty pelan dan kembali duduk.


Beberapa menit keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga malam itu tak ada kesimpulan apapun dalam obrolan mereka.


Angkasa kembali meminta Adisty pulang dengan alasan capek. Sehingga Adisty pun terpaksa pulang dalam keadaan kesal karena Angkasa menolak membantunya. Sebenarnya jika Angkasa mau masih ada satu minggu menjelang pernikahan. Namun, Adisty sangat yakin kalau Angkasa memang tidak mau membantunya.