
“Oke, teman-teman makasih udah pada dateng. Acara malam ini cuma melepas rindu sama makan-makan aja sih, kalau ada yang punya ide ayo kita ramaikan,” kata Adisty membuka acara yang dihadiri oleh orang-orang terdekat saja, padahal dia mengundang semua teman seangkatannya yang berjumlah empat puluh orang, tapi yang hadir bahkan tak sampai setengahnya.
“Sebelum makan gimana kalau kita main dulu deh, biar seru,” usul Martin.
“Main tebak gaya aja, gimana?” usul Angkasa.
“Nggak seru, gimana kalau sambung cerita,” kata Sarah.
“Nah boleh tuh, biar nggak biasa,” seru Lisa.
“Kalau truth and dare?” kata Kevin.
“Oke-oke, gimana kalau kita mainkan semuanya?” pertanyaan Adisty langsung mendapat persetujuan. “Pertama sambung kata, mulai dari Angkasa maju ke Iyash terus muter ke sini dan berakhir di pacarnya Angkasa.”
Semua orang diam dan tak membantah, nampaknya semua terserah Adisty sebagai penyelenggara acara. “Temanya Cinta Pertama,” sambung wanita itu. “Yang nggak setuju boleh keluar dari permainan.”
Semua orang diam di tempat duduknya masing-masing, bahkan tak ada yang bergeser sama sekali. “Nggak ada yang keluar, berarti semuanya setuju.” Adisty kemudian mengedikkan dagu pada Angkasa.
Angkasa pun bangkit dan bersiap memulai cerita, seolah memang sudah ada di kepalanya. “Kisah ini bermula ketika seorang pemuda bernama,” dia memberi jeda. “Rangga, menyukai sahabatnya sendiri yang bernama Cinta.”
“Huuuh.” Seketika sorakan menggema, sedangkan Ashilla tersenyum simpul.
“Mereka tumbuh bersama, ya … layaknya kakak adik lah. Suatu hari si Rangga ini menyatakan perasaannya pada Cinta, namun, Cinta menolaknya.” Angkasa tersenyum dan mengakhiri ceritanya. Kemudian dia duduk. “Sambung, Yash,” katanya pada Iyash.
Perlahan Iyash bangkit. “Cinta bilang kalau dia menyukai orang lain,” kata Iyash santai. “Rangga sedih dan memutuskan untuk pergi, pindah ke kota lain. Di sana dia bertemu dengan seorang perempuan cantik bernama Anastasya.”
Ceritanya mungkin mulai menarik karena semua orang terus menyimak. Angkasa memang hanya menyumbang kisah diawal saja dan Iyash yang akan menambah inti dari cerita itu sendiri.
“Rangga menyukai Anastasya dari pertama mereka bertemu. Seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka bisa dekat.” Iyash terdiam menatap Adisty. “Rangga pikir, Cinta adalah cinta pertamanya, ternyata bukan. Dia justru merasakan apa yang dirasakannya pada Anastasya lebih dari yang dia rasakan pada Cinta sebelumnya. Rangga–” Iyash memberi jeda dan menoleh pada Ashilla hingga sepasang mata mereka bersirobok, “selalu ingin melihat Anastasya tersenyum, Rangga juga selalu berharap saat jendela terbuka dia dapat melihat Anastasya di awal paginya.”
Jantung Ashilla tiba-tiba berdegup, apalagi Iyash tak mengalihkan pandangannya sampai kalimat tersebut selesai.
“Anastasya adalah gambaran dari segala keindahan, Rangga lebih dari sekedar menyukainya. Anastasya pernah bilang. ‘Kamu harus belajar karate, taekwondo atau thifan untuk meyakinkan ayah kalau kamu bisa melindungiku’.” Seketika Ashilla tertunduk mendengar Iyash berkata seakan itu adalah sesuatu yang pernah terjadi.
Iyash segera tertunduk untuk menyembunyikan embun di kedua matanya. Kemudian dia duduk perlahan.
Ashilla lekas berbisik pada Angkasa. “Dia nangis?” tanyanya.
“Iya, dia memang lebay. Orang ini cuma cerita,” jawab Angkasa. Entah kenapa Ashilla justru meyakini kalau apa yang dipaparkan Iyash tak sekedar cerita.
“Rangga berjanji akan berlatih sekuat tenaga untuk menunjukkan bukan cuma pada ayahnya Anastasya saja, tapi juga pada seluruh dunia, kalau dia bisa melindungi Anastasya.” Sambung pria di sebelah Iyash. Namun hanya itu yang dia tambahkan selebihnya dia duduk kembali.
Perlahan Sarah bangkit dan melanjutkan cerita tersebut. “Rangga akhirnya bisa menjadi apa yang Anastasya inginkan. Namun, ayahnya Anastasya tidak merestui cinta mereka.”
Sarah menambahkan konflik yang cukup dramatis. Sekarang beralih pada Adisty. “Cinta menyesal menolak Rangga, dia baru menyadari kalau harinya lebih berwarna dengan adanya Rangga, Cinta pun memutuskan pacarnya, dia kembali pada sahabatnya itu dan berkata kalau dia juga sebenarnya suka pada Rangga. Rangga senang mendengar hal itu, akhirnya mereka kembali bersama dan perlahan Rangga melupakan Anastasya.”
“Mengubah jalan cerita,” gumam Ashilla pada Angkasa. Namun, pria itu tak mendengarnya dan malah bangkit meninggalkan kursi karena dia baru saja menerima telepon. Ashilla menoleh dan tak sengaja pandangannya kembali bersirobok dengan Iyash.
Cerita kembali bersambung dilanjutkan oleh Lisa. “Cinta pikir Rangga memang sudah kembali padanya, namun kenyataannya pria itu sudah terlalu mencintai Anastasya dan Cinta tidak terima. Dia mulai berbuat curang untuk merebut Rangga dari Anastasya.”
Lisa kembali duduk di sebelah Adisty. Wanita itu baru saja menyangkal cerita yang sebelumnya ditambahkan Adisty.
“Heh Lisa! Ceritanya kok jadi gitu, seharusnya Cinta itu hidup bahagia sama Rangga,” protes Adisty.
“Gue bingung, Dis, lagian kalau langsung bahagia mereka nggak kebagian sambung cerita,” kilah Lisa sembari menunjuk yang lain.
Adisty mendengkus, “Lo bisa jadiin si Anastasya pelakor.”
“Sorry nggak kepikiran.” Lisa mengedikkan bahu.
“Ya udah diulang!”
“Nggak bisa gitu, Dis. Yang ada si Rangga balikan sama si Anastasya. Udah ah, gue mau sambung,” kata Martin yang kebetulan duduk di sebelah Lisa. “Cinta membuat Anastasya menderita, dia terus memperingatkan agar Anastasya menjauhi Rangga.” Pria itu kemudian duduk kembali.
“Gitu doang? Anjing lo Martin, otak lo dangkal,” dengkus Adisty kesal.
“Wooi, santai dong ini cuma cerita,” kata Martin tak terima. Adisty malah mendelik.
Perlahan Alvin bangkit. “Anastasya bukan perempuan lemah, dia tidak menyerah memperjuangkan cintanya dengan Rangga agar mendapat restu ayahnya, dia tidak peduli dengan ancaman-ancaman Cinta terhadapnya.” Setelah cerita tersambung, Alvin kembali duduk.
Disambung perempuan di sebelahnya. “Cinta semakin geram, dia mulai merencanakan niat jahat untuk melenyapkan Anastasya.” Mita kembali duduk.
“Rencana pertama gagal, namun, rencana kedua dia berhasil membuat Anastasya meninggal dengan menabraknya,” sambung Thalia.
Jantung Ashilla mencelus, dia menoleh menatap Iyash. “Kok meninggal?” tanyanya pada Iyash pelan. Iyash lekas mengedikkan bahu.
“Rangga menangis, dia benar-benar sedih karena kehilangan cinta pertamanya dan bersumpah akan menemukan orang yang membunuh Anastasya,” sambung pria yang duduk di sebelah Ashilla.
Beberapa detik Ashilla mengedarkan pandangan pada semua orang yang menatap ke arahnya, perlahan kemudian dia bangkit seraya menarik napas. Awalnya dia ragu untuk mengatakan ini, namun melihat semua orang memintanya untuk segera mengakhiri cerita tersebut, akhirnya terpaksa dia katakan, “Rangga bukan pendendam.” Ashilla memberi jeda sembari menggaruk tengkuk lehernya, dia kemudian menarik napas.
“Rangga adalah pria baik yang kehilangan kompas hidupnya. Ayahnya Anastasya datang dan meminta maaf pada Rangga.” Perlahan Ashilla larut dengan cerita tersebut, hingga tak sengaja air mata jatuh melintas di kedua pipinya. “Dia memberikan buku diary milik Anastasya untuk Rangga.” Ashilla menyeka pipi basahnya.
“Di buku itu Anastasya menulis, kalau Rangga harus tetap bahagia, meski tanpa dirinya.” Ashilla kembali menambahkan, “Anastasya memang sudah tidak ada, namun, dia tetap hidup dihati Rangga.”
Ashilla kembali duduk dan dia mendapat tepuk tangan dari Angkasa.
“Bagus,” kata Angkasa.
Adisty menatap sinis ke arah mereka. “Sad ending.” Wanita itu lalu bertepuk tangan. “Tepuk tangan dong ceritanya bagus. “Kisah cinta yang tidak hanya terhalang restu ayah tapi juga tidak direstui alam semesta.” Dia lalu menatap Iyash. “Tragis,” sambungnya sinis.