
Sepulang dari masjid Faran terkejut melihat sang istri yang tertidur mengenakan mukena, tak biasanya Aruna seperti ini. Eh entahlah, Faran tidak tahu kebiasaan Aruna mengingat selama ini mereka menjalin hubungan jarak jauh.
Sebenarnya Aruna tidak tidur, dia masih menikmati kesedihannya dalam hening. Sementara Iyash sudah mematikan ponselnya beberapa saat lalu karena takut ketahuan suaminya Aruna.
Faran tahu Aruna sedih bukan karena dirinya mau pulang besok, tapi karena kiriman tadi. Entah apa isinya sampai membuat Aruna sesedih ini. Faran ikut tidur dan memeluk istrinya dari belakang.
“Pagi tadi kamu marah-marah nggak jelas. Sekarang kamu nangis tanpa sebab,” bisik Faran. Maksudnya tanpa sebab yang tidak diketahui olehnya.
Aruna tak menyahut, meski dia mendengar perkataan suaminya.
“Kamu boleh cerita sama Mas, anggap Mas teman seperti biasanya kamu menghadapi masalah, jangan menahan perasaan kamu. Ungkapkan saja.”
“Aku cuma lagi kangen sama ayah,” lirih Aruna. Barang-barang dari Iyash membuatnya seperti terlempar ke masa lalu.
“Yakin cuma ayah?” tanya Faran. Aruna tak pernah sampai seperti ini jika rindu ayahnya.
Aruna berbalik. “Mas nuduh aku bohong?”
“Nggak, Sayang, Mas cuma nanya.”
“Sama aja. Aku memang lagi kangen ayah.”
“Ya udah sini Mas peluk lagi.”
Aruna menarik napas.
“Apa ini ada kaitannya dengan wanita yang dibicarakan Angkasa?” tebak Faran. Dia terus memancing-mancing hanya agar Aruna mau bercerita padanya.
Aruna menggeleng.
“Oh, Mas tahu, ini pasti karena Mas mau pulang, iya, ‘kan?” Meski tak pernah Aruna bersedih karena kepergiannya. “Ya udah kalau gitu Mas nggak jadi pulang.”
Aruna berdecak. “Aku nggak apa-apa.”
“Yakin?”
“Iya.”
“Tapi, beneran kalau kamu mau Mas tetap di sini, ya udah.”
“Nggak usah. Aku bukan istri egois.”
“Ya udah kalau gitu berhenti sedihnya.”
Aruna menarik napas, kemudian mengangguk.
***
Sejak semalam Aruna berusaha menyembunyikan kesedihannya dari Faran. Dia hanya tidak ingin Faran menunda kepulangannya. Dan pagi ini dia sudah berada di Bandara mengantar sang suami.
Faran tersenyum. “Sebelum pernikahan Ashilla, aku sudah di sini.”
Aruna mengangguk. “Aku tunggu. Salam buat ibu sama ayah.”
“Aku akan bawa mereka buat kamu,” kata Faran seraya memeluk sang istri.
Faran menoleh pada Edgar. “Titip Aruna.”
“Nggak ah,” tolak Edgar. “Ribet, dia bisa jaga dirinya sendiri kok.”
Faran tersenyum.
“Aku bukan Asa, ngapain harus dijagain Kak Edgar. Males.” Aruna bergidik.
“Nah itu, satu Asa aja ribet apalagi ditambah Aruna.” Edgar membuang muka.
“Tuh, ‘kan, Mas,” rengek Aruna pada suaminya.
Edgar tergelak. “Matanya pasti bengkak semalaman abis nangis,”” ledek pria itu.
Faran tersenyum menatap sang istri yang sengaja memakai kacamata hitam untuk menutupi mata bengkaknya.
“Memang setiap kamu pulang dia kayak gini?” tanya Edgar.
Tentu saja tidak. Itulah yang membuat Faran merasa heran, semalam Aruna terus bersedih sampai mogok makan malam.
“Kayak baru setahun, dua tahun, kalau udah tujuh tahun LDR-an, udah suhu namanya,” tambah Edgar. Pria itu ternyata banyak bicara juga, Aruna heran tak seperti beberapa tahun ke belakang yang bahkan bertanya saja tidak pernah.
“Udah ah, aku pamit, cepat siap-siap, katanya mau urus perusahaan gantiin Ashilla,” kata Faran.
“Terus kenapa waktu itu Ashilla mau?” tanya Aruna penasaran.
“Dibujuk Bunda. Kalau aku nggak bisa dibujuk” Edgar tertawa. “Shilla orangnya mudah kasihan,” tambah pria itu berbisik.
“Kalau Aruna?” tanya Faran memastikan sejauh apa Edgar tahu tentang adiknya.
“Cengeng,” jawab Edgar singkat.
Aruna mengernyit. “Cepat berangkat, Mas. Kak Edgar makin ngaco.”
Kedua pria itu tertawa.
“Ya udah aku berangkat ya, hati-hati di sini.” Faran membelai puncak kepala Aruna, kemudian mengecupnya.
“Mas juga hati-hati.”
Faran mengangguk. Dia kemudian pergi usai mengucap salam. Sementara Aruna mematung cukup lama dan berpikir apa yang akan dia lakukan setelah ini. Tiba-tiba Edgar meletakkan kunci di atas telapak tangannya. “Bawa mobil, aku mau tidur, semalam abis begadang.”
“Hah?”
“Cepet.” Pria berambut ikal itu berjalan lebih dulu.
“Ih.” Aruna mengikutinya dari belakang. Tak sedikit para wanita melirik kakak sepupunya itu seraya tersenyum, sementara dia tahu Edgar pasti mengabaikan mereka. Aruna mempercepat langkahnya dan melirik Edgar, benar saja pria tiga puluh tiga tahun itu tak satupun melirik wanita di sana yang secara terang-terangan mengagumi ketampanannya.
“Yakin nggak mau cari jodoh?” tiba-tiba Aruna melontarkan pertanyaan yang terlalu pribadi.
“Cewek bikin ribet, enak hidup sendiri,” jawab Edgar datar.
“Jangan gitu, nanti kemakan omongan sendiri.”
“Ck, nggaklah. Cuma Faran sama Angkasa yang mau ribet ngurusin kalian.”
“Sombong,” dengkus Aruna seraya menyusul pria berjaket jeans tersebut. “Ini serius hidup sendiri nggak enak, ada hal yang harus dipenuhi, jangan-jangan kakak sukanya sama laki-laki ya?”
“Ih kamu ini.” Edgar menutup mulut Aruna. Dia kemudian masuk ke dalam mobil.
“Kak?” Aruna segera menyusulnya masuk ke dalam mobil.
“Nggak usah banyak ngomong, cepat jalan,” titah pria itu sembari memasang sabuk, namun kemudian menurunkan sandaran kursinya, lalu tidur. Aruna tidak salah dengar saat pria itu bilang mengantuk karena memang semalam dia tidak tidur sama sekali.
“Iya.” Aruna segera melajukan mobilnya.
***
Sudah sejak tiga puluh menit yang lalu Iyash duduk di taman panti asuhan ditemani anak-anak yang sedang asyik bermain. Perasaannya resah, dia takut Aruna tidak datang dan dia akan kembali menutup sore dengan perasaan hampa.
Sementara Aruna baru saja keluar secara diam-diam dari rumah Ganjar menggunakan taksi. Sebenarnya bisa saja dia pergi dengan mobil yang sering dipakai Edgar karena kunci mobil tersebut ada padanya. Namun, dia tidak ingin cari masalah, sehingga memutuskan menggunakan taksi saja.
Dalam perjalanan berkali-kali Aruna menatap arlojinya. Dia pergi terlalu sore, wajar jika terjebak macet karena jam-jam segitu menunjukkan waktunya para karyawan pulang bekerja.
Iyash pikir kalau Aruna mungkin tidak akan datang mengingat hari yang mulai gelap, apalagi hujan mulai turun, sepertinya semesta tak mengizinkannya untuk bertemu dengan istri orang. Iyash mulai putus asa.
“Yash, hujan, masuk ke dalam,” titah Bu Yanti.
“Sebentar lagi, Bu,” kata Iyash resah. Dia masih di gazebo dan duduk di sofa taman, sementara hujan semakin lebat.
Tak berapa lama taksi berhenti di depan panti.
“Benar di sini, Pak?” tanya Aruna pada sopir taksi.
“Iya, Bu, di sini.”
Aruna mengernyitkan dahi. “Sebentar, Pak.” Dia kemudian mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Iyash untuk memastikan kalau dia tidak salah datang.
Sambungan telepon terhubung, ponsel Iyash berdering.
“Aku di depan,” kata Aruna usai panggilannya terjawab.
“Aku ke depan.” Iyash lekas bangkit dan membawa payung.
“Iya, Pak di sini.” Aruna segera membayar ongkos, kemudian turun saat melihat Iyash berjalan ke arah taksi. Pria itu lekas memayunginya. Ada debar menggema bersahut angin dan hujan dari balik dada keduanya.
“Aku pikir kamu nggak akan datang,” kata Iyash.
Aruna hanya tersenyum. Dia bingung harus menjawab apa. Mungkin Tuhan memberinya kesempatan sehingga mengirim Faran pulang ke Bali.