Behind The Lies

Behind The Lies
Hal Penting



Senin pagi, Miranti bersiap pergi. Asa juga sudah berdandan rapi. Kemarin Ashilla menceritakan sekolah yang direkomendasikan Iyash. Dia yakin Asa pasti suka bersekolah di sana.


Mereka pergi diantar Yayan, sementara Ashilla sendiri pergi ke kantor. Sepagi apapun dia akan tetap terjebak macet, belum lampu merah yang membuatnya tertahan beberapa menit.


Ketika sedang asyik berkendara, tiba-tiba panggilan telepon masuk dari Angkasa. Ashilla lekas menyambungkan ponsel dengan earphone  tanpa melihat siapa yang melakukan panggilan.


“Sayang?” Terdengar suara Angkasa diujung telepon. "Aku udah dengar semuanya dari Bunda."


"Semuanya?" Ashilla kaget, dia takut Miranti juga menceritakan tentang Iyash.


"Bunda bilang kemarin kamu sampai pingsan gara-gara mikirin ini."


Ashilla menghela napas. Jantungnya berdegup, takut jika tiba-tiba Angkasa membicarakan tentang Iyash.


"Kenapa kamu berpikir aku bisa mendapatkan yang lebih baik dari kamu?"


"Aku merasa kalau–" Kalimat Ashilla tercekat.


"Kalau apa?" Angkasa langsung menyela saking tidak sabarnya menunggu apa yang akan disampaikan Ashilla kepadanya.


"Bunda bilang tujuan akhir dari hubungan adalah pernikahan dan aku belum siap untuk itu. Aku nggak mau memberi kamu banyak harapan."


Angkasa berdecak. "Kamu ini bicara apa? Kalau kamu pikir aku bisa mendapatkan yang lebih, kamu salah. Aku memang nggak tahu apa yang terbaik untukku, tapi aku yakin kamulah orangnya."


Ashilla kembali menghela napas. "Statusku nggak jelas."


“Status apa?”


“Aku ini nggak jelas, perawan bukan, janda juga bukan.”


“Aku nggak peduli. Yang jelas aku mau kamu. I don't know why, but–” Angkasa menjeda kalimatnya. “I love you, I miss you and I need you. Realy-realy need you. Cuma sama kamu aku merasa hariku lebih baik dan menjadi begitu sempurna.”


Angkasa memang jarang berkata manis, tapi Ashilla tahu kalau pria itu sangat serius.


“Aku bingung cara meyakinkannya sama kamu, tapi aku benar-benar takut kehilangan kamu, semoga jangan pernah ada lagi kata putus.”


Ashilla termenung, namun sembari tetap mengemudi dengan cukup pelan.


“Sayang, kamu dengar aku, ‘kan?”


“Iya. Iya, aku dengar kamu. Maaf aku lagi mengemudi.”


“Oh kamu nggak bilang lagi di mobil. Gimana pekerjaan kamu, semuanya lancar?”


“Perlahan membaik.”


“Syukurlah. Kalau begitu kamu fokus dulu berkendara, hati-hati.”


“Iya, makasih.”


“Sayang?”


“Hm?” Ashilla pikir Angkasa akan mematikan panggilannya.


“Dua hari kemarin aku memberi waktu untuk aku dan diriku, semua sudah aku pikirkan dan aku memang salah. Aku minta maaf.”


Ashilla menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.


“Jangan ancam aku dengan kata putus lagi. Aku takut.”


“Hm.”


Jawaban dan sahutan Ashilla membuat Angkasa tak percaya diri. Dia benar-benar meragukan apakah Ashilla memang masih mencintainya seperti apa yang dikatakan Miranti atau memang sudah tak ada lagi rasa itu dan apa yang dikatakan Miranti hanya kebohongan? Ah tapi mana mungkin Miranti membohonginya.


Angkasa menarik napas dalam. “Nanti aku telpon lagi.”


“Iya.”


Dengan berat hati Angkasa menutup panggilannya, meski masih ada perasaan yang mengganjal dalam benaknya. Namun, dia tak bisa mengikat Ashilla jika dia tak mau kehilangannya.


Sambungan benar-benar terputus dan Ashilla merasa kalau Angkasa bersedih dengan kata putus kemarin. Dia memang terlalu sering mengucap kata putus, seolah memang itu yang dia inginkan padahal jelas-jelas hatinya menolak.


***


Siang hari setelah sampai rumah dan menitipkan Asa pada Ganjar, Miranti kembali pergi, dia meminta Yayan mengantarnya ke kantor. Di perjalanan dia menelepon pada putrinya itu.


“Shill, Bunda ke kantor kamu sekarang, kamu lagi di mana?”


“Ya sudah ketemu di restoran aja, sambil makan siang,” kata Miranti.


“Boleh. Bunda sama Asa?”


“Nggak, Bunda sendiri, pengen bicara hal penting sama kamu.”


“Ya sudah Shilla berangkat sekarang,” kata Ashilla sembari merapikan beberapa file. Dia kemudian bangkit dan berjalan ke luar ruangan. Miranti pun sudah menutup panggilan sejak beberapa menit yang lalu.


Mereka berjanji untuk bertemu di restoran terdekat yang berada tak jauh dari kantor dan tak jauh dari tempat Yayan mengemudi saat ini, meski sebenarnya Yayan bisa mengantarkan Miranti sejauh mana pun, asal jangan ke New York karena itu adalah hal gila. Naik pesawat saja bisa belasan jam, apalagi menggunakan mobil. Sudahlah Yayan hanya sedang melamunkan hal yang tidak mungkin terjadi.


Miranti sudah sampai lebih dulu dan dia memesan steak untuknya dan juga untuk Ashilla, agar saat Ashilla sudah datang, mereka bisa langsung makan bersama. Ashilla datang bersamaan dengan pelayan yang baru saja meletakkan dua piring steak di meja. Minuman yang akan mereka nikmati adalah jus lemon. Ashilla tak masalah apapun akan dia makan jika Miranti sudah memesan, pun dengan minumannya.


“Dari tadi, Bund?” tanya Ashilla seraya duduk.


“Belum lama, Bunda langsung pesan, jadi kita bisa langsung makan.”


Ashilla mengangguk dan menatap makanan di meja. “Ada hal penting apa, Bund? Shilla sampai kepikiran.”


“Bunda juga kepikiran,” kata Miranti sembari memotong steak dan menyantapnya, begitupun dengan Ashilla. “Asa suka sama sekolahnya dan dia mau sekolah di sana.”


“Wah bagus dong,” ucap Ashilla sembari mengunyah. Tentu saja dia bahagia karena nanti Asa akan punya banyak teman.


“Tapi dia nggak diterima.”


Seketika Ashilla terperangah, garpu dan pisau tertahan di kedua tangannya. “Kenapa, Bund?”


“Sekolah menolak anak tanpa adanya status pernikahan,” tutur Miranti.


Jantung Ashilla mencelus. “Maksud, Bunda?”


“Asa nggak punya akta kelahiran, sedangkan salah satu syarat membuatnya adalah surat nikah, KK dan KTP kedua orang tua, begitu yang Bunda dengar dari kepala sekolahnya.”


Ashilla membasahi tenggorokannya. Kedua matanya berlinang air mata, dia sedih karena tak bisa memberikan Asa hak sebagai anak.


“Bunda minta maaf, seharusnya Bunda beritahu kamu sejak awal, tapi Bunda lupa. Bunda nggak tahu kalau sekarang akta kelahiran menjadi syarat wajib masuk sekolah.”


Dada Ashilla sesak, mendadak dia tak nafsu menyelesaikan makannya. “Terus Shilla, harus gimana, Bund?”


Miranti menatap sang anak cukup lama. “Untuk saat ini mungkin Asa homeschooling lagi.”


Ashilla merengut, pasalnya tadi dia mendengar kalau Asa suka sekolahnya dan ingin sekolah di sana, mana mungkin dia kembali menahan Asa di rumah.


“Atau kamu menikah secepatnya. Angkasa sudah siap melamar kamu, kamu tinggal terima dia dan bentuk keluarga bahagia, setelah itu kamu bisa memberi Asa hak penuh sebagai anak.”


“Tapi, Bund, usia pernikahan dan usia Asa jauh. Memangnya bisa?”


Miranti terdiam beberapa detik menatap wajah putrinya.


“Tunggu, Bund, memangnya akta dipakai hanya pas sekolah? Terus pas dia bikin paspor gimana?” Akhirnya Ashilla menyadari hal itu.


Wajah muram Miranti seketika berganti dengan gelak tawa. Sudah setua itu masih suka mengerjai anaknya. “Bunda bercanda, Asa diterima kok. Lagi pula membuat akte kelahiran nggak pakai surat nikah juga bisa.”


Ashilla menghela napas. “Pantas dari tadi Shilla merasa pernah bikin, tapi lupa lagi.”


“Paspor? Kamu juga lupa?” Miranti kemudian menggeleng. “Masa Asa diselundupkan, Shill, Shill.”


“Bunda ih, bikin Shilla jantungan.”


Miranti masih terkekeh. Tiba-tiba datang seorang pria bersetelan jas mendekat ke arah mereka. “Miranti?”


Seketika senyum dan tawa Miranti memudar. “Hasa?”


Ashilla mengernyit menatap sang ibu dengan pria bernama Hasa tersebut. Perlahan Miranti bangkit. “Shill, Bunda pulang. Kamu bayar makanannya.”


 “Loh, Bund.” Ashilla lekas bangkit, namun Miranti sudah terlanjur pergi dan pria itu mengejarnya. Ashilla nampak kebingungan, namun dia harus menyelesaikan pembayaran di restoran tersebut.


Sementara Miranti terus berlari dikejar Hasa dan tiba-tiba dia merasa tangannya ditahan pria paruh baya tersebut. “Tolong jangan menghindar. Kamu apa kabar?” tanyanya.


Miranti membasahi tenggorokan dan lekas berbalik. Mungkin ada kalanya dia harus berhenti lari dari masa lalu dan selesaikan semuanya.


“Apa perempuan di dalam itu anak kita?” tanya Hasa pelan. Namun masih terdengar oleh Ashilla yang kebetulan sudah berdiri di depan resto sejak beberapa detik yang lalu.


Jantung Ashilla mencelus. Sebenarnya dia bisa saja langsung menyimpulkan, namun sebaiknya tidak karena apa yang dia dengar dan apa yang dia lihat belum tentu benar.