
Iyash dan Aruna pergi ke Jakarta menggunakan kereta. Keluarga Iyash, terutama sang ayah batal menjemput dirinya lantaran ada banyak urusan di Jakarta. Sementara Gusman tetap di Surabaya. Nampaknya Gusman benar-benar tak bisa membawa dirinya kembali ke kota besar tersebut, baginya itu sama dengan kembali ke masa lalu.
Sesampainya di Jakarta, Iyash membawa Aruna ke rumahnya. Sore itu Aruna mengedarkan pandangannya mengitari kediaman Iyash.
“Mas Iqbal juga tinggal di sini,” kata Iyash sembari meletakkan tas Aruna dekat tasnya di depan pintu.
“Emang nggak apa-apa?”
“Iya, kamu bisa tinggal di sini untuk beberapa waktu.”
Aruna menoleh dan menatap Iyash. “Makasih,” ucapnya tak enak hati. Dia semakin merasa kalau orang-orang akan menganggapnya memanfaatkan Iyash.
“Nggak apa-apa. Besok kita berkeliling sambil daftar ke kampus baru. Ciee mau kuliah,” goda Iyash sembari menyikut lengan Aruna.
“Kalian kapan sampai?” tanya Hasa yang juga baru datang dari kantor.
“Baru, Pa. Oh iya ini Aruna.”
Aruna tersenyum ramah dan mengecup punggung tangan ayahnya Iyash.
“Iyash sudah cerita tentang kamu. Ayo masuk-masuk. Mama mana, Yash?”
“Nggak tahu, Pa.”
Hasa terus berjalan masuk dan meninggalkan Aruna dan Iyash berada di ruang tamu.
Iyash kemudian menatap Aruna. “Run, kamu duduk dulu.”
Aruna mengangguk dan langsung mendaratkan bokong di sofa ruang tamu rumah Iyash. Rumahnya begitu megah dan terlihat sangat bersih. Aruna tidak tahu kalau pembantu di rumah tersebut ada tujuh orang. Salah satu dari mereka datang membawakan air minum untuknya.
Tiba-tiba saja seorang pemuda berdiri di depannya dan menatapnya lama. Sungguh itu membuatnya tidak nyaman.
“Kak Rasya,” panggil Iyash dan pemuda itupun langsung menoleh.” Kenalin ini Aruna, pacarku.”
“Astaga. Pulang ke rumah bukannya bawa prestasi, malah bawa pacar,” ledek Rasya.
Iyash tahu kalau Kakaknya hanya bercanda, karena semua orang tahu kalau Iyash selalu menjadi juara kelas setiap tahunnya. Namun, perkataan Rasya malah membebani pikiran Aruna, kepercayaan dirinya langsung berkurang saat itu juga.
“Run, ini Kak Rasya, Kakakku,” kata Iyash.
Aruna lekas bangkit dan memperkenalkan diri, sedangkan Rasya hanya tersenyum dan tak mengulurkan tangan, pun dengan Aruna yang awalnya menunggu Rasya terlebih dahulu, namun Rasya ternyata tak berminat bersalaman dengannya.
“Mama mana?” tanya Iyash.
“Di rumah Opa, soalnya Oma sakit. Sebaiknya besok kamu ke sana,” kata Rasya.
“Yah, besok aku mau jalan-jalan sama Aruna.”
“Pacaran nanti aja, utamakan keluarga,” kata Rasya serius dan itu membuat Aruna menyadari kalau kedatangannya memang hanya membuat Iyash menjauh dari keluarganya sendiri.
“Ya udah besok sekalian aku kenalin Aruna ke Oma sama Opa.”
“Ya udah bawa aja kalau memang itu penting,” dengkus Rasya seraya melenggang pergi.
“Kak Rasya!”
Iyash segera menatap Aruna. “Maafin Kak Rasya kalau kata-katanya nggak enak di dengar, Run,” kata Iyash seraya duduk di sebelah Aruna.
“Iya, nggak apa-apa.” Seolah memang tidak masalah, padahal Aruna benar-benar dibuat tak nyaman.
“Aku antar kamu ke kamar.”
“Hah?”
“Iya. Kamu bisa tidur di kamar tamu, kebetulan kamar itu kosong, kalau ada yang menginap baru kamar itu diisi.”
“Kalau Kak Iqbal?”
“Dia tidur di kamarku, tapi kata Papa dia jarang pulang. Suka nginap di rumah temannya, kebetulan sambil mengajar, jauh katanya kalau bolak-balik.”
“Oh.”
“Ya udah yuk.” Iyash lekas bangkit dan mengambilkan barang-barang Aruna. Sementara gadis itu mengikutinya dari belakang. Iyash membukakan pintu dan Aruna mematung di depannya.
“Masuk.”
“Yash, aku mau cari kontrakan aja.”
“Bayarnya dari mana, udah mending kamu di sini aja.”
Aruna merasa direndahkan dengan kalimat Iyash, padahal tentu saja Iyash tidak bermaksud demikian, namun Aruna mendadak sensitif setelah mendapat kalimat tidak menyenangkan dari Rasya.
Aruna membasahi tenggorokan. “Aku bisa kerja,” katanya pelan seraya masuk ke dalam kamar.
“Kerja di mana, Run, cari kerja di Jakarta susah, apalagi kamu belum punya kenalan.”
Aruna menyadari itu. Di Jakarta dia hanya punya Iyash. Bagaimana kalau Iyash pergi ke Spanyol? Ayahnya memang benar kalau dirinya tidak boleh bergantung terus pada pemuda itu.
“Makasih, Yash.”
“Sama-sama. Aku tinggal dulu ya.”
Aruna mengangguk.
***
Pagi-pagi sekali Iyash mengajak Aruna ke rumah kakek dan neneknya dari pihak ibu. Dia tak membawa buah tangan apapun selain Aruna. Meski sebenarnya tak pantas Aruna dikatakan demikian.
Motor berhenti di kediaman Wahid. Iyash langsung turun diikuti Aruna. Dia menekan bell dan seorang pembantu mengizinkannya masuk.
“Iyash.” Pemuda itu langsung mendapat pelukan dari sang ibu.
“Mama.”
“Dari tadi, Oma udah nanyain kamu.”
Ira menghela napas, kemudian tersenyum. Dia ingin menceramahi Iyash karena tak seharusnya anak bungsunya itu membawa orang lain ke sini.
Aruna membalas senyum tak ramah tersebut. Saat hendak mengulurkan tangan untuk memberi salam, Ira berpaling dan merangkul bahu Iyash untuk mengajaknya bertemu sang nenek. “Oma sudah kangen sama kamu.”
Aruna merasa gondok. Tak ada yang benar-benar menginginkan dirinya selain Iyash. Maka dari itu dia memilih pergi keluar dan menunggu Iyash di teras yang sepi.
Iyash sendiri tidak menyadari kepergian Aruna. Barulah ketika dia hendak mengenalkan Aruna pada neneknya, dia menyadari kalau gadis itu tidak ada.
“Aruna mana?”
Ira mengedikkan bahu.
“Bentar, Oma.” Iyash lekas keluar dari kamar Omanya dan pergi mencari Aruna. “Run,” panggilnya.
Namun, Aruna tidak mendengar lantaran Wahid baru saja mengajaknya mengobrol.
“Jadi, Iyash bawa teman dari Surabaya?”
Aruna mengangguk malu.
Wahid tersenyum lembut. “Nama kamu siapa?”
“Aruna, Pak.”
“Aruna.”
Aruna kembali mengangguk.
“Di Jakarta tinggal di mana?”
“Di rumah Iyash.”
“Loh, masa tinggal di rumah laki-laki. Nggak baik, mending kamu cari tempat kos.”
“Tapi, Iyash bilang–”
“Masalah biaya, biar Opa yang bayarin. Daripada tinggal sama Iyash, nggak enak diomongin tetangga.”
Aruna membasahi tenggorokan.
“Run,” panggil Iyash setelah beberapa detik hening.
Aruna mengerjap dan senyum getir menatap Iyash.
“Aku cariin, kirain di mana.” Iyash mendekat. “Opa?” Dia baru menyadari keberadaan kakeknya dan langsung mengecup punggung tangannya.
“Yash, kapan pulang?” tanya Wahid seraya menepuk punggung pemuda itu.
“Kemarin sore.”
“Oh. Tadi Opa ngobrol sama Aruna.”
“Oh yah? Ngobrol apa?” Iyash kemudian menatap Aruna yang hanya tersenyum kikuk ke arahnya. Iyash benar-benar tidak menyadari kalau Aruna memang tidak nyaman. Sekali lagi ayahnya benar kalau dia tak bisa terus bergantung pada orang lain, terutama Iyash, meski Iyash adalah pacarnya. Ya, hanya pacar. Orang yang terikat dengannya karena sebuah perasaan. Bukan saudara, tapi mendadak lebih penting dari saudara.
“Ah, biasa cuma kenalan,” kata Wahid menginterupsi. “Iya, ‘kan, Aruna?”
Aruna mengangguk.
“Sudah ketemu sama Oma?”
“Sudah, Opa.”
“Baguslah.”
“Oh iya, Run, aku mau ngenalin kamu ke Oma.” Iyash menarik tangan Aruna, namun kaki gadis itu tertahan bersama keraguan. Dia takut akan mendapat hinaan lagi. “Kenapa? Ayo, Omaku baik.”
Aruna mengangguk dan memaksakan kakinya berjalan mengikuti Iyash. Sesampainya di kamar neneknya Iyash, Aruna mematung. “Ayo, Run,” ajak Iyash antusias. “Oma, ini loh Aruna, cantik, ‘kan?”
Aruna tersenyum seraya mendekat ke ranjang neneknya Iyash. Dia kemudian menunduk dan mengecup punggung tangan keriput wanita yang sudah seminggu ini hanya bisa berbaring di ranjang.
“Namanya siapa?” tanya Oma pelan.
“Aruna,” jawab Iyash.
“Iyash, Oma nanya gadis cantik ini, bukan kamu.” Senyum ramah wanita tua itu membuat hati Aruna menghangat.
“Aruna, Oma, Aruna Anastasya.”
“Nama yang bagus. Oma dengar kamu teman Iyash dari Surabaya?”
Aruna mengangguk. Namun, Iyash lekas meralat kata teman. “Dia pacarku,” kata Iyash.
“Ah,” Ira bangkit, “kamu masih terlalu kecil untuk pacaran.” Wanita itu kemudian pergi seolah tak ingin mendengar bantahan Iyash.
“Nggak apa-apa masih kecil, asal tahu batasan,” bela Oma pelan.
Iyash mengangguk.
“Oma sakit apa?” tanya Aruna prihatin.
“Asma.”
“Oh. Cepat sembuh, Oma.”
“Udah sembuh.” Oma tersenyum dan menepuk punggung tangan Aruna. “Kamu cantik, pantas Iyash suka.”
“Iyash suka bukan karena dia cantik, Oma,” kilah pemuda itu.
“Bohong, jangan percaya laki-laki.”
Aruna tersenyum. Sejak kemarin, baru kali inilah dirinya dibuat nyaman.