Behind The Lies

Behind The Lies
Pertemuan Kedua



Seorang wanita paruh baya datang dan meletakkan beberapa gelas minuman di meja beserta setoples biskuit.


“Bu, ini cucu Ganjar,” kata Marwan.


“Hm, Masya Allah, Alhamdulillah, cantik ya.”


Ashilla tersenyum sembari memberi salam pada wanita berhijab panjang tersebut.


“Setelah Papanya pergi, mau tidak mau, Ashilla ini menjadi pewaris tunggal saya,” kata Ganjar.


“Kami turut berduka atas meninggalnya Papa kamu, padahal kami sudah lama sekali tidak bertemu.”


Ashilla tersenyum.


Tiba-tiba seorang pria berdiri di belakang Ashilla. “Ada apa ya, Pak?” tanya pria tersebut pada Marwan.


Sontak Ashilla menoleh dan dia terkejut bukan main melihat pria itu. Seketika terngiang kalimatnya kemarin. “Besok atau lusa jika Tuhan takdirkan kita bertemu, kita pasti akan bertemu lagi.”


“Yash,” Marwan bangkit begitupun dengan Ashilla. “Maaf mengganggu, ini ada Pak Ganjar dan cucunya ingin berkenalan sama kamu.”


“Oh.” Pria itu lekas mengulurkan tangan di depan Ashilla. “Iyash Wiyahasa Ardhana.”


Ashilla menarik napas dalam-dalam. Tidak mungkin dia menolak perkenalan itu karena dia sendiri yang memintanya. “Ashilla.”


Iyash tersenyum. “Sudah tahu.”


Ashilla menarik tangannya dari genggaman Iyash. Dia nampak gugup, jantungnya kembali berdegup, kejadian kemarin, aroma musk dan pelukan hangat itu kembali terasa, belum lagi kecupan-kecupannya. Kenapa dia harus mengingatnya lagi?


“Kenapa, apa kalian sudah bertemu sebelumnya?” tanya Ganjar seraya bangkit.


Iyash segera membungkukkan badan sembari bersalaman dengan Ganjar. “Kemarin saya mencari alamat rumah Bapak untuk mengembalikan KTP Ashilla yang terjatuh di depan resto.”


“Oh, jadi kamu orangnya?” Ganjar menepuk punggung Iyash.


Iyash hanya tersenyum. Sementara Ashilla benar-benar tertunduk, entah apa yang ada di pikirannya saat ini sehingga dia tak berani menunjukkan wajahnya pada Iyash.


“Terima kasih, Nak. Maaf kemarin cucu saya tidak mengajak kamu masuk. Lain kali mampir ke rumah, kita ngopi.”


“Insya Allah, Pak.”


Ashilla menghela napas. Perlahan kemudian dia kembali duduk.


“Cucu saya jatuh cinta sama taman buatan kamu,” kata Ganjar sembari menepuk bahu Ashilla hingga terkesiap. Debar dibalik dadanya kian menggema kala teringat dengan semua kejadian kemarin yang serba kebetulan itu.


“Saya anggap itu sebagai pujian,” kata Iyash.


“Pujian atau ujian,” goda Ganjar.


Ashilla semakin tertunduk sembari menggaruk kening. nampaknya dia malu dengan godaan sang kakek.


Iyash tertawa kecil begitupun dengan Ganjar, sementara Ashilla semakin tak nyaman.


Ganjar meminta Iyash untuk duduk. “Coba jelaskan apa sebenarnya yang akan kamu lakukan pada bangunan tua ini?”


“Membuatnya lebih nyaman.”


“Dengan mendesain ulang?” tanya Ganjar.


Iyash terdiam dan menatap Ashilla yang hanya tertunduk menyembunyikan kegugupannya. Beberapa menit lalu Iyash menjabat tangan wanita itu dan berhasil membuatnya teriris. Selama hampir sepuluh tahun dia hidup dengan keyakinan yang berlawanan dengan semua orang. Kini saat Tuhan pertemukannya dengan Ashilla, dia merasa kalau Aruna memang telah kembali untuknya.


Ganjar berdehem karena Iyash terus menatap cucunya. “Padahal menurut saya,” katanya seraya bangkit dan tengadah menatap bangunan tua di depannya. “Nyawa dari setiap kenangan itu ada di sini.”


Iyash menatap Marwan dan memberi sinyal. Marwan pun langsung menanggapi Ganjar. “Pak, Iyash ini cucu dari pemilik yayasan.”


“Oh … begitu?” Ganjar terperangah seraya menoleh pada Iyash, dia lekas berbalik dan langsung menepuk bahu Iyash. “Kenapa tidak bilang? Saya ini sahabat Wahid, kakek kamu.”


Iyash tersenyum. “Oh.”


“Serba kebetulan, dunia benar-benar sempit.”


“Dulu saat Kakek tahu kalau saya ingin menjadi arsitek, tugas pertama saya setelah kembali ke Indonesia adalah merenovasi bangunan ini.”


“Oh, amanat,” kata Ganjar seraya duduk kembali di sebelah Ashilla. “Saya sedih saat mendengar Wahid meninggal. Jujur dia adalah satu-satunya kawan terdekat saya.”


Iyash hanya mengangguk. Dia tidak tahu kalau kakeknya bersahabat dengan kakek dari wanita yang sangat mirip dengan Aruna itu.


“Iyash ini arsitek lulusan Valencia Spanyol, Pak,” ungkap Marwan.


“Wah hebat,” puji Ganjar. “Kalau cucu saya ini,” dia menepuk bahu Ashilla lagi, “Dosen sastra di salah satu universitas di New York.”


Iyash seketika kembali menatap Ashilla yang pura-pura tidak mendengar percakapan mereka, padahal diam-diam Ashilla mengagumi Iyash sebagai laki-laki cerdas, terlepas dari kejadian kemarin.


“Delapan tahun, Pak.”


“Lumayan lama ya?”


“Iya, S1 dan S2, kemudian berlatih menjadi profesional dengan bekerja di sana.”


“Hebat, kamu sama Ashilla cocok, sama-sama suka belajar. Malah Ashilla rencananya mau kuliah lagi, iya, ‘kan, Shil?”


Ashilla hanya mengangguk.


“Jurusan apa?” tanya Iyash penasaran. Seketika Ashilla mengangkat wajah dan menatap pria itu.


“Mungkin ekonomi bisnis,” kata Ashilla pelan.


“Iya, karena dia meneruskan bisnis saya, jadi mau nggak mau harus belajar lagi.”


“Nggak perlu kuliah. Tinggal dipelajari saja, lagi pula nanti banyak menyita waktu kamu,” usul Iyash.


Ashilla termenung menatap pria tersebut. Mungkin Iyash memang ada benarnya, menyita banyak waktu dan itu pasti akan sangat melelahkan.


“Kenapa harus kuliah lagi, gurunya ada di sini,” kata Iyash sembari menatap Ganjar. “Mumpung masih banyak kesempatan dan peluang, kamu tinggal curi ilmu beliau yang berhasil menjalankan bisnis hingga puluhan tahun.”


Seketika pikiran Ashilla terbuka setelah mendengar nasehat Iyash.


“Yang dikatakan Iyash ternyata benar, Shill. Lagi pula Opa juga tidak akan membiarkan kamu mengurus itu sendirian tanpa bimbingan,” ucap Ganjar.


Ashilla mematung menatap kakeknya. Entah kenapa obrolan kakeknya dan Iyash begitu berbobot sehingga membuka jalan pikirannya. Sebenarnya Ashilla hanya menantang dirinya sendiri, namun setelah dipikir-pikir sepertinya memang akan merepotkan jika dia memaksakan diri untuk tetap kuliah.


“Menambah kesibukan memang hobinya,” sambung Ganjar.


“Oh pantas masih semangat ingin kuliah.”


Ganjar tertawa. Sementara Ashilla hanya diam dan tak memberi tanggapan apa-apa. Setelah kejadian kemarin nampaknya dia benar-benar ingin menghilang dari hadapan pria itu.


“Opa, Shilla boleh pergi?” tanya Ashilla.


“Mau kemana?” Seketika kening Ganjar mengernyit. Bagaimana tidak, dia meminta Ashilla meluangkan waktunya, bukan tiba-tiba meminta pergi meninggalkan acara tersebut.


“Ke rumah sakit.”


“Mau apa lagi? Semalam bukannya udah?”


“Kasihan Angkasa nggak ada yang jaga.”


“Dia udah besar.”


“Iya, Opa, tapi Ashilla khawatir.”


“Jadi, kamu mau pergi?”


“Iya. Boleh ya, Opa.”


“Nggak, kamu tetap di sini.”


Ashilla berdecak. Sementara semua orang yang ada di sana menatap ke arah mereka.


“Maaf,” kata Ganjar tak enak hati lantaran Ashilla baru saja mengacaukan acaranya.


“Iya, tidak apa-apa,” kata Iyash.


Ganjar kemudian bangkit, dia juga meminta Ashilla untuk berdiri dan ikut dengannya. Ada hal penting yang harus dia sampaikan pada cucunya itu.


Ashilla mengikuti Ganjar sedikit menjauh dari keberadaan Iyash, Marwan dan istrinya Marwan.


“Shill, Opa sudah minta sama kamu untuk meluangkan waktu kamu sebentar, lagi pula ini akhir pekan.”


“Tapi, Opa, Shilla nggak nyaman,” kata Ashilla pelan.


“Nggak nyaman? Kamu sendiri yang minta untuk bertemu dengan arsitek itu, Opa kira kamu memiliki banyak pertanyaan.”


“Awalnya memang iya, tapi sekarang nggak.”


“Kenapa?”


Tentu saja Ashilla tak mungkin menjawab dan memberitahu tentang kejadian kemarin. “Maaf, Opa.”


“Sebentar saja. Opa yakin Angkasa juga akan mengerti.”


“Iya.” Akhirnya Ashilla menuruti keinginan kakeknya, Mau bagaimana lagi, dia tidak terbuka soal alasan yang mengganjal di hatinya pada Ganjar.