
“Sekarang aku mau kamu jujur,” pinta Aruna.
“Aku harus jujur apa?”
“Kamu bilang kamu sudah sering berbohong. Aku minta sekarang kamu jujur.”
Faran terdiam dan menatap istrinya lama. Kemudian dia menundukkan kepala dan mengecup kening istrinya. Melihat tingkah Faran, Aruna malah kesal dan lekas berbalik.
Faran tergemap. Kemudian dia kembali menegakkan tubuhnya. “Aku bohong kalau aku suka melihat kamu berlama-lama di depan laptop. Aku bohong kalau kalau aku bilang nggak suka lihat kamu berlama-lama di dapur. Sekarang aku jujur aku mau kamu masak buat aku dan menyediakan semua kebutuhanku.”
Jantung Aruna mencelus. “Kenapa nggak pernah bilang dari dulu?”
“Aku nggak mau memberatkan kamu.”
“Ya udah kalau gitu nggak usah.”
“Iya, karena Mas tahu kamu nggak pernah mau.”
Baru kali ini Faran membuat Aruna kesal. “Kata siapa aku nggak mau? Kamunya aja yang nggak pernah bilang maunya apa!”
“Sssttt … udah nggak usah dibahas, Sayang. Serius aku nggak masalah.”
“Nggak masalah?” Aruna berbalik. “Seharusnya kalau nggak masalah, kamu nggak usah bilang.”
“Kan kamu nanya. Kamu minta Mas jujur. Ya udah Mas bilang,” kata Faran tenang.
Aruna semakin geram. “Mas minta aku nggak menahan semua yang aku rasakan, tapi Mas sendiri menahannya.”
Faran menggeleng. “Terus kamu mau Mas bersikap keras kepala?”
Tangan Aruna mengepal dengan kuat dan Faran melihatnya.
“Udah-udah kamu tenang.” Faran langsung menggenggamnya. “Mas nggak tahu apa yang terjadi dan apa yang kamu rasakan sampai tiba-tiba kamu seperti ini.”
Aruna menarik napas dalam seraya memejamkan mata. “Kayaknya emang Mas nggak usah tahu aja sekalian,” katanya seraya membuka mata.
Dari nada bicaranya, Faran tahu kalau Aruna sangat kesal. “Loh kok gitu?” tanyanya tetap tenang.
“Lupain aja, aku mau tidur.” Aruna kembali berbalik dan membelakanginya.
“Sayang, nggak baik loh tidur jam segini,” kata Faran seraya mendekat.
“Nggak peduli,” jawab Aruna ketus.
Faran hanya tersenyum. Baru kali ini dia melihat tingkah gemas Aruna yang sedikit manja dan kekanak-kanakkan. Semula Aruna tak pernah bersikap begini.
Jangankan Faran, Aruna sendiri bingung dan entah apa yang terjadi dengan dirinya.
***
Sejak semalam Nadine sudah berencana untuk pergi dari rumah Iyash. Dan pagi ini dia menyeret kopernya keluar dari kamar.
Ira terkejut melihat Nadine mengeluarkan semua barang-barangnya. “Kamu mau kemana?” tanya Ira seraya mendekat.
“Saya mau ke Makassar, semalam Papa telepon dan dia ingin bertemu,” bohong Nadine.
Ira termenung. Jika memang itu alasan Nadine, tentu sulit baginya melarang wanita itu pergi. Satu-satunya cara mungkin dia harus meminta Iyash membujuknya.
“Iyash mana?”
Pria itu masih tidak menyadari apa yang dilakukan Nadine, dia malah terlihat santai menuruni anak tangga. Ira lekas mendekat pada anak bungsunya. “Kenapa kamu biarkan Nadine pergi?” bisik Ira.
Iyash langsung menatap wanita itu dan juga kopernya.
“Yash, setidaknya sampai dua hari kedepan. Teman arisan Mama mau pada datang dan Mama udah bilang kalau ada Nadine di sini.”
Iyash lekas mendekat pada wanita itu. “Kamu mau kemana?”
“Aku mau ke Makassar.”
“Oh ya udah pergi aja.”
Nadine tergemap. Dia pikir Iyash akan menahannya untuk tetap tinggal.
“Makasih udah nyempetin ke sini,” tambah Iyash.
“Loh kok gitu, Yash?” Ira panik.
“Dia mau ketemu ayahnya, Ma, kita nggak bisa larang.”
“Besok aja, sore ini teman-teman Mama mau datang.”
“Apa hubungannya?” dengkus Iyash.
“Nad, kamu di sini dulu ya,” pinta Ira.
“Kalian ada masalah?” tebak Ira.
Nadine langsung menatap Iyash. “Tante, sebenarnya aku dan Iyash nggak ada hubungan apa-apa. Kami nggak pernah pacaran.”
“Hah?” Ira segera menatap Nadine dan Iyash bergantian. Ini tidak boleh terjadi, apa yang akan dipikirkan teman-temannya nanti, dia sudah bilang kalau calon istri anaknya itu bule dari Spanyol dan tinggal lama di Jerman.
“Waktu makan malam, aku melihat Iyash memeluk seorang perempuan di lorong toilet restoran.”
Kedua mata Iyash langsung membola.
“Sorry, Yash, aku nggak sengaja.”
“Siapa, Iyash?” tanya Ira.
Tentu saja Iyash tidak akan menjawab pertanyaannya.
“Perlu Tante tahu kalau Iyash masih belum bisa menerima cinta wanita manapun karena dia–”
“Cukup, Nad,” potong Iyash. “Kamu boleh pergi.”
Nadine tergemap. “Aku pikir, aku sudah sangat mengenal kamu, ternyata aku salah.”
“Seharusnya aku nggak minta kamu datang. Maaf sudah merepotkan,” kata Iyash. Dia kemudian pergi ke meja makan.
Ira termangu, jangankan Nadine, dia saja sebagai ibu tak begitu mengenali anaknya.
“Ya sudah, Tante, saya permisi. Terima kasih karena sudah mengizinkan saya tinggal di sini.”
Ira menghela napas, kemudian menoleh pada Iyash. “Yash, tolong dong. Kamu jangan biarkan Nadine pergi.”
Iyash tak mengindahkan keinginan sang ibu. Dia juga mengurungkan niatnya untuk makan dan langsung berjalan ke dekat Nadine lalu membawakan koper wanita itu. “Aku antar kamu ke Bandara.”
Jantung Nadine mencelus. Dia menyeret kaki mengikuti Iyash keluar dari rumah itu, lalu masuk ke dalam mobil.
Tanpa menghiraukan sang ibu, Iyash lekas masuk ke dalam mobil dan siap mengemudi.
“Sebelum aku pergi, aku ingin tahu satu hal,” kata Nadine saraya menatap pria itu.
Iyash tak menyahut. Dia langsung mengendarai mobilnya dan melaju perlahan meninggalkan kediamannya.
“Do you really not have any feelings for me?”
“Sorry,” kata Iyash pelan seraya memutar kemudi.
“Yash, tolong berhenti dan lihat aku.”
Iyash mengabaikan permintaan Nadine dan tetap fokus pada kendaraannya.
“Yash!”
Seketika Iyash menginjak rem dan menoleh pada wanita itu.
“Apa selama ini kamu cuma menjadikan aku pelarian dari kekosongan hati kamu saja? Kalau memang iya, sebaiknya berhenti dan kembalilah pada mantan pacar kamu.”
Iyash termenung. Andai memang bisa, sayangnya Aruna sudah tak bisa digapai. Iyash kembali menatap ke depan dan saat hendak memutar kemudi, Nadine menahan tangannya.
“Yash, I don't know since when this feeling existed, but I love you.”
Iyash mematung. Ini kali kedua dia mendapat pernyataan cinta dari seorang perempuan dan dia masih belum terbiasa karena biasanya dia akan membuk
“Sorry I can't return your feelings.”
Perlahan Nadine menjauhkan tangannya dari tangan Iyash. “I know.”
“Maaf kalau kemarin-kemarin aku–”
“Its okay, nggak usah dibahas.”
Iyash kembali melajukan mobilnya.
“Mark melamarku, tapi aku malah mengejar kamu ke sini.”
Iyash membasahi tenggorokan.
“Tapi, terima kasih sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan menemui Papiku untuk meminta restunya.”
Iyash mengangguk. “Semoga kamu dan Mark bahagia.”
Jantung Nadine mencelus. Sakit memang, tapi setidaknya dia sudah mengakui dan dia tidak perlu mengharapkan Iyash lagi.
***