Behind The Lies

Behind The Lies
Surabaya Masih Sama



Iyash pikir dengan adanya Marissa, dia mungkin bisa memanfaatkannya, sehingga dia tak perlu repot-repot meminta Edgar untuk pulang. Lagi pula dia sendiri tidak mengenal pria itu, meski statusnya adalah saudara seayah.


Satu setengah jam dari Jakarta ke Surabaya, lalu kemudian dua jam dari Bandara menuju kampung halaman sang Kakek, sudah biasa bagi dirinya, tapi mungkin tidak bagi Marissa. Di jalan dia bertanya pada sopir tentang seberapa jauh perjalanan mereka. Sopir hanya menjawab lumayan dan itu membuat Marissa bingung.


“Jadi, gimana? Lumayan dekat, lumayan jauh?” tanya wanita itu memastikan.


“Dekat,” sahut Iyash yang beberapa detik lalu baru saja terbangun dari tidurnya.


Wanita itu menoleh dan menatap Iyash yang sedang mengetik pesan pada seseorang. Iyash baru saja mengirim pesan pada Aruna kalau dia sedang berada dalam perjalanan, tak lupa Iyash memotret dan mengirimkan gambar tersebut pada Aruna.


Tentu saja Aruna bahagia karena Iyash memenuhi keinginannya.


“Nanti di depan ada pertigaan, Bapak lurus aja,” kata Iyash sembari menatap ke depan. Dia kemudian menoleh pada Marissa, namun wanita itu lekas berpaling lantaran tidak ingin terpergok sedang menatapnya sejak tadi.


Jalan yang mereka pijak sudah halus tersentuh aspal, tak seperti sepuluh tahun lalu, jalan masih terasa kasar berbatu. Setelah melewati pertigaan yang Iyash sebutkan, mereka akhirnya sampai di depan sebuah rumah.


“Di sini, Pak,” pinta Iyash. Usai membayar dia kemudian turun lebih dulu, lalu Marissa mengikutinya dari belakang.


“Iyash.” Pria itu langsung mendapat sambutan dari sang penghuni rumah. Nenek Alma langsung memeluk cucu kesayangannya. Kejutan sekali Iyash datang.


Iyash tersenyum sembari sedikit meringis lantaran tangannya tertekan oleh pelukan sang nenek.


“Ini kenapa?” tanya Nenek Alma yang baru menyadari kalau cucunya baru saja merasa sakit.


“Cuma patah tulang,” bohong Iyash.


Marissa mengernyit. Mungkin dia bertanya-tanya kenapa Iyash harus berbohong.


“Hah? Patah tulang kamu bilang cuma?”


“Nggak usah khawatir, Nek. Iyash baik-baik aja kok.” Iyash hanya malas membicarakan kejadian kemarin malam. Dia juga tidak ingin membuat neneknya khawatir.


“Eh, ini siapa?” tanya Nenek Alma setelah menyadari kehadiran Marissa.


Gadis dua puluh dua tahun tersebut tersenyum dan langsung meraih tangan Nenek Alma lalu mengecupnya.


“Dia Marissa, anak Om Restu,” jawab Iyash.


“Restu? Kamu anaknya Restu?” tanya Nenek Alma terkejut.


Marissa hanya tersenyum.


“Cantiknya.” Nenek Alma mencubit ujung dagu Marissa.


Sedangkan Iyash memilih masuk ke dalam rumah Nenek Alma. Tak banyak berubah sejak sepuluh tahun lalu. Ornamennya tetap dibiarkan seperti ini hanya beberapa bagian yang sudah rusak saja yang diganti. Mereka sepakat untuk tidak mengubahnya agar anak-anak merindukan kampung halaman.


“Ayo, masuk,” ajak Nenek Alma. “Jangan sungkan,” tambahnya sembari merangkul pinggang Marissa. “Dulu Papa kamu sering main ke sini. Bahkan, meski Hasa tidak bisa pulang ke sini, Restu tetap datang. Dia sudah seperti anak kami,” tutur wanita delapan puluh tahun tersebut.


Marissa terharu mendengar penuturan Nenek Alma. Dia kemudian duduk disamping Iyash. Sementara Nenek Alma pergi ke dalam untuk memanggil sang suami lantaran cucu yang dia rindukan datang tanpa memberi kabar. Alih-alih marah, tentu saja mereka merasa bahagia, meski tak mempersiapkan apapun untuk menyambutnya.


 Iyash bangkit dan memeluk sang kakek. Seperti sebelumnya Iyash menyebut kalau tangannya mengalami patah tulang.


“Kamu ini kayak tukang,” ledek Juragan Hartanto.


Iyash hanya tersenyum.


“Ini siapa?” tanya pria delapan puluh satu tahun tersebut.


“Marissa, Pak. Anaknya Restu, Bapak masih ingat? Terakhir ke sini, waktu Iyash masih SMA,” ungkap Nenek Alma. “Ibu nggak tahu Restu punya anak secantik ini,” pujinya.


Juragan Hartanto mengangguk seraya tersenyum. Sedangkan Marissa sendiri lekas memberi salam sambil mengecup punggung tangannya.


“Umur nggak ada yang tahu,” kata juragan Hartanto seraya duduk di sofa rumahnya.


Senyum Marissa perlahan memudar. Mungkin sudah nasibnya menjadi yatim sejak SMP.


“Di minum dulu,” kata Nenek Alma. “Kebetulan Mbak Lastri sedang masak. Nanti kita makan.”


Marissa mengangguk seraya mengambil gelas dari atas meja. Sedangkan Iyash masih tampak santai. Sebenarnya dia merasa tangannya berdenyut nyeri, apalagi dia lupa membawa obat.


“Marissa nggak banyak bicara ya, beda sama ayahnya,” goda Nenek Alma.


“Jangan minta dia bicara, cerewet, berisik,” sahut Iyash seraya duduk tegak.


Marissa membasahi tenggorokan dan tersenyum kikuk.


“Oh begitu?” Nenek Alma kembali mencubit gemas ujung dagu Marissa.


Marissa kembali tersenyum.


Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di atas buffet berdering nyaring.


“Bu, telepon,” kata juragan Hartanto, seolah sudah hafal bagaimana bunyi ponsel istrinya.


Nenek Alma tersenyum. Dia kemudian bangkit dan pergi meninggalkan sofa. Sementara itu Lastri kembali dengan sepiring pisang goreng yang masih panas.


“Iya, di sini. Baru sampai,” jawab Nenek Alma.


“Nggak bilang mau pergi ke sana. Mana dia lagi sakit,” keluh Ira resah.


“Dia ke sini nggak sendiri kok, Ra, sama Marissa.”


“Marissa?”


“Iya, anaknya Restu.”


“Iya, tahu. Mereka nggak bilang mau pergi. Iyash lagi dirawat di rumah sakit,” kata Ira khawatir.


“Ya ampun, kenapa? Dia bilang cuma patah tulang.”


“Patah tulang gimana? Semalam dia ditembak orang, dia juga baru selesai operasi dini hari tadi,” ungkap Ira.


“Astaghfirullah, ibu kira nggak gitu. Iyash-iyash.” Nenek Alma menggeleng pelan.


Kedua orang tua Hasa belum tahu kalau anak bungsu dan juga menantunya itu sedang mengurus perceraian. Yang mereka tahu semuanya baik-baik saja.


“Biar Iyash istirahat dulu di sini.”


“Iya, makasih, Bu.”


“Nek.” Tiba-tiba Iyash memanggil.


Seketika Nenek Alma menoleh, namun tanpa menjauhkan telepon genggamnya.


“Yang pakai kamar aku siapa?”


“Oh iya, nenek lupa bilang. Ada pemuda dari Jakarta yang sedang melakukan reset untuk novelnya.”


Iyash termangu.


“Nggak ada lagi kamar yang nyaman. Jadi, Nenek minta dia tidur di kamar kamu.”


Tentu saja, Iyash mendesain kamar tersebut dengan sangat baik. Di mana pun dia akan menjadikan tempat itu sebagai tempatnya pulang, bukan sebagai persinggahan.


“Terus sekarang aku tidur di mana?” tanya Iyash.


“Bu, bu,” panggil Ira di telepon.


“Iya?” sahut Nenek Alma.


Iyash menghela napas, lantaran dia baru saja diabaikan.


“Saya mau bicara sama Iyash.”


Nenek Alma langsung memberikan ponselnya pada Iyash. “Ibu kamu.”


“Yah, Nenek nggak bilang kalau ini Mama.”


“Kenapa? Kamu nggak mau bicara?”


Iyash membasahi tenggorokan, seolah dia baru saja menelan sanggahan yang ingin dia sampaikan. Dengan sangat terpaksa dia menerima ponsel tersebut.


“Iya, Ma?”


“Kamu kenapa pergi diam-diam?” kesal Ira tertahan.


“Ada urusan,” jawab Iyash singkat.


“Nggak bisa ditunda?”


“Nggak.”


“Kenapa kamu bisa sama Icha?”


“Nggak sengaja ketemu di pesawat.”


“Kamu ngusir dia dari rumah sakit?”


“Dia yang mau pulang.”


“Yash, kamu–”


“Udah, Ma. Iyash nggak mau bahas apapun. Di sini baik-baik aja kok.” Iyash kemudian mengembalikan ponselnya pada sang Nenek.


“Kamu kabur dari Mama?” tanya Nenek Alma seraya mengambil ponsel dari tangan Iyash.


Iyash menggeleng, lalu kemudian pergi.