
Saat Marissa hendak masuk ke kamar Iyash. Edgar menarik tangannya dan mengajak wanita itu ke tepi dinding.
“Aku dengar kamu ke sini untuk menjemputku?” tanya Edgar yakin. Sepulang dari Masjid tadi, dia mendengar Marissa berbicara dengan Miranti di telepon.
Namun, berbeda dengan niat Marissa di awal, sekarang dia justru menggeleng. “Membujuk, bukan berarti menjemput,” kata wanita itu.
Edgar segera melepaskan genggamannya. Mungkin dia terlalu percaya diri dengan menganggap Marissa datang untuknya. Lalu apa maksud pembicaraan Marissa dan ibunya tadi?
“Kalau Kak Edgar tidak bisa menerima Kak Iyash di sini, sebaiknya Kak Edgar pulang karena Bunda jauh lebih butuh Kak Edgar.”
Edgar berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun, Marissa kembali berkata, “Nggak ada yang perlu disesali. Ini bukan salah Kak Edgar. Nggak ada anak yang minta dilahirkan,” tambah wanita itu.
Seketika Edgar menoleh. “Kamu tahu?”
Marissa mengangguk. “Maaf, Icha nggak bermaksud. Memang Bunda yang minta Icha ke sini menyusul Kak Edgar.”
Edgar menghela napas. “Kenapa kamu–” Kalimat Edgar tertahan tatkala Nenek Alma datang.
“Sugeng sedang memanggil Dokter Seto. Sekarang kamu bisa kompres Iyash dulu,” kata Nenek Alma sembari menyodorkan baskom berisi air dan handuk kecil.
“Baik, Nek.” Marissa lekas pergi membawa baskom tersebut. Lagi-lagi dia mengabaikan Edgar, padahal sebenarnya dia tidak bermaksud begitu, hanya saja keadaan yang membuatnya terlihat seperti itu.
Iyash masih menggigil kedinginan, sementara suhu tubuhnya kian meninggi. Marissa lekas memeras handuk kecil, lalu meletakkannya di atas kening Iyash.
“Kak Iyash lupa nggak bawa obatnya,” gumam wanita itu prihatin. Dia tida lupa kalau Iyash pernah berkata kasar dan meremehkan dirinya. Hanya saja kejadian satu malam itu membuatnya merasa berutang budi pada pria itu. Mungkin jika tidak ada Iyash, dialah yang saat ini merasakan sakit itu, atau mungkin karena tembakan Marlo dia sudah tak ada di dunia.
Marissa mengambil handuk kecil dari kening Iyash dan kembali membasahinya, saat hendak mengompres Iyash kembali. Dokter Seto datang bersama Sugeng.
“Siapa yang sakit, Pak?” tanya Dokter Seto.
“Cucu saya, Dok.” Juragan Hartanto bangkit, lalu mundur.
Marissa pun bangkit untuk memberi ruang pada Dokter memeriksa Iyash. Dia hendak membawa baskom ke dapur, namun, Lastri mengambil alih baskom tersebut dari tangannya. “Biar Mbak bawa ke belakang,” kata Lastri.
Marissa mengangguk.
“Sebelumnya kenapa?” tanya Dokter sembari memeriksa keadaan Iyash.
“Kak Iyash habis operasi, Dok,” jawab Marissa.
“Ini?” Dokter menunjuk perban yang melilit di lengan Kak Iyash.
“Dia mengalami luka tembak.”
“Oh.” Dokter mengernyit khawatir.
“Kak Iyash nggak infeksi, ‘kan, Dok?” tanya Marissa takut.
“Ini memang menunjukkan gejala awal infeksi, tapi, untungnya bisa segera ditangani.”
Jantung Marissa mencelus sampai tak terasa air matanya terjatuh. Kalau bukan karena melindunginya Kak Iyash tidak akan seperti ini.
Nenek Alma menoleh ketika melihat Marissa menangis. Dia lekas merangkul bahu gadis itu.
Marissa kemudian menoleh. “Nenek.”
“Nggak apa-apa. Iyash anak yang kuat. Sepuluh tahun yang lalu dia pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini,” ungkap Nenek Alma.
“Obatnya ada?” tanya Dokter usai menyuntikkan antibiotik ke tubuh Iyash.
“Ketinggalan,” jawab Nenek Alma. “Kebetulan kedua cucu saya ini baru datang tadi sore.”
“Oh, jadi, Iyash ini masih dalam perawatan? Lalu kenapa bisa pergi dari rumah sakit? Kabur?” tanya pria berjas putih tersebut.
Marissa hanya bisa tertunduk mendengar tuduhan Dokter Seto. Disanggah pun tak ada gunanya karena memang Iyash pergi diam-diam.
Sugeng langsung mengangguk.
“Saya sarankan Iyash tetap di sini sampai benar-benar pulih.” Dokter kemudian mengganti perban di lengan Iyash.
Iyash meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
“Untung kamu cepat ditangani. Lain kali jangan begini lagi.”
Iysah sadar segala sesuatu ada konsekuensinya. Mungkin inilah konsekuensi dari rasa ingin diakui Aruna, ingin terlihat hebat dan ingin terlihat sudah baik-baik saja. Sepuluh tahun tentu bukan waktu yang singkat hidup dengan bayang-bayang masa lalu. Tak ada yang salah karena hidup punya jalan damainya masing-masing.
Juragan Hartanto tersenyum. “Mungkin Allah menegur kamu, Yash.”
“Bapak.” Nenek Alma menggeleng pada juragan Hartanto.
“Ibu ingat kapan terakhir kali Iyash ke sini?”
Nenek Alma mengangguk. Tentu dia masih ingat kapan cucu kesayangannya itu berkunjung. Tepatnya satu tahun setelah Iyash pergi ke Spanyol, itupun untuk bertemu Aruna, sejak saat dia tahu berita itu, dia mengurung diri dalam dunianya sendiri sampai lupa caranya membuka hati.
“Cucu kita ini tidak punya waktu untuk berlibur, bahkan istirahat pun sepertinya jarang, mungkin tidur juga cuma satu jam sehari,” tutur Juragan Hartanto.
“Kakek benar. Tak ada yang kebetulan, mungkin Tuhan mengirim Kak Iyash ke sini untuk istirahat,” jawab Marissa.
“Tuh, Ibu dengar? Marissa juga setuju sama Bapak.”
“Iya. Ibu setuju sama Icha.”
“Loh, bukannya sama Bapak?”
Dokter Seto tersenyum. “Tuh, Yash. Kamu tenang aja, selama kamu di sini tidak akan ada yang membuat kamu lelah, seperti lelahnya kamu diperbudak ibu kota.”
Iyash tersenyum kecil mendengar celotehan Dokter Seto.
“Kalau begitu saya permisi, Pak, Bu.”
“Terima kasih, Dok.”
Dokter mengangguk. “Yash, cepat sembuh. Nanti obatnya jangan lupa diminum.”
“Tenang, Dok. Ada calon istrinya di sini, dia yang akan merawat Iyash,” kata Nenek Alma sembari merangkul bahu Marissa.
Marissa terkejut sampai menatap wajah Nenek Alma. Namun, Ibu mertuanya Ira itu tidak melihat dirinya, wanita delapan puluh tahun itu malah fokus menatap Iyash yang sama terkejutnya dan bahkan tatapan dan senyum Nenek Alma membuat Iyash salah tingkah.
Sementara sedari tadi Edgar merasa disisihkan. Dia sadar dengan keberadaan Iyash di sini, dia bukan siapa-siapa, bahkan sejak kedatangannya ke tempat itu, dia hanyalah tamu.
“Oh, begitu? Jadi, Iyash ke sini untuk mengenalkan calon istri?” goda Dokter Seto. “Bagus. Cuma mungkin waktunya kurang tepat.”
“Ehem.” Akhirnya Iyash berdehem. Namun, bukan untuk menyanggah, tapi untuk meminta semua orang pergi dari kamarnya. “Kepala saya sakit, Dok, apa saya sudah boleh istirahat?”
“Tentu. Kalau begitu saya permisi, mari, Pak, Bu.”
Dokter keluar diikuti Sugeng, kemudian disusul Edgar, lalu Nenek Alma, namun, sebelumnya Nenek Alma membelai puncak kepala Iyash terlebih dahulu sembari mendoakannya. Juragan Hartanto pun melakukan hal yang sama, lalu setelah itu keluar dari kamar Iyash. Sementara Marissa mematung di depan pria itu.
“Kenapa kamu masih di sini?” tanya Iyash.
Marissa terpegun. Dia ingin bertanya tentang perkataan Nenek Alma. Namun, mungkin Iyash akan marah karena pria itu pasti sudah sangat lelah.
“Nanti aku ke sini lagi buat ngasih obat.”
“Terserah.” Iyash lekas memejamkan mata.
Marissa menghela napas, lalu kemudian mematikan lampu dan keluar dari kamar Iyash.