
Dewi memutar pandangan. Tiba-tiba dia sedih karena tak bisa terlibat mengurus acara pernikahan anaknya sendiri. Berandai-andai pun tak ada gunanya, dia sudah lelah dengan kata itu.
Adisty langsung mengajaknya ke panggung pelaminan. Jantungnya berdegup tak karuan, dia takut Ganjar akan melihatnya di sini.
“Ibu.” Ashilla langsung menyambut ibunya dengan pelukan. “Makasih udah datang.”
“Iya, sama-sama, Nak.” Dewi tersenyum lebar. Dia kemudian membelai pipi Ashilla. “Kamu terlihat sangat cantik.”
Ashilla membalas senyum itu. “Aku pikir ibu nggak akan ke sini.”
“Ibu pasti datang. Aruna mana?” Dewi mengedarkan pandangan.
“Tadi sama suaminya.”
“Suami?” Dewi tampak berpikir dan mengingat. “Oh. Ibu lupa kalau Aruna sudah menikah lebih dulu.”
Ashilla kembali tersenyum. Sementara Adisty tampak asyik mengobrol dengan Angkasa.
“Oh iya. Ini Adisty, adik kamu.”
Ashilla tersenyum menatap wanita yang masih asyik mengobrol dengan Angkasa.
“Dis, ini Kakak kamu,” kata Dewi.
Adisty menoleh, namun tak tersenyum sama sekali. Meski dia pernah meminta Angkasa untuk mempertemukannya dengan Ashilla dan Aruna, nyatanya Adisty masih saja bersikap tak ramah.
Angkasa sudah menduga kalau Adisty tak benar-benar menerima hubungannya dengan Ashilla dan Aruna. Dia cukup mengenal Adisty yang keras kepala dan merasa memiliki kekuasaan, persis seperti Roy, ayahnya sendiri.
“Dis, kasih selamat dong sama kakak kamu,” pinta Dewi.
“Udah tadi sama Angkasa.”
“Kan, beda ….”
“Ah, sama aja.”
“Makasih udah datang,” kata Ashilla.
Adisty malah membuang muka dan menatap ke arah lain. Jantung Ashilla mencelus. Sepertinya benar kata Aruna. Pantas Aruna tidak pernah suka pada Adisty. Mereka mungkin saudara seibu, tapi tak selamanya saudara harus bersikap selayaknya saudara, ada banyak musuh yang berasal dari saudara sendiri, apalagi hanya saudara seibu, tentunya selain beda ayah, mereka juga berbeda didikan.
Dari jauh Miranti memperhatikan, begitupun dengan Ganjar. “Kamu mengundang dia, Mir?” tanya Ganjar.
“Nggaklah, Pa,” tolak Miranti cepat.
“Terus kenapa dia bisa datang?” tanya Ganjar lagi.
“Biarin aja, Pa. Selama dia tidak cari perhatian dengan membuat keributan,” kata Miranti. “Banyak orang kalau kita mengusirnya dari sini.”
Ganjar mengangguk.
“Lebih baik kita pura-pura tidak melihatnya saja, Pa.”
“Mungkin kamu benar, tapi, Mir, kamu tidak lihat bagaimana Ashilla memeluknya? Mereka tampak akrab.”
“Dari tadi sama semua tamu juga begitu, Pa.” Sebenarnya Miranti juga merasakan hal itu, tapi dia tidak ingin Ganjar memikirkannya.
Ganjar terus menatap ke arah pelaminan dan Dewi tampak mengobrol dengan Ashilla. Mereka benar-benar terlihat begitu akrab. Jangan-jangan Dewi sudah menceritakan semuanya pada Ashilla dan Aruna, duga Ganjar.
“Papa mau istirahat sekarang?” tanya Miranti.
“Nggak.”
“Pa.”
“Kenapa mereka masih di sana, Mir?” tanya Ganjar khawatir.
“Biarin ajalah, Pa.”
“Tapi, gimana kalau Dewi mengatakan semuanya.”
“Semuanya? Maksud Papa apa?”
Ganjar termangu. Nampaknya Miranti tidak tahu apa yang Ganjar maksud. “Masih ada yang Papa sembunyikan dari aku?” tebak Miranti.
“Antar Papa ke kamar, Mir.”
“Nggak-nggak. Papa harus kasih tahu aku, maksud Papa apa? Semuanya itu apa?”
“Edgar mana?” tanya Ganjar mengalihkan pembicaraan.
“Pa.”
“Edgar mana?”
“Sama Asa,” jawab Miranti kesal.
“Di mana?”
“Mira nggak tahu, Pa.”
“Edgar mungkin bisa mengantar Papa ke kamar.” Ganjar memutar roda kursi rodanya.
“Udah Papa di sini aja,” tahan Miranti. “Sekarang jelasin sama aku.”
“Miranti!” Kali ini Ganjar terpancing emosi.
“Apa lagi yang Papa sembunyikan dari aku?” desak Miranti.
Dewi menoleh dan menatap pria yang duduk di atas kursi roda. “Selamat malam, Pak.” Dewi mendekat.
“Nggak usah basa-basi. Siapa yang mengundang kamu?”
Kedua mata Ashilla membola. “Aku,” teriaknya, sebelum Ganjar kembali mengajukkan pertanyaan. Dia kemudian turun dari pelaminan.
“Sayang,” panggil Angkasa panik.
“Kenapa kamu harus mengundangnya?” tanya Ganjar pada Ashilla yang sudah berdiri tak jauh di depannya.
“Memang kenapa, Opa? Ini pernikahanku. Aku bebas mengundang siapapun yang aku mau.”
“Tapi, bukan berarti harus mengundang dia.”
“Kenapa? Sama seperti Aruna yang menikah dihadiri ayah, aku juga ingin menikah dihadiri Ibu.”
Ganjar terperangah menatap Ashilla. “Gusman ada karena dia menjadi wali untuk Aruna, sedangkan dia tidak begitu memberi peran penting dalam pernikahan kamu.”
“Karena tak ada satupun yang melibatkan saya,” timpal Dewi cepat.
“Untuk apa? Bahkan doa pun tak akan terkabul jika itu keluar dari mulut wanita sepertimu,” hina Ganjar.
Semua orang terperangah mendengar ucapan Ganjar.
“Opa!” teriak Ashilla. “Ibu nggak salah, aku yang minta dia buat datang.”
“Lo yang minta Mama datang supaya bisa mempermalukan Mama lagi, iya, ‘kan? Supaya kailan bisa menghinanya lagi,” tuduh Adisty.
“Kamu nggak perlu ikut campur,” kata Ashilla.
“Nggak ikut campur gimana? Dia nyokap gue!” tegas Adisty.
“Kamu mungkin nggak bisa menerima kenyataan kalau sebenarnya dia adalah ibuku, bahkan aku lebih dulu lahir dari kamu.” Setelah tahu kalau Adisty adalah adiknya, dia merasa kalau Adisty perlu menghargainya.
“Nggak peduli siapa yang lahir duluan, yang jelas gue nggak terima ada yang menghina nyokap gue.”
“Ajari anak kamu bicara yang sopan, Dewi!” teriak Ganjar sampai terbatuk.
“Pa.” Miranti mencoba menenangkan sang ayah.
“Dis, sebaiknya lu minta maaf,” kata Angkasa.
“Gue nggak salah apa-apa, gue cuma bela nyokap gue,” kata Adisty.
“Gue tahu, tapi sebaiknya lu nggak keras kepala.”
“Anjing, keras kepala lu bilang?” Suara Adisty semakin meninggi. Semua orang terkejut mendengar teriakan kasar Adisty malam itu. “Terus gue harus diem aja gitu? Lo mau nyokap lo dihina?”
“Shill, kamu sudah lihat bagaimana didikan ibu kamu? Harusnya kamu bersyukur karena Opa yang sudah membesarkan kamu,” kata Ganjar sembari memegang dada kirinya sendiri.
“Seenggaknya didikan Mama nggak bikin gue hamil duluan,” bela Adisty.
“Adisty!” teriak Dewi.
Jantung Ashilla mencelus. Perlahan dia mundur sampai punggungnya tak sengaja menabrak Edgar yang baru saja datang. “Ada apa, Shill?”
Ashilla memegang dada. Perkataan Adisty telah melukai dirinya.
Edgar berdiri tegak di sebelah ibunya, sementara Angkasa lekas mendekat pada Ashilla dan merangkulnya erat. “Bund, ini ada apa?” tanya Edgar.
Miranti hanya menatap anak bujangnya tanpa bisa menjawab pertanyaan simpel, namun, memiliki jawaban yang rumit.
Adisty pun terdiam menatap Edgar. Setidaknya penampilan gagah Edgar cukup mengalihkan perhatian Adisty dan juga menumbuhkan kembali urat malu wanita itu. “Ma, ayo kita pulang.” Dia menarik tangan sang ibu dan pergi tanpa berkata apapun lagi.
Semua orang terdiam sampai beberapa detik sampai akhirnya Ganjar kembali berbicara. “Siapa yang mengundangnya ke sini?” tanya Ganjar lagi, seolah tak cukup dengan jawaban Ashilla sebelumnya.
“Aku, Opa,” jawab Angkasa sembari maju ke depan. “Adisty teman SMP-ku.”
“Perempuan tadi temanmu?” tanya Ganjar memastikan.
Angkasa mengangguk.
“Berhenti berteman dengan dia, atau batalkan pernikahan kamu dengan Ashilla,” kata Ganjar.
“Pa. Kenapa jadi kayak gini sih?” Miranti menatap sang ayah. “Papa yang memulai keributan, tapi kenapa jadi menyalahkan Angkasa?”
Ganjar menatap Edgar. “Antar Opa ke kamar.”
“Bund?” Edgar mengedikkan dagu.
“Bawa Opa kamu ke kamar,” titah Miranti pada anak bujangnya.
Edgar menghela napas dan mengikuti perintah sang ibu.
“Shill, sebaiknya kamu juga istirahat.”
Ashilla mengangguk. Dia bersama Angkasa hendak pergi ke kamar.
“Angkasa,” panggil Miranti.
Angkasa menoleh. “Iya, Bund?”
“Omongan Opa tadi, jangan dimasukin ke hati. Bunda tahu kamu bisa memaafkannya.”
Angkasa mengangguk. Kemudian dia pergi sembari merangkul Ashilla yang terus menangis. Siapa yang tidak kecewa, jika di hari bahagianya, malah terjadi keributan, bahkan mendapat hinaan.